My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Sama Saja.


__ADS_3

Puas bercerita kini mereka pamitan buat ke rumah orang tua Iva.


Tapi sekarang tidak berdua melainkan bertiga sebab Zio tidak mau di tinggal dengan alasan masih kangen sama Iva dan malas melihat bang Endra.


Sedih tidak saat anak sendiri malas melihat kita, di kira itu wajah ada taik ayam nya apa.


Tapi di sini sabar yang harus di perbanyak menghadapi anak kecil apa lagi anak sendiri.


"Iyo mau ikut mozi aja, nggak mau sama papa," Rengek Zio yang sudah memegang tangan Iva saat pamitan.


"Loh kan disini ada panda sama manda," Ya kali mau ajak Zio pergi selagi masih ada mertua di rumah.


"Nggak apa, mungkin Zio beneran kangen bawa aja," Mama Zefan juga tidak mau melarang.


Yah tanpa bisa di pungkiri bahwa Iva orang pertama yang mencurahkan kasih sayang sama Zio.


"Tuh mozi liat kan, manda nggak sayang Iyo lagi.


Nggak mau Iyo disini," Fitnah aja Zio semua orang yang penting kamu senang.


Masuk ketegori durhaka tidak? tadi bapak sendiri dan sekarang manda nya juga kena.


Ajaran siapa?.


"Udah kalian buruan pergi, papa makin pusing," Tidak sanggup mendengar ocehan Zio yang sudah keluar jalur itu.


"Nah kan mozi liat sendiri, panda juga udah ngusir.


Yuk kita pergi," Menarik tangan Iva segera keluar.


"Udah sana kelian pergi jangan balik lagi, bikin papa darah tinggi aja," Nah yang ini baru ngusir, yang tadi tolong di ralat lagi ucapan nya.


Kejadiran Zio di antara mereka sebagai penerang di kala kegelapan.


Dengan kehadiran Zio memberi warna buat mereka.


Zio hadir sebagai hiburan serta tawa dengan segala tingkah pola Zio yang sangat menggemaskan.


Tidak perlu waktu satu jam ketiga nya sudah sampai di rumah sederhana papa Syakil.


Kenapa di bilang sederhana sama hal nya saat ucapan papa Syakil di pesta pernikahan Iva dan Zefan.


Definisi sederhana mereka sangat jauh sama kita yang rakyat jelata, sabar author juga tersungging eh tersinggung maksud e.


"Opa oma," Zio segera berlari ke dalam saat mobil baru berhenti dia bergegas keluar mobil.


"Iyo nggak kangen," Memeluk keduanya dengan sayang.

__ADS_1


"Sama opa sama oma juga nggak kangen," Ada ada aja tingkah nya.


"Bohong dikit napa opa, biar Iyo senang," Cemberut Zio.


"Iya iya opa nggak kangen," Wajah menggemaskan itu kian cemberut, pengen di tabok.


Tak lama Iva dan Zefan masuk lalu ikut bergabung.


"Wah yang kabur udah balik lagi," Siapa yang kabur? lagian kalau iya kabur kenapa tidak ada satu pun yang nyari dan pulang sendiri.


"Dikira di culik, kalau iya kan mama nggak bakal cari," Kenapa hari ini mereka semua menyebalkan.


Apa mereka bukan keluarga Iva lagi dan ada apa dengan mereka.


"Hilang aja nggak di cari, patut di pertanyakan ini," Balas Iva balik dari dapur setelah membuat minum untuk Zefan.


Jangan tanya ya, kok di rumah orang tua Zefan nggak ada minum tadi.


Cuma satu alasan ya, kalau hal sepele tidak harus selalu di tuliskan.


Ok lanjut.


"Papa sama mama apa kabar?" Zefan tidak mau ikut debat pilkada mereka yang tidak mau ngalah.


"Baik Fan," Balas mama Ila (ila ya, itu i nya huruf besar).


"Wah yang kabur sebelum di usir udah balik ya," Tambah Kemal baru keluar dari kamar.


"Belum balik Kem," Panggilan kesayangan mereka namun paling di benci Kemal.


"Kalau udah balik nggak mungkin ada di sini my sis," Duduk di samping mama Ila sambil bersender di bahu sang mama.


"Kenapa belum balik? nggak kuliah?" Kepo amat fikir Kemal.


"Minggu depan," Masih gelendotan sama mamanya.


Ya walau gimana dia tetap anak bontot yang suka manja pada orang tua.


Ya anak bungsu walau dewasa di luar sana dan bisa hidup jauh dari keluarga tapi tetap sifat alaminya tidak akan hilang kalau sudah kumpul keluarga, yang manja butuh perhatian.


"Kemana aja honeymoon nya my sis?" Kemal jiwa kepo nya keluar.


"Ngapain nanya, mau juga?.


Makanya kuliah yang bener dulu, kerja baru mikirin honeymoon eh bukan mikirin honeymoon dulu tapi mikirin siapa yang mau di ajak honeymoon itu baru bener," Cibir Iva yang suka berdebat sama Kemal si bungsu.


"Ye gini gini banyak yang antri ya, aku aja yang nggak mau," Apa kata dunia, anak bungsu pebisnis handal Syakil tapi masih jones.

__ADS_1


Malu nggak?


Malu nggak?


Malu lah masa e nggak.


"Kamu nggak mau atau mereka?" Ceburin ini jangan baru pulang juga.


"Dia yang nggak mau puas," Kesal Kemal tidak sayang lagi apa sama adik sendiri.


"Nah itu baru pas," Kekeh Iva senang.


"Pa, papa dapat anak model ini dimana?


Sumpah pa tengilnya pengen aku tenggelamin," Adu Kemal pada papa Syakil yang hanya bisa geleng kepala melihat tingkah anaknya, kalau sudah ngumpul rumah rame padahal mereka hanya berdua.


"Papa pungut di simpang jalan sana dan kamu hanyut di comboren lalu papa angkat anak juga," Balas papa Syakil yang mana jawaban nya tidak memuaskan sama sekali.


Iya lah tidak memuaskan, kan yang bisa memuaskan papa Syakil hanya mama Ila seorang.


"Papa lucknat," Kini beralih tatapan sama mama Ila dan berharap berpihak sama dia.


"Ma," Memeluk mama Ila erat.


"Kamu bukan hanyut di comberan tapi ketemu dalam kresek belanjaan mama pulang pasar," Hah tidak ada yang bela dan malah makin jatuhin.


"Udah lah aku mau cari keluarga baru aja siapa tau ada yang mau," Pergi dari sana, sebelum luka tak berdarah ini kian dalam.


"Lah gitu aja ngambek, cemen," Ledek Iva saat Kemal belum terlalu jauh jalan.


Setelah kepergian Kemal tinggal mereka berempat dan Zio tidak tau kapan pergi.


"Jadi gimana, pesanan kami udah jadi?" Tanya Mama Ila.


"Perasaan Iva mulai nggak enak kalau bahas pesanan," Lirih Iva yang masih dapat di dengar.


"Iya itu, gimana ada nggak?" Desak mama pengen tau.


"Baru juga di cicil ma, sabar ya," Ya gimana mau jadi kan baru seminggu nikah mass langsung Tek dung kan nggak mungkin.


"Tapi jangan di tunda ya, mama nggak izinin," Nasehat mama Ila.


"Apanya yang mau di tunda ma, punya aja belum masa mau di cegah, ya nggak lah," Iva juga tidak mau menunda punya anak.


Setelah sekian lama membesarkan anak orang, masa udah waktu punya anak mau di tunda, yang tidak lah.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2