
Iva masih belum mau masuk ke dalam sana, fikiran dia melayang, hatinya bertanya.
Bahkan orang di samping nya terus memprovokasi diri nya buat pergi dari sana.
"Udah Va, sekarang kita pergi dari sini," Berjuang tidak salah, hanya saja jangan terlalu memaksa kehendak.
"Kamu aja yang pergi," Tolak Iva, pantang bagi Iva lari dari masalah, kalau ada masalah lebih baik di selesaikan langsung tanpa harus mengulur waktu.
"Tapi kamu lihatkan apa yang ada di depan mata," Ada kalanya apa yang di lihat mata belum tentu itu kenyataan atau hanya tipuan semata.
"Kamu aja yang pergi, lagian aku ngak ngajak kamu ke sini kan.
Jangan kan ngajak kamu pulang saja aku ngak tau Xan," Orang ini adalah Xander teman SMA sampai kuliah Iva hanya saja Iva menganggap dia teman tapi tidak dengan Xander yang menaruh perasaan sama Iva.
Bahkan waktu Iva ada kerjaan di luar Negeri mereka bertemu disana hanya saja Iva cuek sejak tau temannya itu memiliki rasa lebih dari sekedar teman.
Dan saat dia tau Iva punya anak dia mau menjadi ayah buat anak Iva, hanya saja Iva menolak sebab tidak memiliki rasa pada Xander.
"Jangan bodoh Va masuk kesana," Teriak Xander yang mana Iva melangkah masuk.
Di dalam sana dapat di lihat bahwa aula itu sudah hampir terisi penuh oleh tamu undangan.
Mata Iva menangkap sosok yang menyuruh dia datang kesana lagi berkumpul bersama keluarga nya.
Hingga pandangan mereka bertemu.
"Zizi udah datang?" Menghampiri Iva yang lagi berdiri sendiri sedangkan Xander hanya melihat dari jarak jauh saja buat memastikan Iva baik baik saja.
Xander sudah menyadari bahwa perasaan dia pada Iva tidak akan bisa bersatu maka dengan berat hati Xander mulai mengubur rasa yang di miliki.
"Iya mas, ini maksudnya apa mas?" Sudah penasaran dari tadi hingga kini punya kesempatan buat dapat jawaban.
"Nanti kamu akan tau Zizi, " Zefan kagum sama penampilan perfect Iva malam ini.
"Iva ngak mau ya di permainkan mas," Telak Iva sebab hati bukan ajang buat permainan.
"Sejak kapan mas mempermainkan kamu Zi?" Benar juga bahkan perlakuan Zefan selama ini sungguh membuat Iva yakin akan hubungan mereka.
"Iva harap begitu mas," Acara di mulai dengan MC membuka acara demi acara.
Tiba saat keluarga Zefan memberikan kata sambutan buat acara malam ini.
__ADS_1
Mama Zefan nail ke atas panggung sebab sang papa tidak mau banyak bicara.
"Selamat malam semua, terima kasih buat yang udah meluangkan waktu berharga kalian semua buat menghadiri pesta pertunanganan anak anak kami.
Sebagai orang tua pasti nya saya bangga memiliki anak anak yang berhasil dan sudah tiba juga saat nya mereka satu persatu melepas masa lajang.
Baik lah saya tidak mau bicara panjang lebar dan semoga acara ini berjalan dengan lancar," Mengakhiri sambutan singkat itu lalu di lanjut sama acara inti malam ini.
"Baik lah ini acara yang kita tunggu yaitu pertunanganan Zefan dan Vani.
Kepada Zefan dan Vani kami persilahkan naik ke atas panggung," Suara MC menyuruh mereka berdua naik panggung buat bertukar cincin.
Vani, perempuan itu dengan senyum merekah naik duluan ke atas panggung.
Zefan masih berdiri bersama Iva yang mematung mencerna ucapan pembawa acara.
"Mas ini apa apaan?" Syok sama apa yang Iva dengar, pertunanganan Zefan dan Vani.
Dia yang sebagai kekasih Zefan selama ini di anggap apa.
"Ikut mas naik," Memegang tangan Iva namun mendapat penolakan.
"Ini bukan saat nya becanda mas," Tegas Iva merasa di permainkan.
"Sejak kapan mas becanda Zizi? apa kamu ngak nyadar kalau baju kita aja sama malam ini," Iva tersadar lalu memperhatikan baju mereka yang couple.
Kenapa aku baru sadar ya baju kita sama fikir Iva.
"Zefan cepat naik, ngapain kamu bicara sama janda itu," Bentak mama Zefan sedikit keras hingga semua pandangan mata mengarah pada mereka.
Xander yang mendengar Iva mendapat hinaan itu ingin rasa nya dia membungkam mulut sampah itu
"Mas udah ya, naik sana ngak enak kita di lihat banyak orang," Malu Iva jadi pusat perhatian.
"Mas akan naik kalau kamu ikut," Tidak kalah tegas sama nada suara Iva tadi.
"Jangan ngaco mas, ngak lucu," Iva semakin tidak nyaman sama tatapan semua orang yang seperti mau menelan dia hidup hidup.
"Jangan buat malu keluarga mas," Lanjut Iva sebab Zefan belum naik juga ke atas panggung sedangkan Vani sudah menunggu dengan wajah kesal tidak beda jauh sama keluarga nya.
"Ikut mas atau kita pergi dari sini," Menarik tangan Iva menuju panggung, namun.
__ADS_1
"Tinggalkan perempuan itu Zefan, Vani udah menunggu," Kini bukan tatapan saja yang Iva dapatkan tapi juga cibiran yang mengatakan Iva merebut tunangan orang
"Ayo udah ngak ada waktu lagi," Dengan langkah cepat Iva mengikuti Zefan menaiki panggung.
Kini semua orang bingun dengan Zefan mengajak Iva ikut naik juga bahkan yang lebih membuat mereka heran baju Iva sama dengan Zefan bukan sama calon tunangannya yaitu Vani.
"Kenapa seperti ini?" Bisik salah satu dari mereka.
"Ada apa ini?" Bisik satunya lagi.
"Apa perempuan itu merebut laki laki yang akan tunangan ini?"
"Cantik cantik kok perempuan cowok orang,"
"Tapi kalau di lihat dia memang cantik,"
Bisikan itu di tujukan buat Iva yang kini menundukkan kepala tidak berani menatap kedepan.
Rasa malu dan sakit hati sekali gus Iva rasakan.
"Jangan menunduk, mereka ngak tau apa apa," Menarik dagu Iva supaya melihat ke depan, Iva tidak pantas melakukan itu pada mereka yang tidak tau apa apa.
"Sakit mas," Lirih Iva dengan nada suara tercekat.
Semua segala tuduhan jelek tertuju pada diri nya, apa salah diri nya? baru merasa bahagia sudah terluka, mereka tidak tau kebenarannya.
"Ini ngak akan lama Zizi," Segera Zefan mengambil mic pada MC lalu berdiri memegang sebelah tangan Iva dan satunya lagi memegang mic.
"Baik lah disini saya mau menyampaikan bahwa saya akan bertunangan sama perempuan cantik di samping saya ini.
Kalian pasti bertanya bukan kenapa saya menyampaikan ini tapi hati tidak bisa di paksakan bukan maka dengan ini saya tegaskan bahwa perempuan yang berdiri cantik di samping saya ini yang akan menjadi tunangan saya bukan orang lain.
" Jangan pernah menilai dia sebelah mata sebab kenyataan sebenarnya bukan yang ada di depan mata, jangan menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang baru di lihat atau di dengar.
Dan buat mama maaf saya tidak bisa bertunangan sama perempuan pilihan mama, maaf ma," Sepanjang Zefan bicara semua orang terdiam bahkan yang mencibir tadi kini bungkam seribu bahasa.
Sedangkan Vani menahan kesal sebab dia merasa di permalukan satu keluarga apa lagi melihat baju serasi Zefan.
Dia yang di gadang gadang sebagai tunangan Zefan malam ini tapi malah dapat malu besar jauh dari rencana dia.
Mama Zefan jangan di tanya lagi, calon menantu dia berubah seketika dalam hitungan menit.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Bersambung woke,,,, šš