
Zefan melepaskan pelukan pada pinggang Iva lalu mengecup kening Iva sekilas.
"Mas mandi dulu, kalau mau bareng mas tunggu," Melangkah pergi meninggalkan dua orang yang mungkin saja udah kangen selama satu minggu berpisah.
"Mas duluan aja," Menghindari mandi bersama Zefan adalah satu hal yang harus di hindari selain menimbulkan rasa lelah juga menghabiskan banyak waktu.
Maklum pengantin baru masih ingin selalu bersama.
"Kapan pulang Va?" Tanya Lisa sambil mengambil minum yang tertunda tadi melihat pemandangan pagi.
"Semalam tepat nya hampir tengah malam," Jelas Iva sambil memasak, catat Iva hanya memasak buat dia sama zefan aja.
"Owh, lain kali jangan bermesraan di dapur pagi pagi lagi," Dengus Lisa setengah iri.
"Lah ngapa? apa ada yang salah? bermesraan sama suami sendiri bukan sama suami orang, yang iri juga kamu bukan Iva.
Yang sesak ya tanggung sendiri," Ledek Iva, lagian siapa juga yang mau bermesraan tadi cuma Zefan tiba tiba datang dan memeluk dari belakang sebagai istri yang baik tidak mungkin menolak, kan nyaman gimana.
"Hargai gue yang masih sendiri napa," Kesal Lisa, tidak mengerti kalau Lisa ingin juga seperti itu.
"Ututu kasian amat ya masih di gantung, nyesek nggak tuh? sesekali ancam biar dia cepat bertindak," Saran Iva.
Perempuan mana pun butuh kepastian dalam menjalin sebuah hubungan bukan hubungan semu seperti anak remaja.
"Kalau di ancam ya sama aja terpaksa, gue mau dia inisiatif sendiri," Lirih Lisa memikirkan hubungan dia sama bang Endra yang belum resmi.
Dia juga mau seperti Iva dan Zefan yang sudah menikah dan tinggal bersama
Tidak etis sekali pakai ancaman, berharap lelaki punya inisiatif buat melamar masa tunggu di sindir dulu baru nyadar.
Lagian sadar tidak kalau umur mereka bukan remaja lagi yang harus lama berpacaran.
"Kalau menunggu nggak ada kepastian jadi jalan keluar nya cari yang lain," Solusi gila apa itu.
Hey cinta semudah itu berpaling.
Tidak semudah bicara melakukan sesuatu, tidak tidak sesederhana itu.
Ini sahabat atau apa? sarannya nggak banget.
Ngasih solusi yang bagus jangan bikin drop, dikira berpaling semudah membalikkan telapak tangan, segampang gempa menghancurkan bangunan, selancar banjir menyapu apa pun yang di lewati.
"Nggak segampang itu Va, ini hati bukan terminal bus yang bisa di singgahi oleh siapa saja, bukan juga pom bensin yang bisa di masuki segala jenis kendaraan, hati ini seperti rumah yang bisa bebas keluar masuk ya pemilik itu sendiri kalau orang lain nggak boleh," Dapat pencerahan dari mana?, kemasukan jin jenis apa?, mimpi apa semalam?, berguru sama siapa?, atau lidah lagi kepleset.
Lisa merebahkan kepala di atas meja sambil memikirkan nasib percintaan dia yang belum ada kemajuan.
__ADS_1
"Oh iya Va udah gol belum?" Pemikiran macam apa itu? serius itu nanya.
"Gol? emang main bola pake di tanya gol?" Masih fokus sama telur yang di goreng.
"Itu maksud nya malam pertama, gimana sih pura pura bego ya?.
Bego beneran baru tau," Gerutu Lisa di permainkan Iva.
"Menurut kamu gimana? orang honeymoon ngapain?" Nanya balik lagi.
"Gimana Zefan perkasa nggak?" Penasaran ya?.
"Privasi dan kalau di ceritakan ntar mau lagi, gimana?" Sumpah demi si ipin yang nggak punya rambut rasanya pengen nabok.
Tapi iya juga, lagian ngapain nanya seperti itu bikini pengen aja.
Hingga obrolan 18 ke atas harus di hentikan dengan kedatangan Rara masuk dapur.
"Ini ngapain kak Lisa tidur di meja eh kak Iva udah pulang? ah mbak kangen tau!" Memeluk Iva dari belakang seperti yang di lakukan Zefan tadi.
"Malam mbak," Balas Iva.
"Mbak udah kangen sama masakan kak Iva tau," Masih dengan posisi sama.
"Enak banget lo Va, pagi pagi udah dua orang yang meluk gimana kalau Zio datang pasti nggak mau ketinggalan.
Kenapa dia merasa nasib pagi ini begitu tidak memihak sama sekali.
Masa dia selama di tinggal Iva honeymoon tidak pernah Rara peluk dan Iva hanya seminggu tidak bertemu dapat pelukan.
Lebay fikir Lisa
Bukan lebay tapi iri sebab tidak ada yang meluk dia, kasian.
"Tunggu bentar ya mbak, bentar lagi masak.
Zio meluk karena kangen mom nya kalau lo lupa Sa," Toel dikit boleh tidak ginjalnya.
Ngajak gelut ayo sini, dikira Lisa brani apa?.
"Gue juga mama nya kalau kalau lupa," Yang melahirkan mempertarunkan nyawa ampe koma selama bertahun kurang apa coba, sini bilang.
"Jangan di dengar mbak, dia galau di gantung terus.
Mbak juga nggak di gantung kan?" Senang sekali melihat wajah nelangsa Lisa.
__ADS_1
"Iya kak biar aja kak Lisa meratapi nasib.
Kalau mbak bukan di gantung kak tapi di desak terus ngajak nikah, gimana untungan siapa?"? Melirik Lisa sekilas ingin melihat gimana reaksi perempuan yang lagi galau itu.
Iva menepuk bahu Rara pelan tanda bangga, tidak salah dia membiarkan Rara menjalin hubungan sama Satyia.
"Njir ngajak gelut ayo sini, jangan manasin ya ini masih pagi jangan ngajak ribut,"
"Siapa yang ngajak ribut kak, mbak kan cuma jawab pertanyaan kak Iva terus salah nya dimana?" Pura pura bego aja asal dia tidak kebawa emosi sebab tidak baik buat pencernaan eh salah kesehatan maksudnya.
"Awas aja kalau gue nikah nanti nggak bakal di undang kalian berdua," Nikah juga tidak tau kapan.
"Udah mau nikah ya kak? sama siapa? ada yang ngajak?," Ledek Rara senang membuat Lisa kesal.
"Wah beneran ngajak ribut, biar gue udah punya anak tapi masih banyak yang mau, lagian nggak ada yang tau juga gue ada anak masih seperti anak gadis," Percaya Lisa mengibaskan rambut ke samping seperti iklan sampo.
"Kalau banyak yang mau, ngapain nunggu yang nggak pasti, kasian," Tambah Iva.
Ini yang mereka rindu, meski saling meledek tapi rasa sayang di antara mereka jauh lebih besar.
"Liat aja nanti gue langsung nikah nggak usah pake lamaran langsung akad," Tapi tunggu, itu kapan waktu dan tempat nya.
Dan yang jelas siapa yang ngajak.
Udah lah bodo amat yang penting jangan mau kalah.
"Yang ngajak nikah nggak ada gimana mau akad, sama yang depan mau nggak biar Iva yang bayarin mulai dari gedung hingga catering," Tawar Iva sambil menghidangkan hasil sarapan buat mereka berempat.
"Yang mana?" Lugu Lisa tidak merasa curiga.
"Pak satpam," Kekeh Rara yang tau maksud Iva.
"buat lo aja, makasih gue udah punya," Tolak Lisa, apa tidak ada yang bermerek eh yang bagus.
"Kita mah udah ada dan pasti jelas ngasih status," Di lempar pakai gelas nih dua orang dia marah tidak ya, abis ngeselin.
"Bang Endra kapan eneng di halalin?" Teriak Lisa setelah itu berlari masuk ke dalam kamar.
"Mulai stress dia mbak," Cuma tertawa melihat Lisa seperti orang frustasi.
"Udah selesai nih, kakak mandi dulu.
Mbak juga mandi ya abis itu kita sarapan," Pergi ke kamar masing masing.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.