My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Tukaran.


__ADS_3

"Zi mas bukan barang ya, ya bisa di tukar gitu aja," Mengikuti langkah iva yang berjalan keluar rumah sambil membawa tas yang berisikan hp serta saudranya.


"Lah yang bilang mas barang siapa? lagian siapa juga yang mau nukar mas sih.


Kalau bisa dapat keduanya buat apa harus mengorbankan salah satu," Balas iva santai seolah ucapan dia tadi hanya angin lalu.


Jika di fikir lagi mana mungkin Iva melakukan hal yang mustahil seperti menukar Zefan dengan Zio, sebab dua orang itu tidak bisa di tukar tempat kan atau di gantikan sama yang lain.


"Kan Zizi yang bilang tadi mau nukar mas," Jika kekanakan Zefan keluar tiba tiba.


"Jangan lebay deh Fan, kayak anak kecil," Cetus bang Endra yang datang dari dalam di ikuti oleh Lisa.


"Lo mana tau bang," Ketus Zefan menjawab tanpa melihat.


"Gue bapak nya ngak segitunya juga," Balas bang Endra yang tak kalah galak.


"Lo kan bapak terlambat bang," Jawab Zefan.


"Lah maksudnya apa bapak terlambat? lo kira Sekolah bisa terlambat segala," Memukul pelan lengan Zefan saat posisi berjalan mereka sudah sejajar.


"Iya lo bapak yang terlambat mengetahui kalau udah punya anak, ayok Zi kita pergi dari sini," Menarik lembut lengan Iva ke dalam mobil tidak lupa membukakan pintu juga.


Dan lebih mengesalkan lagi bang Endra masuk bersama Lisa duduk di kursi belakang tanpa rasa bersalah.


"Loh loh ngapain duduk di belakang, tuh mobil satu lagi ada pindah sana jangan membuat polusi," Usir Zefan yang tidak menerima kehadiran dua orang yang duduk di belakang mereka dengan santai.


"Udah kali kali aja Fan, kapan lagi bisa jadi supir," Balas bang Endra dengan menyenderkan badan pada sandaran kursi.


"Lo ngak bakal sanggup bayar gue bang kalau jadi supir," Zefan mulai menjalankan mobil walau masih tidak rela bang Endra ikut satu mobil sama dia dan Iva.


Bukan apa apa, hanya saja buat apa menumpangi orang yang punya mobil bahkan sehat wal afiat tidak rusak sama sekali, kecuali rusak maka beda lagi ceritanya.


Ingin rasanya Zefan meninggalkan dua orang yang duduk di belakangnya di tepi jalan sepi.


Lalu mengucapkan salam perpisahan dan tidak lupa mengejek dengan memelet lidah sambil melajukan mobil.


Membayangkan itu saja Zefan bahagia sekali apa lagi itu sampai terjadi maka Zefan akan mengadakan syukuran buat kesuksesan rencananya itu.


"Lo mau gue bayar berapa?" Tanya bang Endra dengan santai seolah pernyataan itu tidak apa apa dia lontarkan.

__ADS_1


"Lo kira gue laki laki bayaran apa," Kesal Zefan yang di tanyai harga dia.


Apa bang Endra kira dia mau apa jadi supir dan di bayari.


Lagian kerjaan dia sudah banyak dan tidak mau mencari kerja tambahan.


Dan juga sanggup bayar berapa coba, udah lah balik pembahasan awal lagi.


"Gue ngak bilang gitu ya,"


"Udah kalian lagi bahas apa sih, kayak anak kecil aja," Lerai Lisa yang sudah jengah sama pembahasan mereka yang tidak bermutu itu


"Tau tuh," Jawab keduanya kompak lalu saling pandang sekilas dan Zefan fokus sama kemudi takut nabrak.


"Jadi ini gimana sekarang?" Lanjut Lisa belum tau rencana apa buat membawa Zio pulang dengan selamat tanpa luka atau tergores.


"Kita liat aja nanti," Balas Iva santai dan fokus sama pemandangan depan.


Bagi Iva sebenarnya ini bukan masalah besar dan juga lawan dia sangat bodoh dan salah cari lawan.


Iva dia mau lawan yang tidak tau siapa Iva sebenarnya.


Orang orang akan tertipu jika hanya melihat Iva yang baik serta polos dari luar tidak mengenal Iva dari dalam.


Mereka berempat keluar tapi sebelum keluar tadi Iva sudah mengirim pesan bahwa mereka sudah datang tanpa membawa banyak orang.


Tidak lama menunggu seseorang keluar dari dalam dengan pakaian seksi berjalan elegan tidak lupa dengan gaya lenggak lenggoknya.


Semua mata tertuju pada orang yang berjalan mendekati mereka berempat dengan tatapan yang berbeda.


"Heh ternyata kamu yang membawa Zio pergi, dasar ngak punya perasaan bagaimana kalau anak kamu yang berada di posisi sekarang? apa kamu ngak terluka apa?," Emosi Lisa yang melihat Vani yang keluar dari dalam rumah itu.


"hm saya ngak ada urusan sama kamu, saya hanya mau Zefan bersama saya dan saya akan mengembalikan anak kecil itu lagian saya memakai dia hanya buat pancingan aja," Jawab Vani dengan sombong melirik sinis ke arah Lisa.


Sedangkan Lisa sudah terbawa emosi sana ucapan Vani.


Bagaimana bisa dia memakai anak kecil yang tidak tau apa apa demi kepentingan masing masing.


"Bagaimana Zefan kamu sama aku dan bocah itu aku berikan pada dia," Tunjuk Vani pada Iva, yang dia tau Iva mommy Zio.

__ADS_1


"Aku mau aja asal aku mau liat Zio baik baik dulu," Ucap Zefan yang mengikuti ucapan Vani.


Senyum di wajah Vani terbit seketika mendengar Zefan mau sama dia dan sebentar lagi impian dia segera terwujud.


Iva hanya jadi penonton saja sekarang, belum waktunya bertindak bagi dia ingin membiarkan sedikit lebih lama lagi Vani merasakan di atas awan sebelum jatuh ke tanah.


Bagi Iva melihat wajah bahagia Vani sekarang mood booster buat sementara bukan mood jelek tapi baik kok, baik banget malahan membiarkan Vani tersenyum cerah seperti sekarang.


"Dengan senang hati sayang, sebentar ya," Mengambil hp lalu menghubungi seseorang dan menutup panggilan itu.


Mereka yang mendengar panggilan sayang di tujukan buat Zefan serasa ingin muntah di tempat.


Segitu percaya diri akan keberhasilan yang ada padahal kegagalan di depan mata lagi menunggu.


Tidak lama satu orang lelaki berbadan besar keluar membawa seorang anak kecil dengan tangan terikat dan kepala di tutupi menggunakan kain hitam hingga tidak terlihat wajahnya.


"Hey kamu apa kan Zio, buka penutup kepalanya," Teriak Lisa yang tidak terima kepala anaknya di tutup seperti itu.


Bagaimana kalau Zio tidak bisa nafas atau sesak tidak ada udata.


"Santai jangan buru buru gitu," Menarik kasar tangan anak yang di gendong itu hingga terjatuh ke lantai.


"Kamu apa kan Zio, awas kamu ya," Lisa hendak melangkah mendekat tapi di tahan bang Endra.


"Jangan gegabah sayang, kita ngak tau ada berapa banyak penjaga di sini," Bang Endra mengedarkan pandangan ke segala arah buat memastikan kalau mereka tidak akan kalah jumlah.


Saat mereka lagi bersitegang Iva mendapat pesan dari seseorang dan senyum Iva langsung terbit lebih cerah dari senyuman Vani tadi.


"Tuh liat perempuan murahan itu, pasti lagi cari pengganti Zefan sekarang sebab tak bisa memanfaatkan Zefan lagi," Sinis Vani melihat Iva yang tersenyum melihat hp yang di pegang.


"Tau aja kamu ya, udah cepetan buka penutup kepala nya dulu saya mau segera pergi dari sini sebab udah di tunggu," Ucap Iva sambil menggoyangkan hp melihat layar hp yang hidup dari jarak yang tidak terlalu jauh tapi tidak bisa melihat isi hp itu juga.


"Dasar gampangan," Cibir Vani lalu mulai membuka penutup kain hitam itu.


"Bodo amat gampangan yang penting cantik," Balas Iva tidak nyambung dan mereka yang lain menahan tawa mendengar jawaban Iva.


Perlahan penutup itu sudah terbuka sempurna namun apa yang di fikirkan mereka semua salah.


"Mommy," Panggil anak itu dengan suara lemah sebelum jatuh pingsan.

__ADS_1


\=\=\=\=


Tbc.


__ADS_2