My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Begitu Rasanya.


__ADS_3

Lain Zefan dan Iva, lain juga Vani dan mama Zefan yang tengah merasa amarah di dada mereka masing masing.


Di acara penting yang sudah di persiapkan jauh jauh hari dan apa yang mereka dapatkan hanya sebuah rasa malu dan marah.


Di saat semua orang mengharapkan pertunangan meriah serta mewah tapi Vani menelan kecewa begitu dalam.


Mengharap tunangan sama orang yang dia sukai tapi apa kini, kecewa yang di dapat.


Rasa sakit yang tidak seberapa tapi malu yang tidak ada obatnya.


"Aku benar benar kecewa sama kamu Fan, berani nya kamu mempermalukan aku sama keluarga ku di depan orang banyak bahkan dengan beraninya kamu membawa perempuan lain di hari pertunangan kita," Kini Vani lagi berada di dalam kamarnya, amarah tadi masih terasa tidak tau sama siapa sekarang akan di lampiaskan.


Ingin melempar barang yang ada di dalam kamar itu tapi sayang harganya tidak murah.


Berteriak juga tidak mungkin nanti di sangka orang gila.


Sungguh perasaan yang menyiksa, tekanan batin yang amat dalam.


"Liat aja kalian berdua, kalian harus membayar mahal tentang kejadian ini dan pasti ngak akan kalian lupakan.


Tunggu lah," Tersenyum menyeringai penuh makna.


Vani tidak akan tinggal diam setelah apa yang di terima tadi


Itu tidak murah harganya


Rasa malu yang di rasakan tidak bisa di balas hanya dengan kata maaf atau sebuah penyesalan saja.


"Aku bukan orang baik yang mau membebaskan kalian begitu aja setelah rasa kecewa ini dan malu ini.


Tujuan awal berantakan semua, sial ini gara gara janda sialan itu merusak segalanya,"


"Liat aja kamu janda sialan, akan ada balasan buat kamu nanti dan kamu akan kehilangan Zefan buat selamanya," Permainan baru saja akan di mulai dan pastinya target pertama sudah jelas.


Merebahkan badan di ranjang sambil terus memikirkan cara membalas kejadian tadi.


hah jika memikirkan lagi maka sakit ini semakin jelas terasa.


Jika saja tadi bukan di depan orang banyak maka Vani akan mencakar cakar Iva buat melampiaskan rasa marahnya.

__ADS_1


\=\=


Perasaan yang sama juga di rasakan mama Zefan, sepanjang jalan pulang dari acara tadi dia terus mengomel tidak jelas itu menurut papa Zefan.


Kalau begini keadaan sekarang maka papa Zefan hanya bisa diam tidak mau bicara takut kena omel juga.


Bukan takut istri hanya saja menjadi pendengar setia kala wanitanya mengomel.


Wanita kalau lagi ngomel pasti ingin di dengar tanpa ada bantahan.


"Zefan itu benar benar pa bikin mama malu aja," Ini sudah yang kesekian kali kata kata itu di ucapkan hanya saja dia tidak bosan.


"Papa tau kan hari ini yang mama tunggu tapi semuanya hancur dalam sekejap.


Bukannya Zefan tunangan sama Vani tapi malah sama janda beranak satu itu.


Apa yang harus mama katakan pada teman mama nanti kalau acara malam ini kacau," Beruntung Papa Arta orang yang sabar jadi dia bisa betah mendengar kata yang di ulang terus.


"Iya, papa ngerti perasaan mama," Cukup kata itu sudah bisa membuat mama tenang.


Merangkul wanita yang terus mengomel tiada henti.


"Mama harus mencari cara memisahkan mereka nanti, mama ngak mau punya menantu janda apa lagi udah punya anak,"


"Mama tenang ya, ambil nafas terus buang," Arah papa dan di ikuti istrinya, lalu tiba tiba.


"Papa apaan sih nyuruh mama gini kan mama bukan mau lahiran," Bukan mau lahiran saja yang melakukan itu tapi buat mengatur pernafasan.


"Yang bilang mama mau lahiran siapa, itu buat mengatur pernapasan ma biar rileks," Perempuan kalau lagi marah akan merasa perkataan orang itu salah walau sebenarnya benar.


"Kan cara itu buat orang lahiran pa," Kesal mama yang tidak terima.


Apa perlu di jelaskan lagi kalau cara itu bukan hanya untuk orang lahiran, plis marah boleh bodoh jangan walau bodoh itu gratis.


"Sekarang mama istirahat ya ngak baik baik marah marah terus, ingat nanti darah tinggi," sudah cukup puas mendengar ocehan tanpa gaji.


Uh untung istri kalau tidak sudah di suruh keluar dari kamar itu.


Perempuan memang punya kelebihan luar biasa kuat ngoceh lama tanpa perlu jeda atau minum sebentar.

__ADS_1


"Mama belum selesai pa, kalau belum selesai mama ngak bisa tidur," Dari tadi masa belum selesai juga, besok masih bisa di lanjut kalau mau.


"Tidur itu pejam mata ma dan diam maka bisa tidur," Merebahkan badan sebab sudah mengantuk dan capek sama hari ini.


"Tetap ngak bisa pa," Duduk lagi dari pembaringan.


"Oke kalau gitu tapi papa mau bilang sama mama.


Kita sebagai orang tua ngak bisa memaksa kehendak sama sama anak sendiri ma.


Apa yang menjadi pilihan mereka kita sebagai orang tua hanya bisa merestui serta mendoakan mereka selalu bahagia bukan seperti harus menuruti kemauan kita.


Jangan terus di paksa pada akhirnya mereka ngak bahagia sama pilihan kita.


Mama tau kebahgiaan kita adalah saat kita melihat anak yang kita besarkan juga bahagia,"


"Kalau papa bisa memilih calon menantu sendiri maka akan papa lakukan tapi papa takut anak kita ngak bahagia sama pilihan kita.


Kalau Zefan bahagia sama pilihan dia sekarang maka kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung keputusan ini,"


"Kalau kita egois dan memaksa mereka terus bersama maka yang ada hanya saling tersakiti dan kita yang jadi sasaran sebab udah memaksa mereka bersama,"


"Apa mama mau Zefan juga ikutan pergi sama seperti Endra dan sekarang baru bali.


Kita juga ngak tau sampai kapan Endra berada di sini bisa aja hanya untuk menghadiri acara Zefan,"


Tutur papa Arta panjang lebar pada istrinya yang tidak bisa diam itu.


Jika terus bicara maka siraman rohani harus di berikan.


Ingat siraman rohani ya bukan di siram pakai air apalagi sama air cabe jangan sesekali di lakukan tak baik.


"Sampai sini papa harap mama paham," Tidur duluan dari pada begadang yang tak jelas.


"Papa ngak ngerti yang mama rasakan, Vani itu calon menantu idaman mama dan sampai kapan pun akan tetap seperti ini," Ikut tidur, sebab kalau bicara lagi tidak ada pendengar lagi.


Menyebalkan sebab saat belum puas bicara tapi di tinggal tidur.


Memang tidak ada yang mengerti dia saat ini, ah calon menantu hanya baik di depan dia saja itu yang mau di banggakan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Bersambung šŸ‘ŒšŸ‘Œ


__ADS_2