
Seminggu berlalu berarti rencana pertunanganan Zefan dan Vani tinggal dua minggu lagi, namun semua itu tidak ada pengaruh sama sekali pada Zefan.
Bahkan hubungannya dan Ziva baik baik saja tidak ada gangguan serius hanya Vani yang semakin gencar mendatangi kantor Zefan walau dapat penolakan dengan berbagai alasan.
Siang ini Zefan mengajak Vani ketemuan di sebuah restaurant dekat kantornya dan juga mengajak Ziva tapi memberi waktu sekitar empat puluh menit selisihnya sama Vani agar mereka tidak datang bersama namun Zefan sudah berencana akan mempertemukan mereka nanti.
Anak siapa yang zefan pangku? apa anaknya? tapi diakan belum menikah.
Vani melihat dari jauh kalau Zefan lagi duduk dengan anak kecil bersamanya sekitar berusia satu tahun dengan jenis kelamin perempuan.
Anak itu memakai gaun pink yang lucu, bando dan sepatu berwarna senada.
"Fan," Panggil Vani yang tidak mau bicara apa.
"Kamu udah datang, duduklah," Pinta Zefan dan Vani duduk di depan Zefan saling berhadapan.
"Mau pesan apa?" Anak yang Zefan pangku sangat anteng tidak menangis atau cemberut, dia asik sama mainan yang lagi di pegang.
"Aku minum aja Fan," Mood Vani buat makan tidak ada lagi, kini fikirkannya fokus pada anak itu dan menerka nerka anak siapa itu?.
"Ya udah kita pesan dulu," Sesekali Zefan mengajak anak itu bicara meski tidak mengerti apa yang di ucapkan anak ini.
Interaksi Zefan dan anak itu seperti Ayah dan anak sangat dekat bahkan Zefan tidak jijik jika harus membersihkan iler anak itu yang keluar dari mulutnya, maklum kalau anak kecil mana tau mana jorok mana tidak.
"Hm hm Fan, dia anak siapa?" Pertanyaan itu dari tadi ingin Vani lontarkan hanya saja baru sekarang terlaksana.
"Dia anak teman aku, karena mereka lagi ada urusan yang tidak bisa bawa anak makanya titip sama aku kebetulan lagi tidak sibuk juga," Jelas Zefan yang merasa sama sekali tidak keberatan kehadiran anak ini.
Bagaimana bisa menolak bayi satu tahun yang cabi serta menggemaskan seperti Zio mana berani Zefan menolak apa lagi dia sangat suka anak kecil.
"Kenapa kamu repot repot harus menerima anak ini? kemana keluarga mereka? kan bisa dititipkan sama mereka atau pengasuh," Padahal dari saat menerima chat Zefan yang mengatakan akan mengajak makan siang bersama, Vani sangat senang sampai melakukan perawatan buat bertemu Zefan akan tertarik sama dia tapi sekarang malah ada pengganggu.
"Orang tua mereka lagi ada di luar negeri, kalau pengasuh mereka tidak menggunakan.
__ADS_1
Lagian mereka cuma hari ini saja tidak buat besok," Jelas Zefan agar Vani menerima alasan yang sebenarnya tidak suka di ganggu moment bersamanya.
"Kan bisa di titipkan di penitipan anak, kenapa harus kamu yang jaga?"
Kenapa dia ngak suka sama anak kecil? apa nanti setelah menikah ngak mau juga merawat anaknya sendiri dan menyuruh pengasuh gitu.
Lagian kalau anak ini bisa di bawa pulang pasti aku senang dan bakalan punya dia anak sekarang.
"Ngak apa cuma hari ini,' Zefan tidak mau membahas kenapa Vani tidak menyukai anak ini sebab dari nada bicara dan pertanyaan sudah menjelaskan kalau dia keberatan.
Sial, sia sia perawatan mahal tadi kalau ada pengganggu begini.
Menggerutu kesal acara yang di harapkan berantakn.
" Mau titip dia dulu ya, aku mau ke kamar mandi," Menarok anak itu di pangkuan Vani.
"Fan kamu tau kan, aku ngak tau cara gendong bayi?" Kebingungan saat bayi itu duduk di pahanya.
Sepeninggalan Zefan anak itu masih diam saja.
"Awas kamu ya kalau nangis aku cubit," Gertak Vani.
Yah Vani anak kecil di gertak gitu mana tau yang ada nanti malah nangis beneran.
Di jawab senyuman khas anak kecil saja mendengar ucapan Vani.
"Nah kalau senyumkan pintar, ingat jangan nangis kalau ngka itu di depan ada kolam.
Mau berenang di kolam sana?" Kolam yang di maksud adalah kolam ikan hias yang terletak di setelah pintu masuk.
Hingga hanya sebentar saja diamnya dan mulai merubah ekpresi wajah dari lengkungan bibir keatas kini malah kebawah, perlahan suara rengekan terdengar juga.
"Nah kan mulai nangis, mau beneran masuk kolam?" Anak kecil kalau di gertak malah nangis beneran lah.
__ADS_1
hiks,,, hiks,,,
Isakan tangis itu mulai terdengar semakin lama semakin kencang hingga para pengunjung mulai mengalihkan perhatian pada tempat dimana Vani duduk.
"Mbak anaknya nangis tuh, diamin napa,"
"Diamin mbak, mengganggu pengunjung lain tau,"
"Jangan cuma buatnya aja yang bisa,"
"Iyalah anaknya nangis, malu mungkin liat wajah emaknya kayak mak tiri,"
"Bawa sana mbak anaknya, berisik tau,"
Masih banyak lagi suara cibiran yang Vani dengar hingga merasa telinganya panas dan Zefan belum juga kembali dari toilet.
"Dengar ya, dia bukan anak saya.
Kalian jangan ngarang ya," Balas Vani tidak terima.
"Ya elah mbak jadi emak jangan kejam amat. Masa anak sendiri ngak di akui sih," Balas seorang ibu ibu.
"Jangan asal bicara ya, kalau dia anak saya lebih baik saya kasih pengasuh aja biar ngak repot," Balas Vani merasa suara orang orang sangat menyebalkan bagi dia.
"Dia kan anak mbak, ngapain di kasih pengasuh emang mbak mau nanti suami mbak nikahin pengasuh karena mbak ngak bisa rawat anaknya," Balasnya lagi.
"Buat apa punya suami kaya kalau anak masih di asuh sendiri," Vani sangat jengkel dengan omongan mereka dan Zefan yang belum kelihatan.
"Dia anak kamu atau anak pengasuh?" Tanya seseorang yang berdiri di belakang Vani.
\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1