
Zefan bukan orang bodoh yang membiarkan orang terkasih nya pergi jauh tanpa pengawasan hanya saja dalam jarak jauh dan tentu aman.
Dia juga tau kalau Iva bertemu beberapa orang saat pergi dulu hanya saja dia tidak mau berbuat ceroboh dan berakhir penyesalan.
Sebelum bertindak alangkah baiknya mencari tau dulu dan juga saat dia menelpon Iva gadis itu selalu menjawab dengan tenang dan berkata jujur hanya bertemu Xander tidak di bicarakan menurut Iva tidak penting.
Acara malam ini berjalan lancar walau ada kendala kecil tapi bisa di atasi.
Buat keluarga Vani merasa marah merasa di permainkan hanya saja tidak langsung memperlihatkan tapi tidak tau nanti akan bertindak.
Zefan dan Iva, selesai acara langsung meninggalkan tempat itu, tidak mau berlama lama berada di sana.
"Mas, kamu belum jelaskan apa apa tentang malam ini," Tegur Iva, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa ada tunangan dadakan? apa keluarga dia tau? apa keluarga dia akan menerima baik? banyak pertanyaan di kepala Iva yang butuh jawaban.
"Nanti mas jelasin, sekarang kita cari tempat santai dulu," Zefan juga tau Iva butuh penjelasan dan tidak mau menunda agar semua jelas malam ini.
Sampai di sebuah taman, mereka berdua turun dan duduk di kursi dekat lampu.
"Sekarang mas jelaskan," Sudah tidak sabar dan rasanya semua pertanyaan itu seakan melompat keluar.
Emang apaan bisa melompat keluar, itu pertanyaan atau kelinci bisa lompat.
"Nafas dulu Zizi jangan buru buru," Bukan waktunya bercanda my Ze.
Oh my Ze panggilan yang cukup romantis.
"Dari tadi udah nafas mas, kalau ngak nafas pingsan dong.
Udah jangan becanda sekarang ngak bakalan lucu," Desak Iva lagi malas becanda.
"Pertama mas minta maaf," Langsung di potong Iva.
"Sekarang bukan mau lebaran ngapain minta maaf mas, udah jelasin aja," Sabar dulu neng Zi orang sabar di sayang tunangan loh.
Tunangan kok masih agak asing di telinga Iva, iya mereka tunangan saja belum tiga jam wajar saja belum biasa.
__ADS_1
"Mas lakuin ini mau membuktikan kalau mas beneran serius sama hubungan ini, sebelum mas melakukan ini mas udah minta izin sama papa Zizi dulu dan dia mengizinkan tapi dengan syarat harus ada acara nanti lagi sebab ini bukan acara yang di sediakan buat kita dan mas menyetujui itu.
Mas juga tidak mau mempermainkan sebuah hubungan hanya sekedar pura pura tunangan sama Vani dulu lalu memutuskan hubungan sebab hubungan bukan sebuah mainan,"
"Mas bukan tipe laki laki yang bisa pura pura hanya untuk menyenangkan hati seseorang buat sesaat aja.
Lebih baik jujur walau sakit dari pada berbohong hanya ingin orang bahagia sesaat itu bukan mas sekali,'
"mas udah mempertimbangkan semua ini sebelum bertindak, mas ingin setiap keputusan yang di ambil ngak ada kata gagal,'
Jelas Zefan panjang lebar sebab segala hal memang butuh pertimbangan dan memikirkan apa nanti akibatnya.
Zefan bukan tipe lelaki yang suka bersifat gegabah dan ceroboh.
" Tapi kenapa saat mama mas melihat kan foto Iva sama lelaki lain reaksi mas bjaja aja?" Iva tidak tau saja kalau setiap langkah kakinya sudah ada orang suruhan Zefan yang menjaga termasuk Zio.
Mengirim orang mengawasi Iva bukan berarti dia tidak percaya hanya saja buat melindungi Iva dan Zio.
Setiap gerakan yang mencurigakan akan langsung di cari tau sama mereka lalu di laporkan sama Iva.
Beruntung saat laporan tiba Zefan tidak langsung terbawa emosi dan cepat berfikir jernih.
"Mas udah tau siapa lelaki itu dan salah satu dari mereka hadir di sini tadi juga sempat berbincang sama Zizi.
Kalau yang di bandara itu kan kakak laki laki Zizi yang pertama.
Mas udah tau jadi mas ngak perlu cemburu atau curiga sama Zizi.
Zizi udah ngasih mas kepercayaan maka mas akan manfaatkan sebaik mungkin.
mas hanya ngak mau gegabah dan berakhir kehilangan kamu,"
Iva terharu sama penuturan Zefan sangat tegas dan penuh wibawa.
Dia beruntung mendapatkan Zefan serta cinta kasih Zefan yang di berikan tanpa paksaan atau hanya ingin menyenangkan hatinya.
__ADS_1
Zaman sekarang sulit menemukan lelaki seperti ini dan Iva mendapatkan dengan begitu mudah serta menerima dirinya yang masih menyimpan rahasia.
Suatu hari Iva akan bilang semua hal tentang dirinya.
Tidak mau harus ada yang ditutupi lagi, sebab suatu hubungan akan bertahan lama jika saling terbuka hanya saja sekarang belum saatnya.
"Makasih mas udah percaya sama Iva?" Menyenderkan kepala di bahu kekar Zefan dan memejamkan mata sejenak.
"Maaf sebelumnya mas mau bilang kalau mas mengirim seseorang buat mengawasi Zizi, bukan mas ngak percaya sama Zizi hanya aja mas mau memastikan kalau Zizi akan baik baik aja saat jauh dari mas dan ngak terjadi apa apa.
Di saat kita berjauhan mas selalu memantau Zizi baru setelah itu mas bisa bernafas lega," Membelai lembut kepala Iva dan mencium sekilas.
Kalau di lihat seperti ini mereka seperti ABG yang baru pacaran.
Duduk di taman malam malam, menyenderkan kepala di bahu, sesekali mencium pucuk kepala kekasihnya sungguh pemandangan yang adem bagi yang punya pasangan tapi pemandangan yang nyesek bagi kaum jomblo.
Sabar mblo jodoh kamu kalau tidak di tangan Tuhan ya di tangan teman.
"Ngak apa mas Iva ngerti kok sama apa yang mas lakukan.
Lagian Iva ngak pernah macam macam juga dan perlu mas tau Iva kalau udah sayang sama orang maka Iva ngak pernah ngelirik laki laki lain," Menikmati malam indah dengan tunangan baru beberapa jam dengan suasana taman yang mendukung sungguh tidak mau beranjak dari sana.
Waktu lah yang mengharuskan mereka buat berdiri dari duduk nyaman ini dan menyuruh pulang.
Bisa tidak lebih lama sedikit lagi saja biar malam ini lebih indah lagi.
Malam kenapa engkau cepat berputar? apa engkau cemburu melihat kami bermesraan hingga kamu mempercepat waktu? apa kamu bosan melihat kami ini? sudah lah itu semua terserah kamu saja yang penting kami bahagia.
"Mas antar pulang ya ini udah mau larut juga," Menggandeng Iva keluar dari sana menuju mobil.
Untuk malam ini cukup sampai disini dan masih ada hari esok, lusa, minggu depan atau bulan depan.
"Iya mas Iva juga udah capek dan ngantuk," Wajah Iva tampak udah menahan kantuk.
Jam juga sudah menunjukkan jam sebelas malam dan sudah jam istirahat.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Bersambung šš