
Setelah pergulatan bibir mereka yang cukup lama hingga akhirnya Zefan yang lebih dulu melepaskan bibir Ziva yang masih menempel itu, Zefan hanya takut jika di teruskan takutnya meminta lebih, maklum dia laki laki normal dan belum pernah merasakan jadi sebisa mungkin Zefan akan menahan diri.
"Maaf," Cuma kata itu yang mampu Zefan ucapkan setelah mencium bibir Ziva tanpa permisi.
Lagian bukan salah Zefan sepenuhnya, Ziva juga menikmati dan ikut membalas juga.
Ziva tidak menjawab hanya saja wajahnya sudah memerah karena malu dan menyembunyikan wajah cantik itu ke dalam dada bidang Zefan.
Bagaimana bisa dia ikut membalas ciuman yang Zefan berikan, rasanya malu tapi mau gimana lagi dia juga suka.
"Sekarang kita pergi ya, mas ngak mau terlalu lama kita di sini takutnya mas khilaf lagi," Ajak Zefan menggandeng tangan Ziva keluar dari taman.
Memang suasana taman yang sepi sangat mendukung seseorang berbuat mesum maka bagi pasangan yang belum halal jangan pernah pergi berduaan saja karena yang ketiga itu setan.
Kalau iya setannya take kasat mata, gimana kalau tampak maka malunya tidak bisa di ungkapkan sama kata kata sebab setan yang jelas itu bisa bicara dan ngeledek.
"Silahkan Zizi," Membukakan pintu mobil buat Ziva.
Mobil itu melaju meninggalkan area taman, hanya saja tadi di area taman ada yang melihat mereka berdua berciuman tapi di biarkan karena belum melewati batas wajar.
Iya batas wajar ya bukan batas normal jadi tak apa.
"Kita mau kemana mas? mas Zefan ngak kerja?" Karena melihat pakaian Zefan hanya pakaian santai bukan memakai jas.
"Mas mau menghabiskan waktu berdua sebelum Zio pulang Sekolah.
Kalau kantor mas lagi malas mau sama Zizi aja, lagian mas kangen karena kemarin kamu kabur," Alasan Zefan saja.
__ADS_1
Sebenarnya Zefan tidak mau ke kantor takut nanti Vani datang menemuinya dan membuka mood kerja Zefan hilang.
Kan lebih baik bersama Ziva dan membuat mood selalu baik.
"Iva ngak kabur mas hanya memberi kalian waktu bicara aja, dan buat kami pulang karena ngak mau kalau sampai Zio dengar.
Mas kan tau Zio jiwa ingin taunya tinggi, kalau Zio dengar terus Iva mau jelasin apa?" Itu hanya sedikit alasan Ziva pergi dari kantor Zefan kemarin.
"Iya ngak apa. kemarin Zizi kemana? saat mas cari ke rumah tempat kamu kerja ngak ada dan satpam bilang Zizi ngak pulang," Pertanyaan Zefan membuka Ziva bingung mau jawab apa.
Pasti jawaban satpam membuka Zefan bingung kemarin.
Aduh gimana ini? pasti pak satpam bawa bawa nama non dan membuat mas Zefan berfikir. Mana ada pembantu di panggil non sama teman sesama kerjanya.
"Iva ke rumah papa dan mama mas," Jawab Ziva singkat.
Jadi kalau Zizi ngak ada di rumah mas bisa cari di sana," Kalau Zefan tau rumah orang tua Ziva maka Zefan tidak perlu pusing mau mencari Ziva kemana.
"Iya mas, setelah hubungan kita dapat restu dari keluarga mas baru Iva kenalin mas sama keluarga Iva," Bukan tanpa alasan Ziva lama mau mengenalkan Zefan pada keluarganya, hanya saja mendapatkan restu keluarga Zefan yang terpenting sebab kalau keluarga Ziva sudah pasti akan menerima siapa saja yang dekat sama anaknya.
\=\=
Dia, ya dia lagi memandang lembaran foto yang mana di dalamnya ada sepasang kekasih yang lagi tersenyum bahagia tapi tidak buat dia yang hanya memasang wajah datar melihat foto itu.
Ekpresi yang di keluarkan sulit di tebak antara marah, kesal atau memang tidak ada ngaruhnya.
"Kamu tampaknya sangat bahagia disana, apa kamu udah lupa sama aku?" Ekpresi wajah itu masih sama.
__ADS_1
"Apa ke bahagiaan mu ada bersama dia, apa kamu juga bisa bahagia kalau lagi bersama ku atau kalau bersama ku kamu akan menderita,"
"Kita sudah mau berangkat dan pesawat sudah siap," Seseorang datang buat mengabarkan kalau mereka akan berangkat.
"Iya sebentar lagi," Menyimpan foto itu lalu berdiri.
Dia mau melakukan perjalann bisnis yang hampir tiap bulan dia lakukan.
Berjalan keluar menuju mobil yang yang sudah siap mengantarkan dia menuju bandara.
"Apa dia baik baik saja?" Pandangan dia bertanya tanpa melihat lawan bicara.
"Iya dia baik baik aja, hanya saja," Balas dia menggantungkan jawaban.
Yang bertanya tidak bertanya balik menunggu penjelasan lanjut.
"Kedekatan mereka berdua di tentang oleh orang tua laki laki lebih tepatnya mamanya dan dia lagi berusaha meyakinkan mamanya bahwa pilihannya tidak akan berubah meski dia sudah di jodohkan namun dia menolak," Lanjutnya pasti sebab sejauh pengamatannya masih baik baik saja.
"Lalu bagaimana dengan Zio ku?" Pertanyaan dia sama persis seperti ucapan Ziva yang mengatakan Zio kita.
"Si menggemaskan itu tumbuh menjadi anak yang pintar dan sekarang sudah masuk Sekolah," Hampir semua orang mengatakan Zio menggemaskan tapi jangan salah hanya orang tertentu yang boleh mengatakan kalau Zio tampan walau kenyataannya memang tampan.
"Awasi mereka terus jangan sampai terluka kalau tidak kepala kamu yang jadi jaminannya," Dia bicara soal kepala sama seperti kelapa yang kalau pecah bisa di ganti.
\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1