My Handsome Daddy

My Handsome Daddy
Ternyata Sudah Punya Anak.


__ADS_3

Seorang anak laki laki berlari ke arah tempat duduk Zefan, baru saja dia masuk perhatiannya langsung terarah pada Zefan yang ada di dalam sana.


"Daddy," Kini anak kecil itu sudah berdiri di depan Zefan dengan memasang wajah cemberut.


"Zefan di sini tampan? mozi mana ngak ikut?," Mengambil Zefan berniat mendudukan di atas pangkuan namun Zefan langsung menolak.


"Kenapa ngak mau duduk sama daddy lagi hhmm?," Heran sama penolakan yang Zio lontarkan secara terang terangan.


"Daddy jahat," Wajah itu sudah tidak senyum lagi saat baru melihat Zefan ada di sana,


"Daddy jahat apa sama Zio? sini bilang sama daddy, kenapa bilang daddy jahat?," Sedikit memaksa Zio agar mau duduk bersamanya.


"Kenapa daddy duduk sama tante ini? mozi kan ada," Merasa cemburu kalau melihat daddynya duduk sama perempuan lain.


Bagi Zio sejak pertama kali Zefan meminta dia memanggil daddy makanya mulai saat itu daddynya hanya milik mozi.


Biarlah Zio sedikit egois tapi yang jelas Zio tidak suka ada orang yang dekat sama daddynya selain mozinya.


"Ini teman daddy Zio, jadi Zio jangan marah lagi sama daddy ok.


Sekarang mozi dimana? kenapa Zio sendiri dan mbaknya mana juga?," Tidak mungkin anak kecil itu berada di sana sendiri tanpa ada orang dewasa yang menemani.


"Mbak ada masih di depan daddy, mozi bentar lagi datang bentar lagi jemput Zio," Mulai luluh saat mendengar perempuan itu ternyata teman daddynya.


Apaan Zefan bilang aku temannya, sudah jelas aku yang mau di jodohkan sama dia.


Dan juga siapa lagi anak kecil ini? Kenapa memanggil Zefan dengan sebutan daddy.


Vani hanya bisa menjadi penonton interaksi dua laki laki tampan beda usia di depannya.


"Zio kenalkan ini tante Vani, salim sama tante Vani," Vani mencoba tersenyum melihat Zio, bermaksud menarik perhatian Zefan dengan memasang wajah suka pada Zio.


Vani masih berusaha berfikir positif dan menganggap itu anak abang Zefan.


"Tante pakai baju siapa? kok kecil gini?," Bukannya menyapa, Zio malah mengomentari baju yang di pakai Vani.


Ternyata jalan fikiran Zefan tadi dan Zio sama mengenai baju Vani yang kekurangan bahan.


Vani tersenyum kecut, bagaimana omongan anak kecil itu membuat dia geram, ingin rasanya dia marah atau lebih parah dari itu.


Baju yang dia persiapkan untuk bertemu Zefan serta baju terbaiknya malah di cela oleh orang apa lagi anak kecil lagi.

__ADS_1


"Zio ngak boleh gitu ngomongnya, minta maaf ya sama tante Vani," Zefan tidak mau Zio bicara kasar sama orang, takutnya kebiasaan sampai besar nanti.


"Sorry tante," Ujar Zio memasang wajah menyesal.


"Ngak apa tampan," Kata keramat itu tidak boleh sembarang orang mengucapkan.


"No, hanya mozi dan daddy yang boleh bilang Zio tampan," Selalu seperti itu, kenyataannya memang tampan mau apa lagi coba.


"Iya Zio,"


Bagaimana dia begitu menyebalkan sekali, kalau bukan karna menarik perhatian Zefan mana mau aku melakukan ini.


"Zio anak kamu Zefan?" Penasaran sama kedekatan mereka seperti ayah dan anak.


"Tante ngak liat Zio tampan gini sudah pasti Zio anak daddy," Bukan Zefan yang menjawab tapi Zio yang merasa tidak terima sama pertanyaan Vani.


"Zio ngak boleh jawab pertanyaan orang dewasa ok," Kenapa Zio begitu sensitive sama pertanyaan itu.


"Sorry daddy," Lirih Zio sedikit menunduk.


"Ngak apa, jangan di ulangi lagi," Mengusap kepala Zio sambil tersenyum.


"Kalau gitu aku duluan ya Fan, masih ada janji sama teman," Tidak sanggup lama lama berada di sana dan apa lagi mengetahui kalau Zefan sudah punya anak.


"Iya ngak apa Fan, namanya juga anak kecil, dah Zio," Meninggalkan dua orang itu, yang jika lebih lama lagi di sana mungkin emosi Vani akan segera meledak mendengar ucapan Zio.


Sialan mulut anak kecil itu pedas juga, liat saja nanti urusan kita belum selesai anak kecil.


Mama apa apaan lagi mau menjodohkan aku sama laki laki yang sudah punya istri dan anak.


\=\=


"Zio ngapain di sini nungguin mozi?," Zio masih duduk di pangkuan Zefan.


"Kan Setelah Zio di depan sana daddy, jadi kalau mozi belum jemput di suruh nunggu di sini," Zefan tidak sadar tempat dia bertemu Vani di depan Sekolah Zio.


"Iya ya, kok daddy ngak lihat tadi ya," Kalau tau tadi dekat Sekolah Zio mungkin Zefan akan mampir ke Sekolah Zio dulu dari pada menunggu.


"Daddy aja ngak sayang Zio makanya daddy ngak tau Sekolah Zio," Wajah seperti itu sangat menggemaskan sekali.


Zefan yang ingin cepat berakhir pertemuan itu hingga tidak menyadari tempat sekitar.

__ADS_1


"Siapa bilang daddy ngak sayang Zio, maafin daddy ya janji ngak akan lupa lagi," Pipi embul itu minta di cubit begitu menggemaskan.


"Ok daddy,"


Mereka berdua memesan makanan karena tadi Zefan tidak berselera makan karena Vani nempel terus sama Zefan.


Zefan juga mengabari Ziva kalau sekarang Zio lagi bersamanya dan meminta izin buat membawa Zio pergi bermain bersama.


Ziva mengizinkan tapi tidak lepas dari pengawasan sama sekali.


"Zio mau pergi sama daddy? tadi daddy sudah minta izin sama mozi," Mereka sudah selesai makan dan mengajak Zio jalan jalan.


"Mau daddy," Zio sangat senang pergi sama Zefan.


"Ya sudah sekarang Zio mau kemana?," Zefan membayar makanan sebelum pergi.


"Ke tempat kerja daddy boleh daddy? Zio biasa pergi ke tempat kerja mozi," Zio sering ikut Ziva pergi bekerja.


"Ok sekarang kita ke tempat kerja daddy," Menggendong Zio pergi menuju mobil dan meletakkan Zio di kursi samping kemudi tidak lupa memasang sabuk pengaman.


\=\=


Di sebuah rumah besar, perempuan cantik keluar dari mobil dengan wajah kesal sejak keluar dari caffe tadi.


Merasa di permainkan sama anak teman mamanya.


"Mama apaan mau menjodohkan aku sama orang yang sudah punya istri bahkan sudah punya anak," Masuk rumah lalu membanting badannya ke atas sofa.


"Jangan mengada ngada sayang, anak tante itu belum ada yang menikah," Temannya bilang anaknya belum ada yang menikah.


"Apanya yang asal bicara ma, sudah jelas tadi saat kami bertemu tadi seorang anak kecil datang memanggil dia daddy, kurang bukti apa lagi coba dan di tambah wajah mereka ada kemiripan," Ah kalau begini caranya sia sia dia datang tadi, hanya buang waktu dan bikin emosi.


"Nanti mama bicarakan lagi sama temannya mama, kamu tenang saja sayang kamu pasti akan bersama dia," Mama Vani mana mau melepaskan tangkapan besar begitu saja yang akan membuat keluarga mereka bertambah kaya.


"Udah lah ma, aku pusing," Pergi meninggalkan ruangan itu menuju kamar.


"Kami sabar sayang, biar semua ini mama yang mengatur," Menyusun rencana agar bisa besanan sama keluarga terpandang.


Untuk masalah anak istri Zefan bisa dia atasi sendiri.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2