
Pemilik suara tidak lain tidak bukan adalah papa Arta papa Zefan dan bang Endra.
Menuruni tangga sama sang istri pasangan paruh baya yang masih terlihat muda.
Menghampiri mereka bertiga lagi duduk di sofa.
"Papa sama mama apa kabar?" Salam Iva menyalami keduanya lalu kembali duduk.
Di balas dengan senyuman oleh keduanya.
"Baik, gimana lancar honeymoon nya?" Mama mertua Iva mengusap pelan kepala Iva.
Jika melihat kebelakang lagi maka dia menyesal pernah menolak menantu sebaik dan seramah Iva di tambah begitu menyayangi cucu pertama nya yaitu Zio yang tidak di ketahui oleh siapa pun kecuali orang tua Iva dan kedua my brother nya.
Menantu yang di tolak dengan berbagai cara serta menghina sampai ke ubun ubun sebab sudah mempunyai anak.
Namun sejak tau kenyataan sebenarnya dia tersadar di tambah juga sama papa Arta yang memberi pencerahan supaya bisa menerima Iva sebagai menantu di keluarga mereka.
Lagian jarang di temui orang sebaik Iva yang mau merawat anak orang tanpa ada hubungan darah hanya sebatas sahabat.
Menantu baik dari keluarga terpandang, siapa yang bisa menolak.
"Lancar ma," Wajah Iva bersemu kalau membahas honeymoon, fikirannya langsung berkelana pada adegan iya iya yang hampir tidak pernah libur selama menikah.
Encok nggak tuh pinggang?.
"Gimana, mana pesanan kami?" Iva dan Zefan bingung.
Pesanan apa? fikir mereka.
"Papa mesan apa?" Kan mereka pergi dan pulang tidak memberi kabar, jadi bisa di pastikan kalau dia belum lupa kalau orang tua mereka tidak ada meminta apa apa.
"Cucu," To the point papa.
"Kan ada Zio," Pura pura aja dulu.
Dikira buat cucu seperti beli mainan yang ada di toko.
"Itu anak abang," Bukannya sama saja.
Anak bang Endra juga anak Zefan, kan mereka saudara.
"Sama lah pa, apa bedanya?" Jawab Zefan.
"Jelas beda, itu anak dari Lisa bukan dari istri mu," Untung orang tua sendiri kalau tidak udah di lempar bantal sofa.
"Papa tau apa yang kamu fikirkan, jangan kurang ajar," Cenayang ya pa, tau aja niat Zefan.
Kan tidak di lakukan.
"Kurang duit pa, habis buat honeymoon," Santai Zefan bodo amat.
"Dasar CEO kok kere, nanti mantu papa cari suami baru karena suami dia sekarang kismin eh miskin," Papa Arta itu tidak ada niat ngedukung apa.
Heran.
__ADS_1
"Berarti mama mau sama papa karna papa kaya, kasian cinta karna harta," Cibir Zefan balik.
"Kalian kenapa malah saling cibir?" Bang Endra menyela seperti kendaraan yang menyalip kendaraan lain.
"Jomblo diam," Jawab keduanya kompak.
Bang Endra langsung diam, jomblo dia bilang kan udah punya pasangan ya walau belum di halalkan tapi jangan di perjelas juga.
Sakit tau tapi tidak berdarah.
"Jahat, kalian seperti mak Cinderella kejam," Guman bang Endra dramatis.
"Zio mana bang?" Zio semalam menginap di sana dan pagi ini tidak keliatan, biasanya dia sudah ada.
"Masih di kamar," Balas bang Endra, sedikit kesal sama anaknya yang entah mengapa dia tidak bisa marah.
"Tumben, Zio kan nggak suka ngurung diri," Heran Iva, sebagai seseorang yang sudah membesarkan Zio pasti sudah tau gimana sifat atau kebiasaan Zio selama ini.
"Nggak tau, dari kemarin juga.
Kangen Iva mungkin," Bisa jadi juga.
"Biar abang panggil," Pergi dari sana ke kamar Zio.
Tidak lama Zio datang berada dalam pelukan bang Endra tapi wajahnya di sembunyikan.
"Zio liat siapa yang datang," Pinta bang Endra pada Zio, namun Zio menolak.
"Ada orang yang kangen sama Zio katanya, yakin nggak mau liat?" Lanjut bang Endra dan Zio masih belum mau menegakkan kepala.
"Ya udah mozi pulang aja, Zio nggak kangen sama mozi," Iva bersuara dan kepala Zio tegak seketika.
Zio memberontak dalam gendongan bang Endra.
"Papa Iyo mau turun!" Mozi dia masalah membuat dia malas keluar kamar dari kemarin.
"Nggak bisa, tadi kan nolak," Mengerjai Zio dan memeluk Zio erat.
"Mozi hhuuaa papa jahat," Adu Zio dengan air mata yang siap tumpah.
Memeluk bang Endra dengan tangan mungil itu.
"Tadi kan nggak mau, ngapain sekarang minta turun," Bahagia apa melihat anaknya nangis itu, dasar orang tua durjana.
"Mozi," Rengek Zio ingin pada Iva.
"Nggak boleh," Zio terus berontak hingga menggigit bahu bang Endra sampai pelukan itu terlepas.
Zio turun dan berlari ke arah Iva.
"Iyo kangen mozi," Isak Zio dalam pelukan Iva.
"Mozi juga kangen Zio, nggak nakal kan selama mozi tinggal?" Mengusap kepala Zio, bocah itu masih terisak pada Iva.
"Iyo nggak nakal, papa tuh yang nakal," Adu Zio.
__ADS_1
"Mana ada papa nakal," Bela bang Endra pada diri sendiri.
"Pokoknya papa nakal, nggak bisa di tawar," Teriak Zio yang masih marah sama papa nya itu.
"Heh ini bukan pasar ya, jadi nggak perlu di tawar," Ada ada saja.
Kalau mau marah ya marah aja ngapain menentukan juga.
"Sama daddy nggak kangen? sama mozi aja kangen," Kenapa cuma Iva yang di peluk kan mereka berdua pergi.
Mau pilih kasih.
"Nggak mau, kan daddy yang ngajak mozi pergi," Hanya ingin memeluk Iva seorang.
"Zio nggak sayang daddy lagi?" Merendahkan nada suara agar terkesan sedih.
"Nggak, gara gara daddy mozi ninggallin Iyo.
Sama papa nggak enak, di aniaya terus," Fiks itu fitnah, mana ada di aniaya yang ada di ajak jalan jalan terus.
Kalau mau bohong jangan di depan orang nya juga, kan ketahuan.
Lagian mana ada seorang ayah menganiaya anak sendiri, masih waras nggak tuh.
"Jangan fitnah ya Zio, sebab fitnah lebih kejam dari fitnes," Ya jelas lah, kalau fitness kan bikin capek.
Kalau umur dah nambah ingatan menurun ya.
"Diam, papa jahat," Tidak mau melepas pelukan itu hanya makin mengeratkan.
"Mozi jangan tinggallin Iyo lagi ya.
Kalau mau ninggallin tinggalin daddy aja sama papa," Iva hanya setuju saja yang penting sekarang Zio tenang dulu.
"Tampan nya mozi udah sarapan?" Zio menggeleng sebab sejak pagi dia belum keluar kamar bahkan saat di ajak bang Endra juga menolak.
"Kenapa?" Tanya Iva lagi.
"Nggak di bolehin papa, katanya cabe mahal," Adu domba aja terus, punya hobi kok bikin orang ribut.
"Jangan fitnah terus Zio, lama lama papa bisa marah ini," Ya kali pagi ini dua kali di fitnah di depan langsung lagi tanpa perentara.
"Kan ada mozi yang bela," Ini anak siapa, kok pagi pagi ngajak ribut.
"Lah apa hubungan, kan Zio kalau sarapan nggak suka pake cabe," Ada ada saja, cucu Sultan mau sarapan aja ribet.
Masalah cabe di ributkan, jangan kan cabe sama kebun cabe itu sanggup di beli.
Cari alasan yang benar napa Zio.
Nah kan Zio ketahuan suka bohong, lagian cabe nggak salah malah di bawa bawa juga.
Sedangkan kedua orang tua itu hanya jadi penonton saja tanpa mau ikutan atau menyela.
Kebahagiaan yang sederhana tapi ada juga yang di nistakan.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Tbc.