My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Kembali Bertemu


__ADS_3

Tanpa terasa, kami telah tiba di rumah sakit Medica Centre. Fatwa segera memarkirkan mobilnya. Setelah itu dia kembali memapah aku memasuki rumah sakit.


“Kamu tunggu di sini, ya. Biar aku yang mengambil nomor antrean,” ucapa Fatwa setelah aku duduk di kursi tunggu.


Aku mengangguk. Setelah itu, Fatwa pergi untuk mengambil nomor antrean.


Aku mengedarkan pandangan, hmm … pasiennya cukup banyak juga. Aku melirik jam tangan, sudah jam 2 lewat. Sebaiknya aku hubungi mama dulu biar beliau tidak mencemaskan aku karena pulang terlambat.


Saat aku hendak menekan nomor kontak mama, tiba-tiba Fatwa sudah berdiri di hadapanku. Dia menyodorkan secarik kertas padaku.


“Nomor antrean 54, Res. Nggak pa-pa, ‘kan?” ujar Fatwa.


Aku melirik display di atas loker bagian ortopedi. Dispalay baru menunjukan nomor 42. Itu artinya, aku harus menunggu sebelas pasien lagi sebelum akhirnya giliranku tiba.


“Kenapa, Res? Terlalu lama nungguinnya, ya?” tebak Fatwa.


“Emang lama sih,” kataku, “tapi ya sudahlah, nggak pa-pa. Toh kita juga sudah sampai di sini,” jawabku.


Melihat perjuangan Fatwa yang menginginkan aku sembuh seperti sedia kala, membuat aku tak tega untuk mengabaikan usahanya.


“Baiklah, kita tunggu saja,” ujar Fatwa seraya duduk di sampingku. “Apa kau ingin bermain halma?” tawarnya seraya mengeluarkan ponsel.


Aku tersenyum dan mengangguk. Hmm, melakukan permainan ini, membuat waktu cepat berlalu. Kami pun mulai asyik bermain halma seraya menunggu giliran.


“Nona Octora Resttyani!” panggil seorang suster.


“Res, nama kamu dipanggil tuh!” kata Fatwa.


“Benarkah, kok Res nggak denger,” jawabku.


“Bentar, kita dengarkan sekali lagi,” usul Fatwa.


Kami pun diam dan memperhatikan perawat yang sedang celingak-celinguk di depan ruang pemeriksaan.


“Nona Octora Resttyani!” kembali perawat itu memanggil namaku.


“Tuh, ‘kan, bener. Ya udah, yuk!” ajak Fatwa seraya membantuku berdiri.


“Ish.” Aku meringis saat aku tak mampu memijakkan kakiku yang terluka di lantai.


“Kenapa?” tanya Fatwa.


“Sakit, Fat,” jawabku.


Hup! Tanpa memberi aba-aba, Fatwa langsung menggendong aku. Tak ayal lagi, aku pun menjadi pusat perhatian saat Fatwa berjalan memasuki ruang pemeriksaan bagian ortopedi.


“Silakan duduk!” perintah seorang dokter paruh baya yang dilihat dari papan namanya bernama Dokter Rodriguez.


“Terima kasih, Dok,” jawab Fatwa, menurunkan aku di atas kursi.


“Dengan Mbak Octora Resttyani?” tanya Dokter Rodriguez seraya membaca kartu pendaftaranku.

__ADS_1


“Iya, benar, Dok,” jawabku.


“Dan ini, pasti suaminya, ya. Ah, suami siaga rupanya,” puji Dokter Rodriguez kepada Fatwa.


“Sebenarnya dia bu–“


“Ah, terima kasih atas pujiannya, Dok,” ucap Fatwa, narsis.


Aku langsung cemberut saat si dosen sableng itu memotong kalimatku.


“Hahaha, sama-sama, Pak. Yaaa, memang harus seperti itu kalau sudah menjadi suami. Karena, istri kita adalah tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab kedua orang tuanya lagi,” lanjut Dokter Rodriguez.


“Tepat sekali!” timpal Fatwa.


Aish, kenapa jadi begini? Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.


“Jadi, apa keluhan Anda, Mbak Res?” tanya Dokter Rodriguez.


“Begini, Dok. Seminggu yang lalu, kaki saya terkilir. Sudah dibetulkan, sih. Tapi, entah kenapa sampai sekarang masih terasa sakit, Dok. Bahkan, saya rasa, semakin bengkak. Terkadang, seperti mati rasa, dan kalau dipakai berjalan, rasanya kaki saya terasa lemas, Dok, hingga tak mampu menopang tubuh sendiri,” paparku.


“Baiklah, Mbak Res. Silakan duduk di atas ranjang. Biar saya periksa terlebih dahulu?” petintah Dokter Rodriguez.


Dengan bantuan Fatwa, aku berjalan menuju ranjang pemeriksaan. Sejurus kemudia, Fatwa membantuku menaiki tiga buah anak tangga untuk duduk di atas ranjang.


“Saya periksa dulu, ya, Mbak!” kata Dokter Rodriguez seraya berjongkok di hadapanku. Dia lalu memegang kakiku dan sedikit memijatnya di bagian yang memar.


“Ish.” Aku kembali meringis saat bagian yang memar mendapat tekanan dari ujung telunjuk Dokter Rodriguez


Aku mengangguk.


“Apa saat terjatuh, Mbak mendengar bunyi sesuatu?” Kembali Dokter Rodriguez bertanya.


Entah untuk yang ke berapa kalinya aku mengangguk menjawab pertanyaan dokter paruh baya itu.


“Seperti apa bunyinya?” tanya Dokter Rodriguez lagi.


“Kira-kira seperti suara ranting yang terinjak,” jawabku.


Dokter Rodriguez terlihat manggut-manggut. “Silakan duduk kembali!” ucapnya.


Fatwa menghampiri aku dan kembali memapahku ke kursi. Dengan hati-hati, dia membantuku duduk di kursi.


“Apa yang terjadi padanya, Dok?” tanya Fatwa terlihat cemas.


“Sepertinya, kaki istri Anda tidak hanya terkilir, tapi juga mengalami keretakan. Untuk lebih memastikannya, saya sarankan agar Anda melakukan rontgen terhadap kaki istri Anda,” tutur Dokter Rodriguez.


“Retak?” kataku dan Fatwa berbarengan. Sejurus kemudian kami saling pandang dan saling melempar senyuman.


“Ya, dilihat dari ciri-cirinya, sih, sepertinya memang retak. Tapi, seperti yang tadi saya katakan, sebaiknya Mbak melakukan pengecekan ulang, agar penanganannya juga tidak asal-asalan,” kata Dokter Rodriguez.


“Kapan sebaiknya dilakukan rontgen, Dok?” tanyaku.

__ADS_1


“Lebih cepat lebih baik,” jawab Dokter Rodriguez.


“Bagaimana kalau besok, Res?” tanya Fatwa menatapku.


“Bukankah besok kamu ada jadwal kuliah?” tanyaku.


Fatwa mengangguk.


“Lusa saja. Kebetulan lusa Res nggak ada kelas,” jawabku.


“Baiklah, lusa saja, Dok,” timpal Fatwa.


“Oke. Saya akan buatkan jadwal untuk lusa. Sekarang, saya akan memberikan obat pereda rasa sakitnya terlebih dahulu. Biar sedikit nyaman,” kata Dokter Rodriguez.


“Baik, Dok!” jawabku.


Beberapa detik kemudian, Dokter Rodriguez menyerahkan secarik kertas kepada Fatwa. "Ini resepnya, Anda bisa menebusnya di apotek depan,” ujar Dokter Rodriguez.


Fatwa menerima salinan resep tersebut. “Terima kasih, Dok. Kalau begitu, kami permisi dulu!” pamit Fatwa.


Dokter Rodriguez tersenyum. “Sama-sama, semoga lekas sembuh!” ucapnya.


Setelah berpamitan, Fatwa kembali memapah aku keluar dari ruang pemeriksaan.


“Kamu mau ikut aku ke apotek, atau menunggu di sini?” tanya Fatwa begitu kami tiba di ruang tunggu.


“Res tunggu di sini, nggak pa-pa, ‘kan?” tanyaku kepada Fatwa.


“Iya, nggak apa-apa. Aku pikir juga, sebaiknya kamu tunggu di sini saja. Apoteknya cukup jauh,” kata Fatwa.


Aku mengangguk.


Setelah melihat aku duduk dengan nyaman, Fatwa pergi menuju apotek.


Aku mulai mengeluarkan ponsel dari saku blazer. Karena asyik bermain halma, aku sampai lupa untuk memberi tahu mama tentang keadaanku yang tak bisa pulang tepat waktu.


Selesai mengirimkan pesan, aku kembali memasukkan benda pipih itu ke tempatnya. Saat aku hendak membetulkan resleting tas, tiba-tiba saja, aku melihat sosok yang tidak asing lagi, keluar dari ruang obgyn. Ish, Citra? Huh, kenapa aku harus kembali bertemu dengan wanita itu lagi. Sepertinya, dia sudah seperti bayanganku yang selalu mengikuti ke mana pun aku pergi.


Tak ingin bertegur sapa dengannya lagi, aku segera berdiri dan menjauh dari kursi tunggu. Perlahan, aku melangkahkan kakiku untuk menemui Fatwa di ruang apotek.


Saat aku hendak memasuki ruang apotek, tiba-tiba Fatwa keluar dari sana. Wajahnya kembali terlihat tidak bersahabat. Dia segera menghampiri aku.


“Sudah aku bilang, tunggu di sana. Kenapa malah nyusul kemari? Nanti kakinya tambah parah, loh, Res. Kamu, kalau dibilangin kok ngeyel terus sih?” gerutu Fatwa dengan kesalnya.


“Haish, jangan marah-marah terus, dong. Aku sengaja nyusul kamu karena tadi aku lihat Citra ada di sini. Ya, aku malas harus bertegur sapa lagi ma dia. Mangkanya aku nyusul ke sini,” tuturku.


“Citra?! Mau ngapain dia ke rumah sakit?” tanya Fatwa.


Aku menggedikkan kedua bahuku. “Entahlah, tadi sih, Res lihat dia keluar dari ruang obgyn,” jawabku.


“Obgyin? Jangan-jangan….”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2