
Aku sangat terkejut mendengar pengakuan Bang Rizal. Untuk dijadikan sebagai istri? Ish, memangnya siapa dia? Punya hak apa dia memperlakukan aku seperti ini? Lagi pula, mana mau aku dijadikan istri dengan cara dipaksa seperti ini.
Dasar orang gila! dengusku dalam hati. Aku benar-benar kesal mendengar jawaban Bang Rizal yang ringan. Se-ringan kapas.
“Apa Bang Rizal sadar dengan apa yang Abang ucapkan?” tanyaku.
“Tentu saja aku sadar, Chi,” jawab Bang Rizal.
“Lalu, apa dengan cara seperti ini, Bang Rizal yakin kalau Chi mau menjadi istri Abang?” Aku kembali bertanya. Kali ini, nada bicaraku sedikit meninggi.
“Hmm, karena aku tahu kamu tidak akan pernah mau menjadi istriku, jadinya, terpaksa aku melakukan hal ini padamu,” tutur Bang Rizal panjang lebar.
“Dasar Gila!” Aku mulai berteriak kesal.
“Hahaha, … jadi kamu baru tahu kalau dia emang gila?”
Tiba-tiba, seorang wanita berhijab datang memasuki ruangan tempat aku di sekap. Dia menghampiri aku dan mengalungkan kedua lengannya di leher Bang Rizal.
“Sudah aku bilang, Sayang. Kamu tidak perlu mengharapkan gadis sombong itu lagi. Kamu dengar sendiri, 'kan, apa pendapatnya tentang kamu,” ucap wanita itu seolah sedang memanasi hati Bang Rizal.
“Ck, bukan urusanmu!” Bang Rizal berdecak kesal seraya menghempaskan kedua tangan wanita itu.
“Anneu?” gumam aku.
“Aish, jadi kamu tahu namaku?” ucap wanita itu seraya mendekati aku. Tangan kanannya mencengkeram kedua rahang aku dengan kuat. “Ya, aku Anneu, adik kandung bang Andra yang sudah kamu bunuh,” jawab wanita itu, dingin.
Tubuhku seketika lemas setelah mendengar ada nada kebencian dari kalimat yang dia ucapkan. “Aku tidak membunuhnya! Mungkin sudah takdir bang Andra, meninggal dengan cara seperti itu. Bukankah setiap manusia memiliki garis takdirnya masing-masing?” kataku, tegas.
“Ya, Itu memang takdir! Tapi takdir yang sengaja kamu buat untuk bang Andra. Karena kamu-lah, bang Andra merubah takdirnya sendiri. Ngerti kamu!” Wanita itu berteriak seraya mendorong wajahku.
__ADS_1
“Cukup Anneu! Ini rumahku, kamu tidak punya hak untuk bertingkah di rumahku,” ucap Bang Rizal.
“Cih, dasar bucin! Kamu bahkan berani membentak istrimu demi wanita yang tidak pernah menghargai cinta kamu.” Anneu balas berteriak.
Apa?! Istri? Jadi, mereka pasangan suami istri? batinku semakin tidak mengerti dengan keadaan yang harus aku jalani saat ini.
Jika memang Bang Rizal telah beristri, lalu kenapa dia dengan terang-terangan bilang mencintai aku. Dan, sepertinya Anneu pun tahu tentang itu. Ah, apa-apaan ini?
“Cukup kataku!” Rahang Bang Rizal terlihat mengeras. Secepat kilat, dia menarik tangan Anneu dan menyeretnya untuk menjauhi aku.
“Tapi itu kenyataannya. Aku istrimu, dan kamu lebih mencintai dia ketimbang aku yang istrimu sendiri!” teriak Anneu.
“Ya! Istri yang setiap hari menggumamkan nama pria lain di hadapan suami. Bukan begitu?” Bang Rizal membalas perkataan Anneu seraya berteriak pula.
“Jangan pernah ikut campur urusanku! Kita menikah hanya di atas kertas,” ucap Anneu geram.
“Kau?!” Anneu tidak melanjutkan kata-katanya. Sejurus kemudian, dia keluar dari ruangan tempat aku disekap.
Bang Rizal kembali menatapku dengan tatapan sendunya. “Aku pergi dulu, Chi!” pamit Bang Rizal.
“Tunggu!” aku berteriak untuk mencegah kepergian Bang Rizal. “Sampai kapan Abang mengurung aku di tempat ini?” tanyaku pada laki-laki yang terlihat masih bersedih.
“Sampai kamu bersedia menjadi istriku,” ucapnya seraya berlalu pergi.
Aku hanya bisa bergeming mendengar ucapan Bang Rizal. Ish, benar-benar psikopat!
.
.
__ADS_1
Hari-hari terus berlalu. Entah sudah berapa lama aku tinggal di tempat ini. Hanya saja, seminggu setelah pertengkaran itu, bang Rizal menyuruh anak buahnya untuk memindahkan ruang penyekapan aku.
Tempat ini mungkin lebih layak dibandingkan tempat kemarin. Sebuah kamar yang cukup luas, yang di dalamnya terdapat sebuah kamar mandi. Bang Rizal juga memanjakan aku dengan berbagai macam kebutuhan wanita. Pakaian lengkap pun tersusun rapi di sebuah lemari jati. Kasur berukuran king size lengkap dengan meja rias, menghiasi kamar ini.
Aku juga tidak pernah kekurangan makanan. Bang Rizal menyediakan lemari pendingin di kamar ini. Setiap minggunya, benda ini selalu terisi penuh dengan bahan makanan. Bahkan, di sudut kamar, tersedia bar kitchen yang memiliki tempat untuk menyimpan kompor kecil. Peralatan masak pun tertata rapi di dalam sebuah mini kitchen set. Sehingga aku bisa dengan bebas memasak atau melakukan apa pun yang aku suka.
Hmm, entah seperti apa keadaan rumah bang Rizal. Kamar yang aku tempati sebagai tempat penyekapan pun terlihat sangat mewah. Namun, apalah arti sebuah kemewahan ini, jika kita harus menukarnya dengan kebebasan kita.
Semenjak bertengkar hebat tempo hari, aku tidak pernah melihat Anneu datang kemari. Entah jika dia datang, tapi hanya sampai di lantai bawah. Karena bang Rizal menyekap aku di sebuah kamar, di lantai atas.
Setiap seminggu sekali, bang Rizal datang ke tempat ini untuk mengetahui kondisiku. Setiap seminggu sekali juga dia akan mempertanyakan hal yang sama. “Maukah kamu menikah denganku?”
Dan jawabanku masih tetap sama. “Tidak!”
.
.
Aku sudah benar-benar pasrah akan nasibku. Aku sudah tidak mencemaskan tentang keadaanku. Satu-satunya yang aku khawatirkan adalah kesehatan ibuku. Aku yakin, sebagai seorang ibu, beliau pasti sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya yang hilang tanpa kabar.
Aku tidak bisa membayangkan hari-hari kelam yang harus dilalui ibuku. Dan Rayya? Anak itu pasti sangat kebingungan harus ke mana mencariku. Jika mengingat kedua orang itu, rasa rindu di hati semakin menggebu. Tapi, aku benar-benar tidak punya kekuatan untuk melarikan diri.
Entah kenapa, tenagaku seakan terkuras habis meski hanya memikirkan tentang mereka. Setiap hari, aku merasa kondisi tubuhku tidak bersahabat, sehingga aku tidak punya gairah ataupun keinginan untuk mencoba keluar dari tempat ini.
Aku menyandarkan punggungku pada dashboard ranjang. mataku mulai terpejam untuk menikmati bayangan kedua orang yang paling berarti dalam hidupku. Perlahan, memoriku mulai memutar satu demi satu peristiwa yang aku alami. Bagaikan tampilan slide show, momen-momen itu tergambar jelas di ingatanku. Hingga aku sampai pada momen di mana untuk pertama kalinya, aku bertemu kembali dengan dosen yang aku anggap tidak waras. Ah, Fatwa … di mana kamu sekarang? Akankah kamu menyelamatkan aku kembali jika kamu tahu aku disekap lagi?
Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskan dengan perlahan. Entah untuk berapa lama aku tertahan di tempat ini. Hanya keajaiban Tuhan yang bisa membebaskan aku dari belenggu obsesi bang Rizal.
Bersambung
__ADS_1