
Aku bergeming memikirkan perkataan Fatwa barusan. Namun, aku segera menepis kejanggalan yang diungkapkan Fatwa. Aku yakin jika mas Yudhis tidak akan mengkhianati apa yang sedang kami bina. Masih terekam jelas dalam ingatanku tentang bagaimana mas Yudhis berjuang untuk meraih kepercayaanku. Lantas, haruskah semua itu patah hanya karena omongan dosen gila yang tidak tahu diri itu?
"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang!" Aku mengusir Fatwa secara terang-terangan.
"Tapi, Res...." Sepertinya Fatwa masih mencoba berusaha untuk meyakinkan aku.
"Resti ngantuk, besok Res mo kerja," ucapku dingin.
"Huff!" Fatwa hanya membuang napasnya kasar. "Baiklah, aku pulang dulu. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampai cinta membuat kamu terpuruk untuk kedua kalinya," kata pria dingin itu.
Eits, apa maksudnya ini? Apa dia menyindir sikapku di masa lalu?
Aku hanya bisa diam melihat Fatwa pergi. Sungguh, ada perasaan yang tidak biasanya, menggelitik hatiku. Entahlah, hanya saja ... apa yang dikatakan laki-laki itu, masih terngiang jelas di telingaku.
Aku kembali ke kamar dan langsung menghempaskan tubuh di atas kasur. Pekerjaan yang tadi aku tinggal karena menemui pria itu, kini benar-benar aku tinggalkan. Aku sudah tidak punya mood lagi untuk menyelesaikan pekerjaan.
Aku memejamkan mata, mencoba menghilangkan kalimat Fatwa yang terus mendengung di telinga. Tapi, semakin mataku terpejam, semakin jelas juga dengungan itu menggema.
"Huh!" Aku mendengus kesal dan akhirnya bangun untuk pergi ke kamar mandi. Mungkin ngaji adalah obat terbaik untuk melupakan kegundahanku tentang kejanggalan yang dikatakan dosen itu.
.
.
Beginilah aku, selalu tidak pernah bisa tidur setiap kali sebuah permasalahan datang. Dan akhirnya, pagi ini aku bangun kesiangan. Karena mengejar waktu, aku sampai melupakan sarapan. Sekilas aku lihat, mama hanya menggelengkan kepala saja mengantar kepergianku.
Bel masuk sekolah berbunyi bertepatan dengan ketibaanku di kelas. Aku segera menyuruh anak-anak untuk berbaris, dan mulai menyiapkan materi. Saat aku hendak menaruh ponsel di dalam laci meja, tiba-tiba benda pipih itu berbunyi. Sebuah notifikasi pesan whatsapp masuk. Aku mengusap layarnya untuk membaca pesan itu.
Assalamu'alaikum, Kak Chi...
Hari ini kita jadi kerja kelompok, 'kan? Citra tunggu jam makan siang di kafe Alhamda. See you.
Kembali aku masukkan benda pipih itu ke dalam saku blazer. Setelah anak-anak masuk, aku mulai memerintahkan seorang murid laki-laki untuk memimpin do'a. Selepas itu, kegiatan belajar mengajar pun dimulai.
Tanpa terasa, tiga jam telah berlalu. Pukul 10.30 menit kelasku bubar. Sambil menunggu waktu jam makan siang, aku mengerjakan administrasi kelas. Tiba-tiba, ponselku berdering, aku merogohnya kembali dari dalam saku blazer. Saat kulihat, ternyata itu panggilan dari mama. Aku segera menggeser tombol hijau.
"Assalamu'alaikum, Ma!" sapaku.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Kak, ini ada orang pake pakaian seksi banget. Katanya suruhan nak Yudhis, mau ngambil barang yang tertukar. Maksudnya apaan, ya, Kak?" cerocos mamaku di seberang telepon.
"Oh, itu pasti sekretarisnya mas Yudhis, Ma. Iya, dia emang datang buat bawa paper bag warna pink yang ada di kamar Kakak. Bisa tolong diambilin Ma, paper bag-nya? Ada di kamar Kakak, kok," ucapku yang langsung teringat akan omongan mas Yudhis semalam.
"Paper bag, emang isinya apaan Kak, kok bisa ketuker gitu?" Mama kembali bertanya.
"Mas Yudhis beliin baju kerja buat Kakak, tapi ketuker sama pembeli lain di kasir. Nggak tahu juga, sih. Nggak jelas," jawabku.
"Ish, dasar ceroboh. Ya sudah, Mama tutup teleponnya," jawab mama
Tanpa menunggu persetujuan dariku, sambungan telepon pun telah terputus. "Dasar mama," ucapku gemas.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa dzuhur pun tiba. Aku segera pergi ke mushala untuk menunaikan shalat. Aku tidak ingin membuat Citra dan yang lainnya menunggu. Karena itu, selepas shalat dzuhur, aku meminta izin bapak kepala sekolah untuk pulang duluan. Beruntung, pak Diman bukan orang yang sulit untuk diajak kompromi. Beliau tidak pernah mempersulit keperluan izin selama alasannya tepat dan jelas.
Dengan menggunakan taksi online, aku pergi menuju tempat yang sudah dipesan Citra untuk mengerjakan tugas. Aku sendiri tidak mengerti, kenapa Citra memilih kafe untuk kerja kelompok. Apa nggak semakin buyar tuh konsentrasi. Ya, suasana kafe, 'kan tentunya ramai. Tapi, berhubung perutku meronta meminta jatah makan siang, ya aku tahan saja protesku. Mungkin ini hikmahnya dibalik pilihan Citra, hehehe....
Tak membutuhkan waktu lama, aku tiba di kafe Alhamda. Katanya sih, ini kafe ternyaman untuk mengerjakan tugas, atau untuk orang-orang yang sedang memadu kasih. Hmm, masak iya, sih?
Tapi, begitu aku tiba di sana. Suasana kafe memang begitu nyaman dan juga asri banget. Banyak tanaman hijau baik di luar ataupun di dalam ruangan. Bahkan, di tengah kafe terdapat kolam air mancur yang memberikan hawa segar di ruangan itu. Ah, sungguh sangat menyejukkan. Alamat langsung tidur ini mah, kalo dah kenyang makan...
Suara cempreng Citra menyambutku begitu aku memasuki kafe. Dia melambaikan tangannya dari sebuah meja lesehan yang cukup nyaman dan menghadap ke sebuah taman buatan. Aku pun segera menghampiri Citra.
"Gimana, makan dulu apa langsung nugas nih?" tanya Zein, masih teman kampusku juga.
"Makan dulu, ya. Laper nih," ucapku seraya mendaratkan bokong di bantal lesehan.
"Oke, kita langsung aja tambahin pesanannya sama punya Kakak Chi, ya. Soalnya tadi kita sudah pesan makanan duluan," ucap Citra.
"Oh, ya sudah. Biar aku panggil lagi waitress-nya," timpal Zein.
"Nggak usah, Zein! Biar Kakak yang ke sana saja. Sekalian ke toilet," pungkasku.
"Aku temenin, Kak!" sahut Citra.
Kami pun pergi menuju meja kasir untuk memesan makanan. Tiba di meja kasir, panggilan alam sudah tidak bisa berkompromi lagi. Aku segera meminta tolong Citra untuk memesankan makanan.
"Memangnya Kakak mau ke mana?" teriak Citra.
__ADS_1
Aku hanya menunjukkan jari kelingking untuk menjawab pertanyaan Citra.
Karena terburu-buru memasuki toilet, di depan pintu aku bertabrakan dengan seseorang hingga dia terjengkang.
"Aduh, ma-maaf," ucapku seraya mengulurkan tangan untuk membantu wanita itu berdiri.
"Tidak apa-apa," jawab wanita itu.
"Sandra?" Aku memekik pelan saat menyadari jika wanita itu adalah Sandra, sekretaris mas Yudhis.
"I-ibu?" ucap Sandra tergagap.
"Kamu sedang apa di sini?" tanyaku.
"Saya sedang makan siang, Bu," jawab Sandra.
Tapi aku tak bisa menahan lagi. "Eh, permisi ya, San. Aku ke kamar mandi dulu!" Tanpa menunggu jawaban Sandra, aku pergi ke kamar mandi.
Beberapa menit berlalu, ah lega rasanya setelah buang air kecil. Aku mencuci tangan dan merapikan rambutku. Sadar jika telah membuat teman-teman menunggu, aku segera pergi untuk menemui mereka. Namun, belum sempat aku menuju meja teman-teman. Aku seperti melihat sosok mas Yudhis yang sedang duduk sendiri di sebuah meja VVIP. Aku pun segera mendekatinya.
Tinggal beberapa langkah lagi aku tiba di sana. Tiba-tiba saja, seorang wanita menarik tangan mas Yudhis agar segera berdiri. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mas Yudhis pun pergi mengikuti wanita itu yang tak lain adalah sekretarisnya.
Aku segera mengeluarkan ponsel dari saku blazer. Kutekan nomor mas Yudhis. Setelah beberapa detik menunggu, telepon pun tersambung.
"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap mas Yudhis terdengar sedikit gugup.
"Wa'alaikumsalam. Maaf Mas mengganggu waktunya. Tadi mama bilang, sekretaris Mas sudah datang. Tapi, katanya dia tidak membawa apa-apa. Memangnya, pakaian yang buat Chi belum diambil, ya?" tanyaku berbasa-basi sambil memandang punggung mas Yudhis yang mulai menjauh.
"Oh, iya ... itu, anu..., dia meminta barangnya dulu dikembalikan. Nanti, punya kamu dia balikin setelah dia nerima barangnya, gitu katanya Chi," ucap Mas Yudhis, terbata.
"Oh, gitu ya. Mas lagi di mana? Kita makan siang bareng, yuk!" ajakku merengek sambil tak melepaskan pandangan dari pria yang sedang berpegangan tangan dengan sekretarisnya.
"Aduh, maaf Chi. Mas sedang meeting bersama klien di kantor. Lain kali saja ya, kita atur waktu berdua, biar romantis. Sudah dulu, ya Chi. Mas mau melanjutkan meeting lagi. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam"
Bersambung
__ADS_1