My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Antar Jemput


__ADS_3

Setelah beristirahat selama dua hari, aku mulai kembali beraktivitas. Karena aku belum bisa melepaskan tongkat penyangga, akhirnya mama berinisiatif menggunakan kamar tamu untuk menjadi kamarku. Alasannya Cuma satu, agar aku tidap perlu bolak-balik menaiki tangga.


“Kak, sudah siap? Nak Fatwa sudah nungguin kamu di luar, tuh!” teriak mama dari dapur.


“Iya, bentar Ma. Kakak cari ponsel dulu,” jawabku sambil berteriak juga.


“Ish, memangnya kamu taruh di mana?” tanya mama yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar.


“Astagfirullah, Ma! Ih, bikin kaget aja. Untung Kakak nggak punya penyakit jantung. Kalau punya, bisa langsung pingsan nih,” gurauku yang memang cukup terkejut mendapati mama di pintu kamarku.


“huh, lebay…” ledek mama. “Kamu kebiasaan deh, Kak. Tiap mau berangkat kerja, selalu saja ada drama di pagi hari,” gerutu mama seraya membantuku mencari ponsel. Tiba-tiba,


“Kak, Nih! Makasih, ya,” kata Rayya sambil menyerahkan benda pipih berwarna abu, milikku.


Aku dan mama hanya saling pandang melihat benda itu ada di tangan Rayya. “Kok ada sama kamu, Dek?” tanyaku, heran.


“Loh, tadi, ‘kan, Rayya bilang, Rayya mau pinjem ponsel Kakak bentar, buat miscall ponsel Rayya yang lupa lagi nyimpennya di mana,” kata Rayya tanpa dosa.


“Ish, Raaay…!” pekikku gemas.


“Sudah-sudah, anak Mama semuanya emang nggak ada yang bener. Pikun, alias pelupa!” gerutu mama terlihat kesal.


Kini, giliran aku dan Rayya yang saling pandang.


“Sudah siap, Res?” tiba-tiba Fatwa sudah menyembulkan kepalanya di pintu kamar.


“Eh, iya … Res sudah siap, kok!” ucapku yang cukup terkejut mendengar suara bariton miliknya.


Fatwa segera mendekati aku dan … hup! Seperti biasa dia menggendongku.


“Fat, aku bisa jalan sendiri, nggak usah gendong Res juga, kali,” ucapku yang sudah malu selangit.


“Jalan kamu tuh terlalu lama. Apa kamu nggak lihat, sekarang sudah jam berapa?” tanya Fatwa.


Aku melirik jam di pergelangan tanganku. “Ya ampun, Fat … ini sudah hampir pukul 7 pagi,” pekikku.

__ADS_1


“Lah, makanya,” kata Fatwa, “sudah, jangan banyak gerak, biar nggak terlalu berat juga,” ucap Fatwa.


“Ish, kamu mau bilang Res gendut?” kataku seraya mengerucutkan bibir karena kesal mendengar ucapan Fatwa.


“Haish, suudzon mulu!” ujar Fatwa.


Tak lama kemudian, kami tiba di halaman depan. Fatwa segera menurunkan aku di bangku depan. Sejurus kemudian, dia mengelilingi bagian depan mobil dan duduk di bangku kemudi. Tak ingin mengulur waktu lagi, Fatwa segera menyalakan mesin mobilnya. Mobil pun melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi karena waktu sudah semakin mepet.


Beruntung Fatwa seorang pengemudi yang handal. Hingga dalam waktu 45 menit, kami sudah tiba di tempat kerjaku.


“Jangan pulang dulu, sebelum aku jemput kamu!” ujar Fatwa mengingatkan.


“Nggak pa-pa, Fat. Kamu, "kan ngajar juga. Res bisa pesan taksi online, kok.” Aku mencoba bernegosiasi dengan Fatwa. Aku tidak enak jika setiap hari, selama kakiku bermasalah, Fatwa harus mengantar jemput aku.


“Sudahlah, Res. Nggak perlu ngebantah lagi. Kita sudah sepakat bahwa selama kaki kamu belum sembuh, aku yang bertanggung jawab untuk mengantar dan menjemput kamu ke tempat kerja,” kata Fatwa.


“Tapi, Fat. Res nggak mau nyusahin kamu. Bukannya kamu sendiri punya kesibukan?”


“Aku nggak nerima penolakan, ya, Res.”


Akhirnya aku menyerah. “Ya sudah, terserah kamu saja,” kataku pelan.


“Ish, nggak perlu, Fat! Malu sama anak-anak.” Aku mencoba menolak kegilaan Fatwa.


“Sayangnya, aku nggak nerima bantahan,” kata Fatwa yang langsung membuka pintu mobil.


Tak lama kemudian, Fatwa membuka pintu mobil yang berada di sampingku. Setelah itu, dia kemudian memapahku hingga sampai di kelas. Ya Tuhan, bisa gila jika setiap hari aku mencium wangi aroma tubuh laki-laki dingin yang memabukkan.


“Ya sudah, aku pergi dulu, ya! Ingat, jangan dulu pulang sebelum aku datang!” katanya penuh ketegasan.


“Iya-iya,” jawabku pasrah.


Setelah memastikan aku aman duduk di kursi kerjaku, akhirnya Fatwa kembali ke kampus. Tak lama kemudian, anak-anak mulai mengerumuni mejaku untuk bersalaman. Aku sedikit kewalahan menjawab, saat mereka mempertanyakan ketidakhadiranku selama sepekan lebih. Beruntungnya, tiba-tiba Bu Fina masuk ke kelasku dan menyuruh para peserta didikku untuk kembali ke bangkunya masing-masing.


“Alhamdulillah, saya senang Bu Res sudah bisa kembali ke sekolah,” kata Bu Fina.

__ADS_1


“Iya, Bu. Saya juga senang bisa kembali bekerja. Rasanya badan saya pegal-pegal karena rebahan terus," kataku.


“Hahaha, Bu Res bisa saja. Ya sudah, selamat bekerja. Nanti, istirahat kita ngobrol-ngobrol lagi,” ucap Bu Fina.


“Baiklah, Bu,’ jawabku.


“Kalau begitu, saya pamit ke kelas dulu, ya, Bu,” lanjut Bu Fina.


“Hmm, baiklah. Selamat bekerja juga untuk Ibu,” jawabku.


Bu Fina tersenyum. Sejurus kemudian, dia pun pergi ke kelasnya.


Aku menatap muridku satu per satu. Kerinduan terhadap merekalah yang menuntun aku untuk segera bekerja. Meski dengan keterbatasan gerak, aku tetap menerangkan materi sebaik mungkin agar mereka bisa memahami pembelajaran hari ini.


Asyik bekerja, tanpa sadar waktu pulang pun telah tiba. Setelah mengucapkan salam dan do’a setelah belajar, para anak didikku pulang satu per satu. Kelas pun kosong, aku meraih tongkat penyanggaku dan mulai berjalan menuju ruang guru. Tiba-tiba Bu Fina datang menghampiriku.


“Ish, Bu Res, kenapa nggak chat saya saja? Saya, ‘kan, bisa ke kelas Bu Res untuk membantu Bu Res ke kantor,” kata Bu Fina.


“Tidak apa-apa, Bu. Sekalian belajar jalan juga,” jawabku.


Bu Fina kemudian memapah aku hingga kami tiba di kantor. Kami pun segera duduk untuk beristirahat sejenak.


“Sebenarnya apa yang terjadi Bu Res, kenapa tunangan Bu Res bisa melakukan kejahatan seperti itu terhadap Bu Res?” tanya Bu Fina yang sepertinya penasaran dengan kejadian yang menimpaku.


Sejenak aku menghela napas. “Sebenarnya, ceritanya panjang, Bu. Tetapi yang jelas, sekarang saya yakin jika mas Yudhis bukanlah jodoh saya. Hmm, saya sangat bersyukur Tuhan membuka kebenarannya sebelum kami benar-benar menikah. Coba kalau tahu setelah menikah, mungkin saya tidak akan pernah sanggup menerima ujian ini,” jawabku.


“Apa dia selingkuh?” tanya Bu Fina mencoba menebak permasalahanku.


Aku hanya bisa diam mendengar pertanyaan Bu Fina. Namun, sepertinya Bu Fina paham akan kediamanku. Dia kemudian menggenggam tanganku dengan erat.


“Yang sabar ya, Bu,” ucap Bu Fina.


Aku hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan Bu Fina. Dan, sepertinya rekan-rekan kerjaku sangat paham dengan kondisiku saat ini. Tak ada satu pun dari mereka yang bertanya lebih jauh tentang hubunganku dengan manta tunangan.


Waktu terus berlalu. Azan dzuhur pun mulai berkumandang. Saat aku hendak pergi ke mushala sekolah, aku melihat mobil Fatwa memasuki halaman sekolah. Aku sedikit mengernyit mendapati Fatwa sudah pulang di jam segini. Aku segera menghampiri Fatwa yang baru keluar dari mobilnya.

__ADS_1


“Kok jam segini sudah pulang, Fat?”


Bersambung


__ADS_2