
"Fat, aku boleh minta tolong nggak sama kamu?" tanya Gaos kepada Fatwa.
"Minta tolong apa, Bang?" Fatwa yang sedang memasang sound system untuk salat jum'at, malah balik bertanya kepada Gaos.
"Tolong gantikan jadwal aku untuk melatih anak-anak SMA 42. Kebetulan abis salat jum'at, aku mo nganter guru ngajiku membesuk temannya yang sedang dirawat di rumah sakit," tutur Gaos.
Fatwa mengernyitkan kening. "Emangnya, nggak bisa digabungin ya, Bang? Besok, 'kan gua ke sana juga," ucap Fatwa.
"Ya, kalo kamu nggak repot sih, nggak pa-pa. Cuma masalahnya, yang aku ajar, 'kan baru tahap dasar. Sedangkan murid kamu, semua rata-rata sudah sabuk biru. Bisa kewalahan kamu entar, Fatwa," kata Gaos.
"Hahaha, benar juga. Ya sudah, nanti abis salat jum'at, gua ke sana, Bang, jawab Fatwa sambil tergelak.
"Siip. Thanks ya, Fat!" ucap Gaos sembari menepuk pundak Fatwa. "Oh iya, Ji. Hari ini gantiin aku khotbah ya?" pinta Gaos setengah berteriak, karena posisi Aji yang sedang menggelar karpet, cukup jauh.
"Siap, Bang!" jawab Aji sambil mengangkat tangan kanannya.
"Ya sudah, kalau gitu. Aku pamit dulu, ya! Sepertinya, aku salat jum'at di tempatku saja, ucap Gaos. "Yuk! Assalamu'alaikum!" Gaos berpamitan kepada Aji dan Fatwa.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati, Bang!" jawab Aji dan Fatwa serempak. Setelah itu, mereka kembali membereskan peralatan untuk persiapan salat jum'at di sekolah.
.
.
.
Selepas salat jum'at, Fatwa pergi ke SMA 42 untuk menggantikan posisi Gaos sebagai pelatih taekwondo di sana. Beruntungnya, dia selalu menyimpan peralatan pribadinya di loker sekolah. Jadi, Fatwa tidak perlu pulang untuk mengambil pakaian taekwondo miliknya.
Jarak antara SMA 1 dan SMA 42 hanya sekitar 30 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan beroda dua. Pukul 13.35, Fatwa tiba di SMA 42. Dia segera memarkirkan motornya karena sudah terlambat 5 menit dari waktu latihan yang telah ditentukan. Dengan terburu-buru, Fatwa memasuki gerbang sekolah. Dia sedikit menunduk untuk memasukkan kunci motornya ke dalam tas ransel.
Brugh!
"Aww!"
Fatwa begitu kaget ketika tanpa sengaja dia menabrak seseorang. Pekikan seorang gadis seketika membuat Fatwa menatap lurus ke bawah. Tampak seorang gadis berkuncir dua sedang meringis kesakitan saat bokongnya tanpa sengaja mencium lantai keramik. Sejenak Fatwa terpana melihat wajah imut sang gadis yang seperti anak berumur 5 tahun.
Subhanallah! Imut sekali. Dengan bentuk wajah oval, mata yang belo dan bulu mata yang lentik. Pipinya sedikit chubby, tetapi bentuk tulang pipinya yang menonjol dan berwarna kemerahan membuat gadis itu tampak seperti sebuah boneka.
__ADS_1
"Eh, kalau jalan kira-kira donk! Lo nggak punya mata, apa?" sungut gadis itu.
Umpatan sang gadis berkuncir dua, seketika menyadarkan Fatwa dari keterpesonaannya melihat gadis itu.
"Eh, maaf. Mari saya bantu!" ujar Fatwa sambil mengulurkan tangannya.
"Nggak usah! Gua bisa bangun sendiri," jawab gadis itu ketus seraya menepiskan tangan Fatwa yang tengah terulur di hadapannya. Tapi,
Blugh!
Mungkin karena lantai licin, gadis itu kembali terjerembab saat hendak berdiri.
"Ish!" Kembali gadis itu meringis seraya mengusap pantatnya yang terasa nyeri.
"Saya sudah bilang, biar saya bantu Anda untuk berdiri!" Fatwa kembali berkata dengan sedikit kesal karena sikap ngeyelnya gadis itu.
Fatwa mengulurkan tangannya dan gadis itu menyambut uluran tangan Fatwa. Namun,
Blugh!
Deg-deg-deg!
Seketika jantung Fatwa berdegup kencang saat menatap kedua bola mata gadis itu yang bersinar berwarna kecoklatan. Sungguh sinar yang indah dan meneduhkan. Fatwa benar-benar terpesona dengan jernihnya kedua bola mata yang sangat menawan.
"Subhanallah, sungguh indah maha karya-Mu, Ya Rabb," gumam Fatwa kembali bertasbih.
"Ish, lo mo bikin gua mati keabisan napas, engap tau!" jerit gadis itu saat sudah tak mampu menahan berat badan Fatwa di atas tubuhnya.
"Ups! Sorry!" Fatwa segera berdiri. Sejurus kemudian, dia menarik tangan gadis itu untuk berdiri. Namun, tarikan Fatwa begitu kuat, sehingga membuat gadis itu terjerembab ke dalam pelukannya.
Tak siap mendapatkan dorongan yang begitu kuat, akhirnya...
Blugh!
Mereka kembali jatuh ke lantai dengan posisi kebalikan dari awal. Kini, gadis itu tengah tengkurap di atas tubuhnya. Untuk sejenak, mereka beradu pandang.
"Aih, lo modusin gua, ya!" teriak gadis itu yang menyadari sedang berada di atas tubuh seorang pria. "Dasar otak mesum, lo!" umpatnya sambil bangkit untuk berdiri.
__ADS_1
"Ya Tuhan ... mimpi apa gua semalem, ampe harus terkena kutukan jatuh berkali-kali!" gerutu gadis itu sambil meninggalkan Fatwa yang masih berbaring.
Tanpa pamit, tanpa permisi. Gadis itu terus berlalu menjauhi Fatwa. Sepanjang koridor kelas, tangannya terus bergerak untuk menggambarkan kekesalannya. Mulutnya yang tipis terus mengoceh, hingga suaranya mulai terdengar samar. Fatwa bangkit duduk dan terbengong melihat sikap gadis itu. Sungguh gadis yang sangat aneh. Tapi, hmm ... dia imut juga, batin Fatwa.
Masih dengan senyumnya yang mengembang, Fatwa berdiri dan mulai berjalan ke tengah lapang. Di sana sudah mulai berkumpul anak-anak yang mengenakan pakaian taekwondo bersabuk putih. Fatwa menghampiri mereka.
Dengan langkah tegap dan senyumnya yang khas, Fatwa menghampiri mereka.
"Ayo adek-adek, sekarang buat lingkaran!" teriak Fatwa.
Sontak seluruh anak-anak yang rata-rata duduk di bangku SD kelas tinggi dan SMP, mengikuti perintah Fatwa untuk membuat lingkaran.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!" sapa Fatwa membuka latihan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab serempak anak-anak yang mengikuti latihan.
"Baiklah adek-adek sekalian, perkenalkan ... Nama Kakak adalah Fatwa Immamuddin. Tapi adek-adek boleh panggil Kakak, Abang Fatwa. Hari ini, Abang berdiri di sini untuk menggantikan Abang Gaos yang berhalangan hadir karena ada kepentingan keluarga. Apa adek-adek sudah siap untuk latihan?" tanya Fatwa, berteriak penuh semangat supaya para anak didiknya ikut semangat dalam berlatih.
"Siap, Bang!" Serempak anak-anak itu menjawab dengan lantang.
Fatwa tersenyum. "Baguslah! Sekarang, sebelum kita berlatih, marilah kita berdoa terlebih dahulu. Berdo'a dimulai!" Fatwa memberikan perintah untuk berdo'a sebelum memulai latihannya.
Semua anak menundukkan kepala untuk melakukan do'a.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Fatwa melatih taekwondo. Tampak sekumpulan anak-anak bantara sedang berlatih. Mereka sedang melakukan latihan baris-berbaris.
"Seluruhnya! Siaaaap grak!"
Suara itu? batin Fatwa. Seketika dia menoleh ke arah sekumpulan anak-anak yang mengenakan seragam pramuka untuk mencari si empunya suara.
"Istirahat di ... tempaaaat, grak!" Kembali suara itu begitu nyaring dan lantang bergema di seluruh lapangan upacara.
Fatwa tersenyum saat menyadari si gadis imut tengah memimpin pasukannya berlatih baris- berbaris di tengah lapang.
"Hmm, rupanya gadis imut itu anak pramuka."
Bersambung
__ADS_1