
Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Jika aku tidak salah perhitungan, bulan ini adalah bulan ketiga aku menjalani waktu menjadi tawanan seorang Afrizal Mahesa.
Laki-laki itu memang seorang penjahat. Mungkin bisa dibilang seorang psikopat. Tapi, dia tidak pernah berbuat sesuatu di luar batas. Jika dia marah, dia hanya akan pergi dari kamarku. Sesaat kemudian, terdengar kegaduhan di lantai bawah.
Aku tidak pernah melihat seperti apa kemarahan bang Rizal. Namun, mendengar kegaduhan yang dia buat, sepertinya bang Rizal memiliki sifat temperamental. Aku memilih diam dan menurut, daripada harus membangunkan singa yang sedang tidur.
Tok-tok-tok!
“Chi, apa Abang boleh masuk?” Terdengar suara Bang Rizal dibalik pintu.
“Kenapa Abang harus bertanya sama Chi? Bukankah anak buah Abang yang pegang kunci pintu kamar ini?” Aku mmenjawab pertanyaan Bang Rizal dengan ketus.
Helaan napas kasar terdengar dari luar kamar.
Trek!
Tak lama kemudian, aku mendengar bunyi kunci pintu terbuka. Tak berapa lama, seseorang menekan handle pintu dan mendorongnya. Terlihat Bang Rizal mulai melewati pintu tersebut.
“Apa kabar, Chi?” sapa Bang Rizal.
“Seperti yang kamu lihat,” jawabku seraya memalingkan muka. Aku masih merasa kesal dengan sikap Nang Rizal yang memaksakan kehendaknya.
“Masak apa hari ini?” tanya Bang Rizal.
“Nggak masak apa-apa,” jawabku ketus.
“Kok tumben,” kata Bang Rizal.
“Lagi malas.”
Aku masih menjawab ketus pertanyaan Bang Rizal. Tapi, tak sedikit pun aku melihat kekesalan di wajah Bang Rizal. Dia malah tersenyum seraya mendekati lemari pendingin. Dengan cekatan, Bang Rizal mengeluarkan beberapa jenis bahan makanan dari sana. Sejurus kemudian, dia membawa bahan-bahan itu untuk diolahnya.
“Apa kamu suka western food?” tanya Bang Rizal.
__ADS_1
“Nggak,” jawabku singkat.
“Chinese Food?” Bang Rizal kembali bertanya.
“Nggak!” Sekali lagi aku menjawab tidak.
“Japanese?” tanya Bang Rizal lagi
“Lidah Chi tuh lokal, Bang. Jadi nggak usah nawarin makanan yang aneh-aneh,” dengusku kesal.
“Hahaha,…” Bang Rizal tergelak mendengar jawabanku, “syukurlah, jadi Abang nggak harus repot-repot belajar masak makanan seperti itu,” tukas Bang Rizal disela-sela tawanya.
Aish, emang nggak jelas banget nih orang, gerutu aku dalam hati.
Sekilas, aku melihat Bang Rizal mulai memotong beberapa jenis sayuran. Setelah itu, dia mulai mencuci bersih potongan-potongan ayam. Lalu Bang Rizal mulai meracik bumbu. Ah, entah masakan seperti apa yang aka dia buat. Aku hanya memperhatikan tanpa ingin mendekatinya.
Trek!
Bang Rizal mulai menyalakan kompor. Aku masih bersikap masa bodoh. Malahan, aku menarik selimut dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Sama sekali tak ingin peduli dengan apa yang sedang dia lakukan. Perlahan, mataku mulai tertutup rapat. Di detik selanjutnya, aku pun mulai terlelap merangkai mimpi.
“Bangun, Chi! Sup-nya sudah siap. Kamu makanlah dulu,” ucap Bang Rizal.
Deg-deg-deg!
Entah kenapa, jantungku berdegup kencang saat mendengar suara lembut Bang Rizal. Sikapnya yang hangat, menimbulkan desiran aneh di hatiku. Ya Tuhan … apalagi ini?
“Chi ngantuk, Chi mau tidur,” ucapku seraya kembali memejamkan mata.
“Makan dulu, Chi. Kalau sudah dingin, sup-nya nggak bakalan enak. Lagi pula, Abang yakin dari tadi pagi, kamu pasti belum makan,” kata Bang Rizal.
“Ish, nggak usah sok tahu deh!” Aku memiringkan tubuh untuk menghindari dia.
Bang Rizal malah duduk di tepi ranjang. Dengan lembut, dia menarik bahuku. “Abang tahu, kamu hanya menghindari Abang. Tidak masalah jika kamu tidak ingin Abang ada di sini. Tapi Abang mohon, kamu makan ya, Chi,” kata Bang Rizal.
__ADS_1
Aku membuka mata, bisa aku lihat kedua mata sendu Bang Rizal yang sedang menatapku saat ini. Ya Tuhan, ada apa dengan orang ini? Apa dia sudah berubah menjadi orang baik? Tapi, dia memang orang baik. Terbukti jika selama ini, dia tidak pernah bersikap kurang ajar kepadaku. Bahkan, dia rela tidak bekerja hanya untuk merawatku yang sedang demam.
Aku mulai bangkit dan duduk di hadapan Bang Rizal. Aku mulai memberanikan diri untuk menatap wajahnya dan berinteraksi dengan Bang Rizal.
“Bang, boleh Chi tanya sesuatu?” tanyaku memulai pembicaraan.
Bang Rizal tersenyum. “Silakan,” jawab Bang Rizal.
“Tapi tolong Abang jawab dengan jujur pertanyaan Chi,” kataku lagi.
“Jika Abang mampu menjawabnya, tentu saja akan Abang jawab jujur, sejujur-jujurnya. Kamu tidak usah khawatir, Chi. Abang sendiri paling tidak suka dengan seorang pembohong,” jawab Bang Rizal.
“Apa benar, Anneu itu istri Abang?” tanyaku.
Bang Rizal terlihat sangat terkejut mendengar pertanyaanku. Dia menatap lekat kepadaku. “Kenapa kamu menanyakan hal itu, Chi?” Bang Rizal malah balik bertanya.
“Karena Chi ngerasa heran saja, Bang. Jika memang benar Abang sudah punya istri, lalu kenapa dengan mudahnya Abang menyatakan cinta pada Chi? Apa Abang tidak pernah merasakan bagaimana hancurnya perasaan istri Abang saat dia tahu Abang mencintai wanita lain?” tuturku.
Bang Rizal menghela napasnya. “Jika istri Abang mencintai Abang, maka Abang pun akan berusaha mencintai dia, Chi,” jawab Bang Rizal.
Aku mengernyitkan keningku. Benar-benar tak mengerti dengan maksud ucapan Bang Rizal. “Bang, Chi sudah lama tinggal di sini, bisakah Abang tidak selalu berteka-teki jika bicara dengan Chi?” pintaku kepada Bang Rizal.
Bang Rizal tersenyum. Dia mengelus pipi kananku. “Baiklah, akan Abang ceritakan padamu, tentang pernikahan Abang selama ini,” ucap Bang Rizal.
Entah kenapa aku merasa antusias mendengar Bang Rizal hendak bercerita tentang kehidupan pribadinya. Aku mulai membenahi posisi dudukku dan siap untuk menjadi pendengar setia bagi Bang Rizal yang akan mencurahkan isi hatinya.
“Memang benar, Anneu Jannatunnisa adalah istri Abang. Kami menikah 7 tahun yang lalu. Saat Anneu sudah merasa tidak tahan tinggal di panti rehabilitasi di daerah Suryalaya. Untuk mengecoh kedua orang tuanya atas obsesi dia terhadap Fatwa, Anneu meminta Abang menikahinya," ucap Bang Rizal mengawali ceritanya.
"Awalnya, Abang ragu dengan permintaan dia. Bagaimanapun juga, sebuah pernikahan bukan untuk dipermainkan. Namun, karena rasa sayang Abang yang sudah menganggap Anneu sebagai adik, Abang pun memenuhi permintaan Anneu. Abang sendiri tidak tega melihat perubahan tubuh Anneu selama tinggal di panti rehabilitasi itu. Mungkin karena rasa tertekan, Anneu sempat bolak-balik masuk rumah sakit akibat gangguan pencernaan."
Bang Rizal menghela napasnya sejenak, sebelum akhirnya dia melanjutkan lagi ceritanya.
"Abang dan Anneu membuat perjanjian pranikah, yang isinya, kami tidak akan pernah bersetubuh. Hingga suatu hari, kami sadar jika secara biologis, kami saling membutuhkan satu sama lain. Abang pikir, setelah penyatuan itu, Anneu bisa melupakan cintanya. Tapi ternyata Abang salah. Anneu bahkan sering meracau menyebutkan nama pria itu saat sedang bercinta dengan Abang. Pada akhirnya Abang sadar, cinta memang tidak pernah bisa dipaksakan. Setelah empat tahun berlalu, kami pun mulai sepakat untuk mencari kebahagiaan kami masing-masing. Abang mulai pindah kemari untuk membuka usaha dan mencari cinta pertama Abang, yaitu kamu. Sedangkan Anneu, dia pergi untuk mencari kekasih sejatinya. Sampai akhirnya, Abang kembali bertemu denganmu.”
__ADS_1
Bersambung