My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Dilema


__ADS_3

"Hai sayang!"


Tiba-tiba seorang pria berusia sekitar 30 tahunan menghampiri aku dan mencium pucuk kepalaku. Aku mendongak dan tersenyum padanya. Ya, siapa lagi yang berani melakukan hal itu kalau bukan Yudhistira, tunanganku.


Citra tersenyum. "Haduh, jiwa jomblo meronta nih," jeritnya, memasang muka yang mengenaskan.


Mas Yudhis hanya tergelak mendengar jeritan temanku yang usianya terpaut 7 tahun lebih muda dariku.


"Mangkanya, buruan cari gandengan. Hari gini, belum punya gebetan? Aduh, malu atuh sama kendaraan," ledek Mas Yudhis kepada Citra.


"Maksud Mas Yudhis?" Citra bertanya sambil mengernyitkan keningnya.


"Truk aja gandengan, masak kamu nggak? Hehehe...." Mas Yudhis terkekeh menggoda Citra.


Seketika, gadis muda itu mengerucutkan bibir tipisnya. Aku hanya bisa tersenyum melihat interaksi di antara mereka. Kalau aku lihat-lihat, hubungan Citra sama Mas Yudhis tuh sudah seperti adik sama kakaknya saja. Mungkin karena Mas Yudhis anak tunggal, makanya dia bisa ngemong Citra.


"Udah, nggak usah manyun-manyun gitu tuh bibir! Tambah jelek, entar nggak ada yang suka ma kamu lagi," Mas Yudhis kembali meledek Citra.


"Ih, dasar cowok resek!" Citra kembali menjerit sambil melemparkan cup kosong bekas jus ke arah Mas Yudhis.


Mas Yudha berkelit. "Nggak kena, wew!" ledeknya seraya menjulurkan lidah.


"Kakak Chi, tuh Mas Yudhis ..." rengek Citra, mengadu.


"Sudah-sudah," Aku menengahi pertikaian mereka, "heran deh sama kalian. Kalo ketemu, pasti kek anjing ma kucing," ucapku lagi.


"Hehehe, nggak kok Sayang, kita mah cuma becanda. Ya, 'kan, Cit?" ucap Mas Yudhis seraya mengacak rambut Citra.


"Iih, Mas Yudhis... kusut tau!" Citra menepiskan tangan Mas Yudhis dan kembali merapikan rambutnya yang sempat diacak-acak oleh Mas Yudhis.


Aku kembali tersenyum melihat tingkah laku mereka berdua.


"Ya sudah, aku duluan, ya kak Chi. Lama-lama di sini bisa rontok rambutku diacak-acak mas Yudhis terus," pamit Citra sambil meledek Mas Yudhis.


"Idih, ya udah ... sana! Hus ... hus ..., anak kecil cepetan pulang, ntar dicariin mama." Mas Yudhis balas meledek citra.

__ADS_1


"Yeay sapa yang anak kecil, orang Citra dah 20 tahun, wew! Kak Chi, Citra balik duluan ya! Besok ceritanya lanjut ya, Kak Chi! Bye!"


Citra beranjak sambil melambaikan tangannya. Aku pun mengangkat tanganku untuk membalas lambaian tangan Citra.


"Duduk, Mas!" tawarku kepada calon imamku.


Mas Yudhis tersenyum. "Sudah selesai, kuliahnya?" tanya Mas Yudhis.


Aku mengangguk.


"Setahun lagi kamu lulus, Chi. Mas nggak sabar untuk segera menghalalkan kamu," ucap Mas Yudhis dengan mata berbinar.


Aku menatapnya sendu. Ya aku pasti lulus jika si dosen gila itu mau memperbaiki nilaiku, Mas. Tapi ... jika kali ini aku gagal lagi mendapatkan nilai yang baik, entah apa aku bisa lulus tepat waktu, Mas, ucapku dalam hati.


"Chi, kok ngelamun!" Usapan lembut tangan Mas Yudhis di punggung tanganku, membuyarkan lamunanku. Aku hanya menatap cengo ke arah Mas Yudhis.


"Kamu kenapa, Chi? Ada masalah?" tanya Mas Yudhis yang mungkin merasa heran dengan kediamanku.


"Eng-enggak Mas, aku nggak pa-pa. Mungkin karena kecapean aja. Apalagi, di sekolah juga lagi banyak kerjaan," ucapku mencari alasan.


"Ya sudah, kalau gitu kita mau langsung pulang apa hangout dulu, nih?" tanya dia.


"Pulang dulu ya, Mas. Kita keluarnya nanti malam saja. Kebetulan, "kan malam minggu, tuh!" ucapku yang ingin segera berendam di air hangat karena memikirkan nilai yang diberikan si dosen killer itu.


"Ya sudah, kalau begitu, Mas antar kamu pulang dulu, ya! Nanti malam, sekitar pukul 07.00, Mas jemput kamu buat nonton. Gimana? Setuju nggak?" tanya Mas Yudhis.


Aku melebarkan senyumku. Hmm, sudah cukup lama juga aku tidak pergi ke bioskop. Sepertinya, lumayanlah untuk melepaskan penat yang ada setelah seharian aku dikerjain ma si dosen sedeng itu. Kembali aku bermonolog dalam hati.


"Boleh, Mas," jawabku.


Mas Yudhis tersenyum. "Ya sudah, ayo kita pulang sekarang!" ajaknya seraya mengulurkan tangan.


"Yuk!" Aku menyambut uluran tangan Mas Yudhis dan mengikuti dia pergi menuju pelataran parkir kampus.


Tanpa aku sadari, si dosen killer itu terlihat mengintai dari kursi kantin yang tidak jauh dari tempatku duduk tadi. Sesekali aku menengok ke belakang karena merasa ada sesuatu yang sedang mengintai langkahku.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Yang?" Mas Yudhis yang merasa heran dengan sikapku saat ini, kembali bertanya.


"A-aku merasa seperti sedang diikuti seseorang, Mas," ucapku gugup dan berterus terang.


Mas Yudhis menengok ke belakang. Tak ada siapa pun di sana, kecuali seorang penjaga kampus yang sedang menyapu halaman.


"Nggak ada siapa-siapa, kok, Chi!" ucap Mas Yudhis yang tak mendapati apa pun gerak- gerik mencurigakan.


"Apa ini cuma perasaanku saja, Mas?" Aku bertanya padanya.


"Mungkin saja. Sudah nggak usah terlalu dipikirin. Nanti kamu malah pusing jadinya," tegur Mas Yudha.


Aku mengangguk.


"Tunggu di sini! Mas ambil mobil dulu."


"Iya, Mas."


Tak berapa lama, mobil sport berwarna putih berhenti di hadapanku. Pintunya terbuka dan aku mulai menaikinya. Sedetik kemudian, Mas Yudhis melajukan kendaraannya membelah jalanan ibu kota.


Setengah jam melewati perjalanan, akhirnya kami tiba di rumah. Setelah bertemu dan berbincang sebentar dengan mama, Mas Yudhis akhirnya pamit undur diri.


"Bersihkan dirimu, kak!" perintah mama yang melihat wajahnku begitu kusut.


Aku mengangguk, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, aku mengganti pakaian dengan baju santai. Sambil menyisir rambutku yang basah, aku mematut diri di depan cermin rias.


Bayangan seringai mengerikan dari wajah dosen gila itu kembali menari-nari dalam ingatanku. Aku tidak habis pikir, kenapa dia bisa mengajukan penawaran seperti itu? Aku melihat, awalnya seperti tidak ada yang salah. Dosen itu bersikap sangat bijaksana kepada para mahasiswanya. Tapi tadi...?


Sungguh aku tidak mengerti dengan perubahan sikapnya. Kenapa seorang Fatwa Imammuddin yang aku kenal dulu, sangat jauh berbeda dengan yang baru saja memberikan penawaran mesum. Ish, sungguh tidak terpuji! Aku menggerutu dalam hati.


Lelah memikirkan hidupku yang penuh dengan dilema, mataku mulai terasa berat. Aku beranjak dari tempat duduk dan membaringkan diri di atas ranjang. Aku memeluk guling, tapi sebelumnya aku memasang alarm di jam weker. Aku tidak ingin terlambat untuk melakukan kencanku seperti pasangan anak muda yang dimabuk asmara.


Biarlah, sejenak aku melupakan nilai mata kuliah IPA-ku dulu yang hancur berantakan. Jangan sampai pria itu menghancurkan aku kembali untuk yang kedua kalinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2