
Lututku terus bergetar. Kedua kakiku sudah tidak mampu menopang berat badanku. Hingga pada akhirnya, aku jatuh begitu memasuki rumah Rahma.
“Kak, Chi!” pekik Rahma dan Zein. Seketika mereka menghambur ke arahku.
“Apa yang terjadi, Kak? Apa Kakak baik-baik saja?” tanya Rahma.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala.
“Ma, tolong ambilkan air. Biar Kak Chi aku pindahkan ke kursi agar bisa berbaring,” kata Zein yang merasa khawatir melihat wajahku pucat pasi.
Rahma mengangguk, dia kemudian pergi ke dapur. Sedangkan Zein menggendong dan membaringkan aku di atas kursi. Aku masih menatap kosong padanya. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa mengenal sosok laki-laki asing itu. Meskipun wajahnya samar, tapi postur tubuhnya? Hmm, aku seperti pernah melihat postur tubuh seperti itu. Tapi di mana?
“Ini airnya, Zein,” kata Rahma seraya menyodorkan segelas air putih kepada Zein.
Zein menerimanya. Dia kemudian membantu aku untuk bangun.
"Di minum dulu ya, Kak,” perintah Zein seraya menyodorkan gelas itu padaku.
Setelah duduk, aku menerima gelas tersebut dan sedikit mereguk isinya.
“Apa yang terjadi, Kak? Kenapa Kakak kelihatan pucat? Apa Kakak sakit?” tanya Zein.
Aku menggelengkan kepala.
“Terus Kakak kenapa?” tanya Zein lagi.
“A-aku ….”
Sungguh aku tidak sanggup melanjutkan kalimat. Aku tidak ingin membuat mereka cemas. Sebaiknya aku tidak mengatakan apa yang baru saja aku alami.
“Kak!” Rahma memanggil seraya menyentuh lenganku.
“Eh, a- aku tidak apa-apa. Ta-tadi hanya kaget saja. Di jalan a-aku melihat se-sebuah kecelakaan lalu lintas,” jawabku berbohong.
“Astagfirullah! Pantas saja Kakak lama. Hmm, pasti jalanan macet,” ucap Rahma.
“Ya sudah, tidak apa-apa, Kak. Sebaiknya Kakak tenangkan diri kakak dulu. Biar Zein dan Rahma yang bikin tugasnya, lagian ini juga sudah mau selesai, kok,” timpal Zein.
Aku mengangguk. “Maaf, ya!” ucapku.
Zein dan Rahma tersenyum. “Nggak apa-apa, Kak,” jawab Rahma.
“Kakak istirahatlah. Kami akan kembali mengerjakan tugas lagi,” kata Zein
Sejurus kemudian, Rahma dan Zein kembali mengerjakan tugas kami.
Aku menyandarkan punggung seraya menengadahkan wajah. Tiba-tiba saja kepalaku terasa berat. Bayangan masa lalu berkelebat di ingatanku. Postur tubuh dan gurat wajah itu semakin tergambar jelas. Tapi, siapa pemiliknya? Entah kenapa aku tak mampu mengingatnya. Ya Tuhan … ujian apa lagi ini? Kenapa orang itu menguntitku? Apa ini ada hubungannya dengan kata-kata cinta Mas Yudhis? Apa laki-laki itu orang suruhannya mas Yudhis? Entahlah, mungkin karena terlalu lelah berpikir, aku pun tertidur.
Entah berapa lama aku tertidur. Hingga guncangan di bahuku membuat aku terbangun.
“Kak, bangun Kak,” bisik Rahma.
__ADS_1
Aku mengerjapkan mata dan menatap gadis itu sedang tersenyum padaku. Seketika aku merasa kikuk. Aku malu sudah ketiduran di tempat orang lain.
“Maaf, aku ketiduran,” ucapku seraya bangun dan duduk bersandar di sofa.
“Iya, tidak apa-apa, Kak. Rahma tahu, Kakak pasti kecapean,” ucap Rahma.
Aku hanya tersenyum. Aku melihat Zein yang sedang membereskan modul di atas meja.
“Memang tugasnya sudah beres, Ma?” tanyaku kepada Rahma.
Gadis itu mengangguk.
Aku mengerutkan kening, merasa tak enak juga karena tidak bisa membantu mereka. "Terus apa yang bisa Kakak bantu?” tanyaku.
"Hmm, tugas Kakak seperti biasa saja. Menyampaikan materi saat kita melakukan presentasi," jawab Rahma.
“Oke kalau begitu,” jawabku.
“Apa Kakak mau pulang sekarang?” tanya Zein.
Aku langsung mengangguk. “Tolong antarkan Kakak, ya Zein!” pintaku.
Jujur saja, aku terlalu takut untuk pulang sendirian. Bayangan penguntitan itu masih terekam jelas dalam ingatan.
“Siap, Kak! Ya udah kalau gitu, kita pamit pulang ya. Ma. Jangan lupa, besok kita temui dospem untuk menyelesaikan tugas akhir kita,” ucap Zein. Mengingatkan Rahma.
“Iya, Zein. Aku nggak sabar pengen cepat-cepat lulus,” jawab Rahma.
Aku tersenyum mendengar perbincangan mereka. Tidak aku pungkiri, aku juga sangat senang akhirnya bisa mendapatkan gelas sarjana. Ya meskipun di usia yang tidak muda lagi.
“Ya sudah, kita pulang dulu ya, Ma!” pungkasku mengakhiri pembicaraan mereka.
Setelah berpamitan, Zein membuka pintu mobil dan mempersilakan aku masuk. "Ih romantis banget sih kamu, Zein. Pasti cewek klepek-klepek nih diginiin ma kamu," gurauku seraya memasuki mobil.
Zein hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Sejurus kemudian, dia memasuki mobil dan mulai menyalakan mesin. Tak membutuhkan waktu lama, mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah Rahma.
Sepanjang jalan hanya keheningan yang mengiringi perjalanan kami. hingga akhirnya, Zein menyalakan radio untuk memecah keheningan di antara kami. lagu Kangen milik Dewa 19, terdengar begitu radio menyala.
“Jangan dipindahkan,Zein!” pintaku saat Zein hendak mencari gelombang lain.
Seketika Zein mengurungkan niatnya. “kenapa, Kak? Something special with this song?” tanya Zein melirikku.
Aku hanya tersenyum. Seketika bayangan Fatwa menari di pelupuk mata. Ah, aku sangat merindukan laki-laki itu.
“Kak, kok senyam-senyum gitu. Lagi jatuh cinta, ya?” tebak Zein.
“Hahaha, enggak kok, Zein. Lagu ini hanya mengingatkan Kakak sama teman masa SMA,” jawabku.
“Benarkah? Kok bisa?” tanya Zein lagi.
“Hmm, kami memang sama-sama nge-fans sama band lawas ini," jawabku.
__ADS_1
“Iya sih, band legendaris itu,” timpal Zein.
Aku mengangguk. Tanpa terasa mobil telah sampai di depan rumahku.
“Turunkan Kakak di sini saja, Zein,” pintaku kepada Zein.
“Kenapa, Kak? Aku bisa antarkan Kakak sampai halaman depan,” ucap Zein.
“Tidak apa-apa. Sama saja, toh sudah dekat ini,” jawabku.
“Oke," jawab Zein.
Akhirnya Zein menghentikan mobil. Aku segera turun dan mengucapkan terima kasih padanya. Setelah Zein pergi, aku memasuki pekarangan rumah. Saat aku hendak menutup pintu pagar, tiba-tiba aku melihat laki-laki ber-hoodie sedang duduk di depan toko sembako milik tetangga depan rumah. Aku benar-benar terkejut. Dengan tangan bergetar hebat, aku segera mengunci pintu pagar.
Secepat kilat aku berlari menuju rumah. Kembali aku kunci pintu rumah dengan cepat. Mama yang memperhatikan tanganku yang gemetaran seketika menegur.
“Kamu kenapa, Kak?” tanya mama
“Astagfirullahaladzim!” aku memekik keras hingga kunci yang sedang aku pegang, terjatuh.
Mama mengernyitkan keningnya melihat sikapku yang seperti orang ketakutan. “Kamu kenapa sih, Kak?” ulang mama.
“I-itu a-ada si penguntit di luar,” jawabku terbata.
“Si penguntit?” tanya mama, “ini maksudnya apa, Kak?” mama kembali bertanya sambil mendekati jendela.
“Jangan dibuka, Ma!” pintaku setengah berteriak kepada Mama.
“Astagfirullah! Pelan-pelan Kak, ini bukan hutan, loh. Lagian kamu kenapa? Kok seperti ketakutan begitu? Baru lihat hantu?” gurau Mama.
“Ish, Mama … nggak lucu, ah!” rengutku kesal seraya mendekati mama. “Di luar sana tuh ada orang yang sedari tadi ngikutin Kakak,” ucapku mempertegas.
“Mana, ah? Memangnya mau ngapain dia ngikutin kamu? Dipikir kamu selebriti apa?” mama kembali menggodaku.
“Ish, Ma. Kakak serius,” jawabku.
“Ya sudah, biar mama lihat,” tukasnya.
Huh, percuma juga aku kembali mencegah mama. Orang dia sudah menyibakkan tirai jendela.
“Yang mana, Kak?” tanya mama, masih menatap orang-orang di sekitar warung sembako milik Pak Amin.
“Itu, yang pake hoodie item,” tunjukku pada seorang pria yang sekarang sedang berbincang dengan salah satu pembeli.
“Loh, itu, 'kan, nak Amir,” ucap mama
Aku mengernyit. “Amir?” gumamku, “jadi mama mengenal si penguntit itu?” tanyaku penasaran.
“Salah orang kamu, Kak. Dia bukan si penguntit. Tapi dia itu nak Amir, anaknya pak Amin yang kuliah di jogja," ucap mama.
“Astagfirullah!”
__ADS_1
Bersambung