
Setelah memastikan Citra sudah pergi, Fatwa kembali menghampiriku. Sejurus kemudian, dia menarik kursi dan mulai duduk di samping ranjang. Tangannya meraih tanganku yang masih terasa lemas. Aku menoleh padanya. Seulas senyum aku lihat di bibir Fatwa.
"Fat, boleh Res tanya sesuatu?" tanyaku kepada pria yang masih menggenggam jari-jemariku.
"Tentu saja boleh. Tapi sebelum itu, biar aku panggil dokter terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan kamu saat ini," ucap Fatwa seraya hendak beranjak dari kursi.
Aku menahan tangannya. "Nanti saja, Fat!" pintaku.
Fatwa menatapku. Sejurus kemudian, dia kembali duduk. "Memangnya, apa yang ingin kamu tanyakan, Res?" tanya Fatwa.
"Bagaimana bisa aku berada di tempat ini? Seingatku, malam itu aku tersesat di hutan pinus di dekat villa yang sama sekali tidak aku ketahui," kataku kepada Fatwa.
Sejenak, Fatwa memandangku. Dia kemudian menghela napasnya. "Saat itu...."
Tanpa ampun, Yudhis menyeret Resti untuk segera keluar dari yayasan tempat di mana Sandra ditangani. Dengan sigap, Fatwa langsung berlari untuk menyelamatkan Resti. Tapi, kepungan para pengawal Yudhis menghalangi jalan Fatwa. Baku hantam sempat terjadi antara Fatwa dan para pengawal Yudhis. Namun, karena jumlah yang tak seimbang, akhirnya Fatwa kewalahan. Dengan terpaksa, Fatwa membiarkan Yudhis membawa Resti entah ke mana.
Merasa telah melumpuhkan lawannya, para bodyguard Yudhis pun pergi menyusul mobil Yudhis yang telah pergi entah ke mana. Sejenak, Fatwa hanya bisa terpaku melihat bayangan beberapa mobil berwarna hitam mulai menghilang dan berpencar ke berbagai arah yang berbeda.
"Ish, sial! Aku tidak sempat melihat mobil yang membawa Resti lagi. Dasar bodoh!" umpat Fatwa merutuki kebodohannya sendiri.
"Bapak tidak mengejar pak Yudhis?" tanya Sarah, datang menghampiri Fatwa seraya menggendong Icha.
"Aku tidak tahu mobil bang Yudhis yang mana. Karena terlalu sibuk berkelahi dengan bodyguard-nya, aku tidak sempat melihat bang Yudhis membawa Resti dengan menggunakan mobil warna apa," jawab Fatwa.
"Saya tahu, Pak." Tiba-tiba seorang lelaki yang mengenakan seragam penjaga keamanan, datang menghampiri Fatwa dan Sarah.
"Maksud Bapak?" tanya Fatwa seraya mengernyitkan keningnya.
"Tadi saya baru keluar dari kamar mandi. Tanpa sengaja, saya mendengar kegaduhan di halaman depan. Setelah saya pergi ke sana untuk memeriksanya, ternyata saya lihat seorang lelaki berjas abu sedang menyeret seorang wanita ke dalam mobil berwarna putih, Pak," ucap penjaga keamanan itu.
__ADS_1
"Apa Bapak yakin?" tanya Fatwa seolah mendapatkan titik terang.
"Ya, wanita itu memiliki ciri-ciri berambut panjang, memakai celana jeans dan blouse berwarna biru tua," ucap penjaga keamanan itu menggambarkan ciri-ciri wanita yang dipaksa masuk ke dalam mobil.
"Ya, Bapak benar, itu Resti, teman saya. Apa Bapak tahu, ke mana mobil itu membawa teman saya?" tanya Yudhis lagi.
"Sepertinya, mobil itu melaju ke arah utara," jawab si penjaga keamanan.
Tak ingin mengulur waktu, Fatwa segera menaiki mobilnya. Dia mulai nenyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju arah yang telah ditunjukkan oleh penjaga keamanan yayasan.
Setelah berjalan sejauh beberapa kilometer, Fatwa melihat salah satu mobil hitam milik si bodyguard Yudhis. Dia mulai menambah kecepatan laju mobilnya untuk mengikuti mobil tersebut. Namun, rupanya si pengendara mobil menyadari jika dia tengah diikuti. Akhirnya adu balap pun terjadi di jalanan umum.
Braakk!
Dengan kasarnya, mobil Fatwa menabrak mobil si bodyguard hingga mobil itu menepi dan menabrak pembatas jalan. Setelah mendapatkan kesempatan untuk mendahului, Fatwa pun segera tancap gas. Dia yakin jika mobil Yudhis pasti berada di depan.
Tak berapa lama kemudian, si mobil bodyguard tampak memepet mobil Fatwa hingga mau tidak mau Fatwa melajukan mobilnya dan menepi.
Brakk
Mobil bodyguard membalas tabrakan tadi, sejurus kemudian, mobil milik Fatwa menabrak bahu jalan dan memaksanya berhenti.
"Sial!" umpat Fatwa seraya memukul kemudinya. Dia hanya bisa menatap mobil bodyguard itu yang semakin menjauh.
Fatwa mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan raya. Sepertinya, jalan ini tidak asing lagi baginya.
"Tunggu! Sepertinya aku kenal dengan jalan ini?" gumam Fatwa mencoba mengingat-ingat. Ya! Bukankah ini jalan yang menuju ke perbatasan kota? Jika memang iya, sepertinya bang Yudhis hendak membawa Resti ke luar kota. Tapi, ke mana? batin Fatwa.
Fatwa kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan itu, hingga dia tiba di perbatasan kota. Sejenak, dia menepikan mobilnya ketika melihat jalanan dua arah. Apa mungkin bang Yudhis membawa Resti ke villa kakek? batin Fatwa.
__ADS_1
Ting!
Tiba-tiba, ponsel Fatwa berdenting menandakan sebuah pesan whatsapp masuk. Fatwa segera merogoh ponselnya dan melihat si pengirim pesan.
"Resti," gumam Fatwa. Dia kemudian mengusap layar ponsel. Resti mengirim sharloc. Buru-buru Fatwa membukanya. Seulas senyum tersungging di bibirnya. "Sudah kuduga," gumam Fatwa.
Setelah mendapatkan titik lokasi penyekapan temannya, Fatwa segera menghubungi polisi dan meminta bantuan untuk melakukan penyergapan kepada Yudhis dan komplotannya. Tak lama kemudian, dia kembali melajukan mobilnya menuju villa sang kakek yang berada di kawasan lindung hutan pinus.
Satu setengah jam melewati perjalanan, akhirnya Fatwa tiba di depan villa sang kakek. Malam sudah semakin merayap. Fatwa sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dan berada di tempat gelap agar tidak mengundang kecurigaan. Fatwa menunggu mobil polisi yang akan melakukan penyergapan kepada para penjahat itu. Dia tidak boleh gegabah dalam bertindak, karena nyawa Resti, taruhannya.
Satu jam kemudian, mobil polisi datang. Komandan Edi langsung mengerahkan anak buahnya untuk bergerak.
"Kita kepung dari empat arah mata angin. Biar saya, Bripda Agus dan juga Bapak Fatwa yang akan melakukan penyergapan dari arah depan. Yang lainnya, silakan berpencar!" perintah Komandan Edi kepada kesepuluh anak buahnya.
"Siap, laksanakan!" jawab serempak anak buahnya.
Mereka pun melakukan pergerakan secara diam-diam. Dengan langkah mengendap-endap, Komandan Edi, Bripda Agus dan Fatwa berjalan mendekati pintu gerbang. Bripda Agus menyembulkan sebagian kepalanya ke pintu pagar yang setengah terbuka, dia mengernyitkan keningnya saat tak ada ciri-ciri kehidupan di bagian depan rumah. Akhirnya, dia melambaikan tangan untuk memberikan isyarat masuk kepada Fatwa dan komandannya. Tak lama kemudian, Fatwa dan Komandan Edi masuk mengikuti Bripda Agus.
Brakk!
Bripda Agus menendang pintu utama villa. Pintu terbuka dengan kasar. Lagi-lagi, mereka dibuat heran karena sepertinya tak ada penghuni di villa itu. Fatwa segera berlari berkeliling kamar untuk menyelamatkan Resti. Dia merasa yakin jika Resti pasti disekap di salah satu kamar di villa ini.
"Bagaimana, Pak?" tanya Komandan Edi saat melihat Fatwa sudah membuka seluruh kamar di lantai bawah satu per satu.
Fatwa hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Komandan Edi.
"Apa di lantai atas ada kamar yang lain, Pak?" tanya Bripda Agus.
"Ya, ada tiga kamar di lantai dua," ucap Fatwa.
__ADS_1
"Baiklah, sebaiknya kita cari ke sana!"
Bersambung