My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Lari dan Bersembunyi


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam di sebelah barat. Aku membuka mata dan hanya melihat kegelapan di ruangan ini. Aku bangun dan segera berjalan menuju pintu kamar. Kuraba dinding di sekitar kamar untuk mencari saklar. Biasanya, para tukang akan memasang saklar di tembok dekat pintu. Dan benar saja, setelah beberapa menit, akhirnya aku temukan saklar itu. Segera aku tekan tombol saklar itu untuk menyalakan lampu.


"Shitt!" umpatku saat mendapati cahaya lampu pijar yang hanya temaram. Dadaku terasa sesak seketika.


Aku kembali mendekati ranjang dan duduk di sana. Kusandarkan punggungku pada dashboard ranjang. Wajahku sedikit menengadah. Pikiran buruk mulai melintas di benakku. Ya Tuhan, kumohon lindungi aku...


Krieet....!


Tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar. Seorang pria bertubuh tegap datang menghampiri. "Makanlah!" ucap pria itu seraya menyodorkan kotak nasi di hadapanku.


Aku mendongak, mencoba mengamati wajahnya yang tertutup kain hitam. Ish, sama aja bo'ong. Gimana mungkin aku bisa mengenali dia kalau yang terlihat hanya matanya saja, gumamku dalam hati.


Sesaat, aku melirik pintu yang terbuka lebar. Aku lihat, tak ada lagi penjaga di sana. Hmm, jika aku dapat melumpuhkan yang satu ini, mungkin aku bisa leluasa untuk kabur. Ya, meskipun di pintu gerbang, aku yakin pasti akan ada orang yang berjaga-jaga di sana. Tapi, tidak ada salahnya aku coba.


Secepat kilat aku menepis kotak nasi yang dia ulurkan padaku. Setelah itu, aku tendang pangkal paha dia, hingga dia terjungkal ke belakang. Mungkin tendangan yang aku layangkan tepat sasaran. Karena itu, sekilas aku melihat orang itu hanya duduk seraya menutupi burungnya yang mungkin sedang berdenyut kesakitan.


Aku segera berlari ke luar kamar. Kuturuni anak tangga satu per satu, hingga di tangga terakhir aku dengar orang tadi berteriak.


"Dia kabur! Wanita itu kabur! Cepat halangi dia!"

__ADS_1


Dua orang laki-laki yang sedang berjaga di luar segera menghambur ke dalam ruangan. Aku bersembunyi di tiang penyangga langit-langit untuk sejenak. Baru ketika mereka terlihat lengah, aku pun berlari menuju pintu utama yang terbuka. Uuh, sungguh ini sore keberuntunganku.


Aku terus berlari hingga sampai di halaman depan. Terlihat dua orang penjaga tengah duduk di pos keamanan. Aku pun mengedarkan pandangan untuk mencari sesuatu yang bisa aku gunakan untuk bersembunyi. Lagi-lagi, keberuntungan berpihak padaku. Di tembok pembatas kanan, aku melihat tangga yang tengah menyandar pada dinding tembok.


Dengan berjalan mengendap-endap, aku menuju tangga itu. Segera kunaiki anak tangga satu per satu. Tinggal satu anak tangga lagi, tiba-tiba....


"Itu dia!"


Aku mendengar seseorang berteriak. Shitt, mungkin mereka sudah memergoki aku. Tanpa menoleh ke belakang, hup! Aku segera melewati anak tangga terakhir dan melompat melewati tembok pembatas.


Krek!


"Aww!"


Entah apa yang terjadi di dalam villa itu setelah aku pergi, aku tak peduli. Aku terus berlari hingga tanpa aku sadari aku telah memasuki kawasan hutan pinus.


Napasku kian tersengal. Entah sudah berapa jauh aku berlari. Namun, yang jelas tubuhku mulai kehabisan energi. Terseok-seok aku mencari tempat untuk bersembunyi. Hutan pinus ini begitu rimbun. Aku yakin mereka tidak akan mudah menemukan aku di hutan yang hampir mulai terlihat gelap. Tapi, jangan terlalu senang dahulu. Bagaimana jika orang-orang itu justru tidak merasa asing dengan tempat ini? Yang ada, justru aku yang bisa segera tertangkap.


Kakiku mulai berdenyut hebat. Saat aku lihat, bengkak pun sudah nampak di pergelangan kaki. Aku mulai duduk dan menyelonjorkan kedua kakiku. Dejavu! Aku seperti kembali ke masa lalu. Masa di mana aku melakukan hal yang sama di kawasan hutan jati, bersandar pada pohon jati untuk meredakan rasa nyeri di kaki.

__ADS_1


Tiba-tiba, bayangan Fatwa yang sedang mengurut kakiku, kembali terlintas dalam benakku. Aku tersenyum kecut, saat ini ... tidak akan ada lagi seorang Fatwa yang akan mengobati kakiku. Hmm, aku merindukanmu, dosen gilaku.


Rasa sakit semakin mendera. Kuurut pelan pergelangan kaki yang bengkak, mencoba untuk meredakan sedikit nyeri ini. Tapi aku tak berhasil. Rasa nyerinya semakin bertambah. Hingga tanpa sadar, bulir air mata mulai menggenang di kedua sudut mataku.


Aku menengadahkan wajah, berharap bulir bening ini tidak akan tumpah. Tapi nyatanya, aku tak mampu menahan. Dadaku terasa sesak mengingat kembali apa yang aku alami hari ini. Sungguh, aku tidak habis pikir, kenapa malang sekali nasib percintaanku? Kisah yang akhirnya membawaku pada sebuah tindakan kriminal yang harus aku lalui.


"Cepat cari dia! Telusuri hutan belantara ini. Pastikan wanita itu ketemu, atau kalau tidak, bos akan marah besar pada kita!"


Sayup-sayup aku mendengar suara seseorang yang sedang memberikan perintah. Ya Tuhan, suaranya begitu jelas. Mereka pasti berada di sekitar sini. Tetap duduk, tentunya akan membawaku kembali pada sebuah penyekapan. Terlanjur kabur, aku harus segera lari dari sini.


Aku mulai bangkit dan berdiri. Rasa nyeri tak aku hiraukan. Aku harus segera mencari tempat persembunyian. Mungkin semakin jauh aku memasuki hutan pinus ini, aku bisa menemukan sebuah tempat yang tidak akan bisa mereka jangkau.


Tertatih-tatih aku terus berjalan memasuki kawasan hutan. Semakin jauh, hutan semakin terlihat gelap. Penglihatan pun sudah semakin buram. Berkali-kali mataku mengerjap untuk memastikan jarak pandang yang kian pendek. Ya Tuhan, apa aku akan tersesat seperti dulu lagi?


Semakin jauh aku melangkah, keadaan sekitar semakin tampak gelap. Aku pun mulai kesulitan untuk berjalan. Pada akhirnya aku kembali menghentikan langkah dan mulai mencari dedaunan yang cukup rimbun.


Brugh!


Aku mulai menjatuhkan diri dan kembali menyandar pada sebuah pohon yang entah aku sendiri tak tahu namanya. Sama sekali tak ada sinar di hutan itu, meskipun hanya sekedar sinar sang kunang-kunang. Kaki mulai kembali berdenyut. Desir angin mulai menusuk kulit sekujur tubuhku. Ya Tuhan ... mana aku tidak mengenakan baju yang tebal lagi. Semoga malam ini cuaca bisa bersahabat. Atau kalau tidak, aku bisa mati kedinginan, batinku.

__ADS_1


Aku melirik jam tangan mungilku. Meski terlihat samar, tapi aku bisa memastikan jika jarum pendek tengah berhenti di angka 7. Itu artinya, hampir dua jam aku berlari memasuki hutan pinus ini. Entah akan seperti apa nasibku. Aku hanya bisa pasrah dan berserah diri. Kalaupun aku harus mati, setidaknya aku tidak mati konyol di tangan Yudhistira.


Bersambung


__ADS_2