
Susan menarik tanganku cukup keras. Mau tidak mau, aku langsung berdiri untuk menyeimbangkan tubuhku yang seketika oleng akibat tarikan tangan Susan.
"Ish, kamu apa-apaan, sih?" Aku menggerutu kesal, melihat sikap Susan yang seenak jidatnya saja.
"Denger perempuan laknat, gue nggak akan pernah ngebiarin lo bersenang-senang di atas penderitaan gue. Ngerti lo!" teriak Susan tepat di depan muka aku.
Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Susan. Tak ingin terpancing emosi, aku kembali melengos dari hadapan wanita itu. Sialnya, Susan malah mendorongku hingga aku jatuh ke lantai. Tawa anak-anak seketika riuh, menggema di ruangan kantin.
Aku mendengus kesal, kemudian berdiri. Aku masih mencoba bersabar dan tidak ingin berdebat dengan orang lain di tempat umum.
"Cukup Susan, aku datang ke sekolah ini bukan untuk mencari musuh. Jadi jangan ganggu aku, kalau tidak, a–"
"Kalau tidak, apa, hah? Apa yang bakalan lo lakuin ke gue? Apa lo mo ngadu lagi ke Aji seperti yang biasa lo lakuin? Cih, benar-benar perempuan nggak tahu diri. Sudah tau Aji punya pacar, masih saja lo goda. Dasar cewek murahan!"
"Jaga ucapanmu, Susan! Aku tidak serendah apa yang kamu bilang. Hubungan aku dengan Aji, hanya sebatas teman biasa. Jadi tolong tarik kembali kata-katamu!"
"Cih, sampai kapan pun, gue nggak akan pernah sudi menarik semua kata-kata gue. Lo emang perempuan nggak bener, lo hina! Lo nggak ada bedanya dengan perempuan di jalanan yang suka gaet om-om. Ck, pantas saja Fatwa menolak lo mentah-mentah. Jangan-jangan lo sudah bolong alias nggak perawan lagi, hahaha,...." Tawa ejek Susan menggema di seluruh ruangan.
Aku masih mencoba untuk diam, meskipun di hatiku mulai ada percikan api.
"Gue bener-bener kasihan ma emak lo yang udah ngelahirin lo ke dunia. Gimana perasaan dia kalo tau anaknya tuh seorang ja'lang."
Susan kembali menghinaku. Dan kali ini, dia membawa-bawa nama ibuku, wanita yang sangat aku puja. Bagaikan tersiram bensin, percikan api yang berusaha aku padamkan kini mulai tersulut dan menyala semakin berkobar.
Plak!
Tak terima dengan semua penghinaan Susan, akhirnya tanganku berbicara. Ya, tangan yang selama ini aku jaga agar tidak melukai orang lain, meski mereka menghina kehidupanku, akhirnya mendarat juga di pipi mulus milik Susan.
Semua orang tampak tercengang melihat sikapku. Se-urakannya aku, mereka belum pernah melihat aku melayangkan tangan kepada orang lain. Dan tamparan ini? Jujur saja, ini tamparan pertama yang aku lakukan.
Aku tak mampu menguasai kegugupan dalam diriku. Tangan yang telah aku gunakan untuk memberikan pelajaran pada gadis sombong itu, kini sedang bergetar hebat.
"Maafkan aku, tapi aku sudah berusaha untuk bicara baik-baik kepadamu. Namun, rupanya kamu tidak pernah bisa mengerti bahasa lisan," ucapku seraya pergi meninggalkan Susan.
__ADS_1
"Puas lo, hah!" teriak Susan yang berhasil menghentikan langkahku. Rupanya, gadis sombong itu belum puas mengeluarkan isi hatinya.
"Puas, lo udah hancurin hubungan gue ma Aji? Asal lo tau aja, hubungan gue ma Aji udah berakhir. Dan semua itu gara-gara elo!"
Sepertinya Susan belum puas mempermalukan aku. Dia sampai menyalahkan aku atas putusnya hubungan dia dengan sang kekasih. Padahal, jika dia bisa sedikit instropeksi diri, semua itu terjadi karena ulahnya sendiri yang tidak bisa menjaga sikap. Setidaknya, itu yang pernah Aji keluhkan padaku.
Masih membekas jelas dalam ingatanku tentang kejadian sehari sebelum aku memutuskan untuk pulang. Aji datang menemuiku di rumah Bi Enci. Dia mengeluhkan sikap Susan yang terlalu egois. Dan dia mulai merasa tidak bisa bertahan jika gadis pujaannya itu tidak bisa merubah sikap. Aku tidak menyangka jika Aji membuktikan ucapannya.
Aku tak menggubris perkataan Susan. Kembali aku mengayunkan langkah dan meninggalkan kantin. Aku masih bisa mendengar sumpah serapah Susan, tapi aku tak menghiraukannya.
Aku terus mengayunkan langkah hingga tiba di depan ruang OSIS.
"Assalamu'alaikum!" ucapku seraya mengetuk pintu ruang OSIS.
"Wa'alaikumsalam." Terdengar jawaban pria innocent itu dari dalam ruangan.
Klek!
Aku membuka pintu dan mendorongnya. "Boleh Res masuk!" tanyaku pada orang yang sedang menulis di atas meja kerjanya.
Aku membuka sepatuku dan memasuki ruangan itu.
"Memangnya kamu sedang menunggu seseorang?" tanyaku sambil mendaratkan bokong di atas sofa.
"Tidak juga, ngomong-ngomong ... aku senang kamu bisa kembali sekolah," ucap Aji.
"Hehehe,... aku nggak mungkin bolos terus, 'kan, Ji? Lagian, kasian nyokap yang udah banyak keluar biaya buat sekolahku," jawabku.
"Hahaha,... kamu benar, Res. Oh iya, ada keperluan apa kamu datang ke ruang OSIS? Apa kamu mau ketemu bang Gaos?" tanya Aji.
Aku menggelengkan kepala.
"Lalu?" tanya Aji sambil mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Res mo bicara sama kamu, Ji," jawabku.
"Sama aku?" Aji mengulang ucapanku.
Kembali aku mengangguk. Aji mulai menutup bukunya. Dia kemudian bangkit dan berjalan ke arahku. Sejurus kemudian, dia duduk di hadapanku.
"Ada apa, Res? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Aji lagi.
"Ini tentang kamu dan Susan, Ji. Apa benar, kamu mengakhiri hubungan kamu dengannya?" tanyaku hati-hati, takut menyinggung perasaan Aji.
Sejenak, aku lihat Aji menghela napasnya. "Jadi, berita itu sudah tersebar," ucap Aji.
"Ya, dan Res mendengarnya langsung dari narasumbernya sendiri," jawabku.
"Maksud kamu?" Kening Aji kembali berkerut mendengar ucapanku.
"Barusan Susan datang menemui Res dan memberitahukan semuanya ke Res," jawabku.
"Dan dia menyalahkan kamu lagi?" tebak Aji.
Aku tersenyum tipis mendengar ucapannya.
"Maafkan aku Res, aku tidak bermaksud melibatkan kamu dalam masalah ini. Sudah berulang kali aku tegaskan pada Susan tentang hubungan kita. Tapi entah kenapa, sulit sekali untuk meyakinkan Susan bahwa di antara kita tidak pernah terjadi hubungan yang lebih dari sekedar teman. Sepertinya, Susan sangat cemburu denganmu, Res," ucap Aji.
"Entahlah, Ji. Res sendiri nggak tau harus berkata apa. Jujur saja, Res sangat menyayangkan sikap cemburu Susan yang berlebihan. Tapi Res juga nggak bisa menyalahkan Susan. Tanpa sadar, hubungan pertemanan kita telah melukai Susan. Seharusnya, dari awal kita bisa saling menjaga jarak. Res yakin, jika kita bisa menjaga jarak, hubungan kalian pasti baik-baik saja hingga saat ini. Semua ini memang salah Res, Ji. Maafin Res."
"Hei ... kenapa kamu harus minta maaf. Hubungan aku dan Susan berakhir, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganmu," tukas Aji.
"Tapi Ji, apa tidak bisa diperbaiki? Maksud Res, kalian sudah cukup lama menjalin hubungan, bahkan sudah lebih dari dua tahun. Sayang, 'kan, kalo harus berakhir akibat salah paham."
"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi, Res. Mungkin ini jalan yang terbaik bagi aku dan Susan. Aku sendiri sudah lelah menjelaskan. Ditambah lagi, sifat kekanak-kanakan Susan tidak pernah bisa berubah. Lama-lama, aku capek harus berjuang sendirian. Rasanya, percuma diperbaiki jika hanya aku saja yang memperbaiki," jawab Aji, datar.
Aku menghela napasku. "Jika itu memang sudah keputusan kamu, Res nggak bisa berbuat apa-apa, Ji. Aku permisi dulu!" pamitku.
__ADS_1
"Tunggu!"
Bersambung