My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Koma


__ADS_3

“Apa pasien sudah boleh dijenguk, Sus?” tanyaku.


“Maaf, untuk saat ini pasien masih dalam pemantauan tim medis. Jadi belum bisa dijenguk,” jawab perawat itu.


“Lalu, bagaimana dengan pasien yang bernama Fatwa. Semalam dia sudah menjalani operasi pengangkatan peluru. Apa dia sudah sadar?” tanyaku lagi.


“Pasien yang berada di kamar satu? Sampai saat ini, pasien korban luka tembak itu masih belum sadar juga, Mbak.”


“Ya Tuhan, ini sudah hampir 1 x 24 jam,” gumam aku seraya melirik jam tangan.


“Hampir, Mbak. Masih ada beberapa jam lagi ke depan. Kita berdo’a saja semoga pak Fatwa segera sadar,” ucap perawat itu.


Aku mengangguk.


“Jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya permisi dulu, Mbak,” pungkas perawat itu.


“Baik, Sus. Terima kasih," jawabku.


Setelah suster itu pergi, aku dan Zein mendekati kamar Fatwa dan duduk di bangku yang memang disediakan untuk menunggui pasien.


“Oh iya, Kak. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa pak Fatwa berada di lokasi kejadian?” tanya Zein.


“Itulah yang Kakak sendiri tidak mengerti Zein. Satu yang Kakak tahu, saat Anneu sedang membawa Kakak ke hutan itu, di dalam perjalanan, ada sebuah mobil yang mengikuti kami. Bahkan, mobil itu sempat mendahului kami dan memberikan Anneu peringatan untuk berhenti. Tapi, Kakak sendiri tidak tahu siapa yang mengendarai mobil tersebut. Dan saat Anneu menembakkan senjatanya, tiba-tiba saja Fatwa sudah jatuh tersungkur di hadapan Kakak. Saat itu Kakak baru tersadar jika dia menghalangi peluru itu agar tidak mengenai Kakak,” jawabku. “Tapi, Zein … apa Fatwa tahu kalau Kakak diculik?” Aku balik bertanya kepada Zein.


“Iya, Kak. Sebenarnya, saat itu Zein dan Rayya sudah sangat kebingungan ke mana lagi harus mencari Kakak. Penculikan Kakak benar-benar rapi, sampai pihak kepolisian pun tidak dapat mengendus hilangnya Kakak. Dari awal, Rayya sudah berusaha menghubungi pak Fatwa, tapi tidak tersambung. Sepertinya beliau mengganti nomor teleponnya. Tapi, dua minggu yang lalu, saat kelas kita sedang menjalankan sidang, tiba-tiba saja pak Fatwa datang ke kampus. Katanya beliau ingin bertemu Kakak, beliau tahu jika hari itu adalah hari terakhir kita di kampus. Saat itulah aku menceritakan hilangnya Kakak kepada beliau. Dan sejak beliau tahu Kakak diculik, beliau juga yang gencar melakukan pencarian terhadap Kakak. Kabar terakhir yang aku dengar dari Rayya, pak Fatwa pergi ke Bali untuk menemui pak Yudhis. Karena, beliau mengira jika pak Yudhis adalah dalang dibalik penculikan Kakak,” tutur Zein panjang lebar.


“Ya Tuhan, sampai sejauh itu,” gumam aku seraya memandang pintu kamar Fatwa. Rasa bersalah kembali menyeruak dalam dada. Orang yang ingin aku hindari demi seorang laki-laki bajingan seperti Yudhis, ternyata dia orang yang berulang kali menyelamatkan aku.


Untuk beberapa menit, keheningan pun terjadi. Hingga dering ponsel Zein memecah keheningan tersebut. Zein merogoh saku jaketnya untuk mengeluarkan benda pipih tersebut.


“Kak, Zein permisi terima telepon dulu,” pamit Zein padaku.


Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan Zein. Sejurus kemudian, Zein keluar dari koridor ruang ICU. Sepeninggal Zein, aku beranjak dari kursi dan mendekati jendela kamar untuk melihat wajah malaikat pelindungku. Wajah tampan dengan rahang kekar itu sedang terpejam seperti orang tertidur lelap. wajahnya terlihat sedikit pucat. Dada bidang yang terbalut perban, semakin membuat dadaku terasa sesak.


Ah, Fatwa … kenapa kamu harus melakukan semua ini? Kenapa kamu mengorbankan diri kamu sendiri demi aku yang tak pernah bisa membahagiakan kamu? Kenapa, Fat? Pertanyaan yang membuat dadaku seolah terimpit bongkahan batu yang sangat besar.


“Kakak?”

__ADS_1


Tiba-tiba, panggilan Zein membuyarkan lamunan aku. Sejurus kemudian, aku mendekati Zein dan kembali duduk di bangku itu.


“Siapa yang menelepon Zein?” tanyaku begitu mendaratkan bokong di atas kursi panjang itu.


“Mama, Kak,” jawab Zein.


Aku mengernyitkan kening. Setahu aku, Zein sudah tidak memiliki ibu. Apa ayahnya menikah lagi?


“Mama kamu?” tanyaku untuk memastikan.


Zein tersenyum. “Bukan, mamanya Kak Chi,” jawab Zein.


Eits, nih bocah … sejak kapan dia memanggil mama pada mamaku? Aku bermonolog sendiri dalam hati.


“Oh. Mama bilang apa, Zein?” tanyaku.


“Mama bilang, sebaiknya Kakak pulang dulu untuk mengklarifikasi kepada pihak sekolah tentang penculikan Kakak. Supaya pak Diman bisa membantu Kakak mengklarifikasi kepada Dinas Kabupaten, begitu katanya kak,” jawab Zein.


Aku hanya bisa diam mendengar perkataan Zein. Sebenarnya aku merasa keberatan kalau harus meninggalkan Fatwa dalam kondisi seperti ini. Tapi, apa yang dikatakan mama ada benarnya juga.


“Baiklah, Zein. Setelah ada kabar terbaru dari Fatwa, Kakak akan menyempatkan diri untuk pulang,” jawabku.


Zein tersenyum. “Ya sudah, Zein kabari mama dulu,” ucap Zein. Dia pun kembali keluar untuk menelepon mama.


.


.


Jarum jam terus berputar. Tanpa terasa, malam pun semakin merangkak. Pukul 10 malam, adalah batas waktu yang akan menentukan bagaimana nasib Fatwa ke depannya. Rasanya, hampir setiap menit aku melirik jam tanganku. Dengan perasaan cemas, aku masih setia menunggu dokter yang akan memeriksa kondisi terakhir Fatwa.


Kriett!


Seorang perawat membuka pintu lorong ruang ICU. Di sampingnya, tampak dokter senior yang kemarin menjadi ketua tim yang menangani operasi Fatwa. Aku dan Zein hanya berdiri untuk menyambut kedatangan mereka.


Dokter itu melirik dan tersenyum kepadaku. “Kita do’akan yang terbaik untuk pasien ya, Bu!” ucapnya.


Aku dan Zein mengangguk. Selepas berbicara kepada kami, dokter itu membuka pintu kamar Fatwa dan memasukinya.

__ADS_1


Aku berjalan mondar-mandir di depan pintu. Sesekali aku berhenti untuk melihat apa yang terjadi di dalam melalui celah jendela kaca kamar Fatwa. Perasaan cemas semakin membuncah dalam hatiku. Entahlah, aku tidak bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Satu yang aku tahu. Takut! Ya, hanya rasa takut yang aku miliki untuk saat ini. Entah takut untuk apa, dan entah takut karena apa. Tapi aku benar-benar ketakutan saat ini.


“Duduklah, Kak! Tidak baik mondar-mandir seperti itu. Kakak bisa kelelahan nggak jelas, nantinya,” ucap Zein.


“Kakak takut, Zein,” jawabku lirih.


“Tenanglah, Kak. Dokter sedang memeriksa pak Fatwa. Kita do’akan saja semoga pak Fatwa baik-baik saja dan bisa segera sadar,” lanjut Zein.


Aku hanya mengangguk kecil mendengar ucapan Zein.


“Ayo duduk dan minumlah, Kak. Biar Kakak sedikit lebih rileks,” kata Zein seraya mengulurkan sebotol air mineral kepadaku.


Aku menuruti ucapan Zein. Setelah aku ambil botol itu dari tangan Zein, aku duduk dan mulai membuka tutup botol air mineral tersebut. Sesaat kemudian, aku reguk isinya hingga hanya menyisakan setengahnya saja.


Dokter senior keluar bertepatan setelah aku menutup kembali botol mineral itu. Aku menyimpan botol tersebut di atas kursi dan langsung berdiri menghampiri dokter senior. Pun dengan Zein yang mengikuti aku dari belakang.


“Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dok? Apa Fatwa sudah sadar?” tanyaku.


Dokter itu terlihat menarik napasnya panjang. Sesaat kemudian, beliau mengembuskan napas dengan sangat perlahan. Melihat tatapan sendunya, aku bisa menduga jika sesuatu mungkin saja sedang terjadi pada diri Fatwa.


“Bagaiman, Dok?” tanyaku tak sabar.


“Begini, Bu. Alhamdulillah, setelah saya periksa, seluruh organ vital pak Fatwa, keseluruhannya masih baik dan berfungsi dengan normal. Begitu juga dengan jantungnya yang mengalami sedikit luka akibat peluru yang mengenai tepi jantung pak Fatwa,” ucap dokter itu.


“Alhamdulillah!” Aku dan Zein mengucap syukur bersama.


“Tapi …” kata dokter senior menjeda ucapannya.


“Tapi? Tapi apa, Dok?” tanyaku yang mulai kembali merasa cemas.


“Tapi … sampai detik ini, pak Fatwa masih belum sadar juga. Dan, jika sampai esok pagi pak Fatwa belum sadar, maka kemungkinan pak Fatwa …” Dokter itu kembali menggantungkan kalimatnya.


“Kemungkinan Fatwa apa, Dok? Apa yang akan terjadi pada Fatwa jika dia tidak sadar sampai besok?” tanyaku lagi.


“Kemungkinan pak Fatwa mengalami koma.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2