My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
PDKT


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu istirahat selama sehari, akhirnya anak-anak peserta Observasi Parentas kembali bersekolah. Semangat baru muncul dalam hatiku. Entahlah, rasanya pergi ke sekolah menjadi hal yang aku nantikan setiap harinya.


Semua itu tentu saja bukan tanpa alasan. Kemajuan dalam mengenal pria dingin itu menjadi pemicu utama aku menyukai hariku bersekolah.


"Serius, Chi, lo mo ikutan kegiatan IREMA?" tanya Irma tak percaya saat aku bertanya-tanya tentang kegiatan ekskul itu.


"Ya, gue mo lihat aja dulu. Kalo cocok, ya ... gue ikut," jawabku mencari alasan.


"Tapi, ini bukan gara-gara si Fatwa, 'kan?" Irma mencoba menebak maksud yang aku sembunyikan.


"Ish, jan sekate-kate lo ngomong, Ma!" Aku mencoba mengelak praduga Irma. Meskipun tidak bisa aku pungkiri dalam hati, jika itu salah satu alasan aku mengikuti kegiatan IREMA.


"Sst, Bu Ida datang, tuh!" Kak Lastri mengakhiri pembicaraan kami saat melihat Bu Ida mulai masuk kelas.


"Selamat pagi anak-anak!" sapa ibu guru Biologi yang cantik jelita


"Pagi, Bu!" jawab serempak anak-anak.


Setelah mengucap salam dan berdo'a, akhirnya kegiatan belajar mengajar dimulai. Dua jam mata pelajaran Biologi, ditambah berikutnya Kimia, sungguh membuat otak kami terasa panas. Sesekali terlihat para siswa menguap saat guru Kimia kami menerangkan sebuah materi.


Ya, di antara guru yang lainnya, beliau memang seorang guru yang paling kalem. Tak pernah mengeluh ataupun protes jika melihat anak didiknya menguap, atau bahkan tidur sekali pun. Motto beliau adalah, 'lebih baik Saya tertidur di kelas daripada Saya mengganggu teman Saya yang ingin belajar'. Hadeuh, sungguh sebuah prinsip yang sangat istimewa.


Setelah jam istirahat berbunyi, semua murid berhamburan ke luar kelas untuk menuju kantin. Tak jauh beda dengan mereka, aku, Irma, Kak Lastri segera pergi ke kantin Mang Engkus. Tapi sebelumnya, tak lupa kami menjemput Tika di kelasnya.


"Chi, aku dengar setelah pulang sekolah, anak-anak IREMA akan mengadakan kajian islami. Apa kamu mau ikut?" tanya Tika.


Mataku seketika berbinar. Wah, pucuk dicinta, ulam pun tiba. Baru tadi pagi aku ngobrol sama Irma dan Kak Lastri untuk melihat jadwal kegiatan IREMA. Eh, taunya, sekarang ada kabar baik, nih. Rasanya aku sudah tak sabar mengikuti kajian tersebut. Entah sejak kapan, aku merindukan sosok pria dingin itu.


35 menit berlalu. Bel masuk mulai kembali berbunyi, dan semua siswa kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan mata pelajaran berikutnya.


Jam setelah istirahat adalah jam pelajaran milik Pak Dudung, guru Matematika yang selalu menjadi favorit aku. Tapi, entah kenapa ... kali ini aku tidak bisa berkonsentrasi penuh terhadap mata pelajaran yang sebenarnya menjadi bidang studi terfavorit. Ingatanku melayang pada apa yang akan aku lakukan dalam kajian nanti.


3 jam mata pelajaran telah berlalu. Bel jam terakhir berbunyi, pertanda waktu pulang telah tiba.


"Gua cabut dulu, Chi!" ucap Irma.


"Lo, nggak mo nemenin gue kajian, Ma?" tanyaku.


"Sori, Chi. Gue sih, pengen ... tapi, gue dah ada janji ma nyokap mo anterin dia ke Bank," jawab Irma.

__ADS_1


"Kak Lastri?" Aku bertanya padanya.


"Hari ini, Kakak ada jadwal les baca, Chi. Maaf, ya," ucapnya menyesal.


Meskipun kecewa, tapi aku tidak bisa memaksakan kehendak kepada mereka.


"Ya, sudah tidak apa-apa," jawabku lemas.


"Sori ya, Chi!" Sekali lagi Kak Lastri meminta maaf karena tidak bisa menemani.


"Semangat Chi! Gua dukung lo buat PDKT ma si Fatwa!" kata Irma sambil menepuk-nepuk pundakku.


"Ish, sedeng lo! Sapa juga yang mo PDKT ma, dia!" jawabku sambil tersenyum kikuk, menutupi rasa maluku sendiri.


"Cie... Cie... Ehm... Ehm...!"


Mereka mulai meledekku. Hingga tiba di pintu kelas, kami akhirnya berpisah. Irma menuju pintu gerbang untuk segera pulang, sedangkan Kak Lastri pergi ke kelas tika. Aku sendiri, dengan mantap mengayunkan langkahku menuju masjid sekolah.


Tiba di masjid, aku segera membuka sepatu dan pergi ke kamar mandi untuk berwudu. Setelah itu, aku memasuki masjid menuju tempat perempuan menunaikan salat. Aku meraih mukena yang terlipat rapi di dalam rak. Setelah mengenakannya, aku mulai salat.


Sambil menunggu kajian dimulai, selesai salat aku mengaji. Tak berapa lama kemudian, panggilan dari pengeras suara bergema. Satu per satu, siswa-siswi yang terhimpun dalam sebuah organisasi keagamaan yang diberi nama IREMA mulai berdatangan.


Setelah para jemaah berkumpul, kajian dimulai. Pria dingin itu kembali duduk di mimbar sebagai seorang pemateri. Kajian yang diambil hari ini tentang batasan pergaulan antara ikhwan dan akhwat.


Dari poin-poin yang diutarakan, terdapat beberapa poin yang sangat menohok. Jujur saja, aku memang sangat mengetahui batasan pergaulanku dengan lawan jenis, tapi tidak sedetail ini. Ada banyak hal-hal yang baru aku ketahui tentang batasan pergaulan pria dan wanita secara Islami.


Setelah mendengarkan ceramahnya, ada sedikit ragu terselip dalam hati. Akankah seorang Fatwa Imammuddin, wakil ketua IREMA, menyukai gadis urakan sepertiku? Jika mengingat apa yang baru saja dia sampaikan, rasanya itu mustahil. Lalu, apa arti kebaikan dan perhatian dia selama di desa itu?


Setelah pengajian bubar, aku segera melepaskan mukena dan pergi ke luar masjid. Selama mengenakan sepatu, pikiranku terasa kosong. Sepertinya dia sedang berkelana untuk mencari jawaban dari sebuah pertanyaan tentang rasa. Pantaskah rasa yang kumiliki untuk pria dingin itu?


.


.


.


Keesokan harinya. Begitu tiba di sekolah, Irma langsung menarik tanganku dan membawaku ke kantin sekolah.


"Duduk!" perintahnya begitu kami tiba di kantin.

__ADS_1


"Apaan sih, Ma?" Aku protes


"Gimana PDKT lo kemarin?" tanya Irma antusias.


"Dih, PDKT apaan?" elakku.


"Udah, deh ... nggak usah ngelak lagi. Gue tahu, kok kalo lo suka ma si Fatwa," ucap Irma.


"Sotoy lo, Ma!" pungkasku


"Ish, kok sotoy sih," rengut Irma.


"Ya abisnya, lo nuduh yang nggak-nggak. Dah, ah ... gue mo ke kelas." Aku beranjak dari tempat duduk.


Irma menekan kedua pahaku. "Chi, gue kenal lo dah lama. Lo tuh nggak berbakat banget jadi tukang bo'ong. Denger Chi, kalo lo ada masalah lo bisa cerita ke gua," ucap Irma menatapku, lekat.


Aku menatap wajah sahabatku itu. Setelah mempertimbangkan baik buruknya, akhirnya aku mengatakan kegundahanku.


"Jujur saja, gue jadi ragu setelah mendengar semua ceramahnya," ucapku sesaat setelah menceritakan apa yang menjadi kekacauan di hatiku.


Irma mulai tertawa. Seketika bibirku mengerucut melihat tawanya yang seolah mengejek.


"Tuh, 'kan... lo malah ngetawain gue. Dah ah, gue cabut!"


"Eits Chi, lo mah baperan. Sori, gue nggak ada maksud ngetawain lo, tapi jujur aja... lo lucu, Chi. Ya, nggak gitu juga kali, konsepnya. Denger Chi, seorang ikhwan dan akhwat memang memiliki batasan dalam pergaulan. Tapi mereka bukan berarti tidak bisa saling menyukai. Lo pernah dengar kata ta'aruf?"


Aku mengangguk.


"Nah, dalam kamus IREMA tuh nggak ada yg namanya pacaran. Mereka menyebutnya ta'arufan. Artinya, mereka memiliki hubungan dan misi yang sama hingga ke jenjang serius nanti. Karena itu, mereka berusaha untuk saling menjaga kepercayaan, menjaga jarak hingga kelak mereka memutuskan untuk hidup bersama." Irma mencoba menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah untuk dicerna.


"Oh." Hanya itu yang bisa aku ucapkan.


"Ngerti, 'kan, maksud gue?"


"Nggak!"


"Astaghfirullah, Chi!!!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2