
Entah berapa lama perjalanan yang aku lewati. Lelah yang mendera telah membuat aku terlelap. Hingga akhirnya, guncangan pelan di bahu, membangunkan aku.
“Kita sudah sampai, Nona,” ucap seseorang yang mengenakan seragam polisi.
Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan untuk mengumpulkan sisa nyawa yang masih beterbangan. Sepertinya, polisi itu paham jika nyawaku belum terkumpul. Dia pun membiarkan aku sejenak untuk tetap berada di dalam mobil.
“Saya pergi dulu. Kamu bisa menyusul setelah merasa siap untuk memberikan kesaksian atas peristiwa yang baru saja kamu saksikan,” ucap polisi itu.
Setelah melihat aku mengangguk, polisi itu pun pergi.
Aku kembali menyandarkan punggung. Mataku terpejam, bayangan tragedi yang baru saja aku alami, kembali melintas dalam pikiranku. Aku merasa bingung, kenapa Fatwa bisa berada di tempat kejadian itu? Lalu Anneu dan bang Rizal? Bagaimana keadaan dia saat ini? Jurang itu begitu dalam, apa mereka bisa selamat?
Huff!
Helaan napasku semakin terasa berat. Aku tidak pernah mengerti, entah kenapa begitu banyak tragedi yang harus kualami dalam menjalani kehidupan ini. sesaat, bayangan Maira melintas dalam benakku. Ya Tuhan, malang sekali nasib gadis kecil itu jika sampai kedua orang tuanya tidak bisa diselamatkan.
Saat aku membuka mata dan hendak keluar dari mobil, seorang polisi kembali menghampiri aku.
“Mohon maaf, Mbak. Pak Komandan sudah menunggu Mbak di ruangannya. Apa Mbak sudah bisa memberikan keterangan sekarang?” tanya polisi itu.
Aku mengangguk. Sejurus kemudian, aku beranjak dari kursi belakang mobil.
“Mari saya antar, Mbak!” tawar polisi itu begitu melihat aku sudah keluar dari mobil.
“Baiklah, Pak,” jawabku.
Dengan diantar oleh salah satu anggota kepolisian, aku pun menuju ruang komandan kepolisian setempat.
Tok-tok-tok!
Polisi yang mengantar aku mulai mengetuk pintu ruangan komandan.
“Masuk!” perintah seseorang dari dalam.
Polisi itu menekan handle pintu dan membukanya. Sesaat dia memberi hormat kepada komandannya.
“Lapor, Ndan! Saksi sudah siap untuk memberikan kesaksian,” ucap polisi itu.
Bapak Komandan tersenyum. “Baik, terima kasih. Kamu bisa kembali bekerja sekarang,” ucap Bapak Komandan yang aku baca di name tag-nya bernama Adwira.
“Silakan duduk!” ucap Pak Adwira seraya menunjuk kursi yang berada di depan meja kerjanya.
Aku mengangguk, kemudian mengikuti perintahnya untuk duduk di kursi itu.
__ADS_1
“Dengan Nona?” tanya Pak Adwira.
“Octora Resttyani,” jawabku.
“Baiklah. Hmm, nama yang cukup unik, ya. Kira-kira, saya harus memanggil apa?” tanya Pak Adwira.
“Panggil Resti saja, Pak.” Aku kembali menjawab.
“Ah, ya. Nama yang cantik,” lanjutnya.
Aku hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Pak Adwira. Aku tahu jika beliau sedang mencoba untuk mencairkan suasana, agar aku tidak terlalu tegang dalam memberikan kesaksian.
“Bisa kita mulai, Nona Resti?” tanya Pak Adwira.
Aku kembali mengnangguk. Sekilas, Pak Adwira melirik anak buahnya yang diberikan tugas untuk mencatat kesaksian yang akan aku katakan. Setelah mendapatkan anggukan dari anak buahnya, Pak Adwira mulai bertanya.
“Jadi Nona Resti, bisakah Anda menceritakan bagaimana kronologi kejadiannya?” tanya Pak Adwira.
“Siang itu, saat aku hendak masuk ke rumah, tiba-tiba Anneu datang. Dia ….”
Aku menceritakan secara detail apa yang aku alami. Dimulai dari kedatangan Anneu yang tiba-tiba membawa aku pergi ke hutan itu, penembakan Fatwa hingga terjatuhnya Anneu dan bang Rizal ke jurang. Semuanya aku ceritakan tanpa ada yang terlewati.
“Kalau boleh tahu, apa hubungan Anda dengan Pak Rizal?” tanya Pak Adwira.
“Lalu, kenapa Anda bisa berada di rumah pak Rizal?” tanya Pak Adwira lagi.
“Sebenarnya, aku ….”
Kali ini aku menceritakan tentang awal-mula kenapa aku berada di kota ini. Pun secara rinci, aku menceritakan penculikan dan penyekapan yang dilakukan oleh bang Rizal kepadaku.
“Tunggu sebentar! Apa mungkin Anda, adalah orang yang dilaporkan hilang sejak tiga bulan yang lalu?” sela polisi yang sedang mencatat kesaksian aku.
Polisi itu membuka laci meja kerjanya dan mengambil selembar pamflet yang ternyata berisi foto pencarian orang hilang. Senyum pun mengembang di kedua sudut bibir polisi itu.
“Ternyata memang benar, Anda warga kota Sukaresik yang dinyatakan hilang sejak beberapa bulan yang lalu,” gumam polisi itu.
Aku sangat terkejut mendengar kenyataan, bahwa selama ini keluargaku melaporkan kehilanganku. Air mata mulai meleleh tanpa permisi, mendengar usaha keluargaku hingga membuat pamflet untuk mencari keberadaanku.
“Apakah itu benar?” tanya Pak Adwira seraya meminta pamflet yang sedang dipegang anak buahnya.
Aku mengangguk. Pak Adwira bergantian menatap aku dan foto yang berada dalam pamflet.
“Cepat kamu hubungi keluarganya, Roy. Katakan pada mereka jika kita sudah menemukan putri yang mereka cari,” perintah Pak Adwira pada anak buahnya.
__ADS_1
Orang yang bernama Roy mengangguk. Sejurus kemudian, dia menghubungi nomor telepon yang tertera di dalam pamflet tersebut.
“Sepertinya, Anda sudah sangat kelelahan. Biar saya perintahkan anak buah saya untuk mengantar Anda ke ruang khusus," ucap Pak Adwira.
“Tunggu, Pak! Boleh saya bertanya sesuatu?” tanyaku, yang jujur saja masih merasa aneh dengan kehadiran polisi di TKP.
“Silakan, Nona,” jawab Pak Adwira.
“Jujur, saya penasaran. Bagaiman bisa tim kepolisian datang ke tempat kejadian tepat waktu? Apakah Ida yang melaporkan kejadian pada saat saya dibawa pergi oleh Anneu?” tanyaku.
“Ida?” Pak Adwira malah balik bertanya seraya mengernyitkan keningnya.
“Ida, dia adalah asisten rumah tangga yang berada di rumah bang Rizal. Kebetulan, dia juga menyaksikan pada saat saya dibawa paksa oleh Anneu,” jawabku.
“Hmm, sebenarnya kami memang mendapatkan laporan itu. tapi bukan dari orang yang bernama Ida, melainkan Pak Fatwa?” kata Pak Adwira.
“Fatwa?” kini giliran aku yang mengernyit karena tidak paham dengan ucapan Pak Adwira.
“Begini, Nona. Tiga hari yang lalu, pak Fatwa datang kemari untuk memberikan laporan jika dia mencurigai keadaan sebuah Villa yang lokasinya sekitar satu jam dari sini. Sayangnya, beliau tidak punya bukti yang kuat, sehingga kami sulit untuk bergerak. Tadi siang, sekitar pukul 15.15, beliau menelepon kami dan mengatakan kondisi terbaru dari villa tersebut. Beliau mengatakan, jika beliau melihat temannya dibawa paksa oleh seorang wanita dan beliau sedang mengejarnya. Beliau juga mengaktifkan GPS ponsel beliau, sehingga memudahkan kami untuk melakukan pencarian. Dan ... tibalah kami di hutan itu,” jawab Pak Adwira panjang lebar.
Aku hanya terpaku mendengarkan jawaban komandan polisi itu. Dan, kembali Fatwa yang telah menyelamatkan aku. Dia bahkan rela kehilangan nyawanya demi melindungi aku. Tapi, kenapa aku sama sekali tidak pernah bisa menghargai cintanya. Padahal, dialah yang selalu menjadi malaikat pelindungku.
Lagi-lagi, air mata luruh semakin deras. Bayangan Fatwa yang tengah dibawa ke dalam ambulan, kembali terlintas. Ya Tuhan … bagaimana keadaan Fatwa saat ini? Aku mohon, selamatkan dia? Jangan sampai, aku tak bisa mengucapkan terima kasih padanya. Jangan sampai, aku tak mampu membalas semua kebaikannya. Kumohon, beri kami kesempatan kedua untuk bisa saling menjaga.
“Apa aku boleh menjenguk Fatwa, Pak?” tanyaku kepada Pak Adwira.
“Hmm, sebaiknya Anda beristirahat dulu sambil menunggu kedatangan keluarga Anda. Tidak usah terlalu mencemaskan pak Fatwa, beliau sudah berada di tempat yang tepat saat ini,” kata Pak Adwira.
“Lalu, bagaimana dengan bang Rizal dan Anneu?” tanyaku lagi.
“Saya akan kabari Anda jika sudah ada perkembangan terbaru,” jawab Pak Adwira.
Selang beberapa menit, seorang polisi wanita masuk ke dalam ruangan Pak Adwira.
“Permisi, Ndan!” sapanya.
“Briptu Quina, tolong kamu antarkan Nona Resti ke ruang tunggu untuk bertemu dengan keluarganya,” perintah Pak Adwira kepada polisi wanita itu.
“Siap, laksanakan!” ucapnya. “Mari ikut saya, Bu!” lanjutnya.
Aku tersenyum padanya. Sejurus kemudian, aku segera beranjak dari kursi dan mulai mengikuti polisi wanita itu.
Bersambung
__ADS_1