
Aku memekik pelan sambil menutup kedua telingaku, membuat orang-orang yang berdiri di atas panggung terkejut dan menatapku dengan tatapan heran.
"Kamu kenapa, Yang?" tanya Mas Yudhis, menatapku penuh tanda tanya.
Seketika aku memutus pandangan dengan pria dingin yang sedang menyeringai ke arahku. Aku mengalihkan pandangan menatap Mas Yudhis. Wajah yang pucat bisa aku lihat dari pantulan kedua bola mata Mas Yudhis. Aku langsung meraba wajahku.
"Are you okay?" tanya Mas Yudhis.
Meski gugup, aku mencoba menguasai emosi dan mengangguk pasti menanggapi pertanyaan Mas Yudhis. Aku tidak mau mereka merasa khawatir atau bahkan curiga melihat kegugupanku.
"Chi, Mas ingin mengenalkan kamu kepada para tamu undangan. Apa kamu bersedia?" bisik Mas Yudhis di telingaku.
Aku hanya menatap Mas Yudhis. Di satu sisi, aku senang dan bahagia harus mengumumkan status kami. Tapi di sisi lain, aku benar-benar takut dan khawatir. Bagaimana jika Mas Yudhis tahu kejadian tadi. Akankah dia bisa mempertahankan aku sebagai calon istrinya? Jika memang bisa, aku akan sangat bersyukur sekali karena tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari kelanjutan hubungan kami. Tapi jika tidak? Hmm, bukan hanya aku dan Mas Yudhis saja yang akan menanggung malu, tapi juga keluarga besar kami.
"Jangan sekarang, Mas. Chi belum siap?" ucapku kelu.
Ya, mungkin inilah jalan yang terbaik untuk saat ini. Biarkan pertunangan kami menjadi konsumsi keluarga dulu. Bukan untuk publik. Aku tidak ingin kedua keluarga ini harus menanggung malu jika sesuatu terjadi di tengah jalan. Ish, semua ini gara-gara dosen sialan itu! rutuk aku dalam hati.
"Baiklah," ucap Mas Yudhis sendu. Raut kekecewaan terlihat jelas di wajahnya.
Pada akhirnya, momen yang seharusnya dijadikan ajang memperkenalkan aku sebagai calon istrinya, diganti dengan memperkenalkan aku sebagai seseorang yang selalu men-support dirinya.
Aku tersenyum tipis saat semua tamu undangan bertepuk tangan menatapku. Dan dosen gila itu? Dia semakin menyeringai ketika telah berhasil mencapai keinginannya.
.
.
Waktu terus berlalu. Semenjak statusnya berubah menjadi seorang CEO, kesibukan Mas Yudhis pun semakin bertambah. Tak jarang dia sampai berhari-hari tidak memberiku kabar. Jangankan untuk menjemputku di kampus, hanya untuk meneleponku saja, dia seolah tak memiliki waktu.
Terkadang aku merasa kesepian. Aku merindukan Mas Yudhis yang dulu. Yang selalu sigap ketika aku membutuhkan bantuannya.
Menyadari Mas Yudhis tidak pernah menjemputku lagi, si dosen gila itu mulai gencar melakukan aksinya. Namun, perbuatannya itu dia lakukan hanya ketika kami sedang berdua saja. Di hadapan para mahasiswanya, dia tetap menjadi seorang dosen yang berwibawa.
"Bang Yudhis nggak jemput kamu lagi?" tanyanya saat dia melihat aku masih duduk di pos satpam.
"Sore Pak Fatwa!" sapa pak satpam penuh hormat.
"Sore, Pak!" jawabnya menanggapi sapaan pak satpam.
Laki-laki tinggi bertubuh tegap itu keluar dari mobilnya. Dia berjalan menuju pos satpam. "Permisi, Pak. Boleh saya minta tolong?" tanya pria dingin itu.
__ADS_1
"Oh, tentu saja, Pak. Apa yang bisa saya bantu?" Pak satpam balik bertanya.
"Tolong belikan saya sebungkus rokok, Pak," ucap fatwa seraya mengeluarkan dompet dan menyerahkan selembar uang kertas berwarna merah.
"Ah, iya, siap pak!" jawab pria paruh baya bertubuh gempal itu. Sejurus kemudian, pria itu meninggalkan kami berdua di pos keamanan.
"Bang Yudhis tidak akan datang. Sebaiknya kamu ikut aku," ucap pria itu dengan suara datarnya.
"Saya bisa pulang sendiri," ucapku bersiap melangkahkan kaki.
Hup!
Fatwa meraih tanganku dan menahannya. "Jangan ngeyel, apa kamu tidak lihat cuaca sudah mulai tidak bersahabat?" Dagunya menunjuk langit yang memang mulai mendung.
Aku mendongak, gumpalan awan hitam tampak menggelayut di sana. Tapi itu tidak menyurutkan tekadku untuk menghindari pria aneh ini.
"Saya harus pulang, tolong lepaskan saya!" pintaku dingin. Semenjak tragedi penciuman tanpa permisi tempo lalu, aku selalu berusaha untuk menjaga jarak dengan pria itu.
Blugh!
Lagi-lagi pria itu menarik tanganku dan membawa aku memasuki pos keamanan. Fatwa mendekap aku begitu erat.
"Aku mohon, Res. Jangan perlakukan aku seperti ini!" ucapnya serak.
Aku sedikit meronta, mencoba melepaskan diri dari pelukannya. Namun, pria itu semakin menguatkan pelukannya hingga aku merasa kesulitan untuk bernapas. Aku mencoba mengalah.
"Tolong lepaskan saya, Pak. Saya tidak bisa bernapas," ucapku setelah cukup lama dia mendekapku.
Fatwa mulai melonggarkan pelukannya. "Maaf," katanya.
Aku menghela napas, mencoba berdamai dengan keadaan. Aku memberanikan diri untuk menatap mata elang milik pria itu.
"Aku mohon, Pak. Jangan menambah sulit posisi saya. Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari saya? Tidak bisakah Anda untuk tidak menggangu saya lagi? Terlebih lagi, saya adalah tunangan sepupu Anda sendiri? Apa salah saya sampai Anda tega menghancurkan masa depan saya? Apa Anda tega mengambil kebahagiaan saya dan amas Yudhis?" Aku memberondong pria dingin itu dengan berbagai pertanyaan yang tidak aku pahami.
"Aku tidak akan sanggup kehilangan kamu lagi," ucapnya datar.
"Maksudnya?" Aku semakin mengernyitkan kening mendengar perkataan dosen killer itu.
"Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan! Pergilah sebelum aku menyentuhmu lebih jauh lagi!" katanya dingin.
Aku terkejut mendengar perkataannya. Seketika nyaliku menciut melihat tatapan matanya yang mulai sangar.
__ADS_1
Aku melangkah mundur hingga di ambang pintu penjagaan. Tak ingin bersamanya lebih lama lagi, aku membalikkan badan dan segera pergi meninggalkan pria aneh itu. Rintik air hujan mengiringi langkahku menyusuri trotoar menuju halte bus kampus.
.
.
.
"Kak, bisa tolong Mama, Nak!" teriak mama dari dapur. Aku segera berlari menghampiri mama yang sedang sibuk menata makanan di dalam dus kecil. Semenjak kepergian papa, mama membuka usaha kue basah.
"Iya, kenapa Ma? Apa yang bisa Kakak bantu?" tanyaku.
"Ini ada pesanan kue buat Wak Haji. Apa kamu bisa mengantarnya?" tanya mama.
"Wak Haji mana, Ma?" Aku bertanya karena nama itu asing di telingaku.
"Wak Haji Ali, kabarnya cucu Wak Haji baru datang dari kota Bandung. Mereka datang bersama anak istrinya, jadi Wak Haji memesan kue ini untuk hidangan," urai Mama.
"Oh, yang rumahnya di ujung jalan, Ma?" tanyaku, memastikan kepada mama.
"Iya," jawab mama.
"Ok," jawabku. Aku segera mengambil dus yang sudah mama masukan ke dalam kantong plastik. Setelah itu mengantarkannya ke rumah Wak Haji.
Tiba di rumah Wak Haji, aku melihat suasana rumah sangat ramai sekali. Sepasang anak kembar tengah bermain air di dalam sebuah kolam renang buatan. Mereka terlihat begitu gembira. Tiba-tiba datang seorang laki-laki mengenakan celana pendek dan kaos oblong menghampiri kedua bocah yang usianya mungkin sekitar dua atau tiga tahunan.
"Nathan, Naswha! Ayo sudah selesai main airnya, ya! Nanti mama kamu, marah loh!"
Aku memicingkan mata merasa tak asing dengan sosok pria yang sedang mengeringkan tubuh anak-anak itu dengan handuk secara bergantian.
"A-aji?" ucapku.
Pria itu mendongak. Terlihat jika dia pun sangat terkejut ketika melihatku.
"Resti?" katanya.
Aku mengangguk. Sejurus kemudian, pria itu menghampiri aku dan meninggalkan kedua anaknya yang kembali bermain air di kolam buatan itu.
'Masya Allah, Res ... apa kabar,?" ucap aji mengulurkan tangannya.
"Alhamdulillah, kabar Res baik, Ji," jawabku. Kami berjabat tangan. Tiba-tiba,
__ADS_1
"Siapa yang datang Bi?"
Bersambung