
Aku cukup terkejut mendengar permintaan tante Amara. Tapi, aku tidak ingin mengecewakan beliau. Sejenak, aku menatap mama. Terlihat jika beliau menganggukkan kepala sebagai isyarat beliau mengizinkan aku menemui mas Yudhis.
"Untuk menjalin hubungan lagi, rasanya Chi nggak akan sanggup, Tante. Maafkan Chi," ucapku menundukkan kepala.
Tante Amara menggenggam kedua tanganku. "Tidak apa-apa, Tante bisa memahami hal itu, Nak," kata tante Amara.
"Untuk menjenguk mas Yudhis ... nanti, kalau ada waktu, Chi pasti menjenguk mas Yudhis, Tan," jawabku tanpa ragu.
"Iya, terima kasih Nak," ucap tante Amara. Setelah selesai mengutarakan maksudnya, tante Amara, pamit pulang.
"Kok, kamu menyanggupi permintaan tante Amara, sih?" kata Fatwa yang terlihat keberatan aku menemui mas Yudhis di penjara.
"Nggak pa-pa, Fat. Jujur, Res nggak tega nolak permintaan tante Amara," jawabku.
"Hmm, selalu saja seperti itu," gumam Fatwa.
Mama hanya tersenyum mendengar perdebatan kami. "Sudah-sudah, jangan berdebat lagi. Sebaiknya kamu istirahat, Kak, " ucap mama padaku.
"Ma, lapar..." rengekku
"Loh, Kakak belum makan?" tanya mama.
"Udah, tapi makanan rumah sakit, 'kan, nggak enak," ucapku manja.
"Mangkanya jan sakit kalau mau makan enak," tukas Fatwa.
Aku hanya mencebikkan bibirku menjawab ucapan Fatwa.
"Ya sudah, Kakak mau makan apa, biar Mama belikan di kantin. Eh, tapi nggak ada pantangan makanan apa pun, 'kan, Nak Fatwa?" tanya mama kepada Fatwa.
"Nggak, Bu. Makanan apa pun nggak ada yang dilarang dokter, kok," jawab Fatwa.
"Ya sudah, Kakak mau makan apa, Sayang. Biar Mama belikan," kata mama lagi.
"Kakak mau nasi padang tambah rendang, telor balado, perkedel sama sambal ijo yang baaanyaaak banget," ucapku bersemangat.
"Wuidiih ... sembuh dulu, Neng, baru makan begituan," ucap Fatwa.
"Mamaaaa...." Aku merengek, tak terima dengan ucapan Fatwa.
"Emang bener sih kata Nak Fatwa, Kakak harus sembuh dulu, baru bisa makan nasi padang," timpal mama.
"Ih, kalian ini ... kejam!" Seketika aku mengerucutkan bibir mendengar mama ternyata membela omongan Fatwa.
__ADS_1
"Ya sudah, biar aku yang beli. Tapi nggak usah pedes-pedes juga, ya!" ucap Fatwa. "Ibu mau dibungkusin nasi padang, biar sekalian juga?" tanya Fatwa.
"Boleh tuh, Nak Fatwa," jawab mama.
"Ray juga mau, Bang," timpal Rayya.
Semua orang menoleh ke arah pintu.
"Ish kamu ini, datang-datang bukannya ucapin salam, malah minta nasi padang. Nggak sopan itu," gerutu mama.
Rayya terlihat cengengesan sambil memasuki ruangan. "Hehehe, assalamu'alaikum semuanya!" sapa Rayya.
"Wa'alaikumsalam!" jawab aku, mama dan Fatwa serempak.
"Ya sudah, saya pergi dulu," kata Fatwa.
"Baiklah, terima kasih ya, Nak Fatwa," ucap mama.
Fatwa hanya mengangguk seraya berlalu pergi meninggalkan kami. Setelah Fatwa pergi, Rayya menghambur ke arahku. Dia kemudian memeluk aku.
"Ah Kakak, Ray kangen banget sama Kakak," ucap Rayya.
"Iya, Dek. Kakak juga kangen sama kamu," kataku.
Akhirnya kami bercerita satu sama lain. Mama dan Rayya begitu terkejut saat aku menceritakan masa lalu mas Yudhis. Aku pikir, mereka sudah tahu semuanya dari Fatwa. Tapi ternyata, Fatwa bukan tipe orang yang selalu mengambil kesempatan di atas kesempitan. Kalau dia mau, dia bisa saja menceritakan keburukkan mas Yudhis di depan mama dan Rayya, agar mereka lebih bersimpati kepada Fatwa. Tapi itu tidak dia lakukan. Fatwa malah diam dan menghargai semua keputusan aku. Hmm, lagi-lagi dia berhasil membuat aku berdecak kagum atas sikapnya.
"Eits, mau ke mana?" tanya Fatwa yang merasa heran saat aku hendak mengambil botol cairan infus.
"Res mo makan bareng kalian," rengekku.
"Ya sudah, tunggu dulu di sana. Aku mau menyajikan makanan ini terlebih dahulu," ucap Fatwa.
Aku menurut dan kembali duduk sambil menyandarkan punggung. Aku lihat Fatwa mengeluarkan makanan yang dibawanya dari dalam kantong plastik. Setelah selesai, dia kemudian menghampiri aku.
Fatwa meraih botol infus dan memegangnya. Dengan telaten, dia membantuku turun dari ranjang. Tapi, melihat aku kesusahan berdiri akhirnya Fatwa gemas sendiri.
"Pegang!" titah Fatwa seraya mengulurkan botol infusan itu padaku.
Meski tidak mengerti, tapi aku mengambil benda itu. Aku menatap heran kepada Fatwa yang entah akan berbuat apa. Ternyata...
Hup!
Dia menggendongku ala-ala bridal style. Aku cukup terkejut dan hendak protes. Tapi, sepertinya Fatwa mengetahui niatku.
__ADS_1
"Kaki kamu tuh belum boleh banyak gerak. Jadi nggak usah protes lagi," ucap Fatwa.
Aku hanya diam dengan wajah yang sudah memerah bagaikan buah apel.
Tiba di sofa, Fatwa segera menurunkan aku di atas sofa. Dia kemudian membuka satu bungkusan nasi padang dan menyerahkannya padaku. Setelah itu, kami makan bersama diiringi cerita lucu dari dirinya dan Rayya. Hmm, sepertinya kedua orang itu sangat kompak dalam membuat cerita lucu. Sehingga mama sampai tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
.
.
Hari sudah semakin sore. Mama dan Rayya yang memang masih memiliki aktivitas di hari esok, dilarang menginap di rumah sakit oleh Fatwa.
"Tapi, Nak Fatwa ... Ibu jadi nggak enak loh. Setiap malam, Nak Fatwa yang menunggui Kakak. Biarlah sekarang giliran Ibu dan Rayya yang menunggui Kakak," ucap mama.
"Tidak apa-apa, Bu. Kebetulan saya sedang cuti untuk beberapa hari. Sedangkan Ibu, 'kan, masih harus mengerjakan pesanan catering. Dan Rayya, aku nggak mau kuliah Rayya terganggu gara-gara hal ini," jawab Fatwa.
Ibu tersenyum. "Ya sudah, terserah kamu saja kalau memang tidak keberatan."
Mama kemudian mendekati aku dan duduk di sampingku. "Kak, Mama sama adik kamu pergi dulu, ya. Semoga lekas sembuh, supaya kita bisa berkumpul lagi," ucap mama.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa mengangguk mendengar perkataan mama. Setelah taksi yang dipesan Rayya datang, mereka pun pergi meninggalkan aku bersama Fatwa di rumah sakit ini.
"Ayo, aku bantu lagi ke ranjang. Biar kamu bisa istirahat," ucap Fatwa
Aku mengangguk dan mengulurkan tanganku. Fatwa tersenyum penuh misteri melihat tingkahku. "Ketagihan, 'kan, digendong sama pria dingin bermata elang," bisik Fatwa di telingaku.
Seketika aku tercengang mendengar ucapan Fatwa. Itu adalah julukan aku untuknya semasa SMA dulu. Tapi, dari mana dia tahu julukan itu?
.
.
Seperti biasa, aku tidak pernah bisa tidur di tempat yang berbau-bau medis. Bunyi sirene yang menusuk telinga, bau obat yang menyengat, dan derap langkah kaki yang terdengar riuh, semakin mengganggu tidurku. Pada akhirnya, kedua mata ini hanya bisa terbuka lebar.
"Belum tidur juga?" tanya Fatwa setelah dia menunaikan shalat isya-nya.
Aku menggelengkan kepala, pelan
"Mau main halma?" ucapnya lagi.
Dejavu! Aku seperti kembali ke masa lalu. Masa di mana hanya aku dan dia yang tergelak bersama saat asyik bermain halma di tengah malam buta. Sesekali kami saling menutup mulut karena mendengar gedoran pintu dari luar. Woy, jangan berisik, ini puskesmas, bukan rumah kalian!
Aku tersenyum mengenang semua itu.
__ADS_1
Tiba-tiba, Fatwa mengeluarkan ponselnya. "Aku yang biru, kamu yang merah!"
Bersambung