
Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Aku melihat Anneu telah berdiri di hadapanku. matanya menatap nyalang padaku. Gemeletuk giginya begitu jelas terdengar.
“Berani-beraninya kau menyentuh anakku!” teriak Anneu begitu kerasnya.
Dia kembali hendak menampar, tapi aku segera menghindar. Anneu terlihat semakin marah. Kedua tangannya terulur hendak menjambak rambutku. Aku kembali mengelak. Sejurus kemudian, aku menghampiri Ida.
“Tolong bawa Maira ke dalam, Da,” pintaku kepada Ida. Aku merasa kasihan melihat Maira yang mulai menangis ketakutan.
Saat aku lengah, tiba-tiba Anneu menyambar tanganku.
“Ikut aku!” ucapnya seraya menarik dan menyeret aku ke halaman depan.
Anehnya, tak ada satu pun penjaga yang berani melawan Anneu. Aku lihat, mereka hanya diam dan menjadi penonton saat Anneu terus menarik tanganku menuju mobilnya.
“Masuk!” teriak Anneu seraya mendorong tubuhku.
Aku terjerembab di kursi belakang. Sesaat sebelum aku berhasil bangkit, Anneu sudah duduk di belakang kemudi dan mulai menyalakan mesin mobil. Sedetik kemudian, dia mulai melajukan kendaraannya hingga hampir menabrak gerbang yang hendak ditutup penjaga.
“Resti!” teriak seseorang yang samar-samar aku dengar.
Aku segera menoleh saat merasa mengenali suara itu. Namun, sayangnya aku tidak sempat melihat wajahnya. Orang itu terlihat masuk kembali ke mobilnya dan mulai mengejar mobil yang sedang dikendarai oleh Anneu.
“Tolong! Tolong!” teriakku sambil menggedor kaca jendela mobil.
“Hahaha,… berteriaklah Resti, tidak akan ada orang yang bisa menolong kamu saat ini,” teriak Anneu, menyeringai sinis.
“Apa mau kamu, Neu? Kenapa kamu membawaku pergi?” tanyaku menatap Anneu lewat kaca spion depan.
“Tenang saja, Res. Aku hanya akan membebaskan kamu dari si Rizal psikopat itu,” jawab Anneu.
Sejenak, aku merasa ucapan Anneu seperti angin surga bagiku. Tapi, saat melihat senyum menyeringainya, aku ragu jika dia memiliki itikad baik.
“Jangan gila kamu, Neu! Bang Rizal pasti tidak akan mengampuni perbuatan kamu,” ucapku penuh penekanan.
“Hahaha,…” Anneu kembali tertawa terbahak-bahak, “kamu pikir aku peduli? Hmm, enggak Res! Selama ini aku tidak pernah peduli dengan semua kemarahan Rizal. Dan asal kamu tahu, Res. Aku sama sekali tidak takut dengan yang namaya Afrizal Mahesa. Dia itu terlalu lemah menjadi seorang laki-laki. Teralu pengecut!” umpat Anneu.
Tin-tin!
Sesaat aku mendengar bunyi klakson mobil dari arah belakang, sontak aku menengok ke belakang. Tampak sebuah mobil sedan mengikuti kami dari belakang.
“Shitt!” umpat Anneu seraya memukul kemudi dengan keras.
__ADS_1
Sejurus kemudian, Anneu menginjak pedal gas dengan kuat, sehingga kecepatan mobil semakin bertambah.
Kegilaan Anneu dalam menyetir, membuat tubuhku terhempas ke belakang. Spontan aku memegang erat bagian belakang kursi yang ada di depanku.
Sementara itu, laju mobil di belakangku semakin terlihat kencang. Untuk beberapa menit, mobil tersebut sempat menyusul mobil yang dikendarai Anneu. Namun, rupanya Anneu tidak tinggal diam. Dia kembali menginjak pedal gas, sehingga mobil yang dikendarainya melesat bagaikan kilat. Mobil sedan pun tertinggal jauh di belakang.
Beberapa menit berlalu, mobil yang di kendarai Anneu mulai memasuki kawasan hutan. Tiba-tiba ....
Ciitt!
Anneu menginjak rem secara mendadak, hingga keningku terbentur jok yang ada di depan.
“ish!”
Aku meringis seraya memegang dahiku yang mulai berdenyut. Belum sempat aku menoleh, tiba-tiba Anneu sudah membuka pintu mobil dan kembali menarik tanganku.
“Sini kamu!” teriak Anneu.
Brugh!
Anneu menghempaskan tanganku dengan kuat, hingga tubuhku terjerembab ke tanah. Aku kembali meringis saat tanganku tergores kerikil-kerikil tajam di tanah.
“Dasar wanita ja'lang! Kenapa kamu tidak mampus saja menyusul temanmu Anna, hah? Bersusah payah aku menyingkirkan saudara kembarku untuk mendapatkan Fatwa. Tapi kenapa di saat sedikit lagi aku mendapatkannya, kamu malah harus hadir di antara kami?” teriak Anneu histeris.
Aku mencoba berdiri, tetapi Anneu kembali mendorong kedua bahuku dengan keras.
“Dasar wanita laknat! Belum puas kamu membayangi langkah Fatwa, hah? Bahkan setelah terpisah jauh dari kamu pun, dia masih tetap memikirkan kamu.”
Tiba-tiba Anneu menghampiri aku dan berjongkok di hadapanku. kedua tangannya mencengkeram kerah bajuku.
“Katakan padaku! Guna-guna apa yang kamu kirimkan pada Fatwa, sehingga dia hanya mengingat kamu dalam hidupnya? Katakan!”
Plak!
Anneu kembali berteriak seraya menampar pipiku.
“Ish!”
Aku meringis saat merasakan perih di sudut kanan bibirku. Rupanya tamparan Anne begitu keras, sehingga membuat sudut bibirku sedikit sobek. Kuusap darah yang terasa basah di sana.
Sesaat Anneu mulai mundur beberapa langkah dari hadapanku. Aku gunakan kesempatan itu untuk berdiri dan menjauh darinya.
__ADS_1
“Katakan padaku, Res? Apa yang harus aku lakukan agar Fatwa bisa mencintai aku?” ucap Anneu terdengar lirih.
“Aku … aku tidak tahu, Neu,” jawabku.
“Bohong!” tukas Anneu seraya berteriak. Telunjuknya mengarah kepadaku. “Kamu pasti bohong, 'kan? Kamu hanya tidak mau berbagi resep denganku. Kenapa? Kenapa setiap laki-laki yang dekat denganku, selalu kamu rebut? Kenapa, Res? Apa salahku padamu sampai kamu tega menjadi penghalang bagi kebahagiaanku? Tidak Fatwa tidak Rizal, semuanya hanya memperhatikan kamu saja. Sedangkan aku? Aku tidak pernah ada artinya di mata mereka,” ucap Anneu lirih.
“Kamu hanya salah paham padaku, Neu. Aku sama sekali tidak pernah merebut apa pun darimu. Aku sendiri tidak pernah punya hak untuk menghalangi perasaan mereka. Bukan salahku jika mereka memiliki perasaan untukku.”
Tanpa sadar, aku telah menyiram bensin pada bara api yang sedang menyala di hati Anneu.
“Hahaha,… keterlaluan! Dasar wanita iblis kamu, Res. Sebegitu percaya dirikah kamu sampai kamu berani meremehkan aku? Kamu pikir, mereka berpaling dariku, semua itu bukan kesalahan kamu, hah? Enggak, Res … kamu salah, sampai kapan pun kamu tetap bersalah! Seandainya kamu tidak pernah muncul di hadapan Fatwa, dia pasti tidak akan pernah berpaling dariku. Tidak A
akan!” teriak Anneu kembali histeris.
Rasa egoku kembali muncul. Demi Tuhan, aku tidak terima Anneu menyalahkan nasibnya karena diriku. Aku mulai mendekati Anneu dan mencoba memberikan pengertian padanya.
“Aku mohon, Neu. Kamu tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang telah menimpa garis takdirmu. Apa kamu pikir, aku juga mau mengalami garis takdir seperti ini? Setiap hari harus terkurung dalam sangkar emas yang bang Rizal ciptakan untukku. Tapi aku bisa apa? Tidak mungkin aku melawan takdir Tuhan yang telah tertulis untukku. Aku mohon, berdamailah dengan keadaan, Neu! Kita bisa sama-sama beljar untuk memperbaiki kesalahan kita,” ucapku.
“Cukup! Jangan pernah ceramah lagi di depanku! Apa kau tahu jika aku sudah terlalu lelah untuk mendengarkan semua kebaikan yang hanya bullshitt semata? Kamu tidak bisa merubah garis takdirmu sendiri, itu karena kamu bodoh, Res! Kamu sangat bodoh, hingga mau saja pasrah dipermainkan oleh takdir. Tapi aku tidak sepertimu. Sekarang, akan aku buktikan bagaimana aku merubah takdir kita berdua,” sahut Anneu.
Sejurus kemudian Anneu mengeluarkan senjata api dari balik cardigan yang dia kenakan.
Mataku membelalak sempurna melihat benda itu. ish, apa-apaan ini? aku mundur untuk beberapa langkah.
“Kenapa, Res? Apa kamu takut?” tanya Anneu dengan senyum menyeringai.
“Jangan main-main kamu, Neu. Cepat singkirkan benda itu,” ucapku lirih. Rasanya aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk berteriak.
"Hahaha,…" Anneu kembali tertawa, “ayolah, Res. Jangan jadi seorang pengecut! Apa kamu percaya, jika hanya dalam satu tarikan pelatuk, maka aku bisa mengubah takdirku dan takdirmu? Kamu akan pergi ke surga untuk bertemu Anna, dan aku akan mendapatkan pangeran impianku, Fatwa. Cukup adil bukan?” ujar Anneu.
Ish, dasar wanita setengah waras, gerutuku dalam hati. “Letakkan senjata itu, Neu. Aku mohon…”
“Kamu takut,Res?" Tanya Anneu, menyeringai. “Larilah jika kamu memang takut, Res! Peluru di senjata ini hanya ada satu. Siapa tahu dengan berlari sekuat tenaga, kamu bisa selamat dari maut yang akan aku ciptakan untukmu,” racau Anneu.
“Dasar gila!” teriakku
“Apa kamu bilang? Ka-kamu bilang aku gila? Ish, berani sekali kamu mengatakan aku gila,” teriak Anneu semakin kalap.
Sepertinya dia sudah sangat kehilangan akalnya akibat perkataan aku. Ish, ini benar-benar di luar dugaan. Aku hanya bisa pasrah saat melihat jari telunjuknya mulai menarik pelatuk senapan itu.
Dor!
__ADS_1
“Arrghh!”
Bersambung