
Seketika jantungku seolah berhenti berdetak mendengar suara yang tidak pernah asing lagi di telinga. Aku mendongak, mulutku terbuka lebar saat melihat langkah tegap pria dingin bermata elang mendekati meja kami.
"Ah, Fatwa Sayang ... akhirnya kamu datang juga," ucap Tante Amara seraya menghampiri dosen gila itu dan memeluknya.
Aku semakin terpana melihat pemandangan tersebut. Ish, kenapa Tante Amara memeluk si dosen killer itu? batinku
"Ah, iya Tante. Maaf, aku terlambat," ucap dosen tidak tahu malu itu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ini juga baru mau mulai, kok. Lagi pula, masih banyak hidangan yang lain yang belum disajikan," ucap Tante Amara. Sejenak, Tante Amara menatap Mas Yudhis.
"Eh, Yud, apa kamu masih mengenal Fatwa?" tanya Tante Amara pada anaknya.
"Tentu saja, Bu. Bukankah dia sepupuku yang selalu membuat patah hati para perempuan dengan pesonanya?" kata Mas Yudhis sambil berjalan mendekati pria dingin itu.
"Bisa aja lo, Bang!" ucap Fatwa. Sedetik kemudian, mereka saling berpelukan.
"Tunggu! Kok lo bisa ada di sini. Bukankah terakhir kali gue denger lo tinggal di Belanda, ya?" tanya Mas Yudhis pada dosen mesum itu.
"Hahaha, gue dah lama, kali, pindah kemari. Lo-nya aja yang nggak pernah ngeh," ucap ringan si pria dingin itu.
"Hahaha,...."
Mereka tergelak bersama, menyisakan aku yang terbengong sendirian di tempat duduk. Ada apa sebenarnya ini? Apa yang terjadi? Kenapa pria dingin itu bisa berada di sini? Tadi Mas Yudhis bilang kalo pria dingin itu adalah sepupunya, itu artinya ... mereka bersaudara?! Ish, kenapa bisa jadi begini?
Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam hatiku setelah melihat pria dingin itu bersapa akrab dengan Mas Yudhis dan ibunya.
"Oh, iya Fat, kenalin ... ini calon istrinya Abang kamu, yang berarti calon mantu Tante juga," kata Tante Amara, mengenalkan aku kepada si dosen sengklek itu.
Pria dingin itu berjalan menghampiri aku. Dia kemudian mengulurkan tangannya. "Fatwa Imammuddin, Anda cukup panggil saya Fatwa saja!" ucapnya penuh kelembutan.
__ADS_1
Eh ... Apa-apaan ini? Apa dia tidak mengenali aku? Atau hanya berpura-pura tidak mengenalku? pikirku.
Sungguh aku terkejut melihat sikapnya yang seolah ini adalah pertemuan pertama kami. Aku tidak mengerti dengan cerita yang akan dia buat. Tapi, apa pun itu ... akan aku ikuti alurnya.
"Resti, tapi Anda bisa memanggil saya Chi!" Aku menjawab sembari menyambut uluran tangan pria dingin itu. Untuk pertama kalinya setelah kejadian masa SMA, kami saling berjabat tangan kembali.
Pria itu menjabat tanganku, erat. Ada rasa yang tak biasa kembali menyeruak dalam dada. Gelanyar aneh saat menatap mata elangnya, kembali menjalari tubuhku.
Aku segera memutuskan pandangan. Tak ingin terpancing emosi, aku kembali duduk dan mencoba tak menghiraukan keberadaan pria dingin bermata elang itu.
Ada banyak topik yang mereka bicarakan. Terkadang, aku merasa seperti kambing congek di antara mereka. Beruntungnya, Tante Amara menyadari hal itu. Dia kemudian mulai menanyakan aktivitas keseharianku.
"Gimana kerjaan kamu, Nak?" tanya Tante Amara.
"Eh ...." Aku yang sedang menikmati makanan, seketika mendongak. "Alhamdulillah, baik Tan," jawabku.
"Maafkan, Chi Tante. Chi hanya ingin mewujudkan keinginan almarhum papa yang menginginkan Chi untuk menjadi seorang guru," ucapku mencoba memberikan pengertian kepada calon ibu mertuaku.
"Ya, Tante mengerti, Nak. Maafkan Tante, karena merasa khawatir akan keadaan kalian, Tante malah memaksakan kehendak Tante kepada kalian," ucap Tante Amara.
"Tidak apa-apa, Tante. Chi bisa ngerti kekhawatiran Tante. Chi paham perasaan Tante, karena apa yang Tante rasakan, Chi sering melihatnya dalam diri mama. Tapi, Tante tidak usah khawatir. Setahun bukanlah waktu yang lama," ucapku.
"Hmm, semoga saja. Jangan sampai Abang menunggu lebih lama lagi. Inget umur, Bang! Kalau memang sudah ada yang pasti, kenapa harus menunggu yang tidak pasti?" ucap si pria dingin itu.
Eits, apa maksudnya ini? Apa dia sedang menyindir keadaanku? batin aku.
Aku menatap tajam ke arah dosen gila itu. Seringai sinis terpancar jelas di raut wajahnya. Entah apa yang diinginkan si dosen killer. Kenapa dia harus kembali menjadi bayangan dalam hidupku setelah sekian lama menghilang.
Aku lihat, tanpa merasa bersalah, dosen itu kembali melanjutkan makannya. Sepertinya, dia merasa senang karena berhasil membuat aku salah tingkah di depan calon suami dan calon ibu mertuaku.
__ADS_1
Aku melirik jam mungil yang melingkar di pergelangan tangan. Penanda waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Hmm, ini sudah sangat sore, aku harus segera pulang. Kalau tidak, aku bisa mati berdiri menghadapi si dosen killer itu.
"Mas, sudah sore. Sepertinya Chi harus pulang," ucapku menatap Mas Yudhis penuh harap.
Mas Yudhis ikut-ikutan melirik jam di tangannya. Sebersit senyum pun terpancar dari raut wajahnya. Aku melihat dia menganggukkan kepalanya.
"Bu, Yudhis antar Chi pulang dulu ya? Ini sudah sangat sore," ucap Mas Yudhis pada ibunya.
Tante Amara tersenyum, sejurus kemudian dia mengangguk. "Antarkan calon istrimu pulang, Nak! Dan jangan lupa untuk membelikan sesuatu sebagai buah tangan untuk keluarganya di rumah," kata Tante Amara.
"Baik, Bu. Ibu tidak perlu khawatir tentang hal itu," jawab Mas Yudhis.
Aku menghampiri Tante Amara. "Chi pulang dulu ya, Tan!" pamitku pada Tante Amara.
"Iya. Hati-hati di jalan. Jangan lupa, sampaikan salam Tante untuk mamamu," ucap Tante Amara, kembali memeluk tubuhku. Untuk sejenak, kami pun saling berpelukan.
.
.
Tiba di kamar, aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, aku menunaikan kewajibanku. Selepas salat magrib, aku mulai mengaji untuk menenangkan batinku. Entah kenapa, sepulang dari restoran itu, pikiranku semakin kacau. Obrolan Mas Yudhis pun hanya masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Konsentrasiku seketika pecah begitu mengetahui hubungan kekerabatan antara Mas Yudhis dan pria dingin itu.
Aku menutup Al-Quran setelah melantunkan beberapa ayat. Melepas mukena, melipat dan kembali menaruhnya di lemari kecil samping meja kerja. Pikiranku terus berkelana pada hubungan Fatwa dan Mas Yudhis. Bagaimana ini? Haruskah aku berterus terang kepada Mas Yudhis jika selama ini aku mengenal Fatwa? Haruskah aku memberitahukan kisah lamaku dengan Fatwa? Haruskah aku melaporkan tindakannya yang mempersulit nilai mata kuliahku?
"Aarghh!"
Aku menjambak pelan rambutku. Kepalaku rasanya mau pecah memikirkan rumitnya hubungan antara aku, Mas Yudhis dan pria asing itu. Ya Tuhan teka-teki hidup seperti apa yang harus aku lewati. Kenapa dia harus kembali menghampiri lamunanku?
Bersambung
__ADS_1