My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Bertemu Citra


__ADS_3

Fatwa segera mendekati aku begitu melihat aku menghampirinya. “Ish, sudah aku bilang, tunggu sampai aku datang. Ini masih ngeyel aja. Cepat cancel taksi online-nya!” perintah Fatwa yang mengira aku hendak pulang menggunakan taksi online.


“Ish, siapa juga yang mau pulang. Orang Res cuma mau ke mushala, kok,” jawabku.


Fatwa hanya tersenyum mesem saat salah duga. Sejurus kemudian, dia mulai memapahku untuk pergi ke mushala.


“Gimana kakinya? Apa masih sakit?” tanya Fatwa seraya menatap kakiku yang masih sedikit bengkak.


Aku hanya menganggukkan kepala.


“Ya sudah, nanti pulang dari sini kita periksa ke dokter, ya!” ajak Fatwa.


“Tapi Resti lapar….” Aku merengek pelan. Huh, perutku memang sudah tidak bisa diajak kompromi. Tapi, ini juga waktunya jam makan siang, sih.


“Ya Sudah, nanti kita mampir dulu ke kafe Alhamda,” kata Fatwa.


“Oke! Tapi, ngomong-ngomong … kenapa jam segini kamu sudah pulang?” tanyaku mengulang pertanyaan awal.


“Aku tukar jadwal sama temen. Kebetulan besok dia ada seminar di Jogja,” ucap Fatwa.


“Oh.”


Tak lama berselang, kami tiba di mushala. Fatwa masih setia mengantarku sampai tempat wudhu wanita. “Apa aku harus menunggui kamu?” tanya Fatwa.


Aku hanya mendelik mendengar pertanyaan unfaedah Fatwa. Memangnya mau ngapain dia nungguin aku wudhu di sini.


Fatwa terkekeh melihat reaksiku. Setelah itu, dia kemudian pergi menuju tempat wudhu pria.


Setelah berwudhu, masih dengan bantuan tongkat, aku berjalan tertati-tatih menuju mushala. Aku pun menunaikan kewajibanku.


Selepas shalat dan merapikan mukena, aku keluar. Tampak Fatwa yang sudah selesai shalat dan sedang mengenakan sepatunya. Seulas senyum terpancar dari bibirnya saat dia menyadari jika aku telah keluar dari mushala. Setelah mengenakan sepatunya, dia kembali menghampiri untuk membantuku berjalan.


Masih dengan setia, Fatwa memapahku menuju mobil. Dia membuka pintu mobil dan membiarkan aku masuk. Setelah itu, dia berjalan mengelilingi bagian depan mobil dan membuka pintu bagian kemudi. Fatwa melajukan mobilnya begitu melihat aku telah memakai safety belt.


Lagu Kangen milik salah satu band lawas mengiringi perjalanan kami. “Kamu suka Dewa?” tanyaku.


Fatwa melirikku. “Hmm, lagunya cukup enak juga,” jawab Fatwa.


“Ya, kamu bener. Lagu lawas yang masih hits ya, ini salah satunya,” ucapku.


“He-emh, ini malah menjadi lagu favorit seumur hidupku,” kata Fatwa.


“Kenapa? Apa lagu ini mengingatkan kamu pada seseorang?” tebakku.


“Ya,” jawab Fatwa singkat.

__ADS_1


Seketika aku teringat Anna, mantan kekasih Fatwa yang telah tiada. “Kau pasti sangat merindukan dia, ya?” tanyaku sok tahu.


“Hem-eh, aku sangat merindukannya,” jawab Fatwa terlihat bersedih.


“Kirim Al-Fatehah saja, Fat. Dia sudah tenang di alam sana,” kataku sok bijak.


Fatwa terlihat kaget. Dia langsung menoleh kepadaku. “Apa aku harus mengirim Al-Fatehah untukmu?” tanya Fatwa menautkan kedua alisnya.


Aku mengernyit. “Maksud kamu?” tanyaku tak mengerti.


Aku menyukai lagu ini sejak berpisah denganmu. Bahkan saat bertemu kembali, aku masih menyukainya. Aku merindukanmu waktu itu. Dan sekarang pun, aku masih merindukanmu, Res,” kata fatwa seraya menatap fokus jalan di depannya.


Jujur, aku tersanjung. Tapi, dia mengatakan hal itu tanpa mmenatapku. Huh, sudahlah … mungkin dia belum makan obat, hingga omongannya ngelantur seperti itu. Aku pun diam. Tak berniat serius menanggapi omongannya.


Merasa aku tak menanggapi ucapannya. Fatwa kembali melirikku. “Kok diam?” tanya Fatwa.


Aku menghela napas. “Terus Res harus gimana?” Aku balik bertanya padanya.


“Ya, ngomong, kek! Tanggapi omonganku yang tadi,” jawab Fatwa.


“Oke Res tanggapi, Ya! Hmm, Res nggak nyangka aja, setelah sekian lama berpisah, kamu jadi pinter ngegombal,” ledekku.


“Haish!” Fatwa terlihat menekuk wajahnya saat mendengar ucapanku.


Maaf, Fat. Tapi ini terlalu cepat bagiku. Aku masih butuh waktu untuk meyakini apa yang ada dalam hatiku. Terlebih lagi, luka yang ditorehkan mas Yudhis masih terlalu basah.


Mendapati perlakuan manis dari pria dingin yang telah mencair itu, seketika rona wajahku mungkin sudah berubah warna. Tolong jangan perlakukan aku seperti ini, Fat. Aku terlalu takut untuk kembali jatuh dalam pesonamu.


Aku tersenyum dan meraih tangannya. Tepis semua perasaan kamu, Res. Ingatlah, dia hanya ingin membantumu, tak lebih dari itu! bisik kata hatiku


Fatwa memapahku hingga kami memasuki kafe. Sejenak, kami mengedarkan pandangan untuk mencari meja yang kosong.


"Bagaimana kalau kita duduk di sana, Res?” tunjuk Fatwa pada sebuah meja yang berada di sudut ruangan.


“Boleh,” jawabku.


Kembali Fatwa memapahku menuju meja yang letaknya memang cukup tersembunyi dari meja yang lain.


“Masih kuat?” tanya Fatwa yang mulai cemas melihat raut mukaku yang sedikit meringis.


“Masih,” jawabku, berpura-pura.


“Kalau sakit, biar aku gendong saja,” tawar Fatwa.


“Nggak usah, Fat. Lagian, dikit lagi juga sampai,” tolakku.

__ADS_1


“Ish, harusnya kita nggak usah milih meja di sana,” rutuk Fatwa.


“Udah, nggak pa-pa. tempatnya juga cukup sepi. Tidak banyak orang lalu lalang karena emang letaknya di pojok. Res suka, kok. Jadi nggak terlalu bising,” jawabku.


Fatwa hanya tersenyum. Beberapa saat kemudian, kami tiba di sana. Fatwa menarik salah satu kursi dan membantuku duduk. Setelah itu, dia memanggil seorang pelayan untuk melayani kami.


“Makan apa, Res?” tanya Fatwa begitu seorang pelayan datang dan menyodorkan daftar menunya.


Aku melihat daftar menu itu sebentar. “Hmm. Nasi bakar isi cumi pedas keknya enak, nih,” kataku.


"Nggak sekalian pake cumi crispy-nya? Bukankah itu makanan favorit kamu?” tanya Fatwa.


Aku mengerutkan dahi, loh dari mana dia tahu makanan itu favoritku? batinku. “Mama yang bilang, ya?” tebakku.


Fatwa menggelengkan kepalanya.


“Terus?” tanyaku yang mulai penasaran.


“Aji,” jawab Fatwa sambil fokus memilih menu makannya.


“Aji?” tanyaku mengulang jawaban Fatwa.


Fatwa menutup buku menunya. “Saya nasi liwet, sama gurame asam manis. Minumnya es jeruk saja. Kamu minumnya apa, Res?” tanya Fatwa. Sepertinya dia sedang mengalihkan pembicaraan.


“Samakan saja,” jawabku kesal.


“Oh, ya sudah. Nasi liwet sama gurame asam manis, nasi bakar cumi pedas, sama es jeruk dua. Jangan lupa cumi crispy-nya, ya, Mas,” pesan Fatwa pada pelayan kafe.


“Baik, mohon ditunggu sebentar ya, Pak!” jawab pelayan itu.


Setelah pelayan itu pergi, aku kembali mendesak Fatwa tentang cumi crispy. “kapan Aji bilang kalau Res suka cumi crispy?”


Fatwa hanya terkekeh mendengar pertanyaanku.


“Ih, Fatwa….” Aku kembali mengeluarkan jurus ampuhku. Merengek.


“Hehehe, Aji pernah cerita kalau dulu saat melakukan observasi hewan laut ke Cipatujah, kamu makan semua cumi crispy yang dihidangkan pengelola hotel sampai tak ada satu pun yang kamu bagi. Sebagai gantinya, kamu gatal-gatal semalaman karena terlalu banyak mengkonsumsi cumi crispy, hehehe….”


Haish…, entahlah, wajahku sudah seperti apa rupanya saat Fatwa menceritakan salah satu aibku waktu SMA.


“Sudahlah, nggak usah dibahas lagi,” ucapku, kesal.


“Iya-iya,” jawab Fatwa.


Pengunjungnya banyak juga ya, Fat?” tanyaku seraya mengedarkan pandangan melihat para pengunjung yang sedang menikamati makananya. Tiba-tiba, pandanganku terkunci pada salah seorang wanita yang sedang duduk bersama seorang pria paruh baya. “Eh, Fat ... bukankah itu Citra?” tanyaku seraya menunjuk meja Citra.

__ADS_1


Fatwa membalikkan badan. “Om Raymond?"


Bersambung


__ADS_2