
Fatwa terlihat kaget mendengar perkataan Zein. "Ini maksudnya apa, Zein? Menghilang ke mana? Terus, kenapa Resti bisa menghilang?" Fatwa mencecar Zein dengan berbagai pertanyaan.
"Entahlah, Pak ... Zein sendiri tidak tahu. Hanya saja, di hari terakhir ujian semester, kak Chi menghilang. Menurut Rayya, seseorang membegal ojek online yang ditumpangi kak Chi dan membawa kak Chi pergi entah ke mana," tutur Zein.
Fatwa pun semakin dibuat terkejut dengan kenyataan yang ada. Ternyata, keputusan dia menjauh dari Resti, adalah keputusan terburuk yang pernah dia buat.
"Aku pergi dulu ya, Zein. Terima kasih atas informasinya," sahut Fatwa seraya menepuk pundak Zein.
"Iya, Pak. Sama-sama," balas Zein.
"Lalu setelah itu?" tanyaku yang merasa penasaran melihat Zein menghentikan ceritanya.
"Ya, yang seperti Kakak tahu, kalau pak Fatwa tidak pernah lelah mencari Kakak. Hingga akhirnya, beliau bisa menemukan Kakak," jawab Zein.
"Kakak makin merasa bersalah padanya, Zein. Sudah puluhan kali dia menyelamatkan hidup Kakak, tapi sedikit pun Kakak tidak pernah bisa menghargai perasaannya," gumamku.
Zein menggenggam kedua tanganku. "Insya Allah semuanya ada waktunya, Kak. Jika Kakak sudah merasa yakin dengan kebaikan pak Fatwa dan juga perasaan Kakak sendiri, Kakak bisa ungkapkan itu saat pak Fatwa sadar nanti," ucap Zein mencoba menenangkan perasaanku.
"Kapan dia akan sadar, Zein?" tanyaku, seraya menatap kamar Fatwa.
"Secepatnya, Kak. Zein yakin kalau pak Fatwa itu seorang pejuang tangguh. Dengan do'a dari kita dan para mahasiswanya, beliau pasti akan segera sadar. Insya Allah ..." jawab Zein.
Aku mengangguk. Ya, semoga saja laki-laki itu segera sadar.
"Sudah malam, Kak. Sebaiknya Kakak pulang ke hotel untuk beristirahat. Biar Zein saja yang menunggu pak Fatwa," ucap Zein.
Dengan cepat aku menggelengkan kepala. "Nggak, Zein. Kakak nggak mau pulang. Kakak pengen jadi orang yang pertama yang Fatwa lihat saat dia sadar nanti," jawabku penuh keyakinan.
Zein hanya menghela napasnya. "Ya sudah, terserah Kakak saja. Kalau Kakak mau, Kakak bisa bersandar di bahu Zein untuk tidur. Kakak pasti lelah," ucap Zein lagi.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Zein. "Makasih, Zein," jawabku seraya bersandar di bahunya.
Malam pun semakin beranjak. Aku sudah tak sanggup lagi membuka mata. Rasa lelah benar-benar mendera tubuhku, hingga perlahan mataku pun mulai terpejam. Mimpi indah pun mulai menyapa lelapku.
.
.
Aku terjaga saat merasakan sesuatu bergerak di kepalaku. Rupanya, Zein ingin memindahkan kepalaku yang bersandar di bahunya karena bedug subuh mulai bertabuh.
"Sudah subuh ya, Zein?" ucapku seraya meluruskan badan.
__ADS_1
"Eh, keganggu ya, Kak. Maaf," jawab Zein yang sepertinya merasa bersalah karena pergerakan yang dia lakukan telah membangunkan aku.
"Tidak apa-apa, lagian ... udah waktunya bangun juga," jawabku, "shalatnya gantian ya, Zein. Kamu duluan gih!" ucapku pada Zein.
Pemuda itu mengangguk. Sejurus kemudian, dia pun pergi menuju masjid rumah sakit.
Aku menggeliatkan badan, mencoba meregangkan otot-ototku yang terasa kaku. Tanpa sengaja, aku melirik jendela kaca ruang ICU. Rasa penasaran pun kembali menyeruak di hati. Aku beranjak dari kursi dan melangkahkan kaki menuju jendela ruangan ICU. Kulihat dari balik jendela, laki-laki berahang tegas itu masih asyik dalam tidurnya.
Ya Tuhan ... kapan kamu akan sadar, Fat? Apa kamu tahu jika aku sangat merindukan sikap jutekmu, batinku tersenyum membayangkan sikap dinginnya di masa-masa sekolah dulu.
Kulirik jam mungil yang melingkar di pergelangan tangan. Beberapa menit telah berlalu, tetapi Zein belum kembali dari masjid. Aku pun kembali duduk dan menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Kupejamkan mata dan memijit pelipis yang mulai berdenyut. Beratnya beban pikiran, membuat kepalaku sedikit terasa berputar.
"Kak Chi!"
Bahuku sedikit berguncang saat aku dengar seseorang memanggilku. Oh, rupanya Zein sudah pulang dari masjid. Aku pun membuka kelopak mataku yang masih terasa berat.
"Eh, kamu dah pulang, Zein?" Aish, pertanyaan macam apa ini, pikirku.
"Iya, Kak. Sekarang giliran Kak Chi shalat. Biar Zein yang nungguin pak Fatwa," sahutnya.
Aku menegakkan tubuhku. "Iya, Zein," jawabku seraya beranjak dari tempat duduk. Sejurus kemudian, aku pun mulai menyusuri koridor untuk pergi ke masjid rumah sakit yang berada di lantai bawah.
Tiba di masjid, aku pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Lepas itu, aku tunaikan kewajiban melaksanakan shalat subuh sebanyak dua rakaat. Tak lupa, di akhir sujud, aku memanjatkan do'a untuk kesembuhan laki-laki yang selalu menjadi penolong sejati.
Aku berjalan menuju kantin untuk membeli sarapan. Aku sadar, tubuhku memerlukan asupan yang bergizi untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di hari ini. Suasana kantin sudah cukup riuh meski hari masih terlalu pagi. Banyak para penunggu pasien yang mencoba bercengkerama untuk melepaskan rasa lelah semalam karena begadang menunggui pasien.
Kulangkahkan kaki menuju kedai nasi uduk. Makanan yang akan menjadi sarapan aku dan Zein pagi ini.
"Nasi uduknya dua, Bu!" pesanku pada ibu penjual nasi uduk.
"Makan di sini, Neng?" tanyanya.
"Dibungkus saja, Bu," jawabku.
"Siap, Neng!" ucap ibu itu, sigap. "Minumannya sekalian, Neng? Kopi, susu, coklat panas atau teh manis hangat, gitu." Ibu penjual nasi uduk itu menawarkan minumannya.
"Boleh Bu, kopi saja dua," jawabku.
"Oke. Ditunggu sebentar ya, Neng." Dengan cekatan, ibu paruh baya itu membuat dua bungkus nasi uduk pesanan aku. Sedangkan pria paruh baya yang berada di belakangnya, dia menyeduh kopi latte ke dalam dua buah cup plastik. Hmm, aku rasa laki-laki itu adalah suaminya.
"Ini pesanannya, Neng," ucap si ibu seraya menyerahkan satu kantong plastik berwarna putih.
__ADS_1
"Jadi berapa, Bu?" tanyaku
"Empat puluh ribu saja, Neng," sahut si Ibu.
Aku mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan. Sejurus kemudian, aku menyerahkan uang tersebut kepada ibu penjual nasi uduk. "Kembaliannya ambil saja, Bu," kataku.
"Masya Allah ... terima kasih, Neng. Semoga rezekinya semakin berlimpah. Semoga keluarga Neng yang sedang sakit, segera diberikan kesembuhan yang paripurna. Aamiin," ucap ibu penjual nasi uduk seraya mengangkat kedua tangannya.
"Aamiin," timpalku.
Setelah transaksi jual beli selesai, aku kembali menaiki lift menuju kamar tempat di mana Fatwa dirawat. Saat tengah melintasi kamar satu, aku mendengar suara ribut dari dalam kamar. Karena penasaran, aku mendongak untuk melihat kejadian di dalam melalui celah jendela kaca. Namun, belum sempat aku melihat, tiba-tiba pintu kamar satu terbuka. Tampak Ida keluar dengan mata yang sedikit sembab. "Ida," gumam aku.
Aku lihat Ida melewati aku begitu saja. Mungkin karena tidak fokus, Ida tidak menyadari keberadaanku di sana.
"Ida!" panggilku.
Gadis bertubuh semampai itu menoleh. "Nona Chi," sahut Ida. Sejurus kemudian, gadis itu menghampiri aku.
"Apa kabar, Da?" sapaku seraya memeluknya.
"Ka-kabar Ida baik, Nona," jawab Ida terbata. Tapi suara seraknya menandakan jika Ida sedang tidak baik-baik saja.
Brugh!
Tiba-tiba, Ida memelukku. Aku mengelus punggungnya saat merasakan cairan hangat mulai membasahi bahuku. Hmm, dilihat dari pundaknya yang bergerak naik turun, sudah bisa dipastikan jika Ida sedang menangis.
"Ada apa, Da?" tanyaku.
"Ma-maira Nona. Maira ... di-dia ... hiks ... hiks ... Maira...."
Suara Ida semakin menghilang, berganti dengan suara tangis yang benar-benar menyayat hati. Aku dibuat tidak mengerti oleh kedatangan Ida ke rumah sakit ini yang hanya bisa menangis tersedu-sedu.
"Ssst, tenanglah dulu, Da," ucapku seraya mengusap-usap punggungnya.
Bukannya berhenti, tangis Ida malah semakin menjadi, membuat seorang perawat penjaga menegur kami.
"Ssst, ini rumah sakit, Mbak! Tolong jangan berisik," tegur perawat penjaga.
Mau tidak mau, aku pun mengajak Ida keluar dari ruang tunggu di kamar ICU.
"Kamu tunggu dulu di sini sebentar, ya. Aku mau memberikan sarapan ini dulu kepada Zein," ucapku kepada Ida.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk. Sejurus kemudian, aku kembali memasuki ruang tunggu kamar ICU untuk memberikan makanan yang aku beli di kantin tadi.
Bersambung