
Saat kami sedang bergelayut dengan pikiran kami masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk!" perintah Mas Yudhis.
Pintu terbuka, Sandra tampak memasuki ruangan dengan menenteng sebuah kantung plastik yang berlogokan produk makanan Jepang yang cukup terkenal di kota ini.
"Ini makan siang yang Anda minta, Pak," ucap Sandra.
"Tolong sajikan, San!" perintah Mas Yudhis.
Sandra berjongkok di depan meja. Dia membuka plastik dan mengeluarkan dua buah kotak nasi beserta minuman. Dia kemudian meletakkannya di atas meja. Tanpa sengaja, aku melihat belahan blouse Sandra yang cukup terbuka lebar sehingga menampakan bukit kembar bagian atasnya. Aku merasa risih melihat hal itu. Rasanya aku ingin menegur Sandra. Tapi, aku khawatir dia akan merasa tersinggung.
"Silakan dinikmati, Pak, Bu," ucap Sandra sambil tersenyum memandang Mas Yudhis.
Mungkin karena pikiranku sudah terkontaminasi oleh rasa suudzon, akhirnya aku menganggap senyuman Sandra bukan hanya sekedar senyuman seorang sekretaris terhadap bosnya. Tapi senyuman yang cukup nakal dan seolah sedang menantang lawan untuk melakukan sesuatu. Ya Tuhan ... sungguh aku butuh kekuatan saat ini.
Setelah Sandra pergi, aku menatap Mas Yudhis yang mulai menikmati makanannya. Sekilas aku perhatikan jika Mas Yudhis hanya bersikap biasa saja menanggapi kehadiran Sandra di ruangan ini. Lalu, hal seperti apa yang sempat Citra lihat dan dia simpulkan itu bukan hal yang layak dilakukan antara bos dan sekretarisnya? Memikirkan hal itu, lama-lama kepalaku bisa pecah.
"Ish, bengong lagi," tegur Mas Yudhis. "Ayo, dimakan, mumpung masih hangat!" ucapnya lagi.
"Iya, Mas!" Aku mengangguk dan mulai meraih jatah makananku.
Kami mulai makan bersama, sesekali diselingi canda tawa. Melihat sikap Mas Yudhis yang sama seperti biasanya, membuat rasa parno aku sedikit memudar. Ah, mungkin hal yang aku rasakan beberapa hari yang lalu, itu hanya efek kurangnya komunikasi kami. Baiklah, mulai sekarang aku akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi Mas Yudhis di kantornya.
Selesai makan siang, aku berpamitan kepada Mas Yudhis. Aku sadar, sekarang Mas Yudhis sudah menjadi orang penting. Karena itu, aku tidak ingin terlalu lama menyita waktunya.
.
.
Hari demi hari berlalu. Hari ini adalah pertemuan terakhir kami sebelum menjelang UAS.
"Mohon untuk yang masih mendapatkan nilai di bawah rata-rata, tolong segera diperbaiki sebelum UAS berakhir," ucap dosen itu seraya melirik sekilas ke arahku.
Aku hanya bisa menggerutu kesal di dalam hati. Aku sudah mengajukan beberapa makalah untuk mengganti tugas gila yang dia berikan. Tapi, satu pun tak ada yang mengena di hatinya. Ish, sebenarnya, apa sih yang dia mau?
"Gimana, Kak ... sudah ketemu sama mas Yudhis?" tanya Citra saat kami sedang menunggu pergantian dosen.
"Sudah, Cit," jawabku.
"Lalu, apa kata mas Yudhis? Dia setuju jika pernikahan kalian dipercepat?" tanya Citra lagi.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala, lemah.
Terlihat Citra mengernyitkan keningnya. "Tapi kenapa, Kak?" tanya Citra lagi.
"Katanya, mas Yudhis tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar Kakak, Cit. Jadi, tanggal pernikahannya masih tetap sama seperti yang telah kami sepakati dulu," jawabku
"Oh, begitu ya. Trus, apa rencana Kakak selanjutnya?" Citra masih terus bertanya.
"Ya, Kakak cuma bisa pasrah saja untuk saat ini. Tapi, yang jadi beban pikiran Kakak adalah tiga nilai dari dosen gila itu," jawabku.
"Kakak masih belum memperbaikinya?" tanya Citra.
"Kakak sudah mengajukan beberapa makalah padanya. Tapi dia tidak mau Kakak memperbaiki nilai itu dengan tugas," ucapku.
"Lalu?" Citra terus bertanya.
"Ya, terpaksa Kakak harus mengulang ujian lagi," jawabku.
"Sebenarnya menurut Citra, berapa banyak pun Kakak mengikuti ujian ulang, Citra ngerasa hasilnya pasti akan tetap sama," kata Citra.
"Maksud kamu?" Sekarang giliran aku yang bertanya karena tidak paham arah tujuan dari kalimat Citra.
"Tapi apa motifnya, Cit?" tanyaku lagi.
"Nah, itulah yang tidak Citra mengerti. Motif apa yang sebenarnya tersembunyi dibalik semua nilai yang dia berikan untuk Kakak. Apa mungkin dia menyimpan dendam sama Kakak?" kata Citra.
"Dendam? Dendam apa, Cit?" Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang maksud anak itu.
"Ya, mungkin saja dendam di masa lalu. Bukankah saat SMA kalian sempat deket, 'kan?" tanya Citra mengira-ngira.
"Ish, yang ada Kakak yang harusnya menyimpan rasa dendam itu untuknya. Ternyata selama ini dia sudah sangat mempermainkan Kakak," jawabku sengit.
"Maksud Kak Chi?" tanya Citra.
"Sudahlah, bukan hal yang penting untuk dibahas. Lagi pula, semuanya telah berlalu. Yang jelas, saat ini Kakak masih bingung harus melakukan apa untuk memperbaiki nilai-nilai yang hancur berantakan itu," jawabku
"Bagaimana kalau Kakak temui pak Fatwa?" usul Citra.
"Maksud kamu?" tanyaku tak paham kenapa Citra mengusulkan hal itu.
"Maksud Citra, Kakak coba menemui pak Fatwa secara khusus. Bicara baik-baik sama pak Fatwa, supaya Kakak tahu kenapa pak Fatwa selalu memberikan nilai yang jelek sama Kakak. Trus, Kakak minta tugas buat perbaikan nilai Kakak itu," papar Citra.
__ADS_1
"Kalau dia minta yang macam-macam, gimana?" tanyaku khawatir.
"Ya, tolak aja," jawab Citra.
"Yeayy, sama aja bo'ong. Kagak bakalan kelar nih urusan nilai kalo gitu caranya," kataku.
"Ya sudah pokoknya coba aja dulu. Berkorban dikit napa, Kak. Nggak ada salahnya, 'kan, Kakak baik-baikin pak Fatwa. Asal jangan kebablasan aja," tutur Citra.
"Eit, maksud baik-baikinnya, apa ya? Kok Kakak mencium aroma yang kurang enak," ucapku memandang tegas kepada Citra.
"Ya, baik-baikin gitu ... turuti apa yang pak Fatwa mau. Misalnya, ajak dinner pake suasana romantis, lah. Biar hati pak Fatwa seneng. Kalau dah seneng, Kakak rayu tuh, supaya dia ganti nilai Kakak," ucap Citra, ngasal.
"Is, sialan! Sumpah, itu bukan ide yang baik ya, Nona Citra," kataku.
"Hehehe...." Citra hanya terkekeh menanggapi ucapanku.
"Ssst, ada dosen tuh!" gumamku seraya sudut mataku menunjuk ke arah dosen berhijab yang masih terlihat muda.
Sejurus kemudian, aku dan Citra segera membenahi modul yang masih terlihat berantakan di atas meja. Setelah itu, kami memulai mata kuliah kami yang kedua.
.
.
Hari terakhir UAS. Perasaanku mulai tak enak. Apalagi ini adalah hari terakhir untuk mengumpulkan tugas dosen gila itu. Setelah dipikir-pikir, saran Citra mungkin ada benarnya juga.
Ya, mungkin aku harus mencoba bernegosiasi dengan dosen sableng itu agar dia mau memberikan nilai yang cukup pantas untukku. Tak jadi masalah jika aku tidak mendapatkan nilai sempurna untuk mata kuliahnya dia. Mendapatkan predikat 'Baik' pun, aku sudah sangat bersyukur.
Selesai UAS, aku mulai mengeluarkan ponsel untuk menghubungi dosen gila itu.
"Hallo! Gimana, Res?" tanya pria itu di ujung telepon.
"Kamu di mana?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Aku di apartemen," jawab Fatwa.
"Baguslah, tunggu Res di sana!"
Sedetik kemudian, aku menutup telepon dan segera mencari taksi untuk pergi ke apartemen dosen killer itu.
Bersambung
__ADS_1