
Tiba di tepi jalan, aku segera menghentikan taksi yang tengah melintas di depan kampus. Seketika taksi berhenti tepat di hadapanku. Aku segera membuka pintu mobil dan mendaratkan bokong di kursi belakang.
"Kemana, Neng?" tanya sopir taksi itu.
"Jalan saja dulu, Pak. Nanti saya kasih tahu lokasinya," jawabku.
Sejurus kemudian aku merogoh saku jaket untuk mengeluarkan ponsel. Aku mulai mengetikkan sesuatu untuk dosen gila itu. Tak lama berselang, ponselku berbunyi. Saat aku buka ternyata shareloc dari dosen gila itu.
"Ke tempat ini, Pak." Aku segera menunjukkan alamat yang hendak aku dikunjungi.
"Oh, iya. Bapak tahu tempat itu, Neng," ucap sang sopir.
"Oke, makasih Pak," jawabku.
Aku kembali mengotak-atik ponsel untuk menghubungi Citra.
"Hallo, Kak Chi! Kakak di mana?" tanya Citra begitu telepon tersambung.
"Kakak lagi di jalan, Cit. Sori, Kakak nggak bisa pulang bareng. Ada hal yang harus Kakak urus sekarang," jawabku.
"Kalau boleh tahu, urusan apaan, Kak?" tanya Citra.
"Ini tentang nilai Kakak yang berantakan itu, Cit," jawabku.
"Oh, Kakak jadi menemui pak Fatwa?" tebak Citra.
"Iya, Cit. Mungkin ini jalan yang terbaik. Lagi pula, Kakak juga penasaran kenapa dosen itu mempersulit nilai Kakak. Kamu do'ain Kakak ya, biar suasana hati tuh dosen lagi seneng," ucapku.
"Pastinya dong. Jan lupa bawa buah tangan, Kak, biar dia tambah seneng," kata Citra
"Hmm, ide yang bagus tuh, Cit," jawabku.
"Hehehe, good luck ya, Kak," kata Citra.
"Oke, makasih. Sekali lagi, maaf ya, nggak bisa pulang bareng," kataku penuh sesal
"Iya nggak pa-pa, Kak. Lagian, Citra juga mo pergi ke rumah temen, kok," jawab Citra.
"Ya sudah, Kakak tutup dulu teleponnya ya, Cit?" ujarku.
"Oke, Kak ... semangat!" Citra menyemangati aku
Aku pun menutup telepon dan mulai menyandarkan punggung pada sandaran jok belakang mobil. Sejurus kemudian, aku mulai memejamkan mata, membayangkan apa yang harus aku katakan kepada dosen gila itu.
Ya Tuhan ... bagaimana jika dia meminta sesuatu di luar batas? Haruskah aku adukan kepada rektor? batinku.
Aku menghela napas sejenak. Memikirkan hal itu, membuat kepalaku semakin sakit. Bayangan Fatwa yang aku kenal semasa SMA, kembali berkelebat. Hmm, rasanya tidak mungkin jika Fatwa akan memiliki sikap seperti itu. Aku tahu siapa dia. Tapi, zaman telah berubah. Dan tidak menutup kemungkinan jika lingkungan akan merubah seorang Fatwa Immamuddin yang dulu alim dan sopan, kini menjadi sedikit gesrek dan berotak mesum.
__ADS_1
"Pak, kita berhenti dulu di toko buah, ya!" pintaku kepada sopir.
"Baik, Neng," jawab pak sopir.
Entahlah, tiba-tiba saja aku teringat saran Citra untuk membawa buah tangan. Bukan niat menyuap, tapi anggaplah ini sebagai sedekah saja. Ya, siapa tahu, hatinya akan tergugah ketika melihat usahaku. Hehehe....
Mobil berhenti di sebuah toko buah-buahan. Aku segera turun untuk membeli parcel buah.
"Silakan Neng, ada yang bisa dibantu?" sapa ibu-ibu penjual buah, begitu sopan.
"Iya, Bu. Saya ingin membeli parcel buah, bisa?" tanyaku.
"Oh, bisa Neng. Isinya mau apa saja?" tanya si ibu itu lagi.
"Apa saja deh, Bu, yang penting komplit," jawabku.
Ibu itu tersenyum. Lalu dia memerintahkan anaknya untuk membuatkan parcel buah. Dengan cekatan, pemuda berusia belasan tahun itu menyusun buah-buahan. Hingga dalam waktu 15 menit, parcel buah yang tampak indah pun sudah bisa aku bawa.
"Jadi berapa, Bu?" tanyaku.
"Jadi 250 ribu, Neng," kata si ibu.
Aku mengeluarkan dompetku dan segera membayarnya. Selesai bertransaksi, aku kembali ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Di dalam mobil, aku kembali senyam-senyum sendiri membayangkan reaksi dosen gila itu. Aku tahu, dia pasti akan berpikiran buruk dengan kedatanganku yang membawa buah tangan seperti ini. Mungkin saja dia akan menuduh aku berusaha menyuapnya agar dia bisa memberiku nilai yang bagus. Tapi, bodo amat, lah. Cukup aku dan Tuhan saja yang tahu, niatku.
"Eh, iya, Pak. Jadi berapa ongkosnya, Pak?" tanyaku pada sopir taksi tersebut.
"50 ribu, Neng," jawabnya.
Aku merogoh uang kembalian saat membeli parcel buah tadi. Sejurus kemudian aku serahkan kepada sopir taksi itu.
"Terima kasih ya, Pak?" ucapku.
"Sama-sama, Neng," jawab sopir itu.
Aku segera turun dari mobil dan menatap tulisan di depan mataku. Keningku sedikit berkerut saat membaca huruf demi huruf yang terpampang di sana.
Apartemen Handalusia, loh ... bukannya ini apartemen mas Yudhis? batinku.
Sejenak aku terpaku menatap gadung menjulang tinggi yang memiliki puluhan lantai itu. Ya, ini apartemen mas Yudhis. Aku ingat karena aku pernah mengunjungi apartemen ini beberapa kali. Hmm, apa mungkin dia tinggal bareng mas Yudhis. Masak iya, sih? Tapi, mungkin juga. Secara, dia kan masih adik sepupunya mas Yudhis. Ah, sudahlah ... masuk saja.
Aku nekat memasuki lobi apartemen itu. Sejurus kemudian, aku menghampiri resepsionis di sana untuk menunjukkan card lock yang pernah diberikan oleh dosen gila itu.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu begitu melihat aku berdiri di hadapannya.
"Ah iya, Mbak. Teman saya memberikan kunci ini. Apa Mbak tahu, nomor unit dari kunci ini?" tanyaku sambil memperlihatkan card lock itu.
__ADS_1
"Sebentar, saya cek dulu, Mbak," jawab resepsionis. Tak lama kemudian, resepsionis cantik itu menyerahkan kuncinya kembali.
"Kunci ini untuk kamar nomor 405 yang berada di lantai 21, atas nama Bapak Yudhistira," jawab resepsionis itu lengkap.
Aku terhenyak saat resepsionis itu mengatakan nama mas Yudhis. Ish, kenapa dosen gila itu memberikan kunci apartemen mas Yudhis? Fix, dia pasti satu kamar dengan mas Yudhis.
Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera menaiki lift menuju lantai 21. Sepanjang menyusuri koridor menuju kamar mas Yudhis, perasaanku semakin tidak nyaman. Entahlah, aku seperti seorang perempuan yang hendak berselingkuh. Tiba-tiba saja, aku merasa bersalah terhadap mas Yudhis.
Maafkan Chi, Mas. Chi nggak bermaksud mengkhianati kamu. Justru Chi melakukan semua ini demi kelancaran niat kita dalam menghalalkan hubungan ini. Chi janji, setelah urusan Chi dengan dosen gila itu selesai, Chi akan berkata jujur pada mas tentang siapa Chi dan Fatwa di masa lalu. Kamu tenang saja mas, Chi pasti bisa menyelesaikan masalah ini dan mewujudkan mimpi kita untuk segera ke pelaminan begitu Chi lulus, batinku.
Tiba di depan pintu apartemen, aku segera menempelkan kunci itu, sedetik kemudian pintu terbuka.
"Permisi! Assalamu'alaikum!" Aku masih berdiri di depan pintu dan mengucapkan salam. Namun, hingga beberapa menit aku menunggu, jawaban dari dalam tak kunjung aku dapatkan.
"Permisi!" Sekali lagi aku menyapa, tapi tetap tak ada sahutan. Karena lelah berdiri, aku memutuskan untuk memasuki ruangan itu. Huh, aku sadar aku sungguh tidak sopan, tapi aku tidak punya pilihan lain. Orang-orang yang berlalu lalang di koridor lantai, sudah seperti para netizen yang memiliki tingkat kekepoan laksana dewa.
Aku hendak mendaratkan bokongku di kursi, tapi samar-samar aku mendengar suara aneh dari kamar.
"Aah, iya ... seperti itu, Sayang...!"
Suara halus yang disertai lenguhan panjang sungguh sangat menarik perhatianku untuk mendekat.
"Hmm ... ternyata kamu semakin pintar saja. Aaah ... nikmatnya, Sayang ... uuuuh...."
"Astaghfirullah, suara itu?" batinku.
Karena penasaran, aku mulai mengintip dari lubang kunci. Ish, kenapa tidak kelihatan? Sebenernya, ada orang nggak sih di kamar? Kembali aku bermonolog.
Perlahan aku mencoba menekan handle pintu. Beruntung, pintu tidak terkunci, aku membukanya sedikit untuk melihat apa yang terjadi di kamar itu.
Sedetik setelah pintu terbuka, dadaku bergemuruh cepat melihat aksi panas yang dilakukan oleh kedua insan berbeda jenis itu.
"Ma-mas, ucapku kelu. Tapi, siapa wanita yang tengah bergerak naik turun dengan berirama di atas tubuh polos mas Yudhis.
"Gantian ya, Mas ... aku capek ...."
Jedarr!
Aku begitu terkejut mendengar suara itu.
Brakk!
Tanganku yang mulai terasa lemas, seketika menjatuhkan parcel buah yang ingin aku persembahkan kepada dosen gila itu.
Melihat kegaduhan yang aku buat, seketika pasangan yang sedang memadu kasih itu menoleh ke arahku
"Kau?!"
__ADS_1
Bersambung