My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Nasihat Citra


__ADS_3

Aku menutup telepon seraya memandang mas Yudhis dan sekretarisnya yang terus menjauh. Dadaku terasa sesak saat mendapati sikap bohongnya mas Yudhis. Kenapa, Mas? batinku menjerit.


Selama ini mas Yudhis tidak pernah membohongi aku. Tapi, entah jika aku memang tidak mengenalnya dengan baik. Ternyata, dua tahun bersama, itu tidak menjadi sebuah jaminan untuk kita mengenal pasangan kita dengan baik.


"Kak Chi!"


Teguran dan tepukan Citra di pundak, seketika mengalihkan pandanganku. Aku menoleh dan langsung menyeka air mata untuk menyembunyikan kesedihanku.


"Ada apa, Kak Chi?" tanya Citra.


"Tidak ... tidak apa-apa, Cit," jawabku.


"Kakak habis nangis, ya?" Kembali Citra bertanya.


"Nggak, kok! Ini ... mata Kakak kelilipan, Cit," Kataku seraya menengadah sambil mengedip-ngedipkan mata.


Citra meraih tanganku. "Apa Kakak yakin jika Kakak tidak memiliki masalah apa pun?" tanya Citra seperti menyelidik.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, aku jadi salah tingkah. "Eng-enggak, Cit. Aku, ba-baik saja, kok," jawabku.


"Baiklah, Citra nggak akan maksa Kakak. Tapi, kapan pun Kakak ingin bercerita, Citra siap menjadi pendengar setia Kakak," kata Citra menggenggam tanganku dengan erat.


"Terima kasih, Ya, Cit..., tapi Kakak nggak pa-pa, kok. Ya sudah, yuk, kita kerjakan tugasnya!" ucapku seraya kembali pergi ke meja lesehan tadi.


Tiba di sana, aku mulai fokus untuk mengerjakan tugas dari dosen gila itu.


"Huff! Pak Fatwa memang keterlaluan, masa kita diberikan tugas seabrek gini, sih!" keluh Zein.


"Iya, mana kagak ngerti lagi, rumusannya." Citra menimpali ucapan Zein.


Aku hanya bisa diam saja, tak fokus memperhatikan mereka, apalagi memperhatikan tugas makalah. Pikiranku terus berkelana pada apa yang telah aku lihat. Satu pertanyaan menggelayut di hatiku. Kenapa mas Yudhis tega berbohong padaku?


Satu setengah jam berlalu, akhirnya kami bisa menyelesaikan tugas kami.


"Alhamdulillah," ucap Zein dan Citra berbarengan. Menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya.


"Kak Chi, dari tadi aku lihat, kok Kakak hanya diam saja?" tanya Zein.


Sedikit terkejut, aku seketika menatap Zein. "Ya, kenapa Zein?" tanyaku.


"Tuh, kan ... nggak fokus lagi," ledek Zein.


Aku lihat Citra menyikut lengan Zein hingga pemuda itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Ish, apaan sih, Cit?" Protes Zein.


"Elu yang apaan? Jadi orang kok kepo amat," tegur Citra.


"Dih, siapa yang kepo? Orang cuma nanya doang," kilah Zein.


"Huh, ngeles," tuduh Citra.


Aku hanya tersenyum mendengar perdebatan mereka. "Sudah-sudah ... nggak usah ribut lagi, ah!" Aku menengahi perdebatan mereka.


Citra dan Zein hanya menggaruk kepala mereka. Sejurus kemudian mereka tersenyum dan meminta maaf padaku.


"Hehehe, maaf Kak," ucap mereka berbarengan.


"Oh iya nih, karena tugasnya dah selesai, aku pamit duluan, ya! Hari ini rencananya aku mo nganterin mama chek-up," pamit Zein.


"Oh, iya ... silakan Zein," jawabku.


Setelah mendapatkan izin dari aku dan Citra, Zein pun pergi.


"Kita pulang, Cit!" ajakku sesaat setelah Zein pergi.


"Tunggu Kak Chi!" ucap Citra menahanku.


Aku mengurungkan niatku untuk beranjak dari tempat itu. "Kenapa, Cit?" tanyaku kepada Citra.


Aku tersentak kaget mendengar pertanyaan Citra. Keningku sedikit berkerut. "Maksud kamu?" tanyaku.


"Maaf, Kak. Tadi, tanpa sengaja, Citra melihat mas Yudhis sedang makan siang dengan seorang wanita. Citra sendiri nggak tahu dia siapa. Tapi, Citra sempat memotretnya." Citra menyerahkan ponselnya padaku.


Terlihat dengan jelas dalam foto itu jika mas Yudhis tengah makan bersama Sandra, sekretarisnya. Aku hanya bisa menarik napas panjang melihat semua ini. Ternyata, bukan hanya aku saja yang melihat mas Yudhis bersama wanita lain, Citra juga memergokinya. Bahkan dia sempat mengabadikan kegiatan mereka di meja itu.


Aku mengembalikan ponsel Citra kepadanya. "Dia Sandra, sekretaris mas Yudhis," ucapku.


Citra terlihat cukup terkejut mendengar ucapanku. "Jadi, dia sekretarisnya mas Yudhis. Tapi, apa harus seperti itu cara memperlakukan seorang sekretaris?" tanya Citra lagi.


"Maksud kamu?" tanyaku, heran.


"Ah, entahlah Kakak ... tapi aku merasa, jika hubungan mereka itu tidak sebatas hanya seorang bos sama sekretarisnya. Aku merasa, kok ada yang aneh dengan kebersamaan mereka," tutur Citra.


Aku terdiam mendengar perkataan sahabat mudaku itu.


Citra menatapku, dia langsung menutup mulutnya saat menyadari kediamamku.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim Kakak, maaf ... aku tidak bermaksud menyakiti perasaan Kakak," ucap Citra penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa kok, Cit. Tadi, aku juga melihat mereka pergi dari tempat ini," jawabku sedikit bergumam.


Citra menghampiri dan langsung memelukku. "Sabar ya Kak," katanya.


Aku hanya tersenyum getir menanggapi ucapan citra.


"Sebenarnya ini yang aku takutkan, Kak," gumam Citra.


"Maksudnya?" tanyaku


"Nenek aku bilang, katanya kalau sudah lamaran itu jangan terlalu lama bertunangan. Karena, godaannya akan semakin besar. Dan pada akhirnya, naik ke pelaminan itu hanya tinggal impian, Kak. Ada banyak pasangan yang tidak mampu bertahan hingga ke pelaminan karena tidak mampu menahan godaan di luar sana," ucap Citra panjang lebar.


Apa yang dikatakan Citra memang ada benarnya juga. Mungkin saja mas Yudhis terlalu lelah menungguku hingga dia berpaling. Tapi, apa benar dia telah berpaling? Bukankah aku belum memiliki bukti yang cukup kuat jika dia telah berpaling. Ya, mungkin saja mereka hanya sekedar makan siang.


"Lalu, apa yang harus Kakak lakukan, Cit?" tanyaku.


Akhirnya, kalimat yang sedari tadi aku simpan dalam hati, keluar juga. Jujur, usiaku mungkin sudah lebih dari cukup dewasa. Namun, untuk urusan percintaan, aku sama sekali tidak mengerti.


"Apa Kakak mencintai mas Yudhis?" tanya Citra lagi.


"Tentu saja aku mencintai dia, Cit," jawabku.


"Jadi, Kakak ingin mempertahankan hubungan Kakak dengan mas Yudhis?" Kembali Citra bertanya.


Aku mengangguk.


"Aku nggak tahu kenapa mas Yudhis bisa terlihat merasa nyaman dengan sekretarisnya. Tapi, apa ada kemungkinan lain yang membuat dia mencari kenyamanan dari wanita lain?" tanya Citra.


"Misal?" Aku balik bertanya.


"Ya, mungkin sebuah permintaan yang Kakak tolak," ucap Citra.


Aku kembali mengingat semua keinginan mas Yudhis. Namun, tak ada satu pun bayangan saat dia meminta sesuatu dariku. Tapi, tiba-tiba aku ingat tentang malam itu, malam di mana mas Yudhis hendak mengenalkan aku sebagai pasangannya, dan aku keberatan. Apa mungkin itu alasannya?


Aku menatap Citra dan memaparkan semua kejadian saat di pesta itu.


"Hmm, bisa jadi karena itu juga, Kak," kata Citra.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanyaku lagi.


"Sebaiknya Kakak mempercepat waktu pernikahan Kakak sebelum mas Yudhis terlalu jauh tergoda oleh wanita seperti dia. Kakak lihat saja penampilannya yang seperti itu. Laki-laki mana yang tidak akan mampu menahan hasrat jika setiap hari disuguhi bodi montok yang cuma dibalut kain tipis kekurangan bahan," dengus Citra terlihat kesal.

__ADS_1


Jantungku semakin berdegup kencang. Rasa marah dan menyesal bercampur menjadi satu. Ya, aku harus segera bertindak untuk menyelamatkan pertunanganku dengan mas Yudhis.


Bersambung


__ADS_2