My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Anna Khoerunnisa


__ADS_3

Keesokan harinya, di hari Sabtu pada saat jam istirahat, ketiga sahabat itu terlihat sedang bercengkerama di beranda masjid sekolah.


"Eh, Bang. Tukeran posisi, yuk!" ajak Fatwa kepada Gaos.


Gaos mengernyitkan keningnya. "Maksud kamu?" tanya Gaos, heran.


"Gua yang ngelatih anak-anak taekwondo SMA 42 di hari Jumat, dan lo pindah ke hari Sabtu. Gimana? Mau nggak?" tanya Fatwa.


"Aish, gua curiga ada sesuatu nih," timpal Aji, tersenyum penuh arti.


"Hahaha, lo tau aja, Ji!" pungkas Fatwa sambil tertawa.


"Haduh, sepertinya cuman aku yang ketinggalan berita, nih," kata Gaos, menatap curiga kepada kedua sahabatnya.


"Pastinya dong, Bang! Semalam si Fatwa datang ke rumah gua. Dia cerita kalo dia ketemu gadis imut di SMA 42, Bang. Sepertinya, dia masih penasaran ma tuh gadis. Keknya karena itu deh, dia minta tukeran ngelatih," ledek Aji.


"Hadeuh, lo jujur banget sih, Ji," ucap Fatwa menepuk jidatnya sendiri.


"Hahaha...."


Akhirnya ketiga sahabat itu tergelak bersama. Dan, sejak saat itulah, Fatwa dan Gaos bertukar posisi untuk melatih taekwondo di SMA 42.


.


.


Minggu berikutnya, Fatwa terlihat begitu bersemangat untuk melatih anak-anak taekwondo tingkat SD dan SMP yang bertempat di SMA 42. Selepas melaksanakan salat Jumat, dia buru-buru menuju tempat parkir untuk pergi melatih anak-anak tersebut.


"Fat, tunggu!" teriak Aji yang seketika menghentikan langkah Fatwa.


"Kenapa,Ji?" Fatwa bertanya seraya mengerutkan keningnya.


Aji menghampiri Fatwa dan menepuk pundaknya. "Gua ikut, hmm ... gua penasaran pen lihat sosok gadis imut, idaman lo itu," tutur Aji.


Fatwa hanya tertawa menanggapi rasa penasaran Aji. Namun, sebelum mereka berangkat, tiba-tiba Susan datang menghampiri Aji.

__ADS_1


"Sayang, anterin aku ke toko buku, yuk!" ajak Susan merengek manja sambil memegang tangan Aji.


"Tapi, San ... aku mau menemani Fatwa latihan taekwondo di SMA 42," tolak halus Aji.


Aji mencoba mencari alasan untuk menolak ajakan kekasihnya. Bukannya apa-apa, sudah seringkali Aji dibohongi Susan untuk urusan seperti ini. Bilangnya ke toko buku untuk membeli buku tugas, lah ... buku pelajaran, lah. Tapi ujung-ujungnya, Susan malah mengelilingi mal untuk berbelanja. Dan pada akhirnya, Aji hanya dijadikan sebagai kuli untuk membawakan barang-barang belanjaan susan.


"Ih, kamu kok gitu sih, Sayang! Kamu mah lebih memilih temen kamu dibandingkan cewek kamu sendiri. Sebenernya, yang jadi pacar kamu tuh siapa? Aku apa Fatwa?"


Susan mulai berulah. Dia merengek dan meninggikan nada bicaranya, membuat siswa-siswi yang tengah berlalu lalang di koridor kelas, menatap penuh tanya ke arah mereka.


"Udah, Ji. Lo temenin cewek lo aja, deh. Lain kali aja lo temenin gua. Lagian, gua masih sanggup kok, ngelatih anak-anak itu sendirian," ucap Fatwa.


Karena tak ingin menjadi pusat perhatian, Fatwa terpaksa menyuruh Aji untuk menemani Susan. Padahal, Fatwa sendiri tahu jika Aji mulai merasa tertekan karena harus terus menerima paksaan dari Susan.


Dan Aji, yang pada dasarnya sangat mencintai Susan, akhirnya hanya bisa mengalah dan pasrah menerima ajakan sang kekasih


"Ya udah, Fat. Gua temenin Susan dulu, ya. Semoga ada perkembangan yang lebih bagus untuk hari ini," ucap Aji menepuk bahu temannya


"Bisa aja lo, Man!" jawab Fatwa, cengengesan. Sejurus kemudian, Fatwa memakai helmnya dan mulai menyalakan motor kesayangannya. Tak lama setelah itu, motor akhirnya melesat dengan kecepatan yang cukup tinggi


.


.


"Bang, Fatwa!" panggil seorang bocah berusia sepuluh tahun.


"Ya, kenapa Syam?" tanya Fatwa sambil mengikat sabuk hitamnya di pinggang.


"Apa kita akan selamanya dilatih sama Bang Fatwa?" tanya anak yang bernama Syam itu.


"Kenapa? Apa kalian tidak suka dilatih sama Abang?" Fatwa bertanya penuh kecemasan. Takut jika anak-anak didiknya tidak bisa menerima dia sebagai pelatihnya. Jika itu sampai terjadi, musnahlah harapannya untuk bisa bertemu dan mendekati gadis imut itu. Namun, Fatwa masih berusaha untuk tidak menampakkan kecemasannya.


"Bukan begitu maksud Syam. Kita seneng, kok dilatih sama Abang. Bahkan, kalau bisa ... mm ...."


Terlihat syam menggantungkan kalimatnya. Sepertinya dia merasa ragu untuk melanjutkan perkataannya

__ADS_1


"Kalau bisa ... apa, Syam?" tanya Fatwa mulai menyelidik.


"Kalau bisa, Abang aja yang ngelatih kami. Biar nggak terlalu serius. Kalau dilatih sama bang Gaos, kami takut, Bang. Soalnya, Bang gaos 'kan orangnya galak," ucap Syam.


"Hehehe, iya itu bisa diatur Syam. Ayo, sekarang kalian ambil pemanasan dulu! Hari ini kita akan berlatih teknik sparring satu lawan satu," ucap Fatwa memberikan perintah.


Semua anak merasa gembira mendengar jawaban Fatwa. Mereka kembali bersemangat untuk melakukan pemanasan sebelum berlatih. Kali ini, Fatwa memberikan pemanasan berupa lari mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali.


Saat Fatwa mendampingi anak-anak taekwondo melakukan pemanasan, dia melihat anak-anak pramuka memasuki lapangan untuk berlatih. Fatwa memicingkan matanya untuk mencari gadis imut yang mulai menjadi magnet yang telah menarik dirinya hingga sampai di tempat ini.


"Ish, ke mana gadis imut itu?" guman Fatwa ketika tak melihat bayangan gadis berkuncir dua tersebut.


Sambil berlari kecil, Fatwa terlihat menggerutu kesal. Sesekali dia melihat ke arah bantara yang sedang berkumpul, untuk mencari gadis imut, pujaan hatinya. Namun, di putaran yang ketiga, gadis imut itu tak nampak juga.


"Bang, rehat dulu bentar, ya!" pinta salah seorang anak perempuan.


Fatwa yang sedang tenggelam dalam lamunan dan menatap kosong ke arah para bantara itu, cukup terhenyak mendengar suara permintaan rehat dari anak didiknya.


"I-iya, bo-boleh ... boleh," ucap Fatwa, gugup.


Saat dia mengambil air mineral yang tersimpan di tepi lapangan. Tiba-tiba dia mendengar salah seorang senior pramuka berkata dengan lantangnya di tengah lapang.


"Bantara Anna Khoerunnisa sebagai penjuru!" teriak senior itu.


"Siap! Bantara Anna Khoerunnisa sebagai panjuru. Bantara!"


Fatwa begitu terkejut mendengar suara lantang yang mulai mengusik telinganya. Seketika dia menoleh. Tampak seorang gadis berkuncir dua menghentakkan kakinya di tanah. Sejurus kemudian, gadis itu berlari kecil menghadap kakak senior dan berdiri tak jauh di depannya.


Senyum Fatwa mengembang seketika, saat melihat gadis imut itu berhenti dan menjadi penjuru dalam sebuah barisan. Tak lama kemudian, para anak bantara berlari kecil begitu perintah kedua mereka dengar dari seniornya.


"Siapa tadi namanya? Anna Khoerunnisa? Hmm, nama yang sangat cantik. Secantik orangnya," gumam Fatwa.


Menatap lekat gadis imut itu, membuat Fatwa melupakan perannya datang ke sekolah ini. Dia terlalu sibuk menatap dan mengagumi wajah polos si gadis imut yang berdiri di hadapannya. Hingga panggilan para peserta didiknya, membuat Fatwa tersadar dari kekagumannya.


"Eh, i-iya! Bentar lagi Abang ke sana!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2