My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Menjadi Cemoohan


__ADS_3

Aku mendengar teriakan ketiga sahabatku. Sejurus kemudian, aku merasakan hangatnya pelukan dari ketiga temanku itu. Aku tak mampu berkata apa-apa, semuanya terasa kosong. Jiwa seakan terlepas dari raga, hanya kehampaan yang bisa aku rasakan saat ini.


'Berdirilah, Chi!" ucap Kak Lastri. Aku bisa merasakan kedua tangannya meraih bahuku agar aku mengikuti perintahnya untuk berdiri. Tapi kakiku terasa lemas.


"Chi!" Ucapan dan usapan Tika di punggung tanganku seolah ingin menarik ruhku dari alam bawah sadarku. Namun, penolakan yang cukup kasar di depan semua orang, telah membuat ruh itu menghilang seketika. Aku benar-benar tidak menduga jika hari ini aku mendapatkan sebuah tamparan tanpa suara. Namun, bekasnya tidak akan pernah hilang hingga ragaku terkubur tanah.


"Ayo, Kakak bantu Chi!"


Kembali Kak Lastri menarik bahuku. Masih dengan pikiran kosong, aku mulai bangkit dan berdiri. Dipapah Kak Lastri dan Tika, akhirnya aku mengayunkan langkah. Rupanya, mereka hendak mengajakku kembali ke kelas.


Sepanjang kami berjalan di koridor kelas, aku mendengar selentingan orang-orang yang mengejek dan bahkan mentertawakan aku. Tanpa kami sadari seseorang tersenyum menyeringai melihat aku yang sudah tak mampu lagi membendung rasa malu dan kecewa.


Tiba di kelas, aku segera menjatuhkan diri di kursi dan mulai menelungkupkan wajah di atas meja. Bahuku berguncang keras. Sungguh rasa sakit di hati telah melewati batasannya. Sepertinya, aku tidak akan sanggup melewati jam pelajaran berikutnya. Karena itu aku segera membereskan peralatan sekolah.


"Kamu mo kemana?" tanya Tika begitu melihat aku mengemasi semua barang-barangku.


"Aku mo pulang, Tik," jawabku masih terisak.


"Gua antar ya, Chi!" Irma menawarkan diri untuk mengantarku pulang.


"Nggak usah, Ma. Gue bisa sendiri, kok." Aku menolak tawaran Irma. Jujur saja, aku butuh sendiri saat ini.


"Ya sudah, terserah kamu saja, Dek. Tapi, Kakak harap kamu tidak melakukan hal yang konyol," timpal Kak Lastri.


Aku mengangguk. Diantar Irma, akhirnya aku menuju ruang piket guru untuk meminta surat izin pulang.


Setelah mendapatkan surat izin itu, aku melangkahkan kakiku menuju pintu gerbang.


"Eh, Chi. Lo mo ke mana?" tanya Gustaf. Kebetulan kami berpapasan di pintu gerbang.


Aku mendongak. "Eh, Taf ... gue mo pulang, Taf," jawabku.

__ADS_1


Gustaf terkejut begitu melihat kekusutan di wajahku


"Lo abis nangis, Chi?" tanya Gustaf menyelidik.


Aku memalingkan wajah untuk menghindari tatapan menyelidik darinya. Gustaf itu, orang yang selalu ingin membantu jika melihat temannya ada yang kesulitan. Makanya, dia agak sedikit kepo melihat keadaan kusutku yang seperti ini.


Lelah yang mendera karena rasa sakit hatiku membuat aku tak ingin menjawab pertanyaan Gustaf. Aku segera menghentikan becak yang sedang melintas dan menaikinya setelah becak itu berhenti.


"Gue duluan, Taf!" pamitku begitu aku mendaratkan bokong di atas jok becak.


Sekilas, aku melihat Gustaf menganggukkan kepala. Setelah itu, aku meminta abang becak untuk segera pergi.


Sepanjang perjalanan, kembali air mata ini mengalir tanpa permisi. Aku tidak pernah menyangka jika pria dingin itu bisa mempermalukan aku seperti ini di tempat umum. Aku masih bisa terima jika dia memang menolak perasaanku. Tapi itu bukan berarti dia punya hak untuk mempermalukan aku di hadapan orang banyak. Pada akhirnya, aku merutuki kebodohanku yang bisa terperangkap pada rasa yang sebelumnya tidak pernah aku miliki.


Tanpa terasa, becak telah sampai di depan rumah. Mama yang melihat kedatantanku sebelum jam pulang sekolah, tentunya merasa heran.


"Kok, sudah pulang, Kak?" tanya Mama.


Mama menelisik keadaanku. Kamu nangis, Kak? Kenapa?" tanya Mama lagi.


"Kepala Kakak terasa pusing, Ma. Karena itu Kakak menangis. Ma, Kakak pamit ke kamar, ya. Kakak pen istirahat." Aku mengakhiri obrolanku dengan Mama sebelum aku terlanjur jauh berkata bohong.


Setelah memasuki kamar, aku mengunci pintunya dan menyalakan tape dengan musik yang cukup keras. Aku tidak ingin orang rumah mendengar suara isak tangisku. Aku mulai menjatuhkan tubuhku di atas ranjang menelungkupkan wajah di atas bantal, dan kembali berurai air mata. Sebenarnya, aku bukan anak yang cengeng, tapi entah kenapa, air mata ini selalu luruh saat aku teringat kembali ucapan kejinya.


.


.


Keesokan harinya, dengan langkah berat, aku memasuki gerbang sekolah. Aku tidak mungkin bolos sekolah hanya karena urusan hati. Aku bukan orang lemah, dan aku harus bisa membuktikan hal itu.


Di Koridor pertama, aku kembali mendengar para siswi yang sedang membicarakan kejadian kemarin. Bahkan beberapa di antara mereka dengan terang-terangan mencemooh keadaanku yang menyedihkan.

__ADS_1


"Huh, kasihan sekali, ya, ditolak mentah-mentah. Kalo gua sih, nggak bakalan mau menampakkan wajah lagi di sekolah ini," kata salah seorang siswi yang ternyata adik kelasku


"Ya, begitulah ... namanya cinta bertepuk sebelah tangan, yaa harus berani, dong, menanggung risiko," timpal temannya.


Sebenarnya aku tahu siapa orang yang saat ini mereka bicarakan. Ya, orang itu pastilah aku. Cewek yang menurut mereka menyedihkan karena rasa cintanya ditolak mentah-mentah. Tapi aku tidak ingin menanggapi omongan mereka. Aku bukan tipe orang yang suka mencari masalah.


Brugh!


Karena terlalu terlena oleh pikiranku sendiri, aku sampai tidak menyadari ada orang yang tengah berdiri. Tak ayal lagi, kami akhirnya bertubrukan dan orang itu terjatuh.


"Ish, kalau jalan lihat-lihat donk!" teriak orang itu sambil menunduk membersihkan roknya yang kotor terkena debu lantai. Sejurus kemudian dia mendongakkan wajahnya. Seringai sinis pun terukir di wajahnya yang cantik.


"Wah... Wah... Wah..., rupanya ada yang tidak berkonsentrasi berjalan karena patah hati ditolak sang pujaan hati, nih," ucapnya dengan senyum mengejek.


Tak ingin menanggi si wanita cantik bermulut pedas itu, aku kembali melangkahkan kaki menuju kelas. Tiba-tiba, seseorang menyambar tanganku.


"Hei! Gua bicara sama lo, muka tembok! Lo udah nabrak gua, lo punya mulut, 'kan? setidaknya lo bisa gunain mulut lo itu untuk minta maaf dari pada ngumbar kata cinta yang nggak jelas ke orang-orang, teriak Susan.


Aku mengernyit, tak paham dengan apa yang dia bilang. Namun, karena ini masih pagi dan aku enggan membuat keributan, akhirnya aku mengalah. Maaf, ucapku sambil kembali melangkahkan kaki.


Brughh!


Aku tak sadar jika wanita itu menjulurkan sebelah kakinya. Akhirnya aku terjatuh. Kembali suara riuh para siswa menyoraki aku.


"Hahaha, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Tapi pantas sih, itu balasan cewek gatel yang suka nemplok di cowok orang. Huh, dasar pe'rek!" umpat wanita cantik itu mencemooh.


Aku hanya bisa diam. Rasanya, hari ini aku benar-benar tak punya tenaga untuk membalas wanita itu. Terlebih lagi, sudut mataku menangkap jika pria dingin itu pun berada di depan kelasnya. Menatapku tanpa ekspresi dan berlalu begitu saja.


Sakit! Tentu saja, hanya ada kesakitan yang sedang bergemuruh dalam dadaku saat ini.


"Hentikan semua ini!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2