My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Disekap


__ADS_3

"Huff!" Fatwa mengeluarkan napasnya dengan kasar. Sejurus kemudian, dia menatapku tajam. "Aku pikir, kau akan memaafkan aku setelah mengetahui semua kebenarannya," ucap Fatwa, dingin.


Aku balik menatap Fatwa. "Jangan salah paham dulu, Fat. Sejak dulu, aku sudah memaafkan dirimu. Jadi, aku rasa kita tidak perlu lagi mengungkit masa lalu. Yang lalu, biarlah berlalu. Kita buka lembaran baru," jawabku, mencoba memberikan pengertian kepada Fatwa.


"Meskipun kau tahu jika aku mencintaimu?" tanya Fatwa lagi.


Aku diam.


Fatwa mendekat dan berjongkok di hadapanku. Dia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat. "Aku sangat mencintai kamu, Res. Ya! Aku akui ... awalnya aku menyukai kamu karena kamu mengingatkan aku pada sosok mendiang Anna. Tapi, seiring berjalannya waktu, entah sejak kapan bayanganmu selalu mengiringi langkahku. Entah sejak kapan, rasa ingin memiliki lebih itu muncul. Aku tidak hanya menginginkan kamu menjadi temanku, tapi aku juga menginginkan kamu untuk menjadi teman hidupku. Selamanya, Res ... selamanya," kata Fatwa.


Aku menatap Fatwa. Ada rasa sesak di dadaku saat aku mendengar semua pengakuannya. "Kenapa kau tidak perjuangkan aku sedari dulu, jika kau memang mencintai aku. Mungkin, jika saat itu aku tahu kesulitan kamu, kita bisa bersama-sama mencari jalan keluar. Tapi kau...? Kau malah lebih memilih melukai perasaan kita masing-masing daripada mencoba untuk saling mengungkapkan perasaan," ucapku perih.


Ya, hatiku sangat perih saat menyadari jika tanpa sadar, keadaan telah menyakiti perasaan kami satu sama lain.


Fatwa meraih tanganku dan mengecupnya sekilas. "Maafkan aku, Res," ucapnya sendu.


Tak ingin terlalu terlena dalam suasana, aku menarik tanganku dari genggaman Fatwa. Jangan meminta maaf lagi, Fat. Semuanya telah berlalu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Aku yakin, lambat laun kita bisa melupakan semua perasaan itu," ucapku.


"Tidak bisa!" Seketika Fatwa berdiri mendengar ucapanku, "aku tidak bisa melupakan semua rasaku. Apa kau tahu, bertahun-tahun aku meratapi kemalanganku. Bertahun-tahun aku hidup dalam kenanganmu, sampai semua orang menganggapku tidak waras. Lalu, bagaimana bisa kamu meminta aku untuk melupakanmu. Tidak, Res! Tidak semudah itu!" Fatwa mulai berteriak. Sinar kemarahan terpancar jelas di kedua matanya.


Seketika nyaliku menciut melihat perubahan dalam diri Fatwa.


Brugh!


Fatwa mendekap erat tubuhku. "Jangan lakukan ini padaku, Res ... jangan!" bisiknya pilu di telingaku.


Hatiku menangis melihat perubahan dalam diri Fatwa. Sebentar beringas bagai singa yang kelaparan, sebentar lembut bagaikan seekor anak kucing. Sikapnya yang tidak mudah ditebak, membuat dia seperti orang asing bagiku.

__ADS_1


Aku mengangkat kedua tanganku untuk membalas pelukan Fatwa. Mencoba memberikan kekuatan kepadanya. "Aku mohon, Fat, jangan seperti ini. Jangan beratkan langkahku lagi. Saat ini, statusku adalah calon istri orang. Dan orang itu adalah kakak sepupumu sendiri. Tolong mengertilah!' bisikku.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu! Aku tidak mau berpisah lagi denganmu!" Fatwa semakin mendekap erat tubuhku, membuat aku merasa kesulitan untuk bernapas.


"Fat, dadaku sesak!" ucapku.


Seketika Fatwa melepaskan pelukannya. Dia menatapku penuh kelembutan. "Aku mohon, lepaskan dia demi aku," ucap Fatwa.


"Bukan seperti itu kalimat yang benar, Fat. Tapi lepaskan aku untuk dia. Mungkin kita tidak berjodoh, karena itu terlalu banyak rintangan dalam hubungan kita," jawabku selembut mungkin. Aku tidak ingin melukai perasaan calon suamiku dengan keegoisan ini.


"Tidak! Aku yakin kita bisa melalui rintangan itu. Aku hanya butuh jawabanmu? Apa kau masih mencintai aku? Katakan kau masih mencintai aku, setelah itu, kita akan hadapi semua rintangan yang ada. Kita akan bersama-sama melewati setiap kerikil dan duri dalam kehidupan kita bersama. Aku mohon, katakan jika kau mencintai aku!" racau Fatwa menatapku tajam.


"Tapi, mas Yudhis? Bagaima–"


"Yudhis... Yudhis... Yudhis...! Persetan dengan bang Yudhis!"


Fatwa berteriak memotong kalimatku. Sejurus kemudian dia mendekatkan wajahnya. Telunjuknya menyentuh bibirku. "Aku tidak mau bibir mungil kamu ini menyebut nama itu lagi," ucap Fatwa seraya menyapu bibirku.


"Ya! Benar, Sayang ... bibirmu ini hanya boleh memanggil namaku. Hanya namaku saja yang akan selalu kau sebut, Res. Hanya aku!" ucap Fatwa penuh penekanan.


Wajahnya semakin mendekat hingga embusan napasnya hangat menerpa wajahku. Keningnya mulai menempel di keningku. Tatapan penuh kelembutan membuat jantungku berdetak tak beraturan.


"A-aku mohon Fat, jangan seperti ini," bisikku pelan. Napasku memburu tak karuan mendapati bibirnya yang hangat menempel di sudut kanan bibirku.


"Katakan kau mencintai aku. Kau sangat mencintai aku. Benar, 'kan?" ucapnya lagi.


"Fat... a-aku tidak bisa...! Ma-mas Yudhis ... Aww!"

__ADS_1


Aku tidak menyangka jika Fatwa mampu berbuat kasar. Dia mendorong tubuhku saat aku menyebutkan nama mas Yudhis.


"Sudah kubilang jangan sebut nama Yudhis di hadapanku! Apa kamu pikir mas Yudhismu itu orang suci, hah?" Fatwa kembali berteriak padaku. "Asal kamu tahu, Res. Yudhis itu telah membohongi kamu. Dia telah berselingkuh di belakangmu. Apa kamu tahu itu, hah?" bentak Fatwa.


Lututku langsung bergetar mendengar ucapan Fatwa tentang mas Yudhis. Tidak! Tidak mungkin mas Yudhis melakukan itu. Tidak mungkin mas Yudhis berselingkuh di belakangku. Aku tahu betul bagaimana perjuangan mas Yudhis untuk mendapatkan kepercayaanku dulu. Hatiku menyangkal semua ucapan Fatwa.


Fatwa kembali mendekati aku. Dia mencengkeram kedua bahuku. "Sadarlah, Res! Yudhis itu bukan pria baik-baik. Dia telah mengkhianati semua kepercayaan kamu," ucap Fatwa geram.


"Ish...." Aku meringis saat ujung kuku Fatwa menyentuh kulitku. "Kamu gila, Fat!" Aku berteriak dan menendang pangkal paha pria itu hingga terjengkang. Sekuat tenaga aku berlari menghampiri pintu utama.


Hup!


Langkahku kalah cepat dengan gerakan dia. Sehingga dalam beberapa langkah dia berhasil menangkap pergelangan tanganku. Tak ingin memberikan jeda, Fatwa menyeretku ke dalam sebuah kamar.


Bugh!


Dia menghempaskan tubuhku hingga aku terjatuh di atas ranjang. Belum sempat aku bangkit, Fatwa sudah keluar dan mengunci kamar itu dari luar.


Aku terhenyak melihat sikap brutalnya dalam sekejap. Aku berlari ke arah pintu dan menekan handle-nya. Terkunci, batinku.


Dug-dug-dug!


Aku meggedor pintu kamar sekuat tenaga. "Fatwa! Buka pintunya! Kamu tidak bisa melakukan semua ini! Buka Fatwa! Kamu tidak bisa menyekapku di tempat ini! Buka!" Aku berteriak keras sambil terus menggedor pintu kamar. Namun, tak ada respon yang aku dengar dari luar.


Brugh!


Tubuhku luruh di depan pintu. Dadaku terasa sesak. Fatwa yang aku kenal saat ini jauh berbeda dengan Fatwa teman SMA-ku dulu. Tak ada lagi seorang Fatwa, si pria dingin pemilik mata elang, pria yang begitu tegas dan lugas saat menyampaikan materi keagamaan. Yang aku lihat hanyalah seorang Fatwa yang egois dan temperamental.

__ADS_1


Aku mulai mendekap erat kedua lututku. Sesak makin mengimpit dadaku. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?


Bersambung


__ADS_2