My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Pernikahan Kak Lastri


__ADS_3

Bunyi bel tanda berakhirnya mata kuliah membuat aku bisa bernapas dengan lega.


"Baiklah, kita akhiri pertemuan kita untuk hari ini. Saya harap, kalian bisa bertanggung jawab akan tugas-tugas kalian. Terutama untuk yang mendapatkan nilai tidak memuaskan. Dimohon kerja samanya, karena ini juga untuk kebaikan kalian," ucap dosen itu menutup materinya.


Huh, kalimat yang sungguh luar biasa. Aku mendengus dalam hati. Aku tahu untuk siapa sebenarnya kalimat itu ditujukan. Ya Tuhan, padahal tinggal setahun lagi, tapi jika keadaannya seperti ini terus, lama-lama aku bisa gila, gerutuku dalam hati.


"Dijemput Mas Yudhis, Kak?" Pertanyaan Citra membuyarkan lamunanku.


"Eh, i-iya, Cit. Kamu mo pulang duluan?" tanyaku pada Citra.


"Kebetulan Citra nunggu jemputan juga," jawab Citra.


"Oh, kalo gitu, kita tunggu di depan, yuk!" ajakku kepada Citra.


"Oke!" sambut Citra.


Kami mulai membereskan barang-barang kami. Setelah itu, kami berjalan beriringan menuju halaman depan. Tiba di sana, jemputan kami belum pada datang. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu di pos keamanan. Kami pun duduk berdampingan.


"Ayo Kak Chi, lanjutkan lagi ceritanya!" pinta Citra.


"Ish, nggak ada yang menarik dari masa lalu itu Cit," jawabku.


"Tapi aku masih penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi pada pak Fatwa sampai dia bersikap seperti itu pada Kakak," ucap Citra.


Aku hanya mengedikan kedua bahuku.


"Ayolah Kak Chi," rengek Citra.


"Baiklah. Sampai mana tadi?" tanyaku.


"Sampai Kak Chi mendengar kondisi pak Fatwa tidak baik-baik saja."


Aku menarik napas panjang. "Waktu itu...."


"Kak, ini ada undangan?" ucap mamaku sambil menyerahkan selembar undangan berwarna merah jambu. Aku menerima dan membukanya. Bola mataku membulat sempurna tatkala melihat ukiran nama mempelai putri di sana. Lastri Widya Ningsih.


"Kak Lastri nikah, Ma?" tanyaku.


"Menurutmu?" Mama malah balik bertanya.


"Hehehe, iya dia mau nikah, Ma." Aku terkekeh menyadari kekonyolanku.


"Trus, kamu kapan nyusul?" tanya mamaku.


"Idih Mama, pacar aja nggak punya, mo nikah ma siapa? Ma kambing?" gerutuku kesal.


Mama hanya tersenyum mendengar gerutuanku.


"Memangnya Lastri nggak kuliah, kak?" tanya mamaku.

__ADS_1


"Kuliah sih, tapi Kakak denger dia ngambil jurusan diploma kebidanan. Jadi, mungkin saja tahun ini Kak Lastri dah beres kuliah," jawabku sambil membantu mama mengupas bawang.


Mama yang sedang menggoreng ikan, tiba-tiba saja mematikan api kompor. Dia menatapku. "Apa Kakak tidak ingin kuliah? Adikmu, 'kan baru kelas dua SMP, mungkin tabungan buat biaya sekolah SMA-nya bisa Mama pakai dulu buat biaya masuk kuliah Kakak," tawar mama.


"Nggak Ma, saat ini Kakak nggak minat untuk kuliah. Kalaupun Kakak harus kuliah, Kakak nggak menggangu biaya sekolah adik. Kasihan kalau adik harus putus sekolah gara-gara Kakak."


"Ish, adikmu nggak akan putus sekolah. Mungkin dia bisa ngambil Paket C untuk melanjutkan pendidikannya."


"Jangan Ma!" pungkasku seketika. "Kakak nggak mau adik melanjutkan Paket C. Ini nggak adil. Biar adik tetap sekolah. Insya Allah, kalau sudah waktunya, Kakak pasti bisa kuliah. Lagi pula, untuk saat ini Kakak belum minat untuk kuliah."


Aku berusaha untuk meyakinkan mama agar tidak terlalu mengkhawatirkan masa depanku. Meski jauh di lubuk hati, aku pun sangat ingin melanjutkan sekolah. Tapi keinginan itu terpaksa aku kubur dalam-dalam. Aku tidak ingin membebani orang tuaku lagi.


.


.


Waktu terus berlalu. Hari yang dinantikan telah tiba. Pernikahan Kak Lastri seolah akan menjadi reuni kecil bagi aku dan teman-teman yang hampir tiga tahun terpisah. Aku begitu bersemangat sekali menyambut pernikahan Kak Lastri. Dengan menghadiri pernikahan ini, aku pasti akan bertemu dengan teman-teman masa SMA-ku


Rumah Kak Lastri cukup jauh. Medan yang harus dilalui pun cukup menantang. Sebuah jalanan setapak yang terjal, menanjak, dan hanya bisa dilewati oleh kendaraan beroda dua saja. Setengah jam melakukan perjalanan, akhirnya aku tiba di tempat resepsi. Setelah membayar ongkos ojek, aku berjalan menuju tempat resepsi.


Di meja penerimaan tamu, aku bertemu dengan Tika. Masya Allah ... sungguh pertemuan yang luar biasa setelah tiga tahun berpisah. Tak ada yang berubah dari diri Tika, hanya badannya saja yang sedikit melar.


"Eh, Irma mo datang nggak?" tanyaku pada Tika.


"Keknya nggak deh, soalnya dia lagi KKN," jawab Tika.


"Oh, ya udah. Masuk yuk!" ajakku pada Tika.


Saat kami memasuki pelaminan itu, pekikan tertahan keluar begitu saja dari mulut Kak Lastri. Dia terlihat sangat bahagia dengan kehadiran kami.


"Subhanallah;... Kakak nggak nyangka kalian mau datang," ucap Kak Lastri sambil memeluk kami.


"Pastilah kita datang, masak iya kita ngelewatin acara bersejarah dalam hidup Kakak," jawabku.


"Benar itu," kak, timpal Tika.


"Uuh, jadi terharu," ucap Kak Lastri. "Ayo, silakan dinikmati jamuannya," lanjutnya.


"Oke! Dengan senang hati," ucapku narsis. Setelah itu aku dan Tika menuju meja prasmanan untuk menikmati hidangan yang menggugah selera.


Kami duduk di meja yang cukup jauh dari para tamu undangan, agar bisa sedikit lebih santai untuk ngobrol. Maklumlah, tiga tahun tak bersua, tentu saja ada banyak hal yang ingin kami bagi bersama. Tak berapa lama kemudian, Kak Lastri menghampiri meja kami.


"Loh, kok Kakak ke sini?" tanyaku heran.


"Iya, ih. Bukannya Kakak harus menemani suami Kakak di pelaminan?" timpal Tika.


"Nggak pa-pa, Kakak dah minta izin sama kakak ipar kalian buat ngobrol sebentar di sini," jawab Kak Lastri.


"Ish, nakal ya, Kak Lastri," gurauku.

__ADS_1


"Tau nih, masa suaminya dianggurin. Suruh salaman sendiri. Entar kalo ada yang nanya, gimana?" ucap Tika.


"Sudah, jan terlalu dipikirkan. Eh kalian apa kabar? Gimana kuliah kalian?" tanya Kak Lastri.


"Alhamdulillah, baik Kak. Aku tinggal skripsi, sih," jawab Tika.


"Kamu sendiri, Chi? Jadi, ngambil jurusan Farmasi?" tanya Kak Lastri lagi.


"Chi nggak kuliah, Kak. Nggak ada biaya," jawabku.


"Loh, yang waktu beasiswa UGM?" tanya Kak Lastri yang terkejut saat mengetahui aku tidak kuliah.


"Chi nggak ambil, nggak diizinin bokap. Katanya terlalu jauh, trus bokap juga khawatir dengan lingkungan di sana," jawabku.


"Yaah, sayang Chi."


"Iya, mungkin belum rezekinya, Kak."


"Ya sudah, tidak apa-apa. Lain waktu 'kan, bisa," ucap Kak Lastri membesarkan hatiku.


"Oh iya, kapan kalian nyusul Kakak?"


"Hahaha, Chi masih jauh, jodohnya pun masih ngumpet," ucapku tertawa.


"Kamu sendiri, Tik?" tanya Kak Lastri pada Tika.


"Insya Allah, selesai kuliah, Kak," jawab Tika.


"Alhamdulillah. Eh, apa kalian masih ingat Fatwa Imammuddin?" tanya Kak Lastri yang langsung menatapku.


Aku tersenyum kecut, huh ... mana mungkin aku bisa melupakan pria sombong itu.


"Ya, tentu saja kami ingat. Bukankah dia kuliah di universitas terkenal di ibu kota?" jawab Tika.


"Kakak dengar sih begitu. Tapi, kabarnya lagi dia dikeluarkan dari kampusnya," ucap Kak Lastri.


"Loh, kenapa?" Tika terlihat antusias mendengar kabar terbaru pria dingin itu.


"Kabarnya, dia mengalami depresi sehingga dikeluarkan dari kampusnya. Bahkan, sekarang dia sedang mendapatkan perawatan di panti rehabilitasi yang berada di kota Bandung," kata Kak Lastri.


Uhuk! Uhuk!


Aku langsung tersedak begitu mendengar ucapan Kak Lastri. Begitu juga dengan Tika yang bola matanya membulat sempurna mendengar kabar itu.


"Apa Kakak serius? Tapi kenapa?" tanyaku.


Kak Lastri hanya menggerakkan bahunya pertanda dia tidak tahu apa alasan pria dingin itu mengalami musibah tersebut.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un ... apa pun yang menjadi alasannya, semoga dia bisa kembali pulih seperti semula," do'a Tika.

__ADS_1


"Aamiin."


Bersambung


__ADS_2