
Seorang wanita mengenakan pakaian syar'i berwarna hijau mint datang mendekati putra-putrinya.
Aji menoleh ke belakang. "Eh, Umi! Kemarilah!" teriak Aji.
Wanita berhijab itu, yang awalnya ingin membersihkan tubuh si kembar, seketika berdiri dan menghampiri kami.
"Kenalin Mi, ini teman SMA-nya Abi. Namanya Resti." Aji mengenalkan aku pada wanita itu.
"Ini istri kamu, Ji?" Aku yang pada dasarnya sudah terbiasa berkata ceplas-ceplos, seketika bertanya tanpa memikirkan perasaan wanita berhijab itu.
"Ups, sori!" ucapku setelah menyadari kesalahan.
"Hahaha, tidak apa-apa, Res. Tabiat seseorang memang susah untuk dirubah," ucap Aji menyindirku.
Aku hanya mencebik mendengar sindiran Aji.
"Iya, ini istriku. Permaisuriku. Namanya Az-Zahra," kata Aji.
Aku mengulurkan tanganku. Sepertinya wanita itu lebih muda usianya dari aku. "Hai, saya Resti, tapi panggil saja Chi," ucapku.
Dengan senyumnya yang begitu meneduhkan, wanita itu menyambut uluran tanganku. "Zahra," ucapnya.
"Umi! Abi!"
Tiba-tiba obrolan kami terputus saat mendengar teriakan si kecil.
"Anak-anak kamu, Ji?" tanyaku.
"Iyalah, masa iya anak orang lain," ucap Aji. "Ayo, aku kenalkan kamu pada mereka. Yuk Mi!"
Aji mengajak aku dan istrinya untuk menemui si kembar. Kedua bocah itu tergelak bersama saat sedang memainkan busa sabun.
"Double En, coba lihat siapa yang datang mengunjungi kita di rumah kakek buyut!" teriak Aji kepada kedua anaknya.
Mendengar panggilan ayahnya, kedua bocah itu membalikkan badan.
"Memangnya siapa yang datang, Abi?" tanya anak laki-laki.
"Iya, siapa Abi? Apa Onty ini?" timpal si anak perempuan saat melihat aku sebagai orang asing di tempatnya.
"Waah, tebakan Nashwa benar sekali. Yeayyy!" Aji mengangkat tangannya untuk memberikan reward verbal terhadap putrinya.
"Ayo, sekarang kalian udahan main airnya, ya? Nanti kita ngobrol-ngobrol sama Onty," timpal Zahra.
"Baik Umi," jawab kedua anak kecil itu. Mereka segera turun dari kolam dan berlarian untuk pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Kalian ngobrol dulu, biar aku urus si kembar," ucap Zahra.
"Tunggu!" Aku menghentikan langkah Zahra. Res datang kemari untuk mengantarkan pesanan Wak Haji," ucapku sambil mengulurkan kantong plastik yang berisi satu dus kue basah.
Wanita berhijab itu tersenyum. "Biar aku ambil!" ucapnya.
Aku menyerahkan pesanan Wak Haji. Sejurus kemudian, Aji membawaku ke taman belakang.
"Tak banyak yang berubah dari dirimu, Res," ucap Aji begitu kami duduk di bangku taman.
"Hmm, kamu bisa aja, Ji. Ngomong-ngomong, aku baru tahu kalo kamu cucunya Wak Haji," ucapku.
"Hehehe, bukan aku yang cucunya aki, tapi Zahra istriku," jawab Aji.
"Ups! Sori!" Aku meralat ucapanku. "Zahra cantik ya, Ji," pujiku terhadap istrinya Aji.
"Alhamdulillah," jawab Aji tersenyum senang.
"Ketemu di mana, Ji?" tanyaku lagi.
"Dia muridku dulu, saat aku pertama kali tugas di SMA," jawab Aji
"Apa?" Aku benar-benar terkejut mendengar pengakuan Aji.
Kembali aku dibuat terkejut oleh penuturan Aji. Wanita itu masih sangat muda, tapi dia terlihat anggun dan dewasa. Astaghfirullah ... apa kabar aku, yang masih seperti anak ABG.
"Oh iya, Res. Apa kamu pernah mendengar kabar tentang Fatwa?" tanya Aji.
"A-aku...."
"Permisi, maaf mengganggu. Ini minuman sama camilannya. Lumayan, buat temen ngobrol." Tiba-tiba Zahra datang membawa nampan berisi jus dan setoples camilan.
"Terima kasih, Sayang," ucap Aji menatap penuh cinta kepada istrinya.
"Sama-sama, Bi. Kalau begitu, Umi ke dalam dulu, ya!" pamit Zahra.
"Gabung saja di sini, Mbak," ajakku kepada istrinya Aji yang masih super imut itu.
"Iya, Makasih Mbak. Maaf, aku harus nyuapin dulu si kembar. Kalau makan sendirian, huduh bisa berantakan," kata Zahra.
Aku tersenyum melihat sikap Zahra yang sepertinya tipikal wanita yang supel. Aku mengangguk menanggapi ucapannya. Setelah Zahra pergi, aku dan Aji melanjutkan pembicaraan kami.
"Aku benar-benar prihatin pada kehidupan Fatwa dulu," ucap Aji menatap kosong pada rerumputan hijau yang terhampar bak permadani.
Aku mengerutkan kening. "Memangnya, apa yang terjadi padanya?" tanyaku mencoba mengorek keterangan dari Aji.
__ADS_1
"Hidupnya seolah terus dibayang-bayangi oleh masa lalu. Tekanan demi tekanan yang dia alami, membuat dia sempat depresi sehingga harus keluar dari kampusnya," jawab Aji.
"Re-Res tidak mengerti, Ji. Bisakah kamu ceritakan tentang dia?" pintaku kepada Aji.
Jujur saja, selama tiga tahun mungkin kami bersekolah di tempat yang sama. Tapi, sampai detik ini, dia masih menjadi pria yang penuh misteri bagiku. Terlebih lagi, aku hanya mengenal dia di catur wulan terakhir sekolahku. Mungkin sekitar empat atau lima bulan sebelum akhirnya kami lulus sekolah.
"Fatwa pria yang sangat baik, pintar, pandai bergaul dan memiliki wawasan yang luas tentang keagamaan. Selain itu, dia juga mempunyai keahlian ilmu bela diri dan sering diminta untuk melatih siswa-siswi di SMA 42. Pada suatu hari, ada seorang siswi SMA 42 yang menarik perhatian dia. Dan sepertinya, Fatwa menaruh hati pada gadis itu." Aji tersenyum tipis saat memutar kembali kenangan milik temannya.
"Lalu?" Aku yang mulai penasaran tentang masa lalu Fatwa, merasa tidak sabar saat Aji menjeda ucapannya.
Masih dengan senyumnya yang khas, Aji menatapku penuh kelembutan. Ah, tak ada yang berubah dari tatapan itu. Seandainya aku tidak pernah merasakan kasih sayangnya sebagai seorang kakak dulu, mungkin aku akan terpesona melihat senyum milik pria innocent itu.
"Aku melihat sinar kebahagiaan selalu terpancar dari wajah Fatwa. Setiap hari dia selalu bersemangat menceritakan Anna," kata Aji.
"Anna?" Aku mengulang perkataan Aji.
Dengan tersenyum tipis, Aji mengangguk. "Namanya Anna Khoerunnisa, salah satu siswi SMA 42."
"Tunggu!" Aku menyela pembicaraan Aji.
"Kenapa, Res?" tanya Aji.
"Sepertinya, Res pernah mendengar nama Anna Khoerunnisa dari SMA 42. Apakah dia anak pramuka?" tanyaku pada Aji.
"Entahlah. Aku sendiri tidak mengenalnya. Aku mengenal dia hanya sebatas dari cerita Fatwa saja," jawab Aji.
"Lalu?" Aku meminta Aji melanjutkan ceritanya.
"Setelah mendapatkan dukungan dari kami, Fatwa mulai mendekati gadis itu. Dan beruntungnya. Sepertinya gadis itu pun sangat menyukai Fatwa. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk berta'aruf. Hingga akhirnya, tragedi itu terjadi," ucap Aji dengan wajah sendu.
Sejenak, Aji menghela napasnya. Tatapan matanya mulai terlihat kosong. Hanya saja, di kedua sudut matanya sudah menggenang buliran air mata yang siap tumpah.
"Tragedi apa, Ji? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku kepada Aji. Namun, rupanya Aji tidak memperhatikan pertanyaanku. Pikirannya seolah menerawang entah kemana. Aku semakin dibuat tak sabar oleh sikapnya.
"Ji! Apa kamu denger Res? Apa yang terjadi padanya di masa lalu? Sebenarnya, tragedi seperti apa yang pernah Fatwa lalui?" tanyaku menyentuh pelan punggung tangan Aji.
Aji terhenyak mendapati sentuhan di punggung tangannya. Sepertinya, dia mulai kembali ke alam sadarnya.
"Eh, kenapa Res?"
"Tragedi seperti apa yang menimpa Fatwa di masa lalunya, Ji?" Aku mengulang pertanyaanku.
"Waktu itu...."
Bersambung
__ADS_1