My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Pulang


__ADS_3

Dokter paruh baya itu memeriksa aku secara intens. Dia tampak manggut-manggut saat memeriksa detak jantungku dengan menggunakan stetoskop. Wajahnya juga terlihat cukup serius saat memriksa denyut nadiku. Fatwa terlihat sedikit cemas saat dahi dokter itu berkerut.


“Bagaimana, Dok? Apa dia baik-baik saja?” tanya Fatwa sesaat setelah dokter itu memeriksaku.


Senyum sang dokter mengembang mendapati kecemasan Fatwa. “Tidak perlu terlalu khawatir seperti itu, Pak. Insya Allah, istri Anda baik-baik saja,” ucap sang dokter.


Seketika terukir senyum lebar di bibir Fatwa. “Alhamdulillah … jadi, istri saya sudah bisa pulang hari ini, Dok?” tanya Fatwa.


“Ya, hari ini istri Anda sudah bisa pulang. Tapi tolong, nanti di rumah jangan terlalu banyak bergerak dulu, ya! Takut engsel di pergelangan kakinya kembali berpindah,” ucap dokter.


“Siap, Dok! Anda tidak usah khawatir, di rumah, sayalah yang akan menggantikan posisi Anda untuk memantaunya,” gurau Fatwa.


“Hehehe, bagus itu. Berarti Pak Fatwa ini termasuk suami siaga dong,” kata dokter sambil terkekeh.


“Pastinya, Dok…” timpal Fatwa.


“Ya sudah, kalau begitu saya tinggal dulu. Masih banyak pasien yang harus saya periksa. Selamat beristirahat di rumah ya, Bu! Semoga lekas sembuh,” kata dokter paruh baya itu sebelum akhirnya dia meninggalkan kami berdua di kamar rawat ini.


“Istri?” tanyaku seraya menatap Fatwa, heran.


“Ah iya, istri … hmm, itu … anu istrinya pak dokter, jadi … dia…. Ah, sudah lupakan sajalah! Sekarang, ayo kita bereskan barang-barang kamu,” ucap Fatwa.


Hmm, pria dingin itu terlihat salah tingkah dan tak mampu memberikan penjelasan yang masuk akal padaku tentang kata istri. Tapi, ya sudahlah … aku sendiri tidak akan ambil pusing. Mungkin saja mereka hanya sekadar bercanda.


Tak lama kemudian, datang seorang perawat tadi yang hendak membuka jarum infus di tanganku.


“Eh, ada Abang Fatwa, ya?” ucap perawat itu menatap genit ke arah Fatwa. Terlihat perawat itu mengedipkan sebelah matanya saat sedang itu membuka jarum infus di tanganku.


Fatwa bergidik geli. Sejurus kemudian, dia mulai sibuk memasukkan pakaian kotor milikku ke dalam tas jinjing.


“Eh, biar Res saja yang membereskan,” ucapku saat melihat Fatwa tengah memasukkan pakaian kotor satu per satu.


“Memangnya kena–“


Pluk!


Belum sempat Fatwa menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba sebuah benda jatuh saat dia mengeluarkan baju kotor dari kantong plastik.


“Apa ini?” tanya Fatwa seraya membeberkan benda kecil berbentuk segitiga berwarna pink yang memiliki aksen pita hitam di kiri-kananya.


“Fatwa! Ih…”


Blugh!


“Aduh!” teriak Fatwa.


Aku benar-benar gemas dengan tingkah Fatwa. Kulemparkan bantal ke arahnya yang berhasil mengenai wajah Fatwa. Tak siap menerima benda jatuh di hadapannya, Fatwa melepaskan segitiga pengamanku yang dia pegang tadi.

__ADS_1


“Ish, Res! Kaget tau?!” dengus Fatwa terlihat kesal.


“Salah sendiri, wew! Udah dikasih tahu biar Res yang beresin,” tukasku.


“Emang itu punya kamu, ya, Res? Kok, kecil banget sih? Apa kabar sama dalamnya, ya? Pasti kecil juga,” kata Fatwa memasang ekspresi sedang membayangkan sesuatu.


“Ish, dasar otak mesum!” teriakku kembali melempar wajahnya dengan bantal. Tapi kali ini meleset.


“Abang mau yang besar?” tawar perawat itu, “punya Nana besar, loh, Bang. Apa mau dicoba?” lanjutnya.


“Res, aku ke ruang administrasi dulu, ya!” pamit Fatwa seketika, saat mendengar ucapan perawat itu.


Aku hanya tergelak melihat ekspresi wajah Fatwa yang semakin kegelian. Sedangkan perawat itu hanya mengerucutkan bibirnya melihat Fatwa menghilang dari balik pintu.


“Teman Mbak, kaku juga, ya?” ucapnya sambil membersihkan darah kering di punggung tanganku.


“Ah, mungkin itu karena belum kenal saja, Sus,” jawabku.


“Hehehe, benar juga,” timpal perawat itu.


Setelah selesai melakukan tugasnya, perawat itu pun segera pamit. Tak lupa dia juga memberikan do’a untuk kesembuhanku. Setengah jam kemudian, fatwa kembali ke kamar.


“Sudah beres?” tanya fatwa seraya mengedarkan pandangannya di ruang rawat.


“Kamu cari siapa sih, Fat?” tanyaku.


“Kenapa? Kamu naksir sama dia?” tanyaku.


“Astagfirullahaladzim, Res!” pekik Fatwa.


“Ya, abisnya … ngapain juga kamu cari dia?” gerutuku yang tiba-tiba merasa kesal.


“Cieee, cemburu, ya?” ledek Fatwa.


Seketika wajahku merona mendengar ledekan laki-laki dingin itu. “Udah, ah. Pulang, yuk!” ajakku, “Res dah kangen mama sama Rayya, nih,” kataku mencari alasan.


“Ya sudah, ayo! Mau aku gendong, atau aku pangku?” tawar Fatwa.


“Huu, sama aja. Nggak dua-duanya, makasih,” jawabku seraya mengerucutkan bibir.


“Hehehe, ya sudah, tunggu dulu di sini, aku pinjam dulu kursi roda,” kata Fatwa seraya berlalu pergi.


.


.


Setelah melalui satu jam perjalanan, akhirnya kami tiba di rumah. Dengan mata berkaca-kaca, mama menyambut kedatanganku. Begitu juga dengan Rayya yang seketika memelukku sesaat setelah mama melepaskan pelukannya padaku.

__ADS_1


“Ray kangen sama Kakak,” ucap Rayya, manja sambil terisak.


Aku hanya bisa mengacak rambut Rayya dengan gemas. “Udah, jangan nangis lagi. Kakak, ‘kan, sudah pulang, sekarang,” kataku.


“Hehehe, iya-ya,” jawabnya. Sejenak Rayya melirik ke arah Fatwa dan seperti sedang memberikan sebuah kode.


Aku hendak bertanya. Tapi, tiba-tiba saja laki-laki itu menutup mataku dengan saputangannya. “Eh, apa-apaan ini?” protesku seraya memegang tangan Fatwa karena kaget.


“Sudah, ikut saja!” bisik Fatwa.


“Tapi Resti nggak bisa lihat, loh, Fat!” ucapku, kesal.


“Pegang saja tanganku, aku janji, aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi," ucap Fatwa. Uuuh, entah kenapa, aku merasa ada makna yang dalam dibalik ucapannya.


Fatwa menuntun langkahku memasuki rumah. Setelah tiba di dalam, dia mulai melonggarkan ikatan saputangan yang menutupi mataku.


“Siap, ya!” teriak Rayya. “Satu … dua … tiga!” lanjut Rayya seraya bersorak.


Fatwa membuka ikatan saputangan. Aku mulai mengerjapkan mata dan membukanya. Sejenak aku terpaku membaca banner huruf bertuliskan “Welcome Home, Sister”. Bulir bening pun mulai mengambang di kedua sudut mataku.


“Selamat datang kembali di rumah, Kakak,” ucap mama kembali memelukku.


“Terima kasih, Ma,” jawabku. Rayya kembali menghambur ke arahku. Kami pun saling berpelukan untuk melepaskan kerinduan selama ini.


“Tidak adakah yang ingin memelukku?” tanya Fatwa yang langsung membuat kami sadar jika di ruangan itu masih ada orang lain.


“Astagfirullah … maafkan kami, Nak Fatwa. Saking senangnya dengan kepulangan Kakak, kami sampai lupa jika masih ada orang di ruangan ini,” kata mama.


Fatwa hanya tersenyum mendengar perkataan mama. “Tidak apa-apa, Bu. Saya juga senang Resti bisa pulang dan berkumpul lagi sama Ibu dan Rayya,” jawab Fatwa.


“Iya, Ma. Kakak juga senang,” timpalku.


“ya sudah, kalau begitu, ayo kita ke ruang makan. Kalian pasti sudah sangat lapar setelah menempuh perjalanan yang cukup lama menyita waktu,” ajak mama.


“Ide bagus tuh, Bu. Kebetulan Fatwa lapar banget, nih!” kata Fatwa.


“huu, dasar … perut karet,” ledekku padanya.


‘Biarin,” jawab Fatwa.


“Ish, Kakak nggak boleh bilang gitu. Bang Fatwa, ‘kan selama ini udah jagain Kakak. Ya, wajar kalau dia kelaperan,” bela Rayya.


“Tau, nih Kakak kamu. Bukannya bilang makasih, malah nggak ngasih aku kesempatan buat isi perut,” adu Fatwa mulai bermanja.


“Iya, Kak. Nggak boleh gitu, ah. Nggak baik! Adik kamu bener, Fatwa tuh sudah baik banget mau jagain kamu siang dan malam,” kata mama.


Haish, mulai deh … mulai … bisa-bisa kege’eran tuh bocah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2