My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Tidak Sedingin yang Kukira


__ADS_3

Tiba-tiba Fatwa memeluk aku begitu erat. Lama ... ya, cukup lama dia memelukku hingga aku merasakan cairan hangat meresap melalui baju dan membasahi pundak.


"Ka-kamu kenapa, Fat?" tanyaku yang merasa bingung melihat sikap Fatwa.


Fatwa melepaskan pelukannya. Dia kembali menatapku tajam. 'Kamu dari mana?" tanyanya. Wajahnya kembali datar dengan nada suara yang begitu dingin.


"Aku dari sana!" Aku menengok ke belakang dan menunjuk semak belukar yang cukup tinggi di belakangku.


"Ish, untuk apa kamu pergi ke sana?" Fatwa kembali bertanya dan mulai meninggikan suaranya.


Aku hanya mengangkat jari kelingkingku sebagai isyarat bahwa aku sudah buang air kecil di balik semak yang cukup rindang itu.


Fatwa terlihat merengut, kesal. "Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" tanyanya.


Mataku seketika membulat sempurna mendengar pertanyaan Fatwa. Hei ... apa maksudnya ini? Apa aku harus membangunkan dia dan meminta dia mengantar aku untuk buang air kecil? Omaygat ... mau ditaruh di mana mukaku yang jelek ini.


"Kenapa emangnya? Kamu mo ngintipin aku, pipis?" gurauku seenaknya.


Pletak!


Tanpa ampun lagi, sentilan telunjuk panjang itu mendarat di keningku.


"Ish, sakit!" rengekku sambil meraba kening yang mulai berdenyut.


"Itu hukuman atas kelancangan kamu berbicara!" ucap Fatwa dengan nada sinisnya


Aku hanya mengerucutkan bibir menirukan kembali kalimatnya.


"Ya sudah, ayo kita kembali ke tempat peristirahatan tadi!" ajak Fatwa.


Aku mengangguk, dan mulai membalikkan badan mengikuti Fatwa. Tapi, saat aku melangkahkan kaki, sepertinya kaki kiriku mulai terasa ngilu. Rasa sakit yang berdenyut mulai aku rasakan.


Melihat aku tak bergerak sama sekali dari tempat itu, Fatwa mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" tanya dia.


"Kaki aku tidak bisa digerakkan," jawabku.


Fatwa kembali menghampiri aku, dia kemudian berjongkok melihat kakiku.


"Apa terkilir?" tanyanya lagi sambil mendongakkan wajahnya.


"Sepertinya, iya," jawabku.


"Ish, kenapa bisa sampai terkilir begini?" Kembali dia bertanya.


"Tadi tersandung akar timbul," jawabku.


"Dasar ceroboh!" gerutunya kesal. "Ya sudah, naik ke punggungku!" perintah Fatwa sambil membalikkan badan dan berjongkok di depanku.


"Ta-tapi," Aku sedikit ragu.

__ADS_1


"Sudah, naik saja. Kamu mau, semalaman berdiri di situ?" ucap Fatwa lagi.


Aku menggelengkan kepala, perlahan aku menjatuhkan tubuhku pada sandaran punggung Fatwa.


"Apa aku berat?" tanyaku saat kami berjalan menuju tempat istirahat.


"Kalau berat, pasti sudah kutinggalkan," jawabnya santai.


Aku tersenyum mendengar gurauan dia.


.


.


.


Tiba di tempat yang tadi, Fatwa menurunkan aku dari gendongannya. "Ulurkan kakimu!" perintahnya.


"Ma-mau ngapain?" tanyaku gugup.


"Sudah, jangan banyak tanya. Ulurkan saja tangan kamu!" Dia kembali memberikan perintah.


Meskipun ragu, tapi aku tetap mengulurkan kakiku yang tadi terkilir tadi


"Apa kamu membawa body lotion?" tanya Fatwa lagi.


Aku mengerutkan kening. "Buat apa?" tanyaku penasaran.


"Sudah, nggak usah banyak tanya. Mana body lotion-nya?" Fatwa menadahkan tangan kanannya.


Seketika aku melihat bola matanya membesar begitu mendengar jawabanku. Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Tentunya aku hanya berani bertanya dalam hatiku sendiri.


"Ish, biasanya, 'kan anak cewek suka membawa alat tempur di dalam tasnya," ucap Fatwa meledek.


"Cewek laen, ya, Fat. Bukan gue!" sanggah ku ketus.


Fatwa tak menjawab lagi, dia hanya memijit kakiku perlahan. Tapi, tiba-tiba...


Krek!


"Aww! Ish, Fat .... sakit bego!" Aku berterkak dan memaki pria dingin itu. Tapi sepertinya, dia tidak merasa terganggu dengan makianku. Dia malah terus asyik mengotak-atik pergelangan kaki kiriku.


Kembali aku meringis. "Gila, lo fat! Lo mo matahin kaki gua?" teriakku padanya.


Fatwa hanya memandangku dengan tatapan elangnya. Seketika nyaliku menciut.


Tak lama kemudian, Fatwa menghentikan pijatanya. "Coba berdiri! ucapnya memerintah.


Aku berdiri. Senyum tipis terukir di bibirku, aku menatap kagum pada pria dingin itu. "Sakitnya berkurang, Fat," ucapku.


Fatwa hanya diam. Dia kembali membenahi ranselnya. Melihat tanggapan dia yang tanpa ekspresi, aku kembali duduk sambil mengerucutkan bibirnya. Kenapa sih, dia selalu berubah cepat. Sudah kek bunglon saja, gerutuku dalam hati.

__ADS_1


Aku menyandarkan punggungku pada batang pohon yang lebar ini. Kedua tanganku menyilang mendekap erat tubuhku. Malam semakin merangkak, udara dingin semakin menusuk kulit. Dan aku menyesali kebodohanku yang hanya memakai kaos lengan panjang saja.


Berkali-kali aku menepuk nyamuk yang mencium pipi, tangan dan kakiku. Ish, benar-benar malam panjang yang sangat menyiksa.


Aku mulai memejamkan mata, mencoba untuk tidak menghiraukan dengungan nyamuk yang terdengar jelas di telinga. Sesekali aku mengibaskan tanganku untuk mengusirnya, walaupun mata masih terpejam.


Beberapa menit kemudian, aku merasakan seperti ada beban di bahuku. Saat aku membuka mata, aku melihat pria dingin itu tengah menyelimuti tubuh bagian depan dengan jaketnya.


"Fat," gumamku pelan.


"Tidurlah!' jawabnya.


"Tapi, jaketnya?" Aku merasa tidak enak saat melihat Fatwa hanya mengenakan kaos saja.


"Aku masih punya sarung, kok," jawabnya.


"Tapi, itu 'kan tipis," sanggahku.


"Aku tidak suka dibantah. Tidurlah!" Kembali pria dingin itu memberikan perintah, dan kali ini dengan nada yang sangat tegas.


Aku mengangguk dan mencoba memejamkan maya kembali.


Malam semakin larut, udara dingin semakin tidak bersahabat, hingga membuat tubuhku menggigil. Gemeletuk gigi mulai terdengar jelas di telinga. Aku berusaha untuk bertahan, tapi, rupanya imunitas tubuhku selalu menolak usahaku. Akhirnya aku pasrah jika malam ini, penyakit hipotermia akan kembali menyerangku.


Ya Tuhan, kuatkan aku ... jangan sampai pria itu tahu tentang penyakit yang aku derita.


.


.


.


Sinar mentari yang menyapa lewat celah-celah daun jati menyilaukan mataku. Aku mulai mengerjap, akan tetapi tubuhku terasa berat untuk digerakkan. Sepertinya ada sesuatu yang mengikat tubuhku.


Sesaat aku terkejut saat merasakan embusan napas hangat menerpa kulit pipiku. Aku mendongak dan mendapati wajah pria dingin berada tepat di depan mataku.


Deg!


Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku menunduk dan melihat kedua tangannya melingkar di area perutku. Ya Tuhan ... apa yang terjadi semalam? batinku yang tanpa sadar menarik tubuhku dari pelukan pria itu.


Merasakan pergerakan dariku, pria itu pun terbangun. Wajah bantalnya menatapku heran. "Kenapa?" tanyanya.


"A-apa yang kamu lakukan semalam? Ke-kenapa aku bisa berada dalam dekapanmu? Apa kau mengambil kesempatan di atas kesempitan aku? tuduhku kepada pria itu.


Pria dingin itu hanya melengos dan mulai membereskan barang-barangnya. Sejurus kemudian, dia mulai mengangkat ransel dan menggendongnya. Setelah itu, dia meninggalkan aku tanpa menjawab pertanyaan.


Tak puas mendapati sikap tak acuhnya seperti itu, aku mendekati dia dan menarik tangannya?


"Apa yang kamu lakukan padaku" teriakku kesal


"Aku hanya mencoba menyelamatkan nyawamu dari hipotermia yang sedang menyerang kamu semalam," ucapnya sambil menepiskan tanganku dan berlalu pergi.

__ADS_1


Aku bergeming mendengar jawaban pria dingin itu. Rupanya, praduga aku selama ini salah. Ternyata, dia tidak sedingin yang aku kira.


Bersambung


__ADS_2