
Seketika kami semua menengok ke arah pintu kamar ketika mendengar suara berat yang berasal dari sana.
"Fatwa," gumamku hampir tak terdengar.
Sementara Kak Lastri tersenyum melihat kedatangan Fatwa. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kak Lastri kepada pria dingin itu.
Fatwa membalas senyum Kak Lastri. "Seperti yang kamu lihat, Las," jawabnya.
Pria dingin itu menghampiri ranjang. "Tolong dipasang lagi infusnya, Sus!" pinta pria dingin itu.
Sang suster tersenyum dan mengangguk mendengar perintahnya.
"Ish, apa-apan lo, Fat. Nggak usah sok ngatur-ngatur hidup gue! Pokoknya gua mo pulang!" ucapku ngegas.
Perawat itu terlihat menatap Fatwa, meminta pendapat. Sedangkan Fatwa hanya menganggukkan kepalanya. Sepertinya begitu yakin sekali jika aku akan menuruti keinginannya.
"Nggak-nggak! Aku nggak mau!" Kembali aku berteriak histeris dan menutup punggung tangan kananku.
Fatwa duduk di tepi ranjang, dia meraih tangan kiriku. "Hei, aku sudah pernah bilang, aku akan selalu menjagamu. Kamu masih percaya ucapanku, 'kan?" tanya pria itu sambil menatap lembut mataku.
Pada akhirnya, aku luluh oleh tatapannya. Aku mengangguk dan membiarkan perawat itu kembali memasang jarum infus di tanganku.
Fatwa melirik ke arah Kak Lastri.
"Las, bisakah kamu menjaganya dulu? Aku ada urusan sebentar ke kantor kepala desa. Aku janji, secepatnya aku akan kembali begitu urusan aku dan Aji selesai di sana," ucap Fatwa.
"Tentu saja, Fat. Pergilah!" jawab Kak Lastri.
"Aku pergi dulu. Tidak usah khawatir, aku pasti kembali," ucap Fatwa.
Aku mengangguk. Ya Tuhan, jantungku berdebar kencang saat dia berbicara selembut itu. Sinar matanya yang dingin, kini mulai memancarkan kelembutan yang sanggup menusuk hatiku. Seperti sebuah panah cinta yang melesat tepat dan bersarang di relung sanubari.
.
.
Waktu terus berlalu. Menjelang asar, teman-teman mulai datang menjenguk. Pun dengan Pak Irawan, guru kesiswaanku. Banyak di antara mereka yang merasa penasaran mengenai kronologi tersesatnya aku dan Fatwa di hutan keramat itu. Dengan terpaksa, aku kembali mengulang-ulang cerita itu.
Temaram mulai menyapa, satu per satu mereka pergi. Kini, tinggal Kak Lastri, Irma dan Tika yang masih berada di ruang rawat.
"Kak Las, Kakak pulang saja, biar malam ini aku sama Tika yang jagain, Chi," ucap Irma.
"Nggak perlu, Ma. Kalian juga istirahatlah, malam ini Fatwa yang akan menjaga Chi," jawab Kak Lastri.
Irma yang sedang menyeruput minuman nya langsung tersedak begitu mendengar ucapan Kak Lastri.
"Heh, apa gue nggak salah dengar?" serunya sambil menatap penuh selidik ke arahku.
Aku hanya memonyongkan bibirku menanggapi rasa terkejutnya Irma.
"Kok, Fatwa sih, Kak?" Tika bertanya heran.
"Ya ... mana kakak tahu," jawab Kak Lastri sambil menggedikan kedua bahunya.
__ADS_1
"Lo ada sesuatu ma Fatwa, Chi?" Begitu bersemangat sekali Irma bertanya. Sepertinya, radar ke-kepoanya mulai menangkap sinyal mencurigakan.
"Apaan, lo? Nggak usah berekspresi kek gitu, kali??" ucapku berusaha menepis prasangka Irma.
"Asli, Chi ... gue mulai kepo nih! Janga-jangan, selama lo tersesat, lo ada maen sama dia ya?"
Aku menarik bantal yang sedang aku tiduri dan melempar wajah pilon si Mrs Bean. "Kurang ajar, lo! Lo pikir gua cewek apaan?" sungutku tak terima dengan tuduhan Irma yang tanpa alasan.
"Ya, kali ..." ucap Irma cengengesan.
"Is sialan!" Aku kembali mengambil bantal kedua dan melemparkannya ke arah Irma yang mulai berlari.
Blugh!
"Ups!"
Akhirnya bantal putih itu mendarat cantik di wajah pria dingin yang baru saja membuka pintu ruang rawat. Aku mendengar Fatwa berteriak, seketika tubuhku terasa lemas. Nyaliku menciut ketika kembali mendapati tatapan tak sukanya.
"Kamu tinggal di sini untuk beristirahat, bukan untuk bermain lempar bantal seperti ini!" dengusnya kesal. Dengan membawa bantal di tangan kanannya, dia mendekati kami.
"Eh, kamu sudah datang, Fat," ucap Kak Lastri berbasa-basi.
"Maaf, terlambat! Tadi, pembicaraannya berjalan cukup alot," kata Fatwa.
"Iya nggak pa-pa. Kamu jadi, nginep di sini?" tanya Kak Lastri lagi.
"Jadi, Las. Ya sudah, sebaiknya sekarang kalian pulang saja. Sebentar lagi magrib, biar aku yang menjaga teman kalian di sini. Aku sudah izin ke Pak irawan sama pihak Puskesmas juga, kok," ucap Fatwa.
Ketiga temanku tersenyum penuh misteri. Mereka akhirnya pamit padaku dan pergi meninggalkanku dengan pria dingin itu.
.
.
Selepas solat magrib, seorang perawat datang ke kamar dengan membawakan nampan berisi kotak makan.
"A, ini buat makan malamnya. Dokter bilang, kalau ingin segera pulih, makannya harus dihabiskan," ucap perawat itu kepada Fatwa.
Dalam hati aku menggerutu kesal. Memangnya aku anak kecil? Sampe harus diwanti-wanti kek, gitu.
"Ah, iya. Terima kasih, Sus," ucap Fatwa.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu!" pamit perawat tersebut.
Aku lihat Fatwa mengangguk. Selepas perawat itu pergi, dia duduk di tepi ranjang. "Mau makan sekarang?" tawarnya.
Aku menggelengkan kepala. Entah kenapa perutku terasa mual, dan rasanya aku tidak akan sanggup untuk menerima makanan saat ini.
"Bagaimana bisa cepat sembuh kalau perutmu tidak terisi," ucapnya lagi.
"Enek, Fat. Rasanya perutku mual," elakku.
"Dipaksakan dong! Biar ada nutrisi yang masuk," ucap Fatwa.
__ADS_1
"Tapi Fat ...."
"Sudah, sini aku suapi. Aaa ..." ucapnya sambil menyodorkan sendok berisi nasi di depan mulutku.
Akhirnya, mau tak mau, aku membuka mulut dan mulai melahap makanan itu. Meskipun susah, tapi aku berusaha untuk mengunyah dan menelannya. Setelah perutku mulai tak tahan menahan gejolaknya, aku mulai meminta Fatwa untuk berhenti menyuapiku.
Fatwa menurut. Dia mengambil air minum dan menyerahkannya padaku. Setelah itu dia mengembalikan piringnya ke atas nampan.
"Kau mau tidur sekarang?" tanyanya.
"Aku belum ngantuk," jawabku.
"Baiklah, aku akan menyelesaikan tugas makalah kita," ucapnya lagi.
Aku mengangguk dan membiarkan Fatwa duduk di sofa untuk membuat makalah.
.
.
Waktu terus berlalu. Malam semakin kelam, tapi mataku tak mampu terpejam. Pikiran-pikiran negatif tentang mistis desa ini, kembali menari-nari dalam benakku. Hingga tanpa sadar aku beringsut dan bersandar pada sandaran ranjang. Aku menekuk kedua lututku.
Fatwa melirik ke arahku. Dia kemudian melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 10 mlm. Akhirnya dia mendekati aku.
"Kau tidak bisa tidur?" tanyanya.
Aku mengangguk dan menatapnya.
"Mau aku bacakan dongeng?"
"Ish, memangnya gue anak kecil," jawabku, ketus.
Fatwa tersenyum. "Bisa main halma?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk.
"Kalau begitu, ayo kita main halma!" ajak Fatwa.
Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari permainan itu, tapi aku tidak menemukan apa pun di atas meja selain tumpukan kertas milik Fatwa.
Sepertinya, Fatwa mengerti maksudku. "Sebentar!" ucapnya sambil berjalan menuju pintu.
"Ish, Fat. Lo mau ke mana?" tanyaku gusar melihat dia hendak meninggalkan aku di kamar ini sendirian.
"Tunggu sebentar!" Dia pun berteriak menjawab pertanyaanku.
Beberapa menit kemudian, Fatwa membawa kerikil kecil dan pecahan genteng. Dia kemudian menggambar pola permainan halma di atas sebuah kertas HVS kosong, dan menyusun kedua benda padat berbeda jenis tersebut.
"Aku genteng, kamu kerikil," ucapnya.
Aku mengangguk. Sejurus kemudian, kami memainkan permainan waktu kecil itu hingga berulang-ulang. Tanpa sadar, aku mulai menguap karena terlalu lelah bermain.
Fatwa membereskan halma buatan itu.
__ADS_1
"Tidurlah! Aku akan menemani kamu di kursi ini."
Bersambung