
“Apa?!” pekikku tertahan.
Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan Zein. Seketika, kepalaku terasa berat mendengar kabar barusan. Terlihat jika Zein menganggukan kepalanya.
“Iya, Kakak. Citra hamil. Dan sampai saat ini, dia tidak pernah mau cerita siapa ayah dari bayi yang sedang dikandungnya,” jawab Zein.
Huh, sudah pasti jika ayahnya adalah si pria bejat itu, kataku dalam hati. Sejenak, aku menatap Zein. Entah kenapa pemuda ini sepertinya tahu banyak tentang Citra.
“Dari mana kamu tahu tentang kabar ini, Zein? Mungkin saja ini hanya gosip murahan yang disebar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bukankah kita sendiri tahu bagaimana sikap Citra yang sebenarnya?” tanyaku kepada Zein.
Aku masih mencoba menyangkal kenyataan yang ada. Ah entahlah … aku sendiri terkadang masih tidak percaya akan perselingkuhan mereka. Perselingkuhan yang begitu rapi, sampai-sampai Zein –orang yang selama ini aku pikir paling dekat dengan Citra– tidak mengetahui apa-apa. Huh, rupanya gadis itu begitu banyak menyimpan misteri.
“Itu bukan gosip, Kakak. Karena, dua hari yang lalu, aku sendiri yang membawa Citra ke rumah sakit,” jawab Zein.
“Maksud kamu, Citra sakit?” tanyaku.
“Citra hen-“
“Permisi Mas, ini dua ice cappucino yang tadi Mas pesan.”
Omongan Zein terputus saat pelayan datang untuk menyajikan pesanan kami.
“Terima kasih, Mas,” ucapku pada pelayan itu.
“Sama-sama, Kak. Selamat menikmati,” balas pelayan itu sebelum akhirnya dia pergi dari meja kami.
“Citra kenapa, Zein?” tanyaku seraya mengaduk minumanku dan mereguknya.
“Citra hendak bunuh diri,” tutur Zein.
“Uhuk…!” Seketika aku tersedak mendengar penuturan Zein. Ish, apa Citra sudah gila? Kenapa dia melakukan hal itu?
“Pelan-pelan dong, Kak. Tersedak, ‘kan, jadinya?” tukas Zein.
“Maaf, aku hanya kaget saja mendengar penuturan kamu. Apa maksud kamu Citra hendak bunuh diri? Jangan bercanda kamu, ah!” Aku mencoba menyangkal ucapan Zein.
“Aku serius, Kak. Mana ada aku becanda sama Kakak. Dua hari yang lalu, Citra mencoba melenyapkan nyawanya dengan cara menelan butiran pil tidur. Untungnya, pembantu Citra mengingatku dan menghubungi aku. Saat itu, aku yang membawa dia ke rumah sakit. Alahamdulillah, nyawanya masih bisa diselamatkan. Dari dokter yang berhasil menolongnya-lah aku mengetahui jika Citra tengah berbadan dua,” papar Zein.
“Ish, tapi kenapa dia bisa sampai melakukan hal itu. Kenapa Citra gelap mata dan sampai nekat bunuh diri?” tanyaku masih tak percaya dengan apa yang Zein paparkan.
__ADS_1
“Dugaan sementara, mungkin kekasihnya Citra tidak ingin bertanggung jawab," jawab Zein.
“Apa kamu tahu siapa kekasihnya, Zein?” tanyaku.
“Ish, Kakak … kalau aku tahu, aku tak akan pernah menanyakan hal yang sama kepada Kakak,” gerutu Zein, terlihat kesal.
“Hhh…” Aku menghela napas dengan sangat kasar. Haruskah aku menceritakan semuanya kepada Zein? Tapi, bagaimana jika Zein justru malah tidak bersimpati pada Citra setelah dia mengetahui semua kebenarannya? Ah, tidak … bagaimanapun juga, ini adalah aibnya dia. Biar Tuhan saja yang mengatakan semua kebenaran ini kepada Zein, tentunya dengan cara-Nya sendiri.
“Lalu, bagaimana keadaan Citra sekarang?” tamyaku.
“Masih belum ada perubahan, Kak. Dia masih diam tanpa mau berbicara apa pun denganku atau bahkan dengan pembatunya yang menjaga dia di rumah sakit,” jawab Zein.
Aku menyandarkan punggungku. Sungguh malang nasib Citra. Tapi, aku tidak habis pikir. Apa sebenarnya alasan dia berbuat nekat seperti itu? Aku yakin bayi yang dikandungnya adalah hasil perbuatan dia dengan mas Yudhis. Tapi, kenapa Citra nekat mengakhiri hidupnya? Apa hanya karena ayah si jabang bayi di penjara? Atau ada alasan lainnya. Huh, kalau sudah begini, entahlah apa aku harus merasa kasihan atau justru senang mendengar nasib Citra.
“Kak Chi, apa Kakak tidak ingin menengok Citra?” tanya Zein.
Pertanyaan Zein sungguh membuat aku seperti tersengat listrik. Menengoknya? Haruskah aku menengok orang yang sudah menghancurkan kebahagiaanku sendiri?
“Ish, kok Kakak malah ngelamun lagi?” ucap Zein.
“Sori Zein, mungkin karena Kakak lagi banyak pikiran juga. Jadinya Kakak nggak bisa fokus,” elakku.
“Oh iya. Maafkan aku ya, Kak. Seharusnya aku tidak perlu membebani pikiran Kakak tentang Citra. Kakak sendiri sedang punya masalah dengan mas Yudhis. Kalau boleh tahu, kenapa sih, mas Yudhis tega menculik Kakak seperti itu? Memangnya kalian bertengkar hebat, ya? Nggak baik, loh, Kak … menyimpan sebuah masalah dalam membina hubungan. Apalagi, sebentar lagi kalian akan menikah, ‘kan?” ujar Zein.
“Hahaha, sudahlah … kenapa juga jadi bahas aku?” tawaku, mencoba menutupi semua kejadian yang menimpa aku, Citra dan Mas Yudhis.
“Hehehe, benar juga. Maaf, karena sudah penasaran tentang Kakak,” kekeh Zein.
“Iya, nggak pa-pa,” jawabku.
Zein terlihat melirik jam tangannya. “Kak, sepertinya ini sudah sore. Sebaiknya kita pulang,” kata Zein.
Aku pun ikut-ikutan melirik jam mungil yang melingkar di pergelangan tanganku. Apa yang dikatakan Zein memang benar. Bahkan sebentar lagi waktu asar tiba. “Ya sudah, yuk!”
“Kalau Kakak punya waktu senggang dan berniat menjenguk Citra, dia berada di rumah sakit Medica Centre, Ruang Kenanga kamar No 101,” lanjut Zein.
Aku hanya bisa diam tak ingin membalas ucapan Zein.
.
__ADS_1
.
Dua hari kemudian.
“Bu Res, ada tamu yang menunggu Bu Res di kantor, ” ucap Pak Dani, guru bidang PJOK.
“Siapa?” tanyaku kepada Pak Dani.
“Entahlah, sepertinya baru kali ini dia datang kemari,” jawab Pak Dani.
“Apa mungkin dia wali murid?” tanyaku lagi.
“Hmm, mungkin saja,” kata Pak Dani.
“Baiklah, tunggu sebentar!” pintaku pada Pak Dani.
Pak Dani mengangguk. Sejurus kemudian, dia pergi dari kelasku.
Aku melirik jam dinding, 5 menit lagi jam waktu pulang. Hmm, sebaiknya aku menyelesaikan dulu pekerjaanku. Biarlah tamu itu sedikit menunggu, agar nanti kami leluasa untuk berbicara, pikirku.
“Baiklah, anak-anak. Silakan bereskan buku kalian, sebentar lagi bel pulang berbunyi,” perintahku kepada para siswa.
Semua siswa kelas 2 tampak gembira. Mereka pun ribut untuk membereskan peralatan sekolahnya masing-masing. Kegiatan mereka selesai bertepatan dengan bel pulang berbunyi. Akhirnya setelah melakukan do’a menyudahi kegiatan belajar, para siswa itu pulang satu per satu.
Setelah kelas kosong, aku segera pergi ke kantor untuk menemui tamuku. Tiba di sana, dahiku sedikit berkerut saat menyadari aku sama sekali tidak mengenal kedua tamu itu. Namun, entah kenapa, sepertinya wajah mereka sudah tidak asing lagi bagiku. Aku pun memberanikan diri untuk mendekati mereka di kursi tamu.
“Mohon maaf menunggu lama!” ucapku seraya menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“Tidak apa-apa, Bu Res. Kami yang seharusnya meminta maaf karena sudah lancang mengganggu aktivitas Anda,” ujar tamu laki-laki.
Kalau aku lihat-lihat sih, mereka mungkin saja pasangan suami istri yang kira-kira umurnya nggak jauh beda sama aku.
“Tidak apa-apa, lagi pula, saya sudah senggang, kok. Mohon maaf, kalau boleh tahu, Bapak sama Ibu ini siapa, ya? Apa aku mengenal kalian?” tanyaku yang mulai digelitiki oleh pertanyaan yang sedari tadi bergentayangan dalam memori otakku.
"Perkenalkan, nama saya Andre, dan ini istri saya, Sekar. kami keluarganya Citra, tepatnya istri saya ini adalah kakak kandung dari Citra,” jawab pria yang bernama Andre itu.
Brugh!
Tiba-tiba wanita yang diakui sebagai istrinya, menjatuhkan diri di hadapanku. Dia memegang kedua kakiku.
__ADS_1
“Saya mohon, tolong selamatkan hidup adik saya!”
Bersambung