My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Pemakaman


__ADS_3

Aku dan Mbak Sekar hanya saling pandang saat mendengar teriakan Mas Andre dari dalam rumah.


“Ada apa ini, Kak?” bisik Rayya di telingaku.


Aku menggelengkan kepala pertanda jika aku tidak tahu apa-apa.


“Aku mohon, kita kesampingkan dulu semua permasalahan di antara kita. Aku datang, murni hanya untuk mengucapkan turut berdukacita atas kepergian Citra," ucap suara seorang ibu-ibu.


Hmm, sepertinya suara itu tidak asing lagi di telingaku. Seketika aku beranjak dan pergi ke depan untuk melihat apa yang terjadi di sana.


Deg!


Aku terkejut melihat Tante Amara sedang berdiri di hadapan Mas Andre yang tengah berkacak pinggang.


“Kami tidak butuh belasungkawa dari keluarga macam kalian. Apa kalian tidak sadar, hah! Kematian adikku itu karena ulah anakmu, Nyonya,” tukas Mas Andre penuh ketegasan.


Seketika Tante Amara terlihat diam. Ya, tidak bisa dipungkiri jika anaknya memang memiliki andil dalam kepergian Citra. Tapi, Tante Amara juga tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini. Beliau sudah berusaha untuk membujuk mas Yudhis agar mau menikahi Citra. Beliau juga sudah menerima Citra sebagai calon menantunya. Jika memang mas Yudhis berubah pikiran, itu murni kesalahan mas Yudhis sendiri, bukan Tante Amara.


"Aku tidak akan membiarkan kalian menginjakkan kaki di rumahku ini! Sekarang juga, pergi dari sini, atau aku akan memanggil polisi untuk menangkap kalian!” ucap Mas Andre.


“Kau tidak bisa melibatkan polisi dalam hal ini. Pada kenyataannya aku hanya ingin mengucapkan turut berdukacita,” tutur Tante Amara.


“Siapa bilang aku tidak bisa melibatkan polisi, aku bisa saja memasukkan kamu ke penjara hanya dengan tuduhan mengganggu keamanan hidup seseorang,” tukas Mas Andre.


Aku mendekati Tante Amara untuk membujuknya. “Aku mohon Tante, mengalahlah untuk saat ini. Kasihan Citra jika kalian bersitegang terus,” bujukku kepada Tante Amara.


“Tapi Nak Chi, Tante hanya ingin melihat Citra untuk yang terakhir kalinya. Tante tahu, anak Tante memang bersalah. Tapi, Tante sama sekali tidak terlibat dalam hilangnya Yudhis. Tante sendiri sedang berupaya untuk mencari Yudhis dengan bantuan orang-orang kepercayaan keluarga Tante,” tutur Tante Amara.


“Iya Tan, Chi paham keadaan Tante. Tapi tolong, Tante juga pahami keadaan mereka. Citra nekat mengakhiri hidupnya karena mas Yudhis. Tentunya keluarga Citra tidak akan serta merta menerima kehadiran keluarga mas Yudhis di rumahnya. Chi mohon, mengalahlah demi kebaikan kita bersama.” Aku kembali membujuk Tante Amara.

__ADS_1


“Baiklah, jika menurutmu itu memang lebih baik. Ya sudah, Tante pulang dulu,” ucap Tante Amara, menyerah.


Aku tersenyum. “Terima kasih, Tan,” ucapku.


“Sama-sama, Sayang. Apa sih yang tidak buat kamu, Chi. Mungkin kamu tidak akan pernah menjadi menantu Tante, tapi kamu akan selalu menjadi putri Tante,” jawab Tante Amara.


Aku merasa terharu mendengarnya. Setelah berhasil membujuk Tante Amara untuk pulang, akhirnya aku kembali ke dalam untuk melanjutkan pengajian.


“Bagaimana, Pak? Apa masih ada lagi orang yang ditunggu untuk melihat jenazah yang terakhir kalinya?” tanya bapak ustadz setempat.


“Saya rasa sudah tidak ada lagi, Pak Ustadz,” jawab Mas Andre.


“Baiklah. Bagaimana kalau kita makamkan jenazah almarhumah sekarang,” ucap Pak Ustadz.


“Iya, Pak. Bagaimana baiknya menurut Bapak saja.” Mas Andre menyerahkan urusan pemakaman Citra kepada ustadz yang masih terbilang muda.


Sejurus kemudian, Pak Ustadz menyuruh beberapa orang lelaki untuk memindahkan jenazah Citra ke dalam keranda. Setelah itu keempat lelaki itu mengusung keranda menuju masjid komplek.


Setelah berjalan sekitar 10 menit, jenazah tiba di masjid komplek. Para pelayat mulai melakukan shalat gaib. Sedangkan sebagian lagi lebih memilih menunggu di luar, sebelum akhirnya nanti mereka akan mengantar Citra ke tempat peristirahatannya yang terakhir.


Selama kurang lebih setengah jam, jenazah Citra berada di masjid. Tujuannya hanya satu, pihak keluarga masih memberikan kesempatan kepada masyarakat, ataupun teman-teman Citra untuk melakukan Shalat gaib. Setelah 30 menit berlalu, akhirnya keempat lelaki tadi, kembali mengangkat dan mengusung keranda yang berisikan jasad Citra untuk segera dikebumikan.


Gema shalawat mengiringi perjalanan Citra menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Setelah melewati 25 menit berjalan kaki, akhirnya kami tiba di tempat pemakaman keluarga. Liang lahat telah mereka gali, dan itu tepat berada di samping makam sang ibu. Akhirnya, di bawah pimpinan Ustadz Abdul Qadir, proses pemakaman Citra pun dimulai.


Jenazah Citra mulai dimasukkan ke dalam kubur. Setelah itu, seseorang membuka tali yang mengikat bagian kaki dan kepala jenazah agar bisa menyentuh tanah. Kemudian seorang mu'azzin masjid komplek mengadzani jenazah. Selesai diadzani, jenazah lalu ditutup dengan menggunakan kayu yang diletakkan secara menyamping. Baru kemudian para penggali kubur menutup kembali liang lahat tersebut. Setelah semua proses dilakukan, Ustadz Abdul Qadir memimpin do’a untuk jenazah.


Proses pemakaman berlangsung selama kurang lebih satu jam. Setelah semuanya selesai, satu per satu para pengantar jenazah kembali pulang.


“Ayo kita pulang, Nak!” ajak mama padaku.

__ADS_1


“Sebentar lagi, Ma,” pintaku kepada mama.


“Baiklah. Mama dan Rayya akan menunggu kamu di bawah pohon itu,” tunjuk mama kepada sebuah pohon yang cukup rindang, “di sini panas,” lanjut mama.


Sejenak, aku menata pohon itu, kemudian menganggukan kepala. “Iya, terserah Mama saja,” jawabku.


Mama lalu mengajak Rayya pergi, dan meninggalkan aku yang masih terpaku di samping kuburan Citra. Aku mengelus nisan yang masih terbuat dari kayu. Sungguh, sampai detik ini, aku masih tidak percaya jika Citra telah pergi untuk selamanya. Mengawali masuk kuliah dan berjalan bersama selama kurang lebih tiga tahun lamanya, tentu sudah banyak kenangan yang telah kami ukir bersama. Dan itu bukanlah hal mudah untuk dilupakan meski pada akhirnya kami sempat tidak pernah bertegur sapa.


Citra yang supel, Citra yang mudah bergaul, Citra yang senang bercanda, Citra yang selalu membuat cerita-cerita lucu untuk menghibur temannya yang dirundung duka ataupun masalah, Citra yang selalu merecoki tugasku, hmmm, kini Citra seperti itu tidak akan pernah aku temui lagi. Semuanya hilang dalam sekejap.


“Kakak berjanji, Cit. setelah kepergian kamu, hanya akan ada kebaikan yang akan Kakak kenang dari kamu,” ucapku seraya mengecup nisan kayu yang bertuliskan nama sahabatku itu.


Puas menangis di hadapan pusara Citra, aku pun mulai bangkit untuk segera pergi dari sana. Aku mendekati mama dan Rayya yang masih setia menunggu aku di bawah pohon beringin yang cukup rindang.


“Kita pulang sekarang?” tanya mama padaku.


Aku mengangguk, seraya mendaratkan bokong pada sebuah bangku yang berada tepat di bawah pohon beringin itu.


“Oke! kalau gitu, Rayya pesan taksi online-nya dulu," sahut Rayya.


Kembali aku mengangguk. Sejurus kemudian, Rayya mulai mengeluarkan ponsel dan mencari taksi online pada sebuah aplikasi jasa angkutan umum.


“Nggak pa-pa nunggu 10 menitan, ya? Soalnya mobilnya jauh juga," kata Rayya.


Aku pun mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rayya.


“Dicancel saja, Ray. Biar aku antar pulang.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2