My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Benarkah Aku Cemburu?


__ADS_3

Fatwa mengerjapkan matanya. Seperti biasa, mimpi tentang Anna, selalu terasa nyata.


"Astaghfirullahaladzim!" Fatwa mengusap wajahnya. Setelah itu, dia pergi untuk mengambil air wudhu. Dengan berwudhu, Fatwa selalu merasakan ketenangan batin. Selesai berwudhu, dia kembali melangkahkan kakinya menuju kelas. sebentar lagi, jam istirahatnya akan segera berakhir.


.


.


Hari ini kegiatan observasi ke desa Parentas dimulai. Fatwa tidak menyangka jika beberapa hari yang lalu, gadis itu berdiri sebagai peserta dalam kegiatan observasi dan penyuluhan ke desa terpencil yang diselenggarakan oleh sekolahnya. Melihat hal itu, Fatwa segera mendaftarkan diri untuk ambil bagian dari kegiatan ini.


"Pesertanya cukup banyak juga ya, Ma?" ucap Fatwa mendekati Irma.


"He-emh, Fat. Gua rasa, bakalan seru entar kegiatan di sana," jawab Irma.


"Ngomong-ngomong, berapa orang yang ikut dari kelas kamu?" tanya Fatwa.


Bukan tanpa tujuan Fatwa bertanya seperti itu kepada Irma. Pasalnya, sedari tadi Fatwa belum melihat keberadaan gadis itu di dalam kumpulan anak-anak yang hendak berangkat ke desa Parentas.


"Ada banyak sih ... gue, Kak Lastri, si Chi, Awal, Devi..."


Irma menyebutkan nama temannya satu per satu. Namun, fokus Fatwa hilang dalam sekejap saat melihat gadis itu setengah berlari menghampiri kawannya.


Singkat cerita, setelah semuanya berkumpul. Kami pun segera berangkat menuju tempat tujuan.


.


.


Di tengah perjalanan, Fatwa melihat keempat sekawan itu berjalan di urutan paling belakang. Ingin rasanya dia mendekat dan membantu barang bawaan mereka. Namun, tugasnya untuk membantu Aji mengkoordinir perjalanan, memaksa dia harus berjalan di barisan awal.


Satu per satu, para peserta mulai berdatangan. Tapi keempat sekawan itu tak kunjung muncul. Rasa cemas mulai menghinggapi dirinya. Hingga Aji menghampiri Fatwa.


"Fat, tolong kamu cek rumah pak karyo!" perintah Aji kepada Fatwa.

__ADS_1


"Pak Karyo?" Fatwa bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Iya, rumah yang akan kita tempati selama observasi," jawab Aji.


"Tapi, gue lagi nungguin peserta yang belum datang, Ji," ucap Fatwa.


"Biar gue aja yang jaga di sini," tukas Aji.


Dengan berat hati, Fatwa melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Berbekal secarik kertas yang diberikan Aji, Fatwa mulai berkeliling mencari alamat rumah pak Karyo.


Setelah bertanya ke beberapa orang, akhirnya rumah yang dicari ketemu juga. Fatwa berkunjung untuk bersilaturahmi dan mengutarakan maksudnya. Alhamdulillah, penerimaan sang tuan rumah begitu baik. Akhirnya Fatwa berpamitan dan segera kembali ke lapang untuk menemui Aji. Dia hendak memberitahukan jika dia telah berhasil menemukan rumah pak Karyo.


"Ayo Ji, aku sudah menemukan rumahnya!" ucap Fatwa. Sejenak dia tertegun melihat gadis itu sudah berdiri di samping Aji.


"Di mana kamu menemukan rumah pak Karyo, Fat?" tanya Aji.


"Tak jauh dari tempat ini. Mungkin hanya sekitar 100 m," jawab Fatwa.


"Ya sudah, ayo kita pergi ke sana, biar bisa cepet istirahat juga. Kaki gue pegel nih," timpal Irma.


Beruntungnya Aji menyuruh Fatwa untuk menjadi penunjuk jalan. Jika tidak, mungkin Fatwa bisa mati kutu harus berhadapan dengan gadis itu. Tak sanggup menahan gejolak di hatinya, Fatwa segera memutus pandangan dan berlalu pergi begitu saja. Senyum tipis kembali mengembang saat dia mendengar geeutuan sang gadis.


.


.


Keesokan harinya, acara penyuluhan kepada warga dimulai. Untuk hari pertama, Fatwa berbagi tugas dengan Irma. Meskipun agak kecewa, tapi Fatwa tak mampu mengelak dari tanggung jawabnya.


Satu per satu, mereka mengunjungi rumah-rumah untuk melakukan penyuluhan tentang pentingnya yodium bagi kesehatan tubuh kepada warga setempat. Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, rumah terakhir telah selesai mereka kunjungi. Menjelang asar, Fatwa dan Irma kembali ke rumah pak Karyo.


Tiba di rumah pak Karyo, semua orang tampak berkumpul di samping rumah. Mereka bercengkerama sambil melepaskan lelah karena telah melaksanakan tugas. Fatwa mulai mengedarkan pandangannya mencari gadis itu. Namun, nihil.


Baik Asep ataupun gadis itu, sama sekali tak kelihatan batang hidungnya. Hmm, mungkin mereka belum kembali, batin Fatwa. Dengan perasaan kesal, Fatwa berpamitan hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


.


.


Matahari mulai tenggelam, tapi orang yang ditunggunya belum juga datang. Fatwa melirik jam tangannya, sebentar lagi magrib.


"Huff! Ke mana perginya mereka?" dengus Fatwa kesal. Mengingat malam ini akan diadakan pengajian yang diselenggarakan oleh IREMA, Fatwa segera pergi menuju masjid yang berada tak jauh dari balai desa.


Saat dia melintasi pematang sawah, tanpa sengaja Fatwa melihat gadis itu tengah asyik mengobrol dengan teman satu timnya. Rasa kecewa mulai terselip di relung hatinya.


"Aku menunggu dan mencemaskan keadaanmu, tapi kamu malah asyik bercengkerama dengan seorang pria. Huh, menyebalkan sekali!" umpat Fatwa, pelan.


Melihat kejadian yang membuat dirinya kesal, entah kenapa Fatwa merasa tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan perjalanannya. Namun, pesan pak Irawan agar selalu menjaga nama baik IREMA dan bertanggung jawab, membuat Fatwa dengan terpaksa kembali melangkahkan kaki menuju masjid.


Beberapa menit telah berlalu, kumandang azan magrib mulai terdengar. Fatwa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan gadis itu. Namun, masih tetap tidak terlihat. Bahkan di detik saat pengajian ditutup pun, gadis itu masih tidak nampak. Akhirnya, rasa kecewa pun semakin menebal di dalam hati Fatwa.


Tiba di rumah, Fatwa melihat Asep tengah duduk di ruang tivi. Tapi, bayangan gadis itu masih tidak kelihatan. Ingin rasanya Fatwa bertanya kepada Asep. Namun, rasa gengsi masih bersarang di hati, hingga Fatwa mengurungkan niatnya.


.


.


Sudah menjadi kebiasaan seorang Fatwa Imammuddin, terbangun di tengah malam. Dia kemudian menunaikan salat tahajud, setelah itu membuka Al-Quran dan mengaji. Hampir 15 menit Fatwa melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, tiba-tiba Fatwa mendengar pintu kamar terbuka.


Fatwa mendongak, dan mendapati gadis itu keluar dari kamarnya tanpa mengenakan kerudung. Degup jantungnya semakin kencang saat melihat paras cantik dengan rambut kemerahan panjang tergerai. Tak ingin menjadi salah tingkah, akhirnya Fatwa menundukkan pandangannya dan mencoba kembali fokus pada ayat-ayat suci Al-Quran yang tengah dia baca.


Tak berapa lama, gadis itu kembali melintas di hadapannya. Fatwa berusaha untuk tidak menghiraukan keberadaan dia. Entah kenapa, tiba-tiba saja hatinya merasa kesal mengingat kebersamaan gadis itu dengan Asep di pematang sawah.


'Ish, kenapa dia bisa bersikap seluwes itu kepada orang lain. Dan sepertinya aku lihat, setiap laki-laki yang ada di sekolah sangat mengenal baik gadis itu, huh!' batin Fatwa, kesal.


Fatwa menutup Al-Quran, dia kemudian bersandar pada tepi sofa. Sejenak, Fatwa memejamkan matanya. Tangan dingin dan halus kembali menyentuh pipinya. Fatwa tersenyum.


"Perasaan apa ini, An? Kenapa aku bisa se-kesal ini saat melihat dia dengan laki-laki lain? Benarkah aku cemburu padanya?" ucap Fatwa mengecup lembut tangan yang semakin membeku itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2