
Malam semakin larut. Berkali-kali aku melihat laki-laki itu menguap. Hmm … mungkin karena dia terlalu lelah menjagaku. Akhirnya aku putuskan untuk menghentikan permainan kami.
“Apa kamu ngantuk, Fat?” tanyaku.
“Tidak,” jawab Fatwa berusaha untuk mengelak.
Aku menyerahkan ponsel miliknya. “Tapi Res ngantuk,” ucapku seraya mengambil ancang-ancang untuk tidur.
Fatwa menerima ponsel itu. Sejurus kemudian, dia bangkit dan turun dari ranjang. “Ya sudah, tidurlah!” kata Fatwa seraya membetulkan selimutku hingga ke dada.
Aku mengangguk, kemudian memejamkan mata. Tak lama berselang, aku merasakan sebuah sentuhann hangat di keningku.
“Tidurlah Res, aku akan menjagamu di sini,” bisik lembut Fatwa di telingaku.
Gelanyar aneh mulai menjalari hatiku. Rasanya, sekujur tubuhku seolah menghangat seketika. Ya Tuhan, apa aku masih memiliki perasaan ini untuk laki-laki itu. Perasaan yang sulit untuk dimengerti oleh akal sehatku.
Tak ingin larut dalam rasa yang tidak aku pahami, aku semakin memejamkan mata dan berharap kantuk menyerang secara tiba-tiba. Aku tidak ingin laki-laki itu menyadari sikap salah tingkahku malam ini.
.
.
Pagi mulai menyapa. Aku terbangun saat mendengar cuitan burung kecil di samping jendela kamarku. Mataku terasa berat. Entah jam berapa aku tertidur, yang jelas saat aku mendengar azan awal, mataku mulai terasa berat. Kuedarkan pandangan di sekitar ruangan. Dahiku sedikit berkerut saat tidak aku dapati laki-laki itu di ruangan ini. Aku lihat jam yang menempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Tapi, ke mana Fatwa?
“Permisi, assalamu’alaikum!” sapa seorang perawat perempuan yang bertugas di pagi ini. “Maaf menggangu sebentar ya, Mbak. Saya periksa dulu,” ucapnya.
Aku mengangguk dan membiarkan perawat itu memeriksa seluruh bagian yang memang harus dia periksa.
“Bagaimana keadaan saya , Sus?” tanyaku pada perawat itu.
“Alhamdulillah, kondisi Mbak sudah stabil. Tekanan darahnya juga bagus,” jawab perawat itu.
“Apa itu artinya, saya sudah bisa pulang?” tanyaku lagi.
“Hmm, nanti ya, Mbak. Kita tunggu dulu kunjungan dokter," jawab perawat itu.
Aku hanya tersenyum menaggapi jawaban perawat itu. “Kira-kira, kapan jadwal kunjungan dokternya, Sus?” tanyaku lagi. Hehehe … semoga saja perawat itu tidak merasa bosan untuk menjawab pertanyaanku.
“Jadwalnya sih jam 10 pagi. Tapi, berhubung dokternya baru pulang seminar dari Bandung, saya belum bisa memastikan jam berapa dokter akan datang,” jawab perawat itu lagi.
__ADS_1
Aku Kembali tersenyum. Ish, sepertinya akan banyak memakan waktu untuk menunggu ini mah judulnya, batinku. “Oh iya, Sus. Apa Suster melihat teman saya?” tanyaku.
“Oh, pemuda tampan itu ya, Mbak? Itu temannya, toh? Waah, saya pikir itu suami Mbak, abisnya perhatian banget sama Mbak,” jawab perawat itu.
Eits, nih orang kenapa sih? Aku nanya ke mana, dia jawabnya ke mana pula. Aku hanya bisa tersenyum mesem mendengar ocehan perawat itu tentang Fatwa.
“Iya, Sus. Dia hanya teman saya, kenapa? Suster naksir dia, ya?” todongku pada perawat itu.
“Ih, Mbak kok, tahu aja sih. Boleh tuh kalau dia masih single. Kebetulan saya sudah lama menjanda, Mbak. Rasanya udah nggak kuat pen cicipin lagi terong panjang," seloroh tuh perawat,
“Uhuk…uhuk…!” Entah tersedak apa aku mendengar omongan tuh perawat. Ya Tuhan …jendes dah berat di bawah tuh, hehehe, batinku.
“Iya, nanti saya sampaikan, Sus. Tapi, ngomong-ngomong dia ke mana ya?” aku Kembali bertanya.
“Tadi sih, dia bilang ada urusan dulu di luar. Kalau tidak salah, dia pergi ke kantor polisi untuk menjadi saksi atas penculikan Mbak,” jawab perawat itu.
Astagfirullah … sepertinya semua orang tahu tentang kasus penculikan yang menimpa aku beberapa hari yang lalu.
“Oh, begitu ya?” gumamku.
Saat kami sedang berbincanng, tiba-tiba perawat yang bertugas untuk mengantarkan makanan tiba di kamarku.
“Disimpan saja dulu, Sus. Saya belum lapar,” jawabku.
Perawat itu tersenyum, setelah itu dia pun keluar untuk mengantarkan makanan kepada pasien yang lainnya.
“Ya sudah, Mbak … saya permisi dulu ya? Kalau Mbak perlu sesuatu, Mbak bisa menekan tombol nurse emergency yang berada di sini!” kata pearawat itu seraya menunjukkan tombol berwarna merah yang ada di tepi ranjang.
Aku mengangguk. “Terima kasih, Sus.”
“Sama-sama,” kata Perawat itu seraya membereskan peralatan medisnya. Tak lama berselang, dia pun keluar dari kamar rawatku.
Perutku mulai keroncongan, tapi entah kenapa, rasanya aku begitu malas sekali untuk makan. Sepertinya suapan dari tangan laki-laki itu telah membuat aku ketagihan. Aku merasa kesal karena sampai detik ini, Fatwa belum juga datang. Aku Kembali merebahkan diri dan mulai memejmkan mata.
.
.
“Hai, Res. Bangun, ini sudah siang loh. Mau sampai kapan kamu tidur?” bisik halus di telingaku.
__ADS_1
Aku mengerjapkan mata saat merasakan sentuhan dingin di wajah. Mataku terbuka, wajah tampan itu terpampang jelas di depan mata. Segera aku rangkul lehernya hingga wajah itu jatuh terjerembab dan menyentuh dadaku.
“Ups, maaf!” ujar Fatwa.
Aku segera melepaskan pelukanku. “Ma-maaf!” ucapku gugup. Sial, kenapa aku tidak bisa menguasai emosiku, rutukku dalam hati.
“Tidak apa-apa,” jawab Fatwa yang terlihat sedikit salah tingkah juga. Sedetik kemudian, Fatwa melirik kotak nasi yang masih tertutup. Dia kemudian membukanya. Dahinya berkerut saat mengetahui isi kotak nasi itu masih utuh. “Kok, belum di makan?” tanya fatwa menatapku lembut.
“Res belum lapar," jawabku, datar. Tapi sialnya, cacing dalam perut tidak pernah bisa diajak kompromi, mereka bernyanyi riang sehingga menimbulkan bunyi yang terdengar hingga ke luar perut.
Fatwa tersenyum mendengar konser cacing yang berada dalam perutku. “Bangunlah, biar aku suapi,” ucap fatwa meraih kotak nasi itu dan duduk di tepi ranjang.
Aku segera bangun dan berusaha merebut kotak makan itu. “Biar Res aja, Res sudah bisa kok, makan sendiri," ucapku.
“Kalau sudah bisa makan sendiri, nggak mungkin kotak makan ini masih utuh di jam segini," gurau Fatwa seraya menyendok nasi dan mengulurkannya di depan mulutku. “Makanlah, biar aku suapi, mumpung masih di rumah sakit. Kalau sudah di rumah, tugasku pasti diambil alih sama ibu atau adik kamu," ucap Fatwa.
Aku membuka mulut. Hatiku terasa berbunga-bunga mendapatkan perlakuan lembut dari seorang dosen yang aku anggap sombong dan angkuh selama aku kuliah.
Tak lama berselang, seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih memasuki kamar rawatku. Dilihat dari penampilannya dan juga seorang perawat yang berada di sampingnya, sudah bisa dipastikan jika dia adalah seorang dokter.
"Selamat pagi menuju siang!” sapa dokter paruh baya itu seraya tersenyum kepada kami. “Loh, sudah jam segini, kok baru makan?” kata dokter itu seraya melirik jam tangannya. Ya, waktu memang sudah menunjukkan hampir jam 12 siang. “Eh, ini sarapan atau makan siang, nih?” tanyanya lagi.
“Sarapan, Dok. Biasalah, istri saya memang sedang manja-manjanya,” gurau Fatwa.
Blush!
“Hehehe, Pak Fatwa bisa saja,” jawab dokter itu.
Mungkin saja wajahku telah berubah warna menjadi seekor kepiting rebus yang direbus begitu matangnya. Aku hanya menunduk malu mendengar gurauan Fatwa dan kekehan sang dokter.
“Tapi, itu jangan dibiasakan ya, Bu. Lambung Ibu sudah bermasalah, ya mungkin karena pola makan juga yang tidak teratur. Jadi saya sarankan, jangan terlambat makan,” ucap dokter itu.
“Baik, Dok,” jawabku.
“Sudah ingin pulang, ya? Hmm, sepertinya kalian sudah tidak sabar ingin bermesraan,” gurau dokter itu.
“Hahaha, Dokter tahu saja.” Fatwa malah menimpali ucapan dokter itu dan mebuatku semakin salah tingkah. Ya Tuhan … rasanya aku butuh jurus menghilang detik ini juga.
“Baiklah, biar saya periksa dulu.”
__ADS_1
Bersambung