
"Fat, boleh Res tanya sesuatu sama kamu?" tanyaku menatap laki-laki itu.
"Silakan. Jika memang aku bisa menjawabnya, pasti akan aku jawab," kata Fatwa, tegas.
"Janji, kau akan menjawabnya dengan jujur!" pintaku pada laki-laki itu sambil mengacungkan jari kelingking.
"Iya, aku janji," jawab Fatwa menautkan jari kelingkingnya di jari kelingkingku. " Katakan, apa yang sebenarnya ingin kamu tanyakan?" lanjut Fatwa menatap lekat.
"Ini tentang kunci apartemen yang kamu berikan pada Res waktu itu. Kenapa kamu memberikan kunci apartemen mas Yudhis ke Res? Apa niat kamu yang sebenarnya? Apa jangan-jangan, ini permainan kamu untuk merusak hubungan Res sama mas Yudhis?" tudingku pada laki-laki itu.
"Astaghfirullah, Res ... aku tidak sekejam itu! Bersihkan, tuh otak kamu," ucap Fatwa seraya menyentil keningku.
"Ish, sakit tau!" Aku merengek dan langsung meraba kening yang mulai berdenyut.
"Lagian, suudzon mulu bawaannya. Bukannya beryukur dibantuin, huh," dengus Fatwa terlihat kesal.
"Iya-iya, maaf. Ya wajar kalau Res curiga. Orang kamu sepertinya ngarepin banget Res putus sama mas Yudhis." Aku mencoba membela diri.
"Jujur, aku memang sangat berharap kamu bisa putus sama bang Yudhis. Karena apa? Karena aku tahu bang Yudhis tidak baik. Aku sengaja memberikan kunci itu dan berharap suatu malam nanti, kamu datang dan memergoki kelakuan mereka berdua. Asal kamu tahu, Res ... sahabatmu itu, dia hampir tiap malam tidur di tempat bang Yudhis," ucap Fatwa penuh penekanan.
Seketika aku menutup mulut saat aku mendengar ucapan dosen gila itu. "Apa maksud kamu, Fat. Apa itu artinya, Citra sudah lama memiliki hubungan dengan mas Yudhis?" tanyaku, tak percaya.
Fatwa mengangguk menanggapi ucapanku.
"Tapi, sejak kapan?" Aku kembali bertanya kepada Fatwa.
"Sejak aku memberimu nilai buruk di mata kuliah yang kedua," jawab Fatwa seraya menyandarkan punggungnya. Matanya kembali menatap nanar hamparan air danau.
"Itu artinya, sudah setahun lebih. Dan mereka berhubungan sudah sejauh itu? Tidak ... itu nggak mungkin, Fat. Res sangat kenal bagaimana Citra. Kamu jangan asal nuduh gitu, Fat. Dzolim itu namanya," gerutuku kesal.
"Kamu pikir, untuk apa aku memberikan nilai buruk tanpa alasan. Apa memang kamu merasa otak kamu di bawah rata-rata?" tukas Fatwa.
"Apa maksud kamu?" tanyaku semakin heran. Ish, kenapa pria ini begitu banyak menyimpan teka-teki.
__ADS_1
"Aku sengaja memberikan nilai jelek itu agar pernikahan kalian diundur," jawab Fatwa.
"Tunggu-tunggu! Res makin nggak ngerti," ucapku sambil menatap intens laki-laki itu.
Fatwa menghela napasnya. Sejurus kemudian, dia menatap tajam kepadaku.
"Aku tahu dari tante Amara jika bang Yudhis hendak menikah. Aku sendiri kaget saat mengetahui hal itu, karena aku tahu, bang Yudhis bukan tipe laki-laki yang ingin terikat oleh suatu hubungan. Dan aku semakin terkejut jika ternyata calon istri mas Yudhis adalah kamu. Hingga suatu hari....
Bar Ranggila
"Yang benar saja, Bro! Jadi lo nekat juga mo merit?" ucap Danis.
"Sori bro, gua udah terlanjur melamar dia," jawab Yudhis.
"Hahaha, akhirnya sang Casanova kita terjebak permainannya sendiri," ledek Elvan.
"Lu nggak bakalan gabung ma kita-kita lagi dong kalo dah merit," kata Jennie yang sedang duduk di pangkuan Yudhis.
"Ish, janji yaaa," rengek Jennie.
"Iya, Sayang," jawab Yudhis sambil meraup bibir seksi Jennie dengan rakusnya.
"Uuhhhh ... nepsong lu, Yud," ledek Danis yang melihat adegan semi live di depan matanya.
"Ngomong-ngomong, kapan lu merit?" tanya Elvan.
"Secepatnya setelah Chi, lulus," jawab Yudhis.
"Chi?" gumam Fatwa yang saat itu dia pun tengah mabuk karena bertemu kembali dengan wanita yang pernah mengisi hatinya, tapi sang pujaan ternyata telah menjadi calon istri orang lain.
Fatwa segera membayar minumannya dan berlalu pergi dari bar itu.
Keesokan harinya. Fatwa pergi menemui tante Amara untuk mencari tahu siapa calon istrinya Yudhis.
__ADS_1
"Namanya Octora Resttyani. Kebetulan dia seorang guru di SD. Yang Tante dengar sih, dia ikut kuliah lagi di tempat kamu ngajar, Fat," ucap Tante Amara.
Seketika kedua lutut Fatwa terasa lemas mendengar nama pujaan hatinya disebut.
Ya Tuhan ... tidak jadi masalah jika dia bukan jodohku, tapi aku tidak ridho jika dia harus berjodoh dengan laki-laki bejat seperti bang Yudhis.
"Jadi, setelah kamu tahu kalau Res adalah calon istri mas Yudhis, kamu selalu berupaya untuk memisahkan kami. Begitu?" tanyaku yang memotong cerita Fatwa.
Terlihat laki-laki itu mengangguk.
"Tapi kenapa, Fat? Kenapa harus menunggu Res terluka karena menyaksikan perbuatan mas Yudhis sama Citra. Kenapa kamu tidak langsung memberi tahu Res tentang mas Yudhis. Dan citra? Bagaimana kamu bisa tahu jika Citra memiliki hubungan dengan mas Yudhis?" tanyaku yang semakin kesal.
"Jika aku menceritakan tentang keburukan Yudhis dan Citra, apa kamu akan percaya begitu saja padaku? Ayolah, Res ... aku sendiri tahu kamu membenciku. Jika aku bongkar semua kebusukan sahabatmu tanpa bukti, yang ada kamu akan semakin menjauhi aku. Saat aku bilang bang Yudhis tak baik untukmu, kamu pun malah membenci aku, 'kan?" kata Fatwa.
Aku diam. Memang benar apa yang Fatwa katakan. Siapa yang akan mempercayai sebuah kecurigaan tanpa bukti.
"Sejak aku tahu niat buruk bang Yudhis, aku pun mulai mengikuti gerak-gerik bang Yudhis. Aku memutuskan untuk pindah apartemen agar aku tahu setiap pergerakan mas Yudhis. Dan ternyata, di sana aku mendapatkan kejutan yang luar biasa. Tanpa sengaja, aku melihat sahabatmu itu masuk ke kamar bang Yudhis di tengah malam. Sejak saat itu aku mengawasi kamar mas Yudhis. Hmm, sahabatmu itu sungguh wanita yang sangat nekat. Hampir setiap hari dia bermalam di tempat bang Yudhis. Akhirnya aku meminta kunci cadangan kamar mas Yudhis, membuat duplikatnya dan memberikannya padamu. Aku berharap, suatu hari nanti kamu akan datang dan memergoki mereka berdua," ucap Fatwa panjang lebar.
"Dan rencana kamu berhasil," ucapku datar.
"Rencanaku tidak akan berhasil tanpa bantuan Sandra," jawab Fatwa.
Aku semakin terkejut mendengar nama Sandra terucap dari bibirnya. "Apa maksud kamu, Fat?"
"Sudahlah, sudah sore ... sebaiknya kita pulang," ajak Fatwa.
"Tunggu, kamu belum menceritakan semuanya. Apa maksud tanpa bantuan Sandra? Apa itu artinya, kamu mengenal Sandra?" tanyaku sedikit berteriak karena Fatwa sudah beranjak pergi dari bangku taman.
Bukan jawaban yang aku dapati dari laki-laki penuh misteri itu, melainkan sebuah lambaian tangan. Akhirnya dengan perasaan kesal, aku beranjak dari tempat duduk dan berlari mengikuti pria dingin bermata elang.
"Tunggu!"
Bersambung
__ADS_1