
Aku kembali terkejut mendengar perkataan Ida. Entahlah, pagi ini, begitu banyak sekali kejutan yang aku dapatkan dari Ida. Rasanya kepalaku semakin berat.
"Terlibat bisnis ilegal seperti apa, ya, Da?" tanyaku yang memang tidak mengetahui dengan pasti pekerjaan bang Rizal.
"Ternyata, tuan Rizal itu merupakan ketua komplotan yang sering melakukan jual beli satwa-satwa yang dilindungi oleh negara. Selain itu juga, tuan Rizal merupakan anggota badan intelijen yang terlibat bisnis jual beli senjata ilegal dan menjadi tersangka kasus penggelapan sejumlah material senjata yang akan dirakit oleh negara luar," ucap Ida.
Ya Tuhan ... rasanya seperti ada ribuan burung kecil yang mengitari kepalaku. Astaghfirullah ... jadi, selama ini usaha bang Rizal bergerak dalam dunia maksiat. Pantas saja kekayaan yang dimilikinya begitu luar biasa. Rupanya Tuhan sedang menguji bang Rizal dengan harta. Sayangnya, hingga akhir hayat, bang Rizal tidak menyadari kekeliruannya. Sehingga putri semata wayang bang Rizal harus menjadi korban.
Saat pikiranku tengah asyik berkelana, tiba-tiba seorang gadis muda datang mengantarkan mangkuk bubur ayam yang aku pesan tadi.
"Selamat menikmati bubur ayamnya, Kak," ucap gadis muda itu.
"Terima kasih," jawabku seraya mendorong mangkuk tersebut ke hadapan Ida. "Ayo dimakan, Da," ucapku kepada Ida.
Ida mengangguk. Sejurus kemudian, dia mulai menyendok bubur ayam tersebut dan memakannya. Aku yang dari mula merasa lapar, kini hanya mampu menatap Ida dengan perasaan yang tidak menentu. Ya, selera makan aku hilang saat memikirkan nasib Maira ke depannya.
.
.
Dengan gontai, aku kembali menuju ruangan ICU setelah memastikan Ida menaiki taksinya.
"Ida sudah pulang, Kak?" tanya Zein begitu aku tiba di ruang tunggu ICU.
"Sudah Zein," jawabku seraya menyandarkan punggung. Ah, rasa pusing mulai melanda.
"Kakak udah sarapan?" tanya Zein lagi.
Aku menggelengkan kepala.
"Tuh, 'kan ... Kak Chi ini kebiasaan, deh. Udah tahu punya penyakit lambung, malah telat sarapan. Entar, kalo maag-nya kambuh, gimana? Emang bener ya, Kak Chi tuh hobi ngerepotin adek iparnya sendiri," cerocos Zein seraya tangannya lincah membuka bungkusan nasi uduk yang belum terjamah. "Ayo, aa... Zein suapin," lanjutnya sambil menyodorkan sendok yang sudah penuh terisi nasi.
Aku menegakkan tubuh. "Sudah Zein, biar Kakak makan sendiri," jawabku, mengambil alih sendok plastik dan juga bungkus nasi uduk yang sedang dipegang Zein.
Pemuda itu lantas tersenyum saat melihat aku menyuapkan nasi ke mulut. "Nah, gitu dong," ujar Zein, merasa senang.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya. Tak berapa lama, aku melihat Pak Rahadi keluar dari kamar satu. Dia terlihat begitu cemas. Seketika aku menyimpan bungkusan nasi tersebut di atas kursi. Lepas itu, aku menghampiri Pak Rahadi.
"Ada apa, Pak? Kenapa Bapak terlihat cemas? Apa sesuatu terjadi dengan Anneu?" tanyaku yang ikut merasa khawatir akan kondisi Anneu.
"Tidak, Nak Resti. Kondisi Anneu masih sama seperti sebelumnya. Bapak baru saja mendapatkan berita dari kampung. Katanya adik Bapak sedang terkena musibah. Ini Bapak ingin menelepon untuk memastikannya. Sayangnya, Bapak kehabisan pulsa. Karena itu Bapak terburu-buru mau pergi ke konter pulsa," sahut Pak Rahadi.
Aku bernapas lega, huft ... kupikir sesuatu terjadi dengan Anneu.
"Ya sudah Nak Resti, Bapak permisi dulu," ucap Pak Rahadi.
Aku mengangguk. Setelah Pak Rahadi menghilang dari balik pintu, aku pun kembali duduk di samping Zein.
"Aneh, masa depan cucunya sedang di ujung tanduk, dia terkesan tidak peduli. Tapi, begitu mendengar adiknya yang di Sumatera mendapatkan masalah, dia langsung panik. Huh, manusia macam apa dia..." dengusku kesal.
Ujung mataku melihat jika Zein sedang memandangi aku dengan wajah pilonnya.
"Kakak ngomong apa, sih?" tukas Zein.
"Eh, enggak ... Kakak nggak ngomong apa-apa, kok." Aku mencoba menghindari pertanyaan Zein.
Sejenak, aku menarik napas panjang. Kemudian mengembuskannya dengan perlahan. "Ini tentang Maira, Zein. Putrinya bang Rizal," jawabku.
"Maira gadis kecil itu? Memangnya ada apa dengan dia?" tanya Zein.
Mau tidak mau, aku pun menceritakan semua yang Ida katakan padaku tadi pagi. Sama seperti aku, Zein pun sangat terkejut mendengar kenyataan yang menimpa bocah perempuan berusia tiga tahun itu. Dia tidak pernah menyangka jika di usia Maira yang masih sangat kecil, bocah itu harus mengalami kemalangan yang bertubi-tubi. Dimulai dengan tidak diakui anak oleh ibu kandungnya sendiri, ditinggalkan sang ayah tercinta, tidak diurusi oleh keluarga kedua orang tuanya, dan kini ... masa depannya pun menjadi taruhan akibat dosa yang dilakukan ayahnya.
"Ya Tuhan ... kenapa dunia ini kejam sekali untuk bocah sekecil dia," ucap lirih Zein.
"Sst, Zein! Nggak boleh ngomong kek gitu!" tegasku memperingatkan Zein. "Kita do'akan saja semoga Maira baik-baik saja."
" Iya, Kak. Zein hanya kasihan saja mendengar nasib gadis kecil itu," timpal Zein.
Aku pun mengangguk. "Ya, kamu benar Zein. Kakak juga prihatin dengan kehidupan Maira. semoga saja, ini menjadi tonggak Maira untuk tumbuh menjadi gadis yang tangguh," pungkas aku.
.
__ADS_1
.
Waktu terus berlalu. Bergantian, aku dan Zein melaksanakan shalat dzuhur dan asar. Sedangkan untuk Fatwa sendiri, belum ada tanda-tanda jika dia akan sadar hari ini. Aku pun hanya bisa pasrah dan menyerahkan segala urusannya kepada Sang Maha Kuasa.
"Oh ya, Kak ... apa Kakak sudah menghubungi keluarga pak Fatwa terkait kondisinya saat ini?" tanya Zein.
"Belum, Zein. Kedua orang tua Fatwa telah tiada. Dan kakaknya, Kakak sendiri tidak tahu nomor kontak Mbak Nilam. Sedangkan tante Amara sendiri ... sejak hubungan Kakak dengan mas Yudhis berakhir, tante Amara sudah memblokir nomor Kakak," jawabku.
"Uuuh, ruwet sekali kisah cintamu, Kak," keluh Zein.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
Menjelang magrib, aku dan Zein mendengar suara keributan di kamar Anneu. Tiba-tiba, Pak Rahadi kembali keluar dari kamar rawat Anneu.
"Sudah saya bilang, saya tidak sanggup merawat anak itu. Kenapa kamu masih saja mengganggu kami, hah?" pekik Pak Rahadi dengan suara tertahan.
Dari raut wajahnya, Pak Rahadi terlihat begitu marah dan seolah ingin mengeluarkan suaranya dengan sangat lantang. Namun, sepertinya dia masih menyadari jika saat ini dia sedang berada di rumah sakit. Entah apa yang dibicarakan si penelepon di ujung sana.
Lagi-lagi Pak Rahadi berkata dengan rahangnya yang mengeras. "Jika memang kamu juga tidak sanggup mengurus anak itu, sudah, kamu titipkan saja dia di panti asuhan. Jadi, jangan hubungi saya lagi. Paham!"
Setelah berkata sedikit berteriak, akhirnya Pak Rahadi menutup telepon. Mata kami beradu pandang saat laki-laki tua itu hendak kembali ke kamar rawat Anneu. Aku melempar senyum padanya. Namun, Pak Rahadi hanya menanggapinya dengan wajah datar. Sepertinya, dia masih merasa kesal dengan gangguan telepon barusan.
Pak Rahadi terlihat menghilang di balik pintu. Tiba-tiba saja Zein berbisik di telingaku. "Apa yang tadi pak Rahadi bicarakan itu tentang Maira, Kak?" tanya Zein.
"Hmm, sepertinya memang begitu, Zein," jawabku. "Zein, bagaimana kalau sekarang kita bertandang ke rumah Maira," usul aku.
"Tapi, pak Fatwa?" kata Zein seperti mencemaskan kondisi Fatwa jika kami tinggalkan.
"Kita titipkan saja dulu kepada perawat penjaga. Entahlah, perasaan Kakak nggak enak saat ini. Kakak mengkhawatirkan Maira," jawabku.
"Baiklah. Sebentar, Zein titipkan pak Fatwa ke perawat dulu ya, Kak," pamit Zein seraya beranjak pergi menuju ruang perawat.
Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi. Aku sudah mencoba untuk mengabaikan perasaanku tentang gadis kecil itu. Namun, pesona Maira telah melekat di hatiku. Entah kenapa, aku benar-benar mencemaskan keadaannya. Apalagi setelah mengetahui kondisi Maira yang sebenarnya. Jika bukan aku yang peduli dengan nasib anak itu, lantas siapa lagi?
"Baiklah! Dimulakan dengan bismillah, jika memang keluarga kandungnya tidak ingin merawat Maira. Maka, biar aku yang merawatnya."
__ADS_1
Bersambung