
Sekuat tenaga, aku terus berlari untuk mengimbangi langkah laki-laki itu. Tiba di luar taman, Fatwa segera membuka pintu mobilnya. Aku pun masuk. Tak lama kemudian, Fatwa memasuki mobilnya dari pintu kemudi.
"Kebiasaan deh ... kenapa sih, kalau cerita itu nggak dituntaskan sekalian. Bikin penasaran saja," gerutuku kesal.
"Ini sudah sore Res, ibu kamu pasti khawatir karena anaknya belum pulang juga," ucap Fatwa.
Hmm, terkadang ada benarnya juga apa yang dikatakan sama si dosen sengklek itu. Meski masih menyimpan rasa kesal, tapi aku tetap menuruti ucapan laki-laki yang sekarang sedang mengemudi di sampingku.
Satu jam kemudian, aku tiba di rumah. Mama menyambutku dengan wajah yang terlihat heran. Namun, aku enggan menanggapinya. Aku segera pamit dan pergi ke kamar. Selintas, aku mendengar mama bertanya tentang keadaanku kepada Fatwa.
"Ada apa ini, Nak Fatwa? Kenapa wajah anak Ibu kelihatan kusut seperti itu? Apa ada sesuatu hal yang terjadi pada kakak?" tanya mama pada dosen killer kesayangannya itu.
"Maaf, Bu. Saya tidak berani bercerita. Sebaiknya Ibu tunggu saja sampai Resti sudah siap untuk menceritakan semuanya kepada Ibu," jawab Fatwa sopan.
Aku hanya bisa menelan ludah mendengar jawaban Fatwa. Ya, bagaimanapun juga, mama berhak tahu apa yang telah terjadi padaku. Tapi, tidak untuk saat ini. Aku masih perlu waktu untuk menyendiri dan mencerna apa yang baru saja aku alami.
Tak lama berselang, aku melanjutkan langkahku menuju ka.ar. Tiba di kamar, aku memutuskan untuk berendam di air hangat. Mungkin dengan cara seperti itu, pikiranku akan sedikit lebih tenang.
.
.
"Kakak, makan malamnya sudah siap?" teriak Rayya dari balik pintu.
"Nanti saja, Dek. Kakak masih kenyang," jawabku memberikan alasan. Padahal kenyataan yang sebenarnya, aku belum siap untuk bertemu dengan ibuku.
"Ya sudah. Nanti kalau sudah lapar, Kakak chat Ray aja, ya. Biar Ray yang bawain makanan ke kamar Kakak," teriak Rayya lagi.
"Iya, Dek! Makasih," jawabku.
Suasana di luar hening. Itu artinya, Rayya sudah pergi dari depan kamar. Aku menarik selimut dan merebahkan tubuhku di atas ranjang. Air mata kembali turun dengan perlahan, saat aku teringat lagi tentang pengkhianatan mas Yudhis dan Citra, sahabatku sendiri.
Aku mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan bayangan itu. Hingga akhirnya aku tak mengingat apa pun lagi. Entah berapa lama aku tertidur, hingga ketukan pintu kamar membuat aku mengerjapkan mata.
__ADS_1
"Kak, apa Mama boleh masuk?" Aku mendengar suara mama dari balik pintu.
"Masuk saja, Ma! Pintunya nggak dikunci, kok!" jawabku setengah berteriak.
Pintu terbuka. Wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad tapi masih terlihat cantik, berjalan menghampiri. Aku segera duduk begitu mama tiba dan duduk di tepi ranjang.
"Tadi, nak Yudhis datang kemari, Kak. Dia mencari kamu," ucap mama memulai pembicaraan.
Aku diam. Agak sedikit terkejut memang. Hmm ... ternyata, punya nyali juga laki-laki bajingan itu buat datang ke rumah, pikirku.
"Kak," Mama menyentuh punggung tanganku, "ada masalah apa? Mama lihat, tadi nak Yudhis kelihatan cemas sekali," kata mama.
Mendengar pertanyaan mama, hatiku tak sanggup lagi untuk menyimpan semua kebenaran tentang mas Yudhis.
"Ma, Ka-kakak tidak mau menikah dengan mas Yudhis. Kakak ... Kakak tidak ingin melanjutkan hubungan pertunangan ini lagi." Akhirnya kalimat itu meluncur bebas dari bibirku.
Mama tampak terkejut mendengar keinginanku.
"Tapi kenapa, Kak? Apa yang terjadi dengan kalian? Bukankah, kemarin kalian sudah sepakat untuk menjalankan tanggal pernikahan sesuai rencana awal?" tanya mama.
Mama mengusap punggungku. Dengan sabar, beliau menungguku untuk bercerita lebih lanjut. Setelah tangisanku mulai reda, akhirnya mama kembali bertanya padaku.
"Apa yang terjadi, Kak? Kenapa Kakak tidak ingin menikah dengan nak Yudhis? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya mama.
Aku menguraikan pelukan. Sejurus kemudian, aku menatap mama. Aku hanya bisa menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan mama.
"Jika memang tidak bertengkar, lalu apa? Mama tahu jika nak Yudhis sudah sangat sibuk, mungkin karena itu juga, dia jadi kurang perhatian sama kamu. Tapi, jika karena itu kamu memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kalian, rasanya itu alasan yang tidak masuk akal," ucap mama lagi.
"Ma-mas Yudhis selingkuh, Ma," kataku terbata.
Mama begitu terkejut, tapi beliau hanya bisa diam.
"Dia selingkuh dengan sahabat Kakak sendiri. Citra." Aku melanjutkan kata-kataku.
__ADS_1
Terlihat mama semakin membulatkan kedua bola matanya. Mungkin beliau tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Tapi, apa pun itu, aku sudah tidak ingin melanjutkan hubunganku lagi dengan mas Yudhis.
"Apa kamu yakin, Kak?" tanya mama yang aku lihat matanya mulai berkaca-kaca. Ya, ibu mana yang tidak sakit hati mendengar nasib rencana pernikahan putrinya yang kandas.
"Kakak yakin, Ma. Ka-kakak melihatnya dengan mata kepala Kakak sendiri. Mas ... mas Yudhis se-sedang ... uhuhuhu...." Aku tak sanggup lagi melanjutkan kata-kataku. Bayangang kegiatan panas mereka semakin menyesakkan dadaku.
"Sst ... sudahlah, Nak. Jangan diteruskan lagi jika itu sangat menyakitkan. Mama bisa mengerti keadaan kamu," ucap mama, kembali merangkulku.
Aku pun kembali menangis dalam pelukan mama.
"Ma, boleh Kakak minta tolong," pintaku setelah puas menangis.
"Katakan saja, Nak!" kata mama seraya membenahi rambutku yang terlihat kusut.
"Jika mas Yudhis datang lagi kemari, tolong suruh dia pulang. Kakak tidak mau ketemu dia lagi," jawabku.
"Mama mengerti, mungkin memang kamu perlu waktu untuk menenangkan diri. Tapi, tidak baik membiarkan masalah berlarut-larut, Nak. Jika kamu memang ingin memutuskan pertunangan kamu dengan nak Yudhis, sebaiknya kita juga harus berbicara dengan orang tua nak Yudhis. Ingat kak, kamu dipinang secara baik-baik. Dan, mama harap, dilepas pun harus dengan cara baik pula," tutur mama.
Aku mengangguk. "Iya, Ma. Nanti, setelah Kakak siap, Kakak akan berbicara dengan mas Yudhis untuk mengakhiri hubungan ini," jawabku.
"Ya sudah, sekarang tidurlah. Kamu pasti lelah," ucap mama.
Kembali aku mengangguk dan merebahkan diri. Dengan penuh kasih sayang, mama menyelimuti aku. Sejurus kemudian, mama pergi dari kamarku.
.
.
Dua hari telah berlalu, berkali-kali mas Yudhis datang untuk menjelaskan permasalahannya. Tapi, berulang kali pula aku menolak kedatangannya. Sungguh, aku belum siap untuk berhadapan dengan mas Yudhis. Lenguhan dan kata-kata merayunya untuk wanita itu masih terngiang jelas di telingaku. Dan aku sangat membencinya.
Drrrt... Drrrt...
Ponsel yang aku simpan di atas nakas terus bergetar. Aku mendengus kesal. "Itu pasti mas Yudhis yang menghubungi," gumamku. Segera aku sambar benda pipih itu.
__ADS_1
"Mau apalagi kamu, Mas?!"
Bersambung