My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Menyepi


__ADS_3

Suara bariton seseorang yang aku kenal, menggelegar di koridor kelas. Seketika, para siswa yang sedang riuh menertawakan aku, menutup mulutnya. Hanya keheningan yang terjadi saat ini.


"Chi, lo nggak pa-pa?" Gustaf berjongkok dan meraih tanganku untuk berdiri.


"Kita harus bicara!" Pria innocent itu menarik tangan Susan dan membawanya pergi, entah ke mana.


Aku menatap Gustaf. Sejurus kemudian, pria itu menyeka kedua sudut mataku yang sudah berair.


"Kita ke kelas, yuk!" ajaknya.


Aku mengangguk menanggapi ajakan Gustaf. Diiringi tatapan penuh ejekan, kami pun berjalan menyusuri koridor. Tiba di kelas, Kak Lastri dan Irma terlihat sangat terkejut dan menatapku dengan heran.


"Dek, kamu kenapa?" tanya Kak Lastri.


"Lo, jatuh Chi?" Irma ikut bertanya. Mungkin mereka melihat pakaianku yang kotor.


"Aku, tidak apa-apa, Kak, Ma," jawabku, lemah. Setelah itu, aku duduk di samping Irma. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi.


Guru pertama masuk. Setelah mengucap salam dan berdo'a, beliau kemudian memulai materi. Tapi, sedikit pun aku tidak bisa mencerna pembahasan beliau di depan kelas. Pikiranku benar-benar kacau.


Begitu juga dengan pembelajaran kedua. Kembali aku tidak bisa mengikutinya dengan baik. Aku sudah berusaha berkonsentrasi, tapi tetap tak bisa. Cemoohan Susan dan tatapan mengejek dari orang-orang masih tergambar sangat jelas dalam benakku.


Ya Tuhan ... kenapa semuanya jadi begini? batinku. Aku benar-benar merasa malu, dan seketika aku merasa kerdil di hadapan semua orang. Rasa ... karena rasa yang tak bisa aku tahan, akhirnya aku mendapatkan hinaan dan cacian orang-orang yang membenciku.


Sepertinya, saat ini mereka sedang merasa bahagia atas runtuhnya harga diriku di depan orang banyak. Dan itu karena dia. Karena pria dingin bermata elang yang sempat aku kagumi.


"Chi, apa semuanya baik-baik saja? Kantin, yuk!"


Aku terhenyak saat mendengar pertanyaan dan ajakan Irma. "Eh, kenapa Ma?"


"Sudah jam istirahat, Chi. Lo ngelamun? Lamunin apa, sih?" tanya Irma lagi yang menyadari kekosongan dari tatapanku.


Aku menarik napas panjang. "Sepertinya, gue harus nyepi dulu, Ma," celetukku.


Irma terlihat kaget dengan ucapanku. Dia kembali bertanya untuk mengorek isi hatiku lebih dalam.

__ADS_1


"Apa lo masih memikirkan kejadian kemarin?" tanya Irma lagi.


Aku diam.


Irma menyentuh punggungku dan mengusapnya dengan pelan. "Udah deh, Chi. Jangan terlalu dipikirkan. Lama-lama lo bisa mumet sendiri karena terus memikirkan hal yang nggak penting ini. Dunia ini lebar, Chi. Masih banyak cowok lain yang jauh lebih baik daripada si Fatwa itu," ucap Irma, menyemangati aku.


"Ini bukan tentang cowok itu, Ma. Tapi ini tentang hati gue sendiri. Apa lo tahu, Ma. Terkadang gua ngerutuki hati gue yang nggak mampu menahan diri. Seharusnya, gue nggak ngebiarin rasa itu masuk di hati gue. Jujur, gue malu sama bokap gue. Sekian lama beliau menaruh kepercayaan kepada putrinya agar putrinya tidak mengenal rasa cinta terlebih dahulu sebelum lulus sekolah. Tapi, gue dah ngekhianatin bokap. Gue ngekhianatin kepercayaan bokap karena telah membiarkan logika gue terjebak oleh rasa gue sendiri. Apa yang dilakukan Fatwa, mungkin itu adalah teguran dari Tuhan supaya gue kembali memegang teguh kepercayaan bokap. Nggak gue pungkiri, gue juga merasa terganggu oleh sikap anak-anak yang membenci gue. Kejadian kemarin seakan memberikan mereka celah buat ngetawain gue," kataku panjang lebar.


Irma menghela napasnya.


"Jujur, gue nggak demen ucapan lo ini. Mana Chi yang dulu? Yang nggak akan pernah ambil pusing tentang omongan dan cemoohan orang lain? Chi yang selalu optimis dan nggak pernah menyerah dengan keadaan!" ucap Irma.


Aku hanya tersenyum tipis. "Dia nggak akan pernah hilang, Ma. Tapi sepertinya, dia butuh waktu untuk menyendiri," ucapku.


Irma hanya merangkul pundakku untuk memberikan dukungan dan kekuatan kepadaku.


.


.


.


"Kakak bantu, Ma," ucapku sambil mulai memasukan kerupuk-kerupuk tersebut ke dalam plastik.


Mama hanya tersenyum tanpa menjawab ucapanku. Hingga beberapa menit kemudian.


"Ada apa, Kak? Kamu ada masalah?" tanya mama. Rupanya batin seorang ibu sangatlah kuat.


"Apa Kakak boleh ke rumah Bi Enci untuk beberapa hari?" tanyaku.


"Kapan?" Mama balik bertanya.


"Besok," jawabku singkat.


"Lalu, sekolah kamu?"

__ADS_1


"Kakak akan minta izin untuk dua atau tiga hari. Kakak janji, Kakak akan belajar dengan baik untuk mengejar ketertinggalan Kakak nanti."


Mama tersenyum penuh kelembutan. Sepertinya beliau sangat mengerti jika saat ini putrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Kapan Kakak berangkat?" tanya mama.


"Nanti sore, Ma."


Aku melihat mama sedikit terkejut mendengar rencana keberangkatanku sore ini.


"Kak, kalau bisa, berangkatnya besok siang saja. Kalau sore ini, Mama belum punya uang untuk ongkos kamu ke sana," ucap mama.


Aku tersenyum dan mengusap punggung tangan mama. "Tidak usah khawatir, Ma. Kakak masih punya simpanan sisa kemarin ke Parentas. Yang penting, Mama do'akan saja, semoga Kakak baik-baik di tempat Bi Enci, nanti."


Mama meraih lap yang terletak di atas meja. Dia kemudian melap tangannya yang berminyak akibat memasukkan kerupuk ke dalam plastik.


"Tentu saja, Kak. Mama akan selalu berdo'a untuk kebaikan kamu. Mama juga akan berdo'a semoga masalahmu cepat selesai."


Ah, hati seorang ibu memang tidak pernah bisa dikelabui.


"Ya sudah, lebih baik sekarang kamu bebenah dulu. Jangan lupa, sampaikan salam Mama buat bibimu," ucap mama.


Aku mengangguk. Setelah mendapatkan izin mama, aku mulai berkemas. Tak lupa aku membuat surat izin untuk aku titipkan kepada Irma ke sekolah. Menjelang asar, aku pergi ke terminal kota. Tiba di sana, aku menaiki sebuah angkutan pedesaan yang akan membawaku ke tempat bibi.


Dua jam perjalanan, akhirnya aku tiba di rumah Bi Enci, adik kandung dari ayahku. Bibi terlihat senang dengan kedatanganku. Pasalnya, kalo bukan hari lebaran, aku jarang sekali bertandang ke rumahnya. Suasana di tempat Bi Enci begitu sunyi. Pemukimannya belum begitu padat, karena itu saat malam menjelang, terasa sangat sepi.


"Tinggallah di sini selama yang kamu inginkan, Kak. Bibi tidak keberatan, justru Bibi senang kamu tinggal di sini. Bibi jadi punya teman untuk bercerita. Kamu sendiri tahu, 'kan, si kembar nggak pernah bisa diandelin," ucap bibi.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Bi Enci.


Ya, Bi Enci memiliki 3 orang anak. Anak pertama kembar. Dan ketiga anaknya laki-laki. Karena itu Bi Enci sering meminta aku atau adikku untuk tinggal di rumahnya dan menemaninya.


"Sudah Ma, jangan diajak ngobrol terus. Biarkan Kakak beristirahat. Perjalanannya pasti membuat dia lelah," ucap Om Agus, suami Bi Enci.


"Ah, iya ... Bibi sampai lupa. Ayo, bawa tasmu ke kamar. Istirahatlah!"

__ADS_1


Aku mengangguk. Sejurus kemudian, aku pergi ke kamar yang sudah disediakan oleh Bi Enci. Tiba di kamar, aku menyimpan tasku di atas ranjang. Aku mendekati jendela dan membukanya. Suasana malam begitu syahdu. Begitu banyak bintang bertaburan di langit yang terhampar luas. Semoga saja, aku bisa menemukan kedamaian di tempat ini.


Bersambung


__ADS_2