My Killer Lecturer

My Killer Lecturer
Mengunjungi Maira


__ADS_3

Aku melihat Zein kembali dari ruangan perawat.


"Bagaimana Zein?" tanyaku.


"Aman, Kak. Zein sudah menitipkan pak Fatwa kepada perawat. Tapi, mereka menyarankan agar kita perginya nanti, setelah pergantian perawat," jawab Zein.


"Jam berapa?" tanyaku.


"Katanya sih, selepas magrib. Mungkin sekitar pukul 6 lewat," balas Zein.


Aku melirik jam tangan. Sebentar lagi, penunjuk waktu berhenti di angka 6. Aku pun berinisiatif untuk pergi ke masjid sekarang, biar nanti bisa gantian sama Zein saat pergantian perawat tiba.


"Kakak ke masjid sekarang, ya Zein. Biar nanti pas pergantian perawat, Kakak ada di sini," tukasku


"Iya, boleh kak. Biar Zein tunggu di sini dulu," jawab Zein.


Setelah itu, aku pun keluar dari ruang tunggu ICU untuk pergi ke masjid melaksanakan shalat magrib.


Kumandang azan magrib terdengar begitu aku tiba di lantai dasar. Dengan berlari kecil, aku segera menuju masjid rumah sakit supaya tidak tertinggal shalat berjamaah.


Beberapa menit berlalu. Tak lupa aku panjatkan do'a di setiap selesai shalatku. Setelah melipat mukena dan memasukannya ke dalam lemari kecil yang berada di sudut ruangan, aku pun segera kembali ke ruang ICU.


Aku tiba di ruangan itu bertepatan dengan pergantian perawat jaga. Setelah pasien dikunjungi dan dijelaskan rekam medis hari ini, akhirnya aku berpamitan untuk pergi sebentar. Tentunya, sebelum itu, aku titipkan Fatwa kepada perawat yang baru saja masuk jaga malam.


"Kakak tunggulah di lobi, Zein mau shalat magrib dulu," ucap Zein.


Aku mengangguk. Setelah tiba di lantai dasar, aku dan Zein pun berpisah. Aku pergi ke depan untuk menunggu Zein di lobi. Sedangkan Zein pergi ke masjid belakang rumah sakit untuk menunaikan kewajibannya.


Setengah jam menunggu, akhirnya Zein tiba juga di lobi. "Kita berangkat sekarang, Kak?" tanya Zein.


"Lebih cepat lebih baik, Zein. Biar pulangnya nggak terlalu malam juga," jawabku.


Zein mengangguk. Akhirnya kami berjalan beriringan menuju tempat parkir. Setelah menaiki mobil, Zein menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya keluar dari halaman gedung rumah sakit berlantai lima itu.


"Kita makan dulu ya, Kak? Perjalanan ke villa cukup jauh, loh," ucap Zein.


"Nanti saja Zein, pulang dari sana. Kakak takut kemaleman sampai di villa," jawabku.

__ADS_1


"Emangnya, Kakak nggak lapar?" tanya Zein.


"Kamu sendiri?" Aku balik bertanya.


"Enggak sih, tadi sore sudah makan roti. Jadi masih kenyang," Jawab Zein.


"Ya sudah, kita makan nanti saja Zein. Setelah semua urusan kita selesai," kataku.


"Ya sudah, terserah Kakak saja," lanjut Zein.


Zein kemudian menambah kecepatan laju mobilnya agar segera sampai. Bukannya apa-apa, jarak antara rumah sakit dengan villa bang Rizal itu begitu jauh. Semakin cepat kami tiba di villa, semakin cepat juga kami kembali ke rumah sakit.


Setelah melewati dua jam perjalanan, akhirnya kami tiba di villa bang Rizal. Dengan wajah sumringah, Ida menyambut kedatanganku.


"Masya Allah, Nona. Kenapa Nona nggak bilang kalau mau datang kemari? Tahu gitu, Ida masak banyak buat nyambut Nona," ucap Ida.


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Ida. "Ngomong-ngomong, Maira di mana Da?" tanyaku pada Ida.


"Maira sudah tidur, Non. Baru saja terpejam," jawab Ida.


"Yah, sayang sekali. Padahal, saya ingin bertemu Maira," jawabku.


"Eh, nggak usah, Da," cegahku, "nanti, biar aku lihat dari pintu saja," jawabku.


"Tapi, Non ... Ida yakin, Maira pasti senang kalau lihat Non ada di sini," tukas Ida.


"Udah, nggak usah Da. Lagi pula, saya ke sini cuma mau bicara sama kamu, Da," ucapku.


"Bicara sama Ida? Tentang apa, Non?" tanya Ida kebingungan.


"Iya, Da. Saya cuma penasaran aja. Apa tadi sore yang menelepon pak Rahadi itu, kamu?" tanyaku.


"Kok, Non Chi tahu?" tukas Ida.


"Kebetulan tadi pak Rahadi bicaranya di luar. Jadi, mau tidak mau saya dengar semua ucapannya. Apa ini tentang Maira, Da?" tanyaku, hati-hati.


"Iya, Non. Ini tentang Maira. Tadi, saya mencoba menanyakan kepada pak Rahadi tentang pengasuhan Maira. Soalnya, saya dan Bapak mau pulang kampung, Non. Bukannya saya tidak ingin mengasuh Maira, tapi hidup saya dan bapak saya cukup susah. Saya tidak mau Maira memiliki masa depan yang cukup suram karena ketidakmampuan kami dalam memberikan pendidikan yang layak," tutur Ida, "tapi pada kenyataannya ..." Ida menghentikan kalimatnya.

__ADS_1


"Pada kenyataannya, kakek dan nenek Maira menolak untuk mengasuh Maira, 'kan?" jawabku.


Ida hanya mengangguk, membenarkan jawabanku. "Jujur Ida bingung, Non. Ida sendiri tidak tega harus menyerahkan Maira ke panti asuhan. Tapi kata bapak, itu adalah jalan yang terbaik daripada Maira harus terlunta-lunta bersama kami. Di kampung halaman nanti, kami sendiri tinggal di rumah kontrakan. Dan kami harus sama-sama bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan kami. Lalu Maira? Dengan siapa Maira akan tinggal jika kami bekerja di ladang. Saya tidak mungkin meninggalkan Maira sendirian di rumah. Namun, saya juga tidak bisa membiarkan Maira ikut bekerja panas-panasan bersama kami. Sungguh Nona, saya benar-benar dilema dengan masalah Maira," tutur Ida panjang lebar.


"Begini saja, Da. Besok saya akan menemui pak Rahadi dan bu Wati untuk meminta izin merawat Maira. Jika memang mereka tidak ingin merawat Maira, biar Maira ikut sama saya saja," ucapku mengutarakan maksud kedatangan aku kemari.


Mata Ida terlihat berbinar. "Benarkah, Nona? Apa Nona serius? Nona tidak keberatan mengasuh Maira yang ..." Ida menghentikan kalimatnya.


"Yangv... apa, Da?" tanyaku, sedikit mengernyit.


"Engga, Nona. Bukan hal yang penting," tukas Ida.


"Ayolah, Da ... jangan bikin saya penasaran," ucapku.


"Emm, maksud Ida ... apa Nona tidak akan keberatan merawat putri dari orang yang sudah menculik Nona. Bahkan, ibunya Maira sendiri berniat untuk menghabisi Nona," jawab Ida.


Aku menarik napas dalam-dalam, "Yang berbuat salah itu, 'kan kedua orang tuanya Da, bukan Maira. Rasanya, tidak adil jika saya menghukum Maira atas kesalahan kedua orang tuanya. Anak kecil itu tidak tahu apa-apa. Saya justru merasa prihatin akan nasibnya. Hidup Maira harus susah akibat keegoisan kedua orang tuanya," jawabku.


"Ya, Nona benar. Kasihan Maira," gumam Ida.


"Ya sudah, Da. Kalau begitu, saya pulang dulu. Saya harus kembali ke rumah sakit untuk menjaga teman saya. Tapi sebelumnya, bolehkah saya melihat Maira di kamarnya?" pintaku kepada Ida.


"Tentu saja boleh, Nona. Mari, Ida antar ke kamar Maira," ajak Ida seraya beranjak dari kursi.


"Kakak lihat Maira dulu bentar ya, Zein," kataku kepada Zein.


"Oke," jawab Zein.


Aku pun beranjak dari kursi dan mengikuti Ida ke kamarnya Maira. Aku melihat gadis kecil itu sedang tidur meringkuk seraya mengisap jempolnya. Itu kebiasaan Maira jika tidur sendirian. Sejenak, aku teringat tingkahnya yang suka mengelus-elus pelipisku jika kami tidur berdua. Ah, sungguh gadis kecil yang sangat malang.


Perlahan, aku menutup pintu kamar Maira. Setelah melihat Maira, tekadku untuk mengasuh dia semakin kuat.


Baiklah, besok akan aku temui kedua orang tua Anneu untuk membicarakan hal ini, batinku.


"Ya sudah, Da. Sepertinya ini sudah sangat malam. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamitku kepada Ida.


"Iya, Nona. Hati-hati di jalan," jawab Ida.

__ADS_1


Aku mengangguk. Sejurus kemudian, aku dan Zein kembali pulang ke rumah sakit untuk menjaga Fatwa.


Bersambung


__ADS_2